The Strongest Knight

The Strongest Knight
Ch. 131 - Sistem Pertahanan Terkuat


__ADS_3

Richard berjalan mendekati pemukiman semi permanen yang hampir saja diserang oleh pasukan monster level rendah dari arah utara, tepatnya dari arah hutan pinus. Tak jauh dari hutan itu, mayat monster yang telah mati berceceran.


Richard berjalan di tengah sorak sorai pujian untuk pasukan kesatria sihir yang berhasil melindungi pemukiman dan penduduk yang bermukim di tempat itu, tidak hanya penduduk yg bermukim tapi juga ribuan hingga ratusan ribu orang yang memenuhi pelataran depan yang sedang mengantri ke pintu masuk kota Lockdown.


Para kesatria sihir yang gagah dengan jubah tak mempedulikan mereka, mereka hanya fokus menjalankan perintah. Sebuah perintah khusus untuk melindungi penduduk yang bermukim di sekitar kota Lockdown. Saat ini, setelah mereka menyelesaikan tugas, para kesatria sihir itu terlihat memeriksa beberapa mayat monster untuk jaga-jaga jika saja masih ada monster yang belum mati.


Di sisi lain, Richard yang mendekat karena penasaran juga tertarik akan satu hal. Tertarik dengan aa yang dikatakan oleh kakek tua yang ia temui di bagian belakang anterian.


Sudah sejak tadi Kakek itu memuji kanselir sihir dan sejak saat itu juga Richard mulai tertarik dengan Kanselir sihir. Apa lagi saat Kakek itu itu mengatakan jika dunia ini tidak membutuhkan kesatria suci, yang dunia ini butuhkan adalah orang-orang seperti kanselir sihir.


"Kanselir sihir adalah pemimpin paling berwibawa yang pernah aku kenal.. Dia memberikan kami pangan dan lahan untuk sekedar menanam kentang." Lanjut kakek itu menjelaskan tentang kanselir sihir.


Richard yang berjalan dibelakang terus mendengar sambil memperhatikan sekitar.


"Kau tahu anak muda.. Meski kami adalah orang luar yang tidak pantas masuk ke dalam kota Lockdown tapi Kanselir masih mau menampung kami dan melindungi kami di sini, itulah sebabnya ada banyak bangunan semi permanen di lembah ini." Jelas Kakek tua itu.


"Jika kau membutuhkan perlindungan, kau boleh tinggal disini!" Ucap kakek tua itu melihat ke arah Richard.


"Kedengarannya Kanselir itu orang yang baik." Sahut Richard.


"Tentu saja.. Hahahaha, semua orang menyukai Kanselir sihir."


"Lalu.. Apa kau pernah melihat wajahnya?" Pertanyaan mendadak Richard membuat Kakek tua itu berhenti bergerak.


"Tidak pernah." Ucapnya. "Aku sudah hidup di lembah ini selama 4 tahun sejak kedatanganku dan aku belum pernah melihatnya sama sekali." Lanjut kakek tua itu.


"Tapi.. Perlakuannya Sudah mencerminkan kebaikan hatinya." Sambung kakek itu dengan lugas.


Lama mereka berjalan saking padatnya tempat itu, akhirnya mereka tiba di pemukiman yang tak jauh dari kota Lockdown.


Richard memperhatikan sekitar, ia melihat banyak orang tua, anak-anak dan wanita dari berbagai ras. Terlihat pula bagaimana kesatria sihir kota Lockdown diperlakukan bak pahlawan.


"Hei anak muda, perhatikan langkahmu.." Kakek tua menegur Richard yang berjalan tanpa memberi hormat kepada rombongan kesatria sihir yang berjalan dihadapannya.


Richard tak mengerti, di tengah kebingungan ia di tegur oleh salah satu kesatria sihir. "Oi.. Nope, apa kau tidak tahu tatakrama di tempat ini!" Ucap Kesatria sihir itu membentak.


Richard tak bergeming, lalu kakek tua yang berada didekatnya langsung melerai dan terus membungkuk dan meminta maaf. "Maafkan anak muda ini tuan.. Dia adalah orang baru." Ucap kakek tua itu.


"Ohh, pantas saja, lain kali ajari dia tatakrama jika masih ingin hidup di tempat ini." Balas kesatria sihir itu sambil melihat Richard dengan sedikit memberi tekanan.


