
Suara sambaran petir terdengar sangat keras, meski tidak ada tanda-tanda akan datangnya hujan. Suara itu mengalihkan perhatian Woli yang saat ini duduk bersama dengan Irish di bawah pohon lebat yang terletak di luar kastil keluarga Snifooler.
"Ihh.." Irish spontan memeluk Woli kala mendengar suara gemuruh petir yang sangat besar itu. Sedangkan Woli spontan mengeram seperti sedang waspada. "Tuan Richard!" Ucapnya.
Woli merasakan firasat buruk hingga ia memutuskan untuk kembali ke kastil menyusul Richard yang saat ini masih bertarung dengan Rever. Saat bangkit Woli merasakan sakit di sekujur tubuhnya, Irish kembali menasihatinya agar ia beristirahat dan percaya dengan kemampuan Richard.
Walau ragu tapi Woli mendengarkan namun, suara gemuruh yang kali ini terdengar kembali lebih besar dari sebelumnya. Ia semakin khawatir dan memaksakan tubuhnya untuk bergerak meski ia kesakitan. "Tuan Richard..!" Gumamnya kala merasakan firasat buruk sekali lagi.
"Woli.. Tenanglah." Irish memegang tangan Woli yang berdiri dan Richard menatap dan meyakinkan Woli jika insting manusia serigala tidak pernah salah, ia merasa saat ini Richard membutuhkan bantuannya. Dengan keteguhan hati, Woli melangkah menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya sedangkan Irish hanya bisa menatap punggung Woli tanpa bisa melakukan apa-apa setelah melihat keyakinan dari mata Woli.
"Aku mohon.. Kembalilah dengan selamat!" Ucapnya begitu Woli melangkah jauh.
Woli tak mengatakan apapun, dia hanya mengangkat jempolnya pada Irish sebagai tanda jika dia akan baik-baik saja dan kembali dengan selamat bersama dengan Richard.
Lalu di saat yang bersamaan, Rever dibuat tertegun tanpa kata kala melihat Richard berhasil berdiri setelah terkena serangan yang sama dua kali. Seharusnya serangan yang kedua itu sudah sangat cukup untuk membuat Richard tersungkur tak berdaya tapi diluar dugaannya, Richard berdiri dengan warna kulit yang sebagian besar lebam karena sambaran petir hitam yang menyambarnya
Meski terluka parah tapi ia masih bisa tersenyum. Tatapan matanya tajam ke arah Rever tanpa adanya rasa takut sekalipun. Kuda-kudanya memang lemah karena ia berdiri dengan kaki yang sedikit gemetar tapi tingkat kewaspadaannya masih sama seperti saat mereka saling menatap pada awal pertarungan.
"Manusia!! Huuuaaahhahahaahahaa.. Huaahahahahaha.. Menarik sekali! Aku mengakuimu manusia!" Rever tertawa, suara tawanya menggelegar hingga memecah kesunyian yang terjadi.
Luca Crollo yang berada di belakang Rever melihat tubuh tuannya itu. "Tuan Rever.. Baru kali ini aku melihat dia terluka seperti ini, sudah ku duga.. Manusia itu bukan manusia biasa."
Tak heran Luca berkata seperti itu, karena bukan hanya Richard yang terluka parah tapi juga Rever. Hampir 50 % dari tubuhnya menderita luka bakar termasuk setengah wajahnya, apa lagi Rever sudah kehilangan lengan Kirinya sampai membuat ia kesakitan luar biasa.
Bahkan luka yang ia derita saat ini 3 kali lebih parah ketika Rever bertarung dengan Rein dan Snijder 5 tahun yang lalu. Meski kala itu Rever hampir kalah tapi ia hanya mengalami luka ringan sedangkan Snijder dan Rein yang bisa dikatakan menang malah terluka cukup parah.
Sedangkan pada yang perang besar 15 tahun yang lalu, Rever sama sekali tidak terluka meski terdesak dan pasukan iblis hampir mengalami kekalahan meskipun akhirnya menang. Bisa dibilang, saat ini adalah momen pertama Rever terluka atau bisa dibilang berada di ambang kematian.
