The Strongest Knight

The Strongest Knight
Ch. 114 - Psikopat


__ADS_3

Berada di lantai 2 kastil.. Ruangan rahasia yang terdapat di kamar pribadi Grobogan Snifooler. Ruangan yang menjadi tempat Grobogan meluapkan kejahatan psikopat yang telah tertanam dalam hati dan pikirannya sejak ia tanpa sadar menjadi korban hasut sang iblis Luca Crollo.


"Tidaakkk.. Hentikan, jangan lakukan itu. Aku mohon." Irish berteriak histeris melihat 2 kuku pada jari tangan kanannya telah berhasil di cabut paksa oleh Grobogan.


Grobogan yang berada di depan Irish begitu menikmati setiap momen dimana Irish berteriak meminta ampun dan menangis dengan histeris. Grobogan bahkan sampai tertawa hingga mata hitamnya tak terlihat. Hasratnya untuk menyiksa gadis shed saat ini telah tersalurkan, ia menari diiringi suara teriakan Irish yanh menggema di ruangan itu. "Huahh.. Kau membuatku melayang kelinci ku.." Kata Grobogan.


"selanjutnya.. Jari tengah, bersiaplah." Grobogan kembali mengarahkan tang besar untuk mencabut paksa kuku jari Irish, bukan memotong kuki tapi mencabut kuku sampai berdarah dan hal itu membuat Irish histeris kesakitan.


"Tidak.. Ampun.. Ampun." Irish terlibat pucat berkeringat dan... "Aaaaaaahhhhggg.. Hentikan tolong.." Irish kembali berteriak sampai urat di lehernya terlihat, ia berteriak karena tak dapat menahan rasa sakit yang ia rasakan saat Grobogan menarik yang besar untuk mencabut paksa kuku jarinya. Darah dari jarinya menetes, setiap tetesan yang terjatuh membuat Grobogan terangsang.. Grobogan tersenyum puas.. Begitulah seorang psikopat menikmati proses penyiksaan para korbannya.


Sementara itu, di bagian depan kastil keluarga Snifooler. "Hei.. Cepat buka gerbangnya. Apa kau tidak tahu siapa aku?" Kane Lancester terlihat kesal karena ia disuruh menunggu oleh para prajurit penjaga kastil. "Maafkan kami tuan, tapi kami harus memastikan terlebih dahulu, kami harus melapor melapor pada tuan Grobogan." Kata salah satu prajurit penjaga di balik gerbang.


"Tch.. Semenjak tuan Gorgon meninggal, keluarga Snifooler memang menjadi aneh..." Kane mulai berasumsi.


Sementara tak jauh dari tempat itu, Richard terlihat bersembunyi di balik pohon yang gelap dengan menyembunyikan aura miliknya. "Huh.. Ternyata tempat ini ramai juga, aku tidak mungkin masuk lewat depan." Gumamnya.


Richard, meski berat hati tapi ia tetap memutuskan untuk datang menolong gadis kelinci. Itu karena jauh di dalam hatinya masih memiliki perasaan empati meski ia tak begitu gamblang mengakuinya.


Kali ini Richard tidak ingin mengacau seperti apa yang telah ia lakukan di rumah pelelangan budak. Ia lebih memilih menyusup masuk dan mencari gadis kelinci dengan hati-hati, setelah itu kabur dengan damai. Setidaknya itu yang ia pikirkan untuk saat ini, meski mengingat situasi itu adalah hal yang cukup sulit.


Lalu tak lama kemudian...


Sebuah kuda dari arah jalan terlihat, ada 3 ekor kuda dengan kecepatan tinggi mendekat ke gerbang depan kastil dan yang menunggangi kuda tersebut adalah Eros beserta dua orang kesatrianya.


Berada di dalam ruangan lain, tempat dimana Luca Crollo sedang berbicara dengan Inggrid. Dari luar, suara ketukan pintu terdengar.


Luca berbalik, sementara Inggrid kembali tertawa.. Ia tertawa sambil mengeluarkan air mata.


"Tch.. Menganggu saja." Luca berubah wujud, saat ini ia kembali menjadi pria tua yang memegang tongkat bernama Igena.


Ia membuka setengah pintu, ia tak ingin prajurit melihat kondisi Inggrid saat ini. "Nyonya Inggrid, mentalnya kembali kacau.." Kata Igena pada prajurit yang mendengar suara tawa begitu membuka pintu. "Ada apa?" Lanjut Igena.