Richard yang tak bergeming menunduk sedikit untuk menghormati kakek tua yang ada di depannya, bukan untuk kesatria sihir yang sedikit sombong itu.


Karena merasa jika Richard sudah hormat padanya, kesatria sihir itu tersenyum lalu berbalik ke arah rombongan yang berjumlah 7 orang di belakangnya. Sesaat setelah berbalik, kesatria sihir yang mengenakan jubah berambut cepak itu terkejut karena seorang anak kecil berdiri tepat di depannya sambil tersenyum.


"Siapa kau anak kecil?" Tanyanya.


Anak kecil polos itu tersenyum dan memberikan bunga kepada kesatria sihir yang telah menyelamatkan pemukiman semi permanen tempat ia dan orang tuanya tinggal.


Kesatria sihir itu lalu mengambil bunga dari anak kecil di depannya lalu meremas dan membuang bunga itu di depan muka anak kecil yang sedang tersenyum.


Sontak saja saja hal itu membuat anak kecil itu murung dan bersedih. "Hei anak kecil.. Kau hanyalah nope, sadari tempat dan posisimu." Ucap kesatria sihir itu, di iringi tawa oleh rekan-rekannya yang lain.


Anak kecil itu bersedih, lalu menangis dan berlari ke pelukan Ibunya.


Di tengah pemandangan memalukan itu, sang Ibu memeluk erat anaknya menangis akibat ulah kesatria sihir.


Sementara Richard yang melihat hal itu mendekat dan mengambil bunga yang sudah kusut dan rusak akibat diinjak, ia mengambil bunga itu lalu berkata. "Seseorang yang tidak bisa menghargai orang lain, tidak pantas disebut pahlawan." Ucapnya tegas.


Kesatria sihir melihat Richard dan merasa tersinggung atas ucapan itu. Situasi tegang pun terjadi antara mereka berdua, Richard yang bersikap biasa saja menghampiri anak kecil itu untuk menghiburnya.


"Hei.. Diam kau. Apa yang kau lakukan. Letakkan kembali bunga itu!?" Ucap kesatria sihir tersebut.


Richard tak peduli, bahkan kakek tua yang bersama Richard mencoba membujuk dan membuat Richard mendengarkan apa yang dikatakan oleh kesatria sihir tersebut.


"Sialan.. Dasar Nope.." Kesatria sihir itu kesal lalu mencoba menyerang Richard.


Dan terjadi ledakan besar...


Sebuah lonceng peringatan berbunyi sebagai tanda adanya serangan dengan skala yang lebih besar dari serangan monster level rendah yang menyerang pertama kali.


"Huh.. Serangan. Sial.. Kau selamat anak muda." Ucap kesatria sihir yang bergegas terbang dengan tongkatnya untuk mendekati sumber serangan yang berada di arah timur kota Lockdown.


"Lonceng ini tidak terdengar sebelumnya, apa yang terjadi?" Tanya Richard melihat semua pasukan kesatria sihir terbang ke arah timur kota.


"Ini adalah serangan skala besar, serangan yang langsung menyerang kota Lockdown." Jelas Kakek tua yang masih berada di dekatnya.


Apa yang dikatakan oleh Kakek tua itu benar terjadi, tepat dari arah timur kota segerombolan monster dengan beberapa iblis level demon yang memimpin para monster. Mulai dari pasukan goblin hingga butayaro berlari dengan buas menyergab sejauh pemukiman lain yang terdapat di wilayah timur kota Lockdown.

__ADS_1


Tentu saja hal itu membuat para penduduk pemukiman semi permanen yang ada di wilayah itu terkejut dan berhamburan untuk mencari perlindungan, sedangkan mereka yang mengantri di pelataran gerbang raksasa kota Lockdown merasa cemas dan mulai berdesak-desak kan untuk masuk ke dalam kota.


Tak lama setelah lonceng peringatan berbunyi, suara dari langkah kaki dan teriakan pasukan monster skala besar itu mulai terdengar. Getaran tanah dari pasukan berjumlah ribuan itu dirasakan oleh hampir semua orang yang ada di sekitar lembah.


Sementara itu, respon pertahanan kota Lockdown atas serangan skala besar itu belum terlihat. Apa lagi pasukan yang tadi berada di pemukiman semi permanen wilayah utara kembali masuk ke dalam kota melalui gerbang tersembunyi yang berada di atas gerbang raksasa.


"Apa yang mereka lakukan di saat seperti ini?" Ucap Richard yang mulai risau.


