
*Lanjutan flashback
Bertempat di salah satu gedung tinggi ditengah kota New York. Seorang pria terlihat berada di atap gedung sambil melihat ke bawah. Dia tampak frustrasi dengan hidupnya, tatapan matanya kosong dan ekspresi wajahnya datar. Padahal dia tepat berada di pinggir gedung tersebut dengan ketinggian 1.428 kaki yang terdapat 82 lantai.
"Tidak ada gunanya saya hidup."
Pria berumur 23 tahun tersebut bergumam dengan dirinya sendiri. Sepertinya hidup sangat berat untuknya hingga membuat dia memutuskan untuk bunuh diri dan melompat dari gedung tersebut.
Setelan jas lengkap menjadi pakaiannya saat ini. Setelah sebelumnya melakukan wawancara kerja di perusahaan yang berkantor di gedung tersebut. Sayang untuknya karena lamaran kerjanya ditolak, ini sudah menjadi wawancara kerjanya yang ke 20 dan dia masih belum mendapatkan pekerjaan meski kebutuhan sangat mendesak saat ini.
Bahkan dia sudah menganggur selama setahun dan bekerja sebagai buruh harian untuk melanjutkan hidupnya. Setahun tanpa pekerjaan yang layak membuat dia frustrasi dengan keadaan, ditambah lagi tuntutan hidup yang sangat membebani dirinya dari keluarga semakin membuat dia terpuruk.
Setelah sekali lagi dia tak mendapatkan hasil baik dalam wawancara kerja kali ini, dia merasa hampa dan tiba-tiba berpikir untuk mengakhiri hidup. Kondisi mental yang lemah menjadi pemicu utama atas tindakan yang akan dia lakukan saat ini. Mungkin karena sejak kecil dia sudah menjadi korban bullying hingga dia dewasa kemudian mempengaruhi kondisi mental dan kepribadiannya yang penakut.
Dipikirannya saat ini hanya ingin mengakhiri penderitaan yang amat pedih dia rasakan. Energi negatif dalam dirinya semakin mendorongnya berpikir bahwa bunuh diri adalah jawaban tepat bagi masalah yang sedang dia hadapi saat ini.
Masih dengan tatapan kosong menatap ke bawah, betapa banyak orang berlalu lalang. Terlihat seperti semut pikirnya. Dia membentangkan kedua tangannya, menikmati angin dan bersiap untuk melompat. Tapi keadaan berubah seketika, langit yang tadi cerah berubah menjadi gelap, awan berkumpul menciptakan badai di atas gedung tersebut bersama dengan gemuru petir yang menyambar sesekali.
"Ada apa ini?"
Pria itu bingung dengan perubahan cuaca yang sangat tiba-tiba. Dia panik saat hujan mulai turun deras langsung membasahi setelan jas miliknya. Saking derasnya hujan, pandangannya tak jelas karena terhalangi oleh air hujan.
Anginpun ikut memberi rasa takut padanya saat pusaran tercipta dari perpaduan antara angin dan awan. Pusaran tersebut terlihat jelas dimatanya, hal itu semakin membuat dia panik.
"Apa yang sebenarnya terjadi?"
Pria itu lalu mengurungkan niat bunuh dirinya dan berlari ke arah pintu masuk di lantai atas gedung tersebut. Tapi rasanya berat, dia masih berusaha sambil memegang apa saja yang bisa dipegang saat itu. Kencangnya angin membuat dia terangkat keatas, dia panik dan menguatkan pegangan pada pipa besi yang saat ini bisa dijadikan pegangan.
Pusaran yang diciptakan oleh angin semakin besar dan sekarang pusaran itu menerbangkan dirinya menuju pusat pusaran tepat di atas gedung, pegangannya terlepas dan dia terisap oleh pusaran tersebut.
"Aahhh..!!"
Ditengah pusaran angin, terdapat cahaya putih yang bersinar menyilaukan matanya. Seketika dia terisap ke dalam cahaya tersebut dan menghilang. Bersamaan dengan masuknya pria itu ke dalam cahaya, maka lenyap juga badai dan hujan yang menerjang kota New York tiba-tiba.
__ADS_1
Semesta berbeda, di sebuah kerajaan bernama Celestial. Terlihat Raja William dan sebagian Raja yang belum kembali ke kerejaan mereka menyaksikan penyihir suci Barthe melakukan upacara pemanggilan pahlawan suci.
Barthe memegang sebuah tongkat dengan kedua tangannya. Sebelumnya dia telah menggambar lingkaran sihir dengan darahnya sendiri, sebuah lingkaran bertuliskan mantra pemanggilan yang diberikan oleh Dewi Marlin.
Mulut Barthe terus mengucapkan mantra, semakin lama di atas lingkaran sihir tersebut tiba-tiba terlihat lingkaran cahaya. Suasana yang tadinya tenang-tenang saja berubah gaduh akibat suara angin dan gempa bumi yang terjadi. Beberapa lantai dan tembok retak, sementara patung berjatuhan.
