
"Jangan menganggu.. Ini adalah urusan kesatria sihir." Teriak seorang pria berjubah yg berusaha melerai beberapa orang yang ingin membantu gadis di depannya.
Seorang pria yang merupakan pelajar di akademi sihir berhenti melangkah begitu melihat lencana dari titah kanselir sihir. Hal itu juga membuat beberapa orang yang ada di lokasi tidak jadi membantu gadis yang sedang dikeroyok oleh 2 orang pria berjubah.
Gadis itu tentu saja adalah Oana yang masih terus memberikan perlawanan karena tidak ingin ikut dengan 2 orang pria misterius di depannya. Walaupun kedua pria itu telah mengatakan jika hal ini merupakan perintah dari kanselir sihir.
Perlawanan Oana membuat kedua kesatria sihir itu cukup kesulitan apa lagi mereka berdua sama sekali tidak bisa melumpuhkan bahkan melukai Oana, sedangkan Oana sendiri memberikan perlawanan tidak dengan sekuat tenaga. Bagaimanapun Oana masih belum menggunakan kekuatan sihir terbaiknya saat ini, meski begitu dia sudah kelihatan unggul dari kedua penyihir yang mencoba menangkapnya.
Perlawanan Oana tentu menimbulkan sebuah pertarungan dan pertarungan akan membuat kegaduhan, hal itulah yg membuat beberapa siswa dari asrama sihir keluar karena penasaran dengan kilatan sihir dan suara gempuran yang bising.
Lokasi pertarungan yang tadinya cukup sepi, perlahan menjadi semakin ramai oleh mereka yang datang karena ingin melihat keributan yang terjadi.
"Sial.. Wanita ini!" Salah seorang penyihir itu mengumpat sambil berkeringat karena telah menggunakan banyak imperium untuk menggunakan sihirnya.
Sementara itu Oana yang terlihat santai menatap dengan penuh tanda tanya. "Kalian berdua.. Sudahlah, dengan sihir pas-pasan seperti itu kalian tidak akan bisa menangkap ku!" Ucap Oana.
"Cih.. Kau hebat juga, tapi ingatlah posisimu. Saat ini kau sedang berada di kota Lockdown, meski malam ini kami tidak bisa membawamu, maka besok, besok dan besoknya akan banyak kesatria sihir yang datang untuk membu..." Belum selesai pria berjubah itu mengumpat.
"Rationem terra.." Bersamaan dengan mantra sihir yang terucap, sebuah lubang terbuka dibawah kaki pria berubah itu, salah seorangpun terjatuh cukup dalam.
"Sihir trapp.." Ucap Oana, "Hm.. Kau lengah." Lanjutnya
"Sialan.." Umpat seorang yang berhasil selamat.
Sementara itu, beberapa orang yang melihat pertarungan mulai bertanya dan penasaran dengan sosok Oana.
"Murid barukah?"
"Bukan, sepertinya dia pengajar baru.."
"Apa yang terjadi.. Kenapa pasukan kanselir mengejar wanita cantik sepertinya.
Bualan demi bualan terdengar. "Huhhh, ini sudah terlalu banyak menimbulkan perhatian." Ucap Oana sambil menarik nafas. Ia lalu melanjutkan. "Hei.. Aku pergi dulu, tidak usah mengejar ku jika kau tidak ingin mati." Tegasnya.
Raut wajah Oana menjadi cukup serius dengan tatapan mata yang sangat tajam ke arah pria berjubah itu.
"Heee.. Ada, ada apa ini? Tekanan sihir ini, dari mana datangnya?" pria berjubah itu berkeringat, ia berkata dalam hati.
Setelah mengeluarkan intimidasi, Oana berbalik.
"Tu.. Tunggu." Pria berjubah yang telah goyah mentalnya itu masih bersikeras.
"Bodoh amat.. Aku pergi, lain kali jika ingin menangkap ku. Kalian harus lebih kuat lagi." Ucapnya dan... "Hah!" Ia dikejutkan oleh serangan sihir yang datang dari arah atas. Serangan itu cukup cepat dan kuat hingga membuat Oana tersungkur dan tak sadarkan diri.