"Mereka itu hanya pasukan kecil, jadi wajar saja jika mereka kembali masuk ke dalam kota." Jawab kakek yang masih berada di dekat Richard.


"Untuk pasukan skala besar seperti ini, yang akan keluar adalah pasukan elite kesatria sihir. Di pimpin langsung oleh penyihir besar, Tuan Gaite." Tegas Kakek itu.


Lalu dari arah serangan para pasukan monster itu, sebuah parit tanah raksasa terbuka lebar. Sontak saja pasukan monster yang berlari terjatuh ke parit dan langsung tertusuk oleh besi panas yang sangat tajam. Sebuah perangkap sihir yang telah di aktifkan oleh penyihir pertahanan kota Lockdown.


Richard lalu bingung, meski tak tau pasti apa yang sedang terjadi tapi dari atmosfer orang-orang yang bersorak, ia jadi mengambil kesimpulan jika para monster tersebut sedang diserang.


"Ya.. Inilah pertahanan terkuat kota Lockdown." Ucap kakek tua itu.


Bersamaan dengan hal itu, sebuah meriam sihir tiba-tiba muncul dari atas gerbang gedung wilayah timur. Sejauh gerbang yang menembakkan sihir plasma yang melelehkan pasukan monster tidak cukup sampai di situ, satu persatu perangkap sihir aktif.


Hal itu membuat pasukan monster kocar kacir, pasukan yang kelihatan solid itu tidak berdaya menghadapi bombardir serangan pertahanan dari kota Lockdown.


Bahkan mereka masih terpaut jauh dari jarak pemukiman di wilayah timur luar kota Lockdown, hal itu membuat penduduk jadi sedikit tenang.


Puncaknya saat pintu rahasia di gerbang atas terbuka, bersamaan dengan hal itu pasukan elite penyihir keluar. Mereka melayang dan berbaris rapi, menunggu aba-aba sang penyihir besar bernama Stain Gaite.


Di arah utara, Richard yang tak tahu apa-apa tetap merasa resah. Raut wajahnya dilihat oleh kakek tua yang sejak tadi masih menuntunnya. "Tenang saja anak muda, kota ini selalu bisa bertahan. Serangan hari ini hanyalah serangkaian serangan kecil yang biasa datang.. Bahkan kota ini pernah diserang dari segala sisi tapi berkat kekuatan kanselir sihir. Kota ini tetap bertahan." Kata Kakek itu.


Sementara itu..


Di dalam kota Lockdown, situasi darurat yang terjadi di luar kota sama sekali tidak dirasakan oleh mereka yang tinggal di dalam kota. Bahkan mereka yang tinggal di dalam kota masih menjalankan aktivitas harian seperti biasa.


Di sebuah distrik pendidikan, tepat di depan sekolah sihir Hogward. Oana berjalan mendekat sambil bertanya kepada beberapa orang tentang penyihir bernama Aliyah.


Matahari yang sebentar lagi terbenam membuat pekarangan luas gedung utama sekolah sihir nampak sepi, hanya ada beberapa orang. Hal ini membuat Oana kesulitan karena ia tak tahu harus bertanya dan ke arah mana harus mencari Aliyah.


"Ini benar-benar merepotkan." Benaknya sembari tetap berjalan.


Saat Oana terlihat bingung, dua orang yang memakai jubah mendekat dan menegur Oana. Kedua orang itu adalah kesatria sihir yang sejak tadi mengikuti dan mengawasinya.


"Nona.. Kau harus ikut dengan kami!" Tanpa basa basi memperkenalkan diri, kedua kesatria sihir itu langsung menekan Oana.


"Kami adalah kesatria sihir.. Saat ini kami mendapatkan perintah untuk mengantarkan anda ke suatu tempat!?" Jelas salah satu dari mereka.


Oana merasa curiga, ia memiliki firasat buruk. "Siapa yang menyuruh kalian?" Tanyanya sekali lagi.


"Kanselir sihir." Tegas seorang dari mereka.


Lalu di tempat lain, kediaman Kanselir sihir. Dimana para kesatria suci sedang dijamu dengan berbagai makanan dan minuman enak. Mereka sedang terlibat percakapan serius, walaupun mereka tidak begitu serius dan lebih menikmati makanan yang di sediakan.


"Uwaahhh.. Enak, kasihan sekali Pege tidak ikut masuk. Dia jadi tidak bisa menikmati makanan enak ini." Ucap Rebecca yang terlihat menikmati makanan di depannya.


