
Disebuah ruangan terdalam dari Labirin..
Penuh cahaya, meski berada jauh dari permukaan tanah tapi ruangan ini tetap terang dari cahaya yang dihasilkan oleh kristal biru bercahaya di atap ruangan tersebut.
Dalam ruangan penuh dengan air itu, sekilas tampak terlihat seperti danau padahal itu hanya genangan air dari rintik air yang terkumpul akibat tetesan kristal biru yang ada di langit-langit ruangan.
Di atas genangan air, terlihat seorang pria dengan tangan sebelah kiri yang buntung. Dia mengambang tak sadarkan diri..
"Hwhhhh.." Richard membuka mata, dia panik dan melihat sekitar ruangan masih dalam keadaan tidak tahu apa-apa.
"Dimana ini? Apa yang terjadi?" Richard bingun karena berada dalam genangan air yang berwarna biru langit, dia mulai bangun dari genangan itu, genangan air yang tampak dalam itu ternyata tak dalam seperti kelihatannya.
Richard duduk dan memegang kepalanya dengan tangan kanan. Dia masih berada dalam genangan air yang memenuhi setengah dari ruangan asing itu. Richard masih belum mengingat apapun, dia masih memegang kepalanya. "Apa yang terjadi padaku?"
Dia menengok ke atas dan melihat sebuah kritas biru yang meneteskan air dan menghasilkan cahaya. Dia masih menerka tentang apa yany terjadi kepadanya, bahkan sekarang dia tak ingat sudah berapa lama dia berada dalam tempat itu.
"A.. Aku. Hah iya.. Waktu itu aku terjatuh dan.. Ivy?" benaknya.
Sekilas ingatan tentang kejadian yang menimpanya mulai kembali bersama dengan ekspresi wajahnya yang tampak terkejut dan tak percaya.
"Kami diserang oleh klan Iblis dan.. Aku terjatuh.. Iyaa.." Richard masih memegang kepalanya.
Tapi ada yang aneh dengan dirinya, saat Richard menengok ke arah kita dan melihat lengan kirinya dia terkejut dan memegang lengan kirinya. "Aaarrggggg, apa yang terjadi denganku. Taaa.. Tanganku."
Richard berteriak, hingga akhirnya dia bisa mengingat kembali kejadian yang menyebabkan tangan kirinya terputus. "Cyclops.. Iyaaa.. Tanganku dikunyah oleh Cyclops." Ucapnya gemetar sambil memegang erat lengan kirinya yang sudah buntung.
Dia mengeram tapi bukan karena sakit, melainkan karena marah dengan keadaan yang menimpa dirinya. "Arrrggg.. Aahhhh." Teriakankan kali ini menggema dalam ruangan itu.
Richard memegang tangan kirinya yang buntung dengan tangan kanannya sangat kencang saking kesalnya. "Sial.. Sial.. Sial... Aahhhhrrrggg."
Setelah luapan kemarahannya sedikit mereda, dia mengangkat wajahnya. Matanya tertuju pada sumber cahaya di langit-langit ruangan tersebut. Sekilas dia mengingat kembali kehidupannya saat masih berada di dunia asalnya.
"Di dunia ini dan dunia tempat asalku sama saja." Benaknya.
Dia berdiri sempoyongan, jelas terlihat Armor merah yang dia gunakan sudah rusak dan hanya menyesakkan dada. Akhirnya dengan tenaga seadaanya dia melepas Armor miliknya.
Di melihat sekeliling ruangan tapi tak ada apa-apa selain ganangan air, di depannya cukup gelap karena cahaya tidak menjangkau jauh ke sebelah ruangan yang lain. "Seharusnya, aku mati saja disini." Benaknya.
Dia berjalan tapi tiba-tiba perutnya berbunyi. "Aku lapar.. Sebenarnya sudah berapa lama aku ada disini." Ucapnya sempoyongan.
__ADS_1
Anehnya saat ini Richard dalam kondisi yang baik bahkan setelah kehilangan lengan kirinya. Meski tubuhnya terlihat kurus karena tidak makan sejak dia terpisah dari teman-temannya yang lain. Bahkan lengan kirinya yang mengalami pendarahan parah saat diserang oleh Cyclops sekarang sudah sembuh tak meninggalkan bekas meski lengan kirinya tak utuh lagi.
Ketika berjalan menuju kegelapan yang berada di depan, Richard kembali melihat tangan kirinya yang buntung. "Bagaimana bisa?" Ucapnya heran.
Saat itu dia berhenti dan mulai berpikir, sepertinya ada hal yang baru saja melintas di benaknya. Dia berpikir keras, lalu menoleh ke belakang dan mengangkat pendangannya dan melihat kristal biru yang bercahaya tersebut.
Suara rintik air yang dihasilkan oleh kristal biru itu terdengar nyaring, semakin Richard mencoba mengingat maka semakin nyaring bunyi rintik air itu.
"Iya.. Aku ingat, mata air dari kristal kehidupan. Blue eye." Gumamnya.
Blue eye, sebuah batu bercahaya yang memiliki kekuatan penyembuhan luar biasa di daratan Neverland.
"Sepertinya ada endapan air di atas ruangan ini." Gumam Richard.
Blue eye adalah item yang sangat langka bagi mereka penjelajah labirin. Bahkan di dunia ini hanya ada satu orang yang memiliki item tersebut. Dikatakan dalam ensiklopedia item langka bahwa blue eye bisa menyembuhkan penyakit apapun dan luka separah apapun.
Blue eye bisa dikomsumsi dengan cara menumbuk hingga halus lalu dicampur dengan air putih dan diminum atau merendam luka kedalam air yang telah bercampur dengan blue eye.
"Aku tak menyangka bue eye bisa digunakan seperti ini juga." benak Richard sambil melihat dirinya.