"Ventus somno... Tidur lah sebentar Nona muda." Ucap seseorang yang melayang menggunakan tongkat tebal di atas langit.
Sementara itu, di dalam kediaman kanselir sihir. Setelah jamuan makan malam dan percakapan berat yang terjadi antara kesatria suci dan kanselir sihir, para kesatria suci memutuskan untuk beristirahat malam ini disebuah bar yang juga menyediakan kamar untuk istirahat yang dapat mereka sewa.
Lokasi tempat mereka menginap tak jauh dari kediaman kanselir sihir, bahkan semua biaya di tanggung oleh kanselir sihir.
Percakapan yang terjadi cukup lama itu membuat mereka percaya dan yakin dengan apa yang dikatakan oleh kanselir sihir, apa lagi setelah mengetahui watak dan kepribadian kanselir sihir yang cukup ramah dan baik terhadap mereka.
Di salah satu kamar, tepatnya kamar tempat dimana Ivy dan Rebecca beristirahat. Ivy yang sedikit terganggu dengan dengkuran Rebecca yang cukup keras berdiri di balkon kamar yang berada di lantai 2, rambut panjangnya terurai oleh angin malam yang menyambar lewat jendela.
Ia menatap ke depan dengan tatapan kosong sambil memegang bekas luka yang ada di telapak tangan sebelah kirinya. Sebuah luka yang ia dapat saat insiden yang terjadi di dalam labirin setahun yang lalu.
"Hei Ivy.. Kau masih belum tidur ya?" Tanya pria yang sedang berada di atap loteng.
Ivy terkejut, tapi ia langsung bisa mengenali suara itu. "Gildarts... Apa yang kau lakukan di atas sana?" Tanya Ivy menghadap ke atas walaupun ia tak bisa melihat Gildarts.
"Aku hanya sedang mencari angin malam.. Lagi pula tidur di atas ini lebih nyaman dari pada harus tidur dengan Smits."
"Ahehehe.." Ivy tersenyum dengan canggung. "Bilang saja kau tidak bisa jauh dari Rebecca." Sambungnya.
"Ahh.. Aaaa.. Tentu tidak, aku benar-benar hanya mencari angin malam di sini." Ucapnya menyangkal.
"Tidak papa Gildarts.. Rebecca pasti senang dengan perhatianmu. Lagi pula.. Jika aku yang menjadi Rebecca aku akan merasa senang."
__ADS_1
Gildarts terdiam, ia masih berbaring sambil menatap langit dengan kedua lengan yang menjadi bantal kepalanya. "Richard kah!?" Ucapnya spontan.
Tentu mendengar hal itu Ivy cukup terkejut.
"Ivy... Kau mengatakan hal itu karena teringat dengan Richard bukan?.. Bagaimanapun, hanya kau orang yang dekat dengannya dan Richard, dia juga melakukan hal yang sama seperti saat ini yang aku lakukan pada Rebecca." Kata Gildarts. "Bahkan.. Semua teman-teman mengetahui jika kau masih membebani dirimu dengan kematian Richard.. Sudahlah Ivy, kau harus melangkah ke depan, lagi pula kematian Richard adalah kematian yang sangat aku inginkan. Dia mati demi menyelamatkanmu, hal yang akan aku lakukan juga demi melindungi Rebecca dan hal itu tidak akan aku sesali." Sambung Gildarts dengan bijak.
Lalu, ditempat lain.
Bagian luar kota Lockdown, di tengah pemukiman semi permanen yang dibuat oleh mereka yang tertolak masuk ke dalam kota.
Di salah satu tenda yang terbuka, tenda yang hanya menutupi langit tapi tak menutupi sisi-sisinya. Richard duduk sambil memikirkan langkah yang harus dia tempuh.
"Permisi.." Suara wanita muda mengalihkan perhatian Richard.
"Maaf mengganggu tuan, ini ada sedikit cemilan. Aku di suruh oleh kakek untuk memberikan ini padamu." Ucap wanita muda itu.
"Terima kasih.." Balas Richard.