Para prajurit memang menganggap jika Inggrid mengalami gangguan mental sejak kematian Gorgon padahal para prajurit telah terjatuh ke dalam hasut sihir Luca Crollo.


"Tuan.. Kesatria besar dari Ibu kota kerajaan ingin masuk ke dalam kastil, aku melapor pada anda karena saat ini tuan Grobogan tak ingin di ganggu." Kata Prajurit itu.


"Hah!? Kesatria Besar? Siapa namanya?"


"Tuan Kane Lancester."


"Sialan, kenapa seorang kesatria besar sayang di waktu seperti ini." Gumamnya dalam hati, Ia terlihat cemas saat ini. "Biarkan dia masuk, aku akan menemuinya menggantikan tuan Grobogan." Kata Igena alias Lucu Crollo.


Prajurit itu pergi menuju gerbang depan kastil. Sementara itu Luca meninggalkan ruangan Inggrid dan berjalan menuju kamar pribadinya, di dalam kamar terdapat ramuan sihir yang bisa membuat aura iblis miliknya tak mampu di rasakan bahkan oleh kesatria agung sekalipun karena ramuan itu adalah ramuan yang dibuat sendiri olehnya. Sebagai iblis yang terkenal dengan kemampuan manipulasi, ia juga harus mampu menyembunyikan aura iblisnya.


Ramuan inilah yang membuat penyamaran Luca Crollo berhasil mengelabui para kesatria bahkan saat ia menemani Gorgon kala masih hidup pergi berkunjung ke istana kerajaan Inggram beberapa tahun yang lalu.


Di depan gerbang masuk wilayah kastil keluarga Snifooler. Eros terkejut melihat salah satu rekannya berada di depan gerbang kastil. "Tuan Kane.." Eros menyapa dengan hormat, ia hormat karena Kane lebih tua dan lebih berpengalaman darinya.


"Ah.. Tuan Eros, senang bisa berjumpa denganmu di sini.. Malam ini." Kane menjabat tangan Eros.


"Aku tidak habis pikir bisa bertemu dengan anda di tempat ini, apa yang membawa anda ke tempat ini?"


"Beberapa hari yang lalu pihak kerajaan mendapatkan pesan singkat dari keluarga Snifooler, aku di perintahkan oleh kesatria agung untuk memeriksa apa yang terjadi pada keluarga Snifooler." Jelas Kane Lancester.


"Ahh.. Begitu rupanya."


"Aku sudah menduga kita akan bertemu karena aku juga mendengar jika kau sedang di tugaskan untuk menangkap seorang buronan di sini." Kata Kane sekali lagi. "Jadi bagaimana, apa kau sudah menyelesaikan tugasmu?" Lanjut Kane.


"Ah, sayang sekali tapi aku harus mengakui jika aku belum bisa menangkap buronan itu." Kata Eros.

__ADS_1


"Lantas, apa yang membawamu ke tempat ini tuan Eros?" bersamaan dengan pertanyaan itu, prajurit kastil keluarga Snifooler membuka gerbang dan membiarkan mereka masuk.


"Baiklah.. Ayo kita masuk karena aku yakin kau ke sini juga ingin bertemu dengan tuan Grobogan." Kata Kane Lancester merangkul Eros Lopnika masuk ke dalam kereta sementara kuda yang ia tumpangi di bawa oleh kesatria bawahannya. Kereta itupun masuk ke dalam wilayah kastil keluarga Snifooler.


Karena prajurit yang berjaga menyambut para kesatria yang baru saja datang maka Woli bisa bergerak bebas dan saat ini ia tengah berada di samping kastil, tepat di depannya ia memanjat tembok yang mana pada ketinggian 2 meter terdapat sebuah jendela yang terbuka. Woli memanjat dengan menancapkan cakar panjangnya pada dinding batu tebal kastil tersebut. "Irish tunggu aku." Gumamnya.


Lalu di saat yang bersamaan, Richard berjalan perlahan di kegelapan menyembunyikan auranya. Ia berjalan tapi tidak ada yang sadar jika ia sudah berhasil masuk ke dalam wilayah kastil dan saat ini dia berada di taman depan kastil.


Dan sesaat kemudian..


"Ah.. Kau baik sekali tuan Eros, tapi kau sudah bertindak terlalu jauh dengan niatmu itu." Kane Lancester menasihati Eros yang telah menceritakan niatnya datang ke tempat ini, ia menceritakan tentang Belle dan niatnya ingin memohon agar Grobogan membebaskan kakak Belle dari keterbudakan.


