
Suara langkah kaki terdengar jelas, sebuah langkah kaki yang bergerak cepat seperti sedang berlari, dari gerakan cepat itu juga terdengar suara gemercik air ketika sedang di injak berkali-kali. Sumber suara itu adalah langkah cepat Ihsan yang berlari melewati gorong-gorong bawah tanah kastil sihir yang penuh dengan air dangkal yang hanya menenggelamkan pergelangan kakinya.
Di atas punggungnya, ia menggendong putri Gayatri yang masih pingsan sejak tadi. Ia berlari dengan cepat untuk keluar dari kawasan Ibu kota kerajaan. Saat Ihsan sadar ia tak tahu apa yang sedang terjadi bahkan ia tak tahu jika ia berhasil melukai Lucifer karena sejatinya yang melakukan hal itu bukanlah dirinya tapi Kian yang mengambil alih tubuhnya.
Saat ini batinnya terluka, karena mengetahui fakta jika istana kerajaan telah hancur dan raja serta Mbah Raka mengorbankan dirinya agar Gayatri bisa kabur dari tempat ini.
"Sial.. Sial.. Aku lemah! Ayah, Baginda maafkan aku. Aku tidak berguna." Ihsan berlari sambil mengumpat kepada dirinya sendiri.
*Beberapa saat yang lalu, sesaat setalah Ihsan membuka mata.
"Dimana ini?" Ujarnya panik.
"Tuan.. Tuan Ihsan tenanglah." Wira sedikir berteriak kepada Ihsan yang masih panik saat tiba-tiba ia terbangun dari pingsan.
"Kau.. Siapa kau? Dimana ini?" Ihsan tidak bisa tenang karena ingatan terakhir yang ia ingat adalah luka tusuk yang ia derita saat bertarung dengan iblis bernama T'roy.
"Aku adalah Wira.. Kesatria kerajaan dan wanita yang ada di samping mu itu adalah putri Gayatri!"
Ihsan berbalik melihat Gayatri yang belum sadarkan diri.
"Huh, Putri. Kenapa? Kenapa putri bisa ada di tempat seperti ini?
"Tuan.. Tuan tenanglah.."
Ihsan menenangkan dirinya, Ia mengatur nafas sehingga pacu jantungnya bisa kembali normal.
"Tuan Ihsan.. Kau harus pergi dari sini. Kau harus membawa putri Gayatri keluar dar Ibu kota kerajaan. Dengar... Tuan Ihsan, ini adalah perintah raja Jolang." Jelas Wira, ia lanjut menjelaskan tentang kejadian yang baru saja terjadi.
Wira mengatakan semuanya tentang kematian raja Jolang, Mbah Raka dan para bangsawan serta seluruh kesatria dan prajurit yang masih ada di Ibu kota kerajaan. Wira juga mengatakan tentang pertarungan yang terjadi, bagaimana Ihsan melukai Lucifer dengan kekuatan miliknya tapi Ihsan sama sekali tidak ingat akan hal itu, ia bingung dan mulai berpikir tentang ingatannya sebab ia tidak mengingat sama sekali pernah berhadapan satu lawan satu dengan Lucifer.
"Baginda!! Tidak mungkin." Ihsan tertunduk tak percaya saat ia mengetahui jika raja Jolang telah mati.
Ihsan bahkan sempat ingin pergi kembali ke istana dan memastikan apa benar yang dikatakan oleh Wira. Menganggap bahwa itu tindakan bodoh Wira menampar Ihsan dan menyuruh agar dia sadar dan berpikir, ia tidak cukup kuat untuk kembali melawan iblis yang telah mengalahkannya.
Ihsan lalu berpikir akan kabur menuju pulau Cebes, tapi Wira lagi-lagi mengatakan sesuatu hal yang membuat sesak dada Ihsan. Yaitu tentang kemunculan raja iblis di pulau Cebes, kemungkinan bertahannya pasukan Rein Wijaya adalah 0,01%. Sebuah kenyataan yang membuat ia tak mampu mengatakan apa-apa dan hanya bisa menyesal dengan memukul tembok hingga retak beberapa kali.
"Sial sial sial.. Ayah! Ayah..." Ucapnya lirih.
"Tuan.. Anda harus keluar dari sini. Di arah barat jika belum terlambat. Bergabunglah bersama dengan pasukan kota Ingka, aku yakin pasukan yang berada di tempat itu telah mengetahui penyerangan ini, apa lagi bangsawan yang menguasai Wilayah Ingka telah mati terbunuh di istana."
Wilayah Ingka adalah salah satu wilayah yang berada di pulau Jatra, wilayah itu berjarak 10 km dari ibu kota kerajaan di sebelah berat. Meski semua prajurit dan kesatria Ibu kota kerajaan telah mati tapi kesatria yang berada di wilayah lain masih tinggal dan bertahan di benteng kota tempat mereka bertugas, termasuk para kesatria dan prajurit yang menjaga benteng kota Ingka.
"Tuan.. Kuatkan dirimu. Tolonglah, bawa kabur putri Gayatri." Wira menatap tajam Ihsan yang masih terpuruk akibat mengetahui fakta jika Ayahnya sedang berhadapan dengan raja Iblis, itu artinya sama saja dengan kematian.