Para kesatria yang masih berada di sekitar pertarungan hanya bisa menganga tak percaya ketika Richard bangkit kembali setelah menerima serangan mengerikan menurut mereka. Pertarungan yang mereka saksikan adalah pertarungan epik terbesar yang mereka saksikan setelah lebih dari 15 tahun yang lalu.
"Eros... Sial! Aku harus mengakui jika pria bermata merah itu sangat kuat. Jika terus seperti ini aku.. Aku malah berharap agar dia mengalahkan Rever." Kane tertunduk, ia menekan harga dirinya dan mengakui kehebatan orang yang ingin dia tangkap.
Eros menatap Kane, baru kali ini Kane menekan harga dirinya dan mengakui seseorang yang telah ia anggap sebagai penjahat sebelumnya.
"Huahahahahah... Aku tidak akan meremehkan mu kali ini. Mari kita bertarung sampai mati!" Ujar Rever yang masih memegang lengan kirinya, meski terlihat baik-baik saja tapi ia sangat kesakitan terlebih ia masih merasakan hawa panas pada lengannya yang berhasil di tebas Richard.
Richard yang berdiri sempoyongan tak membalas, ia hanya tersenyum dengan mata yang mulai sayu. Penglihatannya mulai memudar tapi aura yang ia keluarkan semakin besar dan semakin panas dari sebelumnya.
"Tch.. Bahaya, orang itu bahaya.." Luca Crollo bergumam, ia melanjutkan. "Aku benci mengatakan ini tapi tuan Rever bisa dikalahkan jika terus seperti ini."
Bersamaan dengan firasat buruk itu, sesuatu dengan cepat mendekat ke arah Rever. Dengan satu kepakan sayap ia berhasil mundur untuk menghindari serangan yang datang dari langit tersebut dan serangan itu tertancap cukup dalam pada tanah. Rever melihat ke langit, ia melihat hewan terbang di langit mendekat dengan cepat ke bawah. "Tch! Sial kenapa orang itu muncul sekarang!" Gumamnya dengan alis yang mengerucut.
Bersama dengan hewan terbang itu, terlihat pula seseorang dengan zirah putih merah yang terbang dengan sayap yang ia ciptakan menggunakan imperium angin. Kesatria yang terbang melayang menggunakan imperium angin itu adalah kesatria agung kerajaan Inggram, dialah yang menyerang Rever menggunakan tombak miliknya, yang saat ini tertancap cukup dalam ke tanah.
"Tuan Jean!!" Kane langsung berteriak kala melihat Sir Jean Stephenson melayang perlahan turun mendekat ke arahnya. Bersama dengannya juga ada kesatria lain yang cukup mengejutkan para kesatria dan juga Rever tentunya. Kesatria itu menunggangi Griffin, siapa lagi jika bukan kesatria besar kerajaan Celestial Snijder Stollen.
"Aahhh.. Tuan Snijder!" Kata Eros begitu melihat sosoknya di atas Griffin yang ia tunggangi.
Para kesatria yang melihat kedatangan dua orang kesatria agung langsung berlutut begitu kedua kesatria agung tersebut menapaki tanah. Mereka berlutut dengan wajah sumringah karena ketakutan mereka dengan Rever menghilang. Berbeda dengan para kesatria, Luca Crollo terdejit dan merasa khawatir dengan keadaan yang tidak menguntungkan mereka. Terlebih lagi Rever telah terluka parah dan sekarang muncul lagi kesatria kuat yang bisa membahayakan dirinya dan Rever.
"Tuan.. Kita harus pergi!" Kata Luca Crollo pada Rever yang terlihat kesulitan mengatur nafas karena panas yang masih bisa dia rasakan. "Mengganggu saja mereka!" Ujar Rever yang kesal.