"Huahahahh.. Lucu sekali kau wanita muda." Ucap Kanselir sihir yang tertawa sambil menutup mulutnya.


Smits yang sedang mengunyah daging lalu mengambil segelas air dan menenggak sampai habis. "Jadi langsung saja Kanselir.." Ucap Smits dengan wajah lesunya.


"Hei, tenanglah tampan.. Nikmati saja jamuan makan ini." Ucap Kanselir yang duduk di depan mereka semua. Di sebelahnya berdiri pria tua dengan jenggot dan kumis putih yang telah membuat Anne pingsan.


"Maaf saja tapi kami tidak punya waktu.. Kau tahu sendiri bagaimana kondisi dunia ini sekarang. Jika saja gadis muda dan cantik itu tidak memelukku sambil gemetar ketakutan maka aku tidak akan ada di sini untuk meminta penjelasan darimu." Ucap Smits.


"Sekarang aku tanya.. Apa yang membuat gadis itu gemetar ketakutan? Dan kenapa kau menganggapnya sebagai ancaman?" Tegas Smits menatap tajam.


Sontak jamuan makan yang santai itu menjadi lebih tegang dari sebelumnya, tidak ada suara yang terdengar kecuali suara piring dan garpu dari depan Rebecca.


"Rebecca.." Gildarts berbisik pada Rebecca yang terus mengunyah tanpa memikirkan situasi.


"Hah.. Kenapa?" Sahutnya.


"Huahahaha.. Aku menyukaimu nona muda.." Ucap Kanselir yang gemas dengan sikap polos Rebecca.


"Baiklah pria tampan, sepertinya kau yang memimpin mereka di sini.. Aku akan menjelaskan padamu tentang gadis yang kau lindungi itu." Kata Kanselir kepada Smits.


Belum Kanselir menjelaskan sepatah kata, tiba-tiba seorang pria berubah muncul di samping kiri sambil berlutut.


Kemunculan pria berjubah itu menarik perhatian mereka semua, kecuali Rebecca yang masih sibuk dengan makanannya.


"Kanselir.. Mohon izin, penyerang telah terjadi di wilayah timur kota!" Tegas pria itu.

__ADS_1


Sontak hal itu membuat para kesatria suci gusar.


"Tenanglah.." Ucap Kanselir kepada para kesatria suci. "Kalian tidak perlu khawatir dan tidak perlu turun tangan.. Pertahanan kota ini tidak akan bisa ditembus." Sambung Kanselir.


"Pasukan elite telah mengaktifkan perangkap sihir pasukan dipimpin oleh tuan Gaite." Sambung pria berjubah itu.


"Baiklah.. Silahkan pergi dan laporkan perkembangannya padaku." Ucap Kanselir dengan santai. Setelah mengatakan berita penyerangan, pria berjubah itu hilang.


"Kenapa kau bersikap santai seperti itu?" Tanya Smits pada Kanselir.


"Tenang saja kesatria suci.. Hal ini bukanlah masalah besar untuk kami." Kata Kanselir sihir sambil tersenyum.


Di waktu yang sama, situasi di luar kota Lockdown terlihat kacau. Terutama di wilayah timur, meski tidak sampai kepada pemukiman semi permanen yang ada tapi setidaknya terjadi berbagai kerusakan seperti tanah yang retak dan berlubang, pohon yang tumbang dan batu berserakan. Seperti medan perang pada umumnya dengan tumpukan mayat-mayat monster, yang luar biasa adalah tidak adanya mayat kesatria sihir yang terlihat dari tumpukan mayat-mayat itu.


Perang belum berakhir karena beberapa monster dan iblis level demon masih bertarung dengan kesatria sihir. Sebuah pertarungan yang berat sebelah dimana para kesatria sihir berhasil mendominasi dan membuat para monster dan iblis level demon terdesak.


Hal ini semakin membuat rumor kota Lockdown sebagai kota dengan pertahanan terkuat meningkat dan mereka yang menyaksikan pertempuran berat sebelah itu tambah ingin masuk dan hidup damai di dalam kota Lockdown, kota kubah yang tertutup.


Di wilayah utara, tempat dimana Richard berada. Di sebuah gubuk tua ia duduk bersama kakek yang senantiasa menemaninya.


"Lihat.. Bagaimana kuatnya pertahanan kota ini." Ucap kakek yang menyuguhkan secangkir teh pada Richard.