"Ya.. Tapi aku harap tuan Grobogan punya sifat yang sama seperti ayahnya yang dermawan." Harap Eros yang optimis dengan niat baiknya.


Setelah berada di ruang tengah kastil yang sangat megah dan besar, mereka lalu menoleh ke arah anak tangga yang ada di bagian kanan, mereka menoleh karena mendengar suara langkah kaki seseorang yang sedang berjalan turun.


"Selamat datang tuan-tuan sekalian!" Sapa Igena. "Sialan.. Ternyata ada dua kesatria besar yang datang ke sini, ada apa sebenarnya!?" Igena merasa khawatir dan bergumam dalam hatinya.


"Igena.... Wah wah.. Sudah lama kita tidak bertemu. Kau sudah terlihat sangat tua sekarang." Kane berjalan mendekati Igena. "Terakhir aku melihatmu saat pelantikan Tuan Grobogan menggantikan ayahnya." Kane menjabat tangan Igena yang sudah renta.


"Kau tidak banyak berubah tuan Kane.. Khikhikhi." dibalik basa basi, Luca yang saat ini menyamar menjadi Igena bersikap hati-hati. "Jadi ada perlu apa tuan Kane dan tuan Eros datang ke tempat ini!" Igena kembali bertanya.


"Ah.. Aku mendapatkan sebuah pesan.. Aku ingin memastikan pesan itu jadi aku ingin bertemu dengan tuan Grobogan." Kata Kane.


"Pesan.. Sialan, pasti ini kerjaan wanita brengsek itu." Gumam Igena alias Luca Crollo dalam hatinya. "Ahh.. Pesan maaf, itu bisa saja hanya salah paham." Igena tersenyum canggung.


"Tidak mungkin.. Pesan singkat yang tertulis adalah sebuah kode yang hanya diketahui oleh keluarga bangsawan kerajaan.. Jadi sebaiknya aku memeriksa kastil ini.." Tegas Kane Lancester menatap dengan serius. "Kalian semua.. Cepat telusuri seluruh ruangan kastil!" Kane langsung memerintahkan kesatria yang ia bawa bersamanya untuk menelusuri keganjalan yang terjadi berdasarkan kode pesan yang diterima oleh pihak kerajaan. Meski menaruh curiga tapi Kane sama sekali tidak sadar jika saat ini yang sedang berbicara dengannya adalah iblis yang sedang menyamar.


"Maafkan aku.. Tuan Igena, dimana tuan Grobogan. Kenapa dia tidak menampakkan dirinya?" Eros bertanya pada Igena.


"Tuan Grobogan.. Sepertinya dia sedang berenang-senang saat ini.." Setelah mengatakan hal itu, suara teriakan terdengar. Meski samar tapi mereka yang ada di ruangan itu jelas mendengar suara teriakan seorang wanita. "Hah.. Suara apa itu?" Kane menengok ke atas.


"Apa maksudmu tuan Igena?" Kane kembali menatap Igena.


"Mohon maaf tapi, Tuan Grobogan punya sebuah hobi baru yang cukup mengerikan. Saat ini dia sedang melakukan hobinya itu.. Khikhikhi.." Sementara itu, bertempat di sumber suara teriakan yang terdengar. Irish lesu dengan wajah pucat penuh keringat dan air mata membasahi pipi karena saat ini ia telah kehilangan semua kuku jari pada tangan kanannya.


"Ucnh.. Ucnh.. Sekarang giliran tangan kiri kelinci ku." Grobogan dengan wajah menjijikan menjilat keringat di wajah Irish.


Sementara lantai tepat di bawah Irish terikat, terlihat tetesan darah dar jari-jarinya yang mengalir saat kuku jarinya itu di cabut secara paksa.


Di sebelah ruangan penyiksaan itu adalah kamar pribadi Grobogan dan di kamar itu saat ini telah ada Woli, ia berhasil menyusup sampai di tempat ini tanpa ketahuan. Woli menjadi panik sejak ia mendengar suara teriakan yang tak asing di telinganya, ia mengenali betul bahwa itu adalah suara dari Irish.


Ia bisa sampai ke kamar Grobogan karena mengikuti bau dari Irish tapi ia bingung bau itu berakhir di kamar yang kosong. Woli, ia terjebak di kamar kosong tanpa tahu jika pada kamar ini terdapat ruang rahasia dimana Irish sedang di siksa oleh Grobogan.