__ADS_1
Beberapa saat, Para kesatria mendekat ke arah kedua kesatria agung dan hormat sebagai mana mestinya. "Apa yang terjadi di sini?" Sir Jean melihat keadaan kastil yang hancur pada beberapa bagian bangunan dan taman yang berantakan. "Tuan.. Maafkan kami karena tidak bisa berbuat banyak!" Eros tunduk di hadapan Sir Jean.
"Bodoh!! Lihat kekacauan yang terjadi, kalian semua mengecewakan." Sir Jean yang tidak puas membentak para bawahannya.
"Tuan Jean, jangan terlalu keras dengan bawahan anda. Lihatlah.. Lawan mereka adalah iblis sekelas Rever Block." Snijder menatap Rever. Ini adalah pertemuan mereka yang kedua setelah sebelumnya mereka bertemu di wilayah kerajaan Celestial saat para kesatria suci hampir saja mati di tangan Rever.
"Oioi.. Bagaimana bisa Iblis itu bisa muncul di wilayah Lister. Apa yang terjadi sebenarnya?" Sir Jean cukup kesal, Eros mendekat dan menjelaskan situasi pada Sir Jean.
Kedatangan mereka berdua ke tempat ini bukan tanpa alasan, beberapa saat sebelum pertarungan hebat yang terjadi antara Richard dan Rever. Eros yang melihat kemunculan Rever langsung segera memerintahkan salah satu kesatria untuk mengirim pesan kepada kesatria agung di istana kerajaan tentang kedatangan Rever. Pesan yang dikirim melalui burung elang itu sepertinya sampai tepat waktu.
Saat pesan itu sampai di istana, ternyata kesatria agung Snijder Stollen juga berada di kerajaan Inggram bersama dengan Sir Jean Stephenson karena suatu alasan. Begitu pesan itu sampai kepada mereka berdua, seisi istana panik bukan main bahkan raja Inggram yang tertidur lelap langsung dibangunkan karena bagaimana pun munculnya iblis sekelas Rever adalah ancaman yang tak bisa disepelekan.
Raja Inggram langsung mengirim pasukan tapi Sir Jean beserta Snijder Stollen memutuskan berangkat berdua lebih dulu. Dengan keahlian dan kemampuan mereka, perjalanan yang seharusnya ditempuh cukup jauh menjadi lebih cepat karena mereka terbang dengan kecepatan tinggi. Snijder Stollen memutuskan mengikuti Sir Jean meski awalnya Sir Jean melarang karena hal ini merupakan bagian dari tanggung jawabnya selalu kesatria agung kerajaan Inggram tapi Snijder tahu betul jika hanya Sir Jean sendiri yang menghadapi Rever maka Sir Jean tidak akan memiliki kesempatan tapi jika 2 kesatria agung yang bertarung melawan Rever maka kemungkinan untuk menang akan ada meski tipis, seperti saat ia menghadapi Rever bersama dengan Rein Wijaya 5 tahun yang lalu.
"Hah!! BODOH! Tidak mungkin... Jadi, dimana Nyonya Inggrid?" Sir Jean cukup terkejut kala mendengar Eros menjelaskan situasi secara cepat dan padat mengenai hal yang telah terjadi dengan keluarga Snifooler.
Sementara Sir Jean mendengarkan Eros, Snijder berjalan mendekat ke arah Rever yang saat ini menahan sakit pada lengan kirinya. "Rever!! Aku tidak menyangka kita bisa bertemu secepat ini.." Ucapnya, dalam hati Snijder terbesit tanda tanya. "Ada apa dengan tubuhnya itu? Kenapa dia bisa terluka seperti itu..?" Tanya Snijder dalam hati.
"Diam kau.. Kau menganggu pertarungan ku!" Rever cukup kesal, ia kesal karena Snijder kembali menjadi penghalang setelahnya sebelumnya Snijder menghentikan Rever membunuh para kesatria suci.
"Ayolah Rever.. Aku juga ingin berenang-senang denganmu." Kata Snijder mengintimidasi. "Yang benar saja, baru kali ini aku melihat iblis ini merasa sakit seperti itu." Snijder bergumam dalam hatinya sekali lagi.