Wanita muda itu tak segan lalu duduk di sebelah Richard. "Tuan.. Apa kau akan tinggal disini?" Tanya wanita muda itu.
"Tidak.. Sepertinya aku akan pergi besok."
"Sayang sekali, tinggallah sampai lusa.. Kami akan melakukan upacara peringatan.. Akan ada jamuan makan untuk seluruh orang yang tinggal disini." Ucapnya.
"Jamuan makan? Oh iya, aku belum tahu namamu?"
"panggil saja aku Nora." Balasnya tersenyum.
Wanita muda yang bersama dengan Richard saat ini bernama Nora, ia adalah wanita baik hati dari keluarga yang tinggal di kerajaan Inggram, namun karena desanya telah hancur. Nora dan keluarganya memutuskan untuk pergi ke kota Lockdown ketimbang menunggu bantuan dari pasukan kerajaan Inggram.
Ayah Nora telah meninggal akibat serangan dari klan Iblis, sekarang ia tinggal hanya dengan Ibu dan kakak laki-lakinya di sini bersama dengan ratusan orang yang juga mencari suaka dan keselamatan dari kanselir sihir.
Nora tergabung dalam kelompok pemasok makanan untuk kelompok mereka saat ini, itulah mengapa ia mengenal semua orang yang ada di sini karena salah satu tugasnya adalah membagikan hasil panen dan makanan kepada orang-orang yang ada di tempat ini.
"Nora kah! Baiklah... Terima kasih atas makanannya." Ucap Richard.
"Iya, tapi seperti yang aku katakan.. Mungkin aku akan pergi besok." Tegas Richard. "Oh iya, kau tadi menyinggung soal jamuan makan!?" Lanjut Richard yang terlanjur penasaran.
"Ah.. Ya jamuan makan untuk perayaan terpilihnya seorang calon penyihir muda." Tegas wanita muda itu.
Richard mendengar dengan seksama maksud dari jamuan makan dan pesta perayaan, bukan karena dia tertarik hanya saja melewati malam dengan sedikit cemilan lebih baik sambil mendengarkan seseorang mengoceh tentang sebuah cerita. Hal yang tidak pernah dia dapatkan ketika masih berjuang sendiri di dalam labirin.
Nora sedikit menjelaskan kepada Richard, jamuan makan yang akan dilaksanakan 2 hari lagi.
6 bulan sekali, kanselir sihir membuka pintu bagi seseorang yang terpilih untuk masuk ke kota Lockdown dari kalangan nope.
Hanya ada 1 kandidat yang akan terpilih, seorang wanita muda dengan rentang usia 16-21 tahun. Kandidat yang terpilih akan langsung masuk ke dalam kota Lockdown, mendapatkan berkat dari kanselir sihir dan mendapatkan kesempatan untuk sekolah di sekolah sihir Hogward.
Tak ingin melewatkan kesempatan yang diberikan oleh kanselir, ada banyak wanita muda yang berlomba agar mereka layak dipilih oleh kanselir sihir.
Mereka mempercantik diri, merawat kulit mereka agar tampak cerah dan putih, memanjangkan rambut lurus hingga tampak sempurna dan memperbaiki sikap dan sifat mereka agar mereka bisa menjadi kandidat terpilih itu.
Bahkan para orang tua juga ikut membantu anak perempuan mereka terlihat sempurna, semata-mata agar mereka bisa membuat anak mereka masuk ke dalam kota Lockdown dan hidup dengan aman.
Dan setiap terpilihnya kandidat itu, maka semua orang akan merayakan dengan jamuan makan dan pesta perpisahan di malam terakhir kandidat terpilih sebelum masuk ke dalam kota Lockdown. Terlebih jamuan makan ini dikirim langsung oleh kanselir sebagai bentuk ucapan selamat kepada kandidat terpilih.
"Seperti itulah.." Ucap Nora tersenyum manis.
"Menarik.."
"Jadi.. Bagaimana tuan Richard, tinggallah.. Ya!?"
Richard diam dengan wajah datar, ia tak ingin berlama-lama dan terlibat cukup jauh dengan apapun yang dilakukan orang asing di tempat ini.
