The Strongest Knight

The Strongest Knight
Ch. 14 - Rasa Lapar


__ADS_3

Sisa-sisa api yang membakar ruangan tersebut masih menyala, sedangkan Richard tergeletak di tanah akibat luka yang ia derita. Api yang membakar seluruh ruangan sudah cukup membuat para monster kelinci yang menyerang mati seketika.


Richard membuka mata dan melihat keadaan sekitar. Dia menemukan para monster tersebut sudah tergeletak dengan api yang masih menyala. "Sepertinya makananku sudah siap." Ucapnya mencoba bangkit.


Richard berdiri sempoyongan, luka yang diderita akibat monster kelinci tersebut lumayan parah dari kaki hingga lengannya mengeluarkan darah. Richard memungut bangkai monster kelinci tersebut, dia melihat bangkai itu.


Tidak biasa karena darah bangkai yang berwarna hijau, begitupun dengan dagingnya. Richard menelan ludah seakan ragu untuk memakan bangkai itu tapi.. Dorongan rasa laparnya membuat ia mengabaikan keraguan dirinya.


Sekali lagi dia memperhatikan tekstur bangkai daging itu.. Lalu dengan rakus mulai memakan dan menggrogoti daging yang sudah matang karena api miliknya.


Richard memuaskan hasrat laparnya, dia terus menggigit daging bangkai itu sampai yang tersisa hanya tulang benulangnya saja. Saking laparnya, kelima bangkai monster tersebut dilumat sampai habis.


Meski terluka, rasa lapar yang sangat membuatnya tak sadar akan keadaannya saat ini. Pendarahan yang ada dalam lengan, perut dan kakinya belum berhenti tapi dia tetap menyantap bangkai itu sampai habis.


Sesekali dia terlihat ingin muntah saking tidak enaknya daging tersebut. Bahkan tenggorokannya sudah tersedak beberapa kali karena tubuhnya seperti menolak daging monster itu tapi dia tetap menghabiskan bangkai monster kelinci tersebut.


"Ini adalah makanan paling tidak enak yang pernah masuk ke dalam perutku." Gumamnya.


Setelah menghabiskan bangkai itu, dia mulai bangkit dan berjalan perlahan. Matanya berkunang-kunang, Richard menguatkan dirinya dan terus berjalan meski kedua kakinya masih mengeluarkan darah.


Saat ini dia ingin kembali ke ruangan awal saat ia terbangun. Pikirannya hanya tertuju pada genangan air yang mungkin saja bisa menyembuhkan luka yang ia derita saat ini.

__ADS_1


Tepat berada dalam ruangan tiba-tiba perutnya terasa sakit. Dia terjatuh karena rasa sakit itu, bola matanya memutih. Mulutnya berbusa... Dia gemetar dan terjatuh ke tanah.


Dia memegang lehernya yang serasa seperti tercekik oleh sesuatu. "Sial.. Aarggg. Aahhhrrrggg." terus saja dia mengeram kesakitan.


Dia mulai meronta kesakitan, dia menjerit dan menggeliat di tanah menahan sakit yang tiba-tiba datang. Bukan dari luka gigit dan cakar monster tapi melainkan karena makanan yang dia konsumsi.


Dia menguatkan tekadnya. "Aku tidak boleh mati."


Sakit yang datang kembali menerjang, mulutnya kembali mengeluarkan busa bahkan darah. "Daging monster." Benaknya mengeram kesakitan.


Richard menduga daging para monster mengandung racun yang berbahaya bagi manusia, itu sebabnya kenapa manusia tidak menjual daging monster di pasar yang tersedia.


"Erggg... Ak.. Ak.. Aarrggg." Richard mencoba menjangkau ke arah genangan air kehidupan.


"Uhkk uhkk.. Uakk.."


Pandangannya mulai menghitam.. Tubuhnya berhenti menggeliat kesakitan. Darah yang mengalir juga sudah tidak keluar, mungkin darah di tubuhnya telah habis. Saat ini Richard benar-benar diambang kematian.


"Kenapa Ignis?.. Hanya seperti itu rupanya." Suara muncul tiba-tiba di kepala Richard yang saat ini telah berada di ujung nyawa.


Tapi Richard sudah tidak punya tenaga untuk merespon suara itu. Meski tinggal sedikit lagi dia bisa menjangkau genangan air tapi Richard sudah tidak bisa merasakan seluruh tubuhnya.

__ADS_1


Matanya menutup, Richard akhirnya akan mati..


Di saat-saat terakhir, Richard kembali mengingat masa lalunya. Di dunia sebelum ia datang ke Neverland.


Richard mengingat kembali hidupnya yang penuh dengan sengsara. Hidup sendiri tanpa pengakuan keluarga, adiknya adalah satu-satunya orang yang peduli dengan Richard namun meninggal karena sebuah penyakit.


Hidup tanpa arah dan tujuan hingga akhirnya dia memutuskan untuk bunuh diri. Saat ingatan bunuh diri kembali padanya.. Saat ini Richard berpikir jika memang mati adalah hal tepat baginya.


"Ignissss.. Apa hanya seperti itu?" Suara yang di dengarkan oleh Richard kembali.


Suara itu terus menggema.. Richard yang tadinya pasrah akan mati tiba-tiba membuka matanya. "Jangan bercanda.." Ucapnya gemetar.


Lingkaran sihir api terlihat bersinar di kedua telapak kaki Richard. Richard yang sudah sekarat mengeluarkan semua sisa tenaganya di kedua telapak kakinya.


Api yang terlihat mulai membakar kedua telapak kaki Richard.." Arrhhhfgggggfg"


Dengan cepat Api yang di fokuskan pada telapak kaki tersebut memberikan dorongan ketubuh Richard untuk bergerak ke depan. Meski cukup singkat tapi dorongan api tersebut layaknya dorongan api pada sebuah mesin roket yang mendorong Richard hingga saat ini Richard bisa berada dalam genangan air kehidupan.


Tenaganya habis.. Tapi Richard berhasil sampai di tengah genangan air tersebut. Dan tepat di atasnya terlihat kristal blue eye yang meneteskan air tepat mengarah ke wajahnya.


Richard membuka mulut.. Tetesan air dari kristal blue eye tersebut masuk ke dalam mulutnya. Richard menelan air tersebut dan seketika kesadarannya hilang.

__ADS_1


Richard pingsan..


-Bersambung-


__ADS_2