Di sela-sela percakapan mereka, portal terbuka di dekat Rever yang masih mengeram menahan panas pada lengan kirinya. "Oi.. Manusia... Kita akan lanjutkan nanti. Aku akan mengingatmu.. Aku akan membalas apa yang telah kau lakukan padaku!" Rever berteriak ke arah Richard yang masih berdiri, diam dan tidak bergerak.
Snijder berbalik, ia melihat Richard berdiri sempoyongan tak bergerak sambil tertunduk dengan aura panas yang berada di sekitarnya. "Siapa orang itu, jangan bilang dia yang membuat Rever babak belur seperti ini?" Kata Snijder dalam hati saat dia melihat Richard.
Begitu portal terbuka, Rever langsung tahu jika sudah saatnya ia pergi dan menunda pertarungannya dengan Richard, apa lagi setelah melihat 2 kesatria agung yang muncul. Ia memang kuat tapi ia harus mengakui jika saat ini dirinya telah terluka parah dan tidak mungkin bisa bertarung dengan 2 kesatria agung yang baru saja tiba. Melawan Richard sudah membuat dia babak belur dan terluka apa lagi di tambah dengan 2 kesatria agung, itu adalah beban yang cukup berat bagi tubuhnya saat ini.
Sontak membuat mereka bereaksi "Sial, iblis itu kabur!!" Sir Jean mengarahkan tombaknya yang tertancap di tanah. Dengan hanya gerakan tangan tombak itu dapat di kendalikan dari jarak jauh. Seketika tombak itu meluncur ke arah Rever yang berjalan ke arah Portal tapi sebelum tombak itu menusuk Rever, tombak itu terpental akibat dorongan sihir kuat yang keluar dari dalam portal.
"Cih.. Apa itu." Sir Jean tidak menduga hal itu, ia Ali berteriak ke arah Snijder. "Tuan Snijder...!"
Snijder langsung sadar, ia pun mencabut pedangnya dan langsung menyerang Rever yang mengarah ke arah portal. Sama halnya dengan apa yang terjadi ketika tombak dari Sir Jean terpental, Snijder yang berusaha mendekat juga terpental. Ia bahkan merinding kala merasakan sihir penghalang yang muncul dari dalam tombak itu... Itu adalah sihir dari Leviathan Serphen.
"Tidak mungkin!" Ucapnya kala terpental ke belakang.
Bersamaan dengan gagalnya Sir Jean menancapkan tombak dan gagalnya Snijder mendekat, Rever pun menghilang setelah melewati Portal bersama dengan Luca Crollo. Kedua iblis itu berhasil kabur di saat portal itu menghilang dari lokasi.
Rever... Ia memutuskan mundur kala mendengar perintah dalam benaknya. Perintah dari Leviathan Serphen yang memerintah ia mundur dan tidak membuang waktu karena sebentar lagi.. Portal akan kembali terbuka lebar hingga Behemoth bisa muncul sama seperti Leviathan Serphen.
"Tch.. Dasar iblis busuk..." Sir Jean terlihat kesal kala melihat Rever berhasil kabur.
"Aneh.. Tidak biasanya Rever seperti itu. Aku pikir dia tidak akan kabur mengingat sifatnya yang pemarah!" Kata Snijder memegang dagu. "Dan yang lebih mengagetkan aku adalah.. Luka di sekujur tubuhnya." Snijder berbalik, ia kembali melihat ke arah Richard yang masih berdiri di tempat yang sama tanpa kata, Richard terlihat tunduk ke bawah hingga wajahnya tak terlihat.
"Yang lebih penting.. Eros kau belum mengatakan keberadaan Nyonya Inggrid?" Sir Jean kembali mengoceh dan mengungkapkan kekesalannya pada semua bawahannya saat ini.
"Nyonya Inggrid telah aman tuan.. Aku telah memerintahkan beberapa prajurit dan kesatria untuk membawa ia pergi ke tempat yang aman. "Tegas Eros menjawab Sir Jean.