Kini Richard mulai mengerti kenapa dirinya yang sudah sekarat saat menghadapi Cyclops malah masih hidup dan dalam keadaan baik-baik saja. Sepertinya kebiasaan membaca buku di perpustakaan kerajaan bisa berguna saat ini. Richard menunduk mencoba mengambil genangan air tersebut menggunakan lengan kanannya lalu meminum air itu.
"Sepertinya aku harus mencari makan." Gumamnya sambil melangkah ke ruangan gelap yang berada di depannya.
Labirin.. Sebuah tempat dengan banyak ruangan berbeda. Setiap ruangan memiliki kondisi dan luas yang juga berbeda. Berbeda dengan bangunan biasa yang bertingkat, labirin yang muncul tiba-tiba saat dimulainya invasi klan Iblis tersebut berada dalam tanah atau seperti ruangan bawah tanah. Semakin masuk ke ruangan terdalam maka monster yang terdapat juga akan semakin kuat. Hal itulah yang membuat para kesatria penjelajah labirin menggunakan kode level pada setiap lantai terbawah yang mereka masuki.
Richard berjalan sambil menahan rasa laparnya. Akhirnya dia berhasil memasuki ruangan baru, cukup gelap tapi masih bisa melihat walau terbatas.
Richard berjalan perlahan sambil memperhatikan ruangan sekitar, untuk membantu pandangannya Richard menggunakan sihir api yang menyala di jari telunjuknya sebagai cahaya.
Hingga dia melihat sekelompok kelinci lucu berwarna putih yang sedang melahap bangkai monster besar.
"ha.. A.. Ak.. Aku belum pernah melihat kelinci seperti itu!" Katanya cukup terkejut.
Kelinci tersebut berbalik dan melihat Richard dengan tatapan yang menyala. Tiba-tiba kelinci imut itu menampakkan kekuatannya dengan berubah menjadi kelinci dengan taring pembunuh dan carak di ketua kakinya.
"Tempat ini memang tidak normal." Kata Richard mulai panik.
Kelinci tersebut menerjang dengan serangan cakar ke arah Richard. Meski terluka pada bahu sebelah kirinya tapi Richard berhasil menghindari serangan berbahaya itu. Sementara Kelinci lain satu persatu berubah wujud dan menyerang Richard.
__ADS_1
Richard terpojok, apa lagi kelinci tersebut cukup cepat dan lincah. Untuk memperluas jarak pandangnya Richard menggunakan sihir api dan membakar ruang itu dengan api miliknya tapi... Tak sesuai dengan harapannya, api miliknya tidak cukup besar untuk membakar seluruh ruangan.
Kelinci yang berjumlah 5 ekor tersebut terus menyerang Richard hingga terpojok, tak sedikitpun Richard menyerang balik, saat ini Richard hanya fokus pada pertahanan.
Hingga akhirnya dia dikelilingi oleh kelinci tersebut. Depan belakang dan samping kiri kanannya. Dia memasang kuda-kuda bertahan sambil memperkuat sihir api untuk mengelilingi dirinya.
"Sepertinya kali ini aku benar-benar akan mati." Ucapnya pesimis.
Richard dengan jeli memperhatikan gerak gerik para monster kelinci tersebut. Insting Richard bergema saat kelima kelinci itu menyerang secara bersamaan. Dengan sigap Richard mengangkat tangan kanannya kedepan dan meledakkan kelinci yang menyerang tersebut dengan sihir api yang dimilikinya.
Kelinci tersebut terlempar akibat sihir yang dikeluarkan oleh Richard dan terluka hingga tak bisa bangkit.
"Sial.. Aku hanya berhasil melukai satu." Gumam Richard.
Ternyata keempat kelinci lain yang tidak menyerang dari depan berhasil menancapkan taring mereka dan melukai Richard. Kaki kanan dan kirinya mengeluarkan darah dari bekas luka cakar monster kelinci tersebut, sementara salah satu monster kelinci masih berada di bahu sebelah kiri sambil menancapkan taringya begitupun dengan monster kelinci yang menggigit Perutnya.
Richard menahan sakit, dia lalu memegang kepala monster kelinci yang menancapkan taringnya di bahu sebelah kiri dengan tangan kanannya dan meledakkan kepala kelinci tersebut dengam sihir apinya hingga darah memenuhi pundaknya.
Kini tersisa 3 monster kelinci dan Richard sudah berlutut dengan mata yang hampir pingsan karena luka yang dia derita.
Lapar dan luka yang memenuhi tubuhnya membuat pandangannya kabur tapi Richard masih berusaha untuk tetap sadar.
Sepertinya ketiga monster kelinci tersebut tak mau ambil resiko, monster itu tidak menyerang Richard lagi secara sembarangan karena saat ini Richard mengeluarkan aura membunuh yang luar biasa.
Dengan keadaan setangah sadar tatapan Richard sangat tajam. Meski penuh luka tapi dia belum menyerah kali ini, tidak seperti biasanya.
"Aku tidak boleh mati disini.. Iya aku tidak boleh mati." Ucapnya gemetar.
Tangan kanannya mulai mengeluarkan api bersamaan dengan tekad kuatnya untuk tetap hidup. Api di tangan kanannya semakin lama semakin panas dan membesar.
Para monster kelinci tersebut terlihat ragu menyerang. Tapi dengan kelincahan dan kecepatan yang dimiliki monster itu, mereka lalu menyerang Richard bersamaan.. Saat sebelum cakar dan taring monster kelinci itu mengenai Richard.
Tiba-tiba.. Ruangan tersebut berubah menjadi lautan api.
-Bersambung-
Visual look monster Cyclops yang ada di dalam cerita..

__ADS_1