Woli bingung.. Ia hanya bisa terus berputar-putar di ruangan itu karena bau dari Irish berhenti di ruangan ini. "Irish.. Dimana kau?" Gumamnya.


Woli langsung sadar jika di balik tembok sebelah kirinya terdapat sebuah ruangan lain ia telah tersadar saat sekali lagi ia mendengarkan suatu teriakan dari Irish, kali ini suara itu cukup keras hingga membuat Woli mengetahui arah suara itu. "Irish..." gumam Woli, dari raut wajah dan taring yang keluar dari mulutnya menandakan jika saat ini ia sangat marah.


Di balik tembok..


"Ayolah.. Kelinci ku, suaramu kurang keras... Ayo, ayoo aaahhhh." Grobogan larut dalam fantasi penyiksaannya.


"Ampuni aku.. Ampun." Irish, ia sangat pucat sampai sesaat kemudian ia pingsan tak sadarkan diri karena rasa sakit yang tak bisa ia tahan.


"Hei.. Hei, jangan pingsan.. Hei bangun kelinci *******.. Aku tidak bisa mendengar suara kesengsaraanmu.. Cepat bangun..." Grobogan menampar wajah Irish berkali-kali sampai lebam.


Dan.. Duarrrr.. Tembok pemisah yang memisahkan kamar Grobogan dengan ruangan rahasia tempat ia melakukan penyiksaan runtuh di cakar berali-kali oleh Woli yang syok kala melihat kondisi Irish terikat dengan wajah pucat penuh luka di wajah dan darah mengalir di jari-jarinya. "Irish.." Kata Woli yang syok dengan pupil mata yang melebar penuh iba.


"HEI SIAPA KAU BERENGSEK???" Grobogan berteriak dengan keras kala melihat Woli.

__ADS_1


Woli yang tatapannya fokus pada Irish, kali ini mengalihkan pandangan pada Grobogan. Ia mengeram dan cakarnya semakin panjang, taring dari mulutnya keluar. Pikirannya saat ini adalah mengoyak manusia gemuk tanpa pakaian yang ada di hadapannya. Ia kembali memperlihatkan tatapan hewan buas yang siap menerkam mangsanya.


Di waktu yang sama, rumah tengah kastil..


"Heh! Suara apa itu?" Eros bereaksi kala mendengar suara hantaman tembok runtuh.


Igena menoleh ke atas. "Eh.. Tuan Grobogan." Ucapnya.


"Eros.. Ikuti aku!" Kane bergegas naik tangga menuju lantai dua, tujuan mereka adalah asal suara yang diduga berasal dari ruangan Grobogan.


Eros tidak yakin tapi ia tetap berlari mengikuti Kane bersama dengan mereka beberapa kesatria juga ikut dari belakang.


Eros sempat syok, saat ia mengetahui jika Grobogan mempunyai hobi yang sangat mengerikan. Igena menceritakan pada mereka tentang hobi Grobogan, yaitu hobi untuk menyiksa para budak miliknya.


Yang membuat Eros semakin syok kala ia mengetahui jika gadis kelinci yang ia duga adalah kakak dari Belle saat ini sedang di siksa oleh Grobogan. Eros sebagai kesatria besar sudah tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Jangankan memohon agar Grobogan membebaskan kakak Belle, meminta agar Grobogan tidak melukai Kakak dari Belle saja itu sudah mustahil setelah apa yang ia dengar dar Igena.


Budak.. Tidak ada hukum yang melindungi budak jika ia seutuhnya telah menjadi milik dari seseorang. Tuan dari budak berhak melakukan apapun kepada budaknya termasuk menyiksa bahkan membunuh budak tersebut. Itulah mengapa banyak yang mengatakan jika menjadi budak sama saja dengan kehilangan hidup.


Ya benar.. Tidak ada yang bisa dilakukan oleh Eros. Ia sudah tidak bisa menyelamatkan kakak Belle dari keterbudakan.


Sementara itu, seseorang yang sejak tadi bersembunyi menatap Igena dari jauh. Orang itu adalah Richard, dengan kecermatan indera penglihatannya ia mampu mengenali Igena. "Kenapa Iblis bisa berada di dalam kastil ini!?" Ucapnya.


'


'


'


'


'


'


'


'


'


'


'


'


'


'


-Bersambung-


______________


Visual look, Kane Lancester...



Art by Artstation

__ADS_1


__ADS_2