"Aku mohon.. Ya, lagi pula." Tiba-tiba Nora tersipu malu. "Wanita yang terpilih untuk masuk ke kota Lockdown 2 hari lagi adalah... Aku." Ucapnya tersenyum kembali.
Kembali ke dalam kota Lockdown.
__ADS_1
Penginapan tempat kesatria suci beristirahat.
Cukup sunyi sejak Gildarts mengeluarkan kata bijak untuk menasehati Ivy yang masih berdiri sambil memegang pembatas balkon jendela kamarnya.
"Gildarts.. Apa benar? Apa benar Richard tidak menyesal telah menyelamatkan aku sampai mengorbankan nyawanya." Tanya Ivy spontan.
Beberapa menit berlalu, tapi Gildarts tidak memberikan jawaban.
"Gildarts?" Ivy melihat ke atas. "Sepertinya kau telah tertidur ya?" Ucapnya berbalik dan masuk ke dalam kamar sambil menutup jendela.
Lalu, di saat bersamaan..
Percakapan yang terjadi di luar kota Lockdown antara Richard dan Nora berlangsung. Walaupun pada akhirnya Nora lah yang sangat banyak bicara, sedangkan Richard hanya diam dan mendengarkan dengan seksama.
Nora cukup bercerita banyak hal, mulai dari dirinya dan keluarganya. Sampai pada satu pertanyaan yang tak sengaja ia lontarkan pada Richard. "Aku menyesal tidak bisa menolong ayahku saat itu." Ucapnya sambil tertunduk lesu.
"Tuan Richard.. Apa kau pernah menyesali sesuatu?" Nora bertanya spontan dan dengan tatapan kosong Richard berkata. "Ya.. Sesuatu yang sangat aku sesali. Aku pernah mengorbankan nyawa demi teman yang tidak peduli padaku.. Mereka semua meninggalkan aku.. Aku, sangat menyesali hal itu." Ucapnya datar.
Keheningan di tengah pemukiman semi permanen itu kembali pecah sesaat bola api raksasa jatuh dari langit menuju ke arah pemukiman itu.
Suara lonceng kembali terdengar.. Tanda serangan dari musuh kembali terjadi. Kali ini musuh tepat berada di arah timur, tempat dimana pemukiman ini sedang berada.
"Ahh gawat.. Tuan Richard..!" Nora panik begitu ia melihat bola api raksasa mengarah ke arah pemukiman.
Richard terdiam dan bimbang apakah harus menyerang atau tidak ke arah bola api itu.
"Tolonglah.. Pasukan sihir." Nora memegang erat kedua tangannya di depan dada sambil berharap pada kesatria sihir.
Sementara suara teriakan dan histeris dari tengah pemukiman terdengar kembali. Ada yang pasrah menatap bola api yang tiba-tiba datang itu, ada pula yang berharap sama seperti apa yang dilakukan oleh Nora.
"Dimana? Dimana orang-orang berjubah itu.." Ucap Richard dalam benaknya. "Sial tidak akan sempat.. Aku harus bertindak." Lanjutnya.
Ketika hendak menerjang, ia merasakan kekuatan lain yang mengarah ke arah bola api raksasa itu. "Dia.." Ucap Richard.
Seketika bola api raksasa itu terbelah menjadi dua karena tebasan pedang besar dari kesatria suci bergelar Tenebris, kesatria kegelapan Darkam Pege.
Lalu bola api yang berada di atas langit itu meledak dan membuat gelombang kejut yang menerbangkan angin kencang yang menyebabkan beberapa bangunan rusak ringan dan pohon hampir tumbang.
"Pege!.. Untung saja dia masih di sini." Ucap Richard.
Setelah serangan itu.. Serangkaian serangan lain kembali menerjang dengan jumlah yang sangat banyak.. Pasukan iblis terbang memenuhi langit dipimpin oleh iblis dengan aura cukup kuat..
"Saatnya makan malam..." Kata Iblis dengan mata yang cukup lebar itu.
'
'
'
'
'
'
'
'
'
-Bersambung-
Maaf ya..
Jarang update.. Author cukup sibuk dengan dunia nyata. Hehe
__ADS_1