Penyihir suci Barthe tetap khusyuk melakukan ritual pemanggilan meski keadaan menjadi kacau. Bahkan hidungnya mengeluarkan darah akibat besarnya energi sihir yang dia keluarkan untuk melakukan upacara pemanggilan ini.
"Nyonya Barthe."
"Yang mulia, tolong jangan mendekat. Anda akan terluka jika mengganggu upacara pemanggilan ini."
Raja William sepertinya khawatir dengan kondisi penyihir suci Barthe dan ingin mendekat membantunya tapi Oana penyihir muda berbakat yang merupakan murid langsung dari Barthe menahan Raja William untuk mengganggu.
"Apakah Nyonya Barthe akan baik-baik saja?"
"Yang mulai Raja Reynhard, kondisi Nyonya Barthe saat ini sangat baik. Jika tidak, dia tidak akan melakukan upacara pemanggilan ini sekarang." tegas Oana.
Semua orang yang berada di aula tersebut hanya bisa melihat dan tak bisa ikut campur karena hanya penyihir suci yang dapat menyelesaikan tahap demi tahap mantra pemanggilan.
"Nyonya Barthe." Teriak Raja William sekali lagi.
"Jangan mendekat, sebentar lagi upacara akan berakhir."
Barthe mengerahkan seluruh energi sihirnya untuk menyelesaikan tugasnya sebagai penyihir suci. Hingga portal bercahaya putih tersebut terbuka dengan sempurna, seketika membuat seluruh orang yang berada diruangan takjub dan hanya bisa menganga tanpa mengatakan apapun.
Tak lama dari dalam portal, satu persatu manusia keluar dan terjatuh di lantai ruangan. Terus saja sampai orang terakhir yang merupakan pria yang ingin mengakhiri hidupnya ikut keluar dari portal tersebut.
Saat 10 manusia telah keluar dari portal, dengan cepat cahaya portal tersebut langsung menghilang. Gempa dan gemuruh angin juga ikut berhenti yang juga ditandai dengan terjatuhnya penyihir suci Barthe karena energi sihir yang terkuras habis.
"Nyonya Barthe."
Raja William dengan sigab berlari menghampiri Barthe yang telah pingsan tak sadarkan diri, Oana juga mendekat dan saat ini meletakkan kepala Barthe dalam pangkuannya.
__ADS_1
Sementara itu seluruh orang yang berada diruangan itu bersukacita sampai ada pula yang menangis melihat kesatria suci di depan mereka saat ini. Di sisi lain, kesepuluh orang yang berasal dari dunia lain masih bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi. Mereka terlihat waspada dan memperhatikan sekitar ruangan tersebut.
Mimik wajah mereka masih bingung dan masih mencerna atas apa yang sebenarnya terjadi. Mereka semua tegang karena tiba-tiba berada disebuah ruangan asing dan berbeda dari tempat dimana mereka berada satu menit yang lalu.
Ditengah kebingungan mereka, salah satu dari mereka bersepuluh yaitu pria yang ingin bunuh diri tiba-tiba berteriak histeris. Teriakan tersebut sudah cukup membuat orang disekitarnya melihat ke arah dirinya.
"Ii.. Ini dimana?" ucapnya.
Mereka semua bertanya tentang hal yang sama kepada diri mereka sendiri. Terlihat salah seorang dari mereka juga mengeluarkan air mata karena takut dengan senjata yang dipegang oleh beberapa Kesatria yang berdiri mengelilingi mereka.
Sementara itu, kondisi Barthe sangat parah ditandai dengan berubahnya kondisi fisik yang awalnya terlihat seperti wanita muda, kini fisiknya menjadi seorang wanita tua sesuai dengan usianya yang sudah menginjak 80 tahun.
"Snijder.. Cepat angkat Nyonya Berthe ke ruangannya."
Seorang kesatria berjalan mendekat bersama dengan kesatria yang lain menggotong Barthe yang masih tak sadarkan diri.
"Oana, pergi.. temanilah Nyonya Barthe dan tetaplah disisinya sampai dia siuman."
"Laksanakan yang mulia."
Oana pun meninggalkan ruang aula melaksanakan perintah dari Raja William.
"Siapa kalian?" tanya salah seorang dari sepuluh kesatria suci.
"Tenanglah wahai para kesatria suci, kami tidak akan menyakiti kalian."
Raja Reynhard kembali mengambil peran dan coba berbicara dengan sepuluh orang yang saat ini sedang bingung, ketakutan dan penuh dengan tanda tanya tentang dimana mereka saat ini.
"Apa maksudmu memanggil kami dengan kesatria suci?"
Raja William mendekat ke arah mereka semua. "Tenanglah, kami tidak akan melukai kalian. Raja Reynhard, biarkan saya yang menjelaskan pada mereka semua."
10 orang manusia yang akan memenuhi takdir mereka untuk menjadi kesatria suci, perjalanan mereka dimulai dari sekarang.
__ADS_1
-Bersambung-