Situasi ketegangan yang sejak tadi melanda para kesatria mencair dengan datangnya dua orang kesatria agung dan menghilangnya Rever sang dosa kemarahan. Dengan begitu, pertarungan antara Richard dan Rever berakhir tanpa pemenang sama sekali.
Richard sendiri tidak bereaksi sama sekali saat Rever berjalan ke arah portal. Ia masih berdiri di tempat yang sama tanpa kata.
__ADS_1
Bersamaan dengan menghilangnya Rever, Kane mendekat dengan kaki yang pincang akibat luka saat dihajar habis-habisan oleh Rever. "Tuan Jean.."
"Kane.. Lihat dirimu, memalukan sekali." Tegas Sir Jean yang memiliki harga diri yang sangat besar, lebih besar dari pada Kane.
"Tuan Jean.. Aku minta maaf, aku tidak bisa melakukan tugasku dengan baik."
"Bodoh.. Sadari dirimu. Jika kau memaksakan diri maka kau akan mati konyol. Lihatlah lukamu, mau bagaimana lagi jika yang menyebabkan semua ini adalah iblis sekelas Rever." Kata Jean menghibur Kane yang menyesal.
"Aku juga minta maag tuan.. Aku tidak bisa menangkap orang yang membunuh tuan Grobogan dengan kondisi seperti ini."
"Bodoh.. Aku sudah bilang iblis itu sudah pergi."
"Tidak tuan." Kane mengangkat wajahnya, ia melihat Richard yang masih berdiri tak bergerak. "Bulan Iblis yang membunuh tuan Grobogan tapi.. Orang itu!" Kane menunjuk ke arah Richard.
"Tuan Kane.. Kau!" Eros terkejut kala Kane mengatakan hal itu, karena Eros sendiri sengaja merahasiakan hal ini apa lagi setelah Inggrid mengatakan jika Grobogan telah berubah menjadi orang yang memiliki hati iblis. Tapi sekarang gara-gara Kane, Sir Jean jadi mengetahuinya.
Sementara itu, Richard berdiri seperti patung yang sedang tertunduk dengan bahu yang agak lesu dan kaki yang tertekuk sedikit, bisa dibilang ia tidak dalam keadaan berdiri tegak tapi sedikit bungkuk sambil menatap tanah dengan mata yang sayu, pandangan yang semakin buram dan nafas yang juga berat.
Bagaimanapun serangan yang diberikan oleh Rever adalah serangan kuat, ia juga mengalami luka yang cukup parah. Jika saja ia tak memiliki daya tahan tubuh yang kuat mungkin ia akan mati setelah ketekunan 2 kali serangan yang sama secara telak.
Dari arah para kesatria, Sir Jean menatap Richard. "Hm.. Jadi aku masih bisa mengangkat harkat dan martabat kesatria kerajaan Inggram.. Orang itu akan aku bunuh!" Tegas Sir Jean melihat Richard dengan kemarahan. Bagaimanapun, kegagalan menyelamatkan bangsawan bagi kesatria merupakan suatu aib yang memalukan. Walaupun pada dasarnya Grobogan adalah bangsawan yan telah jatuh ke jalan iblis, tapi bagi Kane yang kembali membutakan matanya demi harga dirinya, Grobogan tetaplah seorang bangsawan dan orang yang membunuhnya merupakan penjahat yang harus di bunuh.
Snijder masih memperhatikan Richard. "Orang itu.. Apakah aku mengenalnya. Meski ia terlihat lengah tapi pertahanannya berbahaya. Siapa dia sebenarnya?" Gumam Snijder.
Snijder berbalik, kali ini dia melihat ke arah Sir Jean yang berada di sebelah kirinya. Ia melihat jika Sir Jean memegang tombak dengan postur tubuh yang bersiap melempar, ia mengumpulkan kekuatan penuhnya.. Dengan target lemparannya adalah Richard yang saat ini hanya berdiri sempoyongan, tak bergerak sama sekali.
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
__ADS_1
-Bersambung-