"Sekarang kau bisa tahu alasan begitu banyaknya orang yang ingin masuk ke dalam kota dan begitu banyaknya orang yang tinggal disekitar kota meski kami semua telah di tolak." Sambung kakek tua itu.


Suara serupa teh terdengar. Richard langsung menghabiskan teh itu dalam sekali teguk.


"Hei, pelan-pelan anak muda.. Teh itu masih panas!"


"Ah.. Maafkan aku, teh ini enak. Tidak masalah.. Aku bisa tahan terhadap panas." Ucap Richard.


"Kau pria yang aneh.. Jadi siapa namamu?"


"Aku Ri.. Maksudku Red." Tegasnya.


Mereka berdua lalu terlibat pembicaraan santai, Richard juga bertanya tentang daratan Gres dan sebagai ras Dwarf ternyata kakek tua itu mengetahui daratan yang dimaksud oleh Richard.


Richard kembali tertarik tapi belum dia menanyakan letak dari dataran Gres, tiba-tiba saja sebuah tenda roboh dan langsung menarik perhatian orang-orang sekitar, pun enggan Richard.


Tenda itu roboh oleh monster besar ras Oger dengan tinggi hampir 3 meter dengan kulit tebal berwarna merah pekat. Matanya kuning dengan taring panjang dan memegang senjata palu raksasa.


Monster itu adalah sisa-sisa pasukan yang menyerang kota Lockdown dari arah timur. Ia terlempar jauh ke utara tempat dimana dia berada saat ini karena berhasil kabur dari kejaran kesatria lain. Ia kabur bersama dengan iblis bersayap yang menopangnya. Iblis itu mati karena berhasil terkena sihir sedangkan Oger tersebut selamat dan mendarat tepat di atas tenda salah satu warga pemukiman.


Melihat Oger itu, seluruh warga panik. Apa lagi tidak ada kesatria sihir yang terlihat di area itu. Mereka menjadi semakin pajak saat Oger itu bangkit dan setelah ia bangkit ternyata darah mengalir keluar dari dalam tenda. Bersamaan dengan hal itu seorang wanita tiba-tiba keluar dari kerumunan.


"Ahhhh... Tidak. TIDAK. Anak ku.. Tidak." Ia histeris melihat darah yang keluar dari tenda, karena ia tahu jika anaknya saat ini tidak mungkin masih hidup setelah tertimpa oleh Oger gemuk dengan tinggi yang mencapai 3 meter.


Wanita itu histeris sementara Oger itu meronta dan berteriak. "Aergggggggg." Ia menyerang wanita tersebut karena merasa tersudutkan.


Tanpa pikir panjang Richard bergerak sesaat sebelum Oger itu berhasil mencengkram wanita yang sedang meratapi kematian anaknya.


Lalu.. Dengan Hentakan keras, kepala Oger itu pecah di tanah dan mati seketika.


Richard tercengang, ia melihat seorang pria dengan tubuh kekar yang membenturkan kepala Oger itu ke tanah hingga pecah. Semua orang terdiam sekali lagi, pria yang tidak asing itu memiliki pedang besar di punggungnya.


"Orang itu..." Kata Richard dalam hati.


Lalu pria kekar itu mendekati tenda yang bersimbah darah. Ia duduk lalu mendoakan anak yang telah mati itu. Pria itu adalah kesatria suci dengan gelar Tenebris, Darkam Pege yang tidak ikut masuk ke dalam kota Lockdown.


Setelah berdoa, Pege membungkus mayat anak itu dengan tenda yang sudah penuh darah. Tubuh anak itu sudah tidak berbentuk tapi dengan sedikit kemampuan sihirnya ia berhasil mereka ulang bentuk tubuh anak itu lalu menyerahkan mayat anak itu pada wanita yang sedang histeris.


Wanita itu menangis sejati-jadinya, ia memeluk anaknya yang masih berusia 5 tahun. Ia larut dalam tangisan kesedihan, sementara itu Pege berlalu dan pergi tanpa mengatakan apapun.


Ia berjalan ke arah Richard, saat mendekat mereka berdua saling menatap sepersekian detik lalu Pege berhenti sejenak, Richard hanya diam tanpa ekspresi sementara Pege terus menatap Richard seakan tahu siapa Richard sebenarnya.


'


'


'


'


'


'


'

__ADS_1


-Bersambung-


__ADS_2