"Baiklah.. Bagaimana denganmu?" Ihsan menatap Wira.
"Tidak.. Aku sudah tidak bisa bangkit lagi. Aku bahkan tidak bisa merasakan tulang belakangku lagi. Sebentar lagi aku akan mati.." Wira tersenyum.
Ihsan mendekat dan memeriksa luka dari Wira, ia terkejut mengetahui begitu banyak luka di tubuh Wira dan Wira masih bisa bergerak membawa kabur mereka berdua sampai di tempat ini.
"Kau... Terima kasih telah menyelamatkanku." Ihsan berbalik ke arah Gayatri dengan maksud untuk menggendongnya pergi dari tempat ini.
"Tuan tunggu.. Ini, ini adalah senjata pemberian raja Jolang padamu. Terimalah!" Wira memberikan keris pusaka kerajaan.
__ADS_1
"Ini.. Keris raja."
"Ia ingin kau membalaskan dendam dengan keris ini nantinya.. Lalu setelah kau bergabung dengan pasukan yang berada di benteng Ingka, sebaiknya kalian mundur dan mencari para kesatria suci... Setelah itu katakan pada semua raja pendiri aliansi meja bundar tentang kejadian yang menimpa kerajaan Nusantara." Jelas Wira
Pandangan Wira mulai kabur secara perlahan, tapi ia mempertahankan kesadaran untuk terakhir kalinya. Ia melihat Gayatri yang saat ini berada di punggung Ihsan.
"Kesatria Wira.. Aku tidak akan melupakan keberanian mu. Aku akan menceritakan tentangmu pada Putri Gayatri." Ihsan berdiri dan siap untuk berlari setelah sebelumnya ia diberitahukan tentang jalan bawah tanah yang mengarah keluar Ibu kota kerajaan.
"Sampai jumpa Gayatri.. Teruslah hidup, aku.. Aku akan tetapi mencintaimu walau aku mati." Gumam Wira melihat Gayatri yang berada di punggung Ihsan semakin menjauh.
*Saat ini.
Ihsan masih berlari, ia telah berlari sejak 15 menit yang lalu. Saat ini di bawah gorong-gorong penuh air, ia memikirkan adanya kemungkinan tentang ayahnya yang bisa saja masih hidup. Meski itu adalah kemungkinan yang sangat mustahil tapi ia tetap percaya sebelum ia melihat mayat ayahnya secara langsung.
Ia juga masih tidak percaya tentang dirinya yang berhasil melukai Lucifer.. Pikirannya sambil berlari dipenuhi berbagai macam pertanyaan tapi saat ini yang terpenting adalah keselamatan putri Gayatri.
Ia berlari dan terus berlari sekuat yang ia mampu dengan tenaganya saat ini.
Sementara itu.. Wira yang masih bernafas, bersandar lesu tak bertenaga mendengar sebuah langkah kaki yang mendekat. Ia membuka mata meski matanya sangat berat untuk terbuka, saat ia membuka mata lehernya malah tercekik.
Yang mencekik lehernya dan mengangkat ia dengan leher tercekik hingga kedua kakinya tidak menyentuh lantai adalah T'roy.
Sepertinya T'roy berhasil menemukan lokasi Wira setelah berhasil mengalahkan Suica.
"Arrhhhhgg." Wira kesusahan bernafas karena hal itu.
"Dimana mereka berdua?" Tanya T'roy sambil mencekik Wira dengan keras.
Wajah Wira memerah, urat yang ada di lehernya naik hingga wajah ia tidak bisa bernafas.
Wira yang sudah tidak bisa menghirup udara dan merasa sesak tersenyum dan mengangkat jari tengahnya ke depan wajah T'roy.
T'roy lalu... Krekkk..
Mematahkan leher Wira..
Wira mati dengan mata terbuka..
"Tch.. Mereka berhasil kabur." Gumam T'roy yang tidak merasakan keberadaan Ihsan dan Gayatri.
Sementara itu..
Di luar kastil sihir..
"Huh.. Huh.. Sial." Suica bangkit setelah dibuat pingsan oleh T'roy
Suica berlari ke arah kastil, beberapa saat kemudian ia sampai dan masuk ke dalam. Ia melihat mayat dari Wira, ia menutup mata mayat itu dan mengumpat terhadap dirinya sendiri.
Ia telah melakukan kesalahan besar dan kini ia tetap saja tidak bisa membantu Wira kabur dengan selamat T'roy sengaja tidak membuat Suica agar Suica merasakan penyesalan berat itu, penyesalan yang akan mengganggu jiwa dan mentalnya.
Jauh di pulau Cebes, dimana tempat pembantaian telah terjadi. Pasukan yang dipimpin oleh Rein Wijaya kini telah berakhir menjadi tumpukan-tumpukan mayat yang memenuhi gerbang depan kota Kander.
Sementara pasukan iblis telah pergi jauh melanjutkan perjalanan mereka ke kota selanjutnya untuk kembali melakukan pembantaian demi pembantaian. Pasukan yang dipimpin oleh monster yang merek sebut raja iblis bernama Leviathan Serphen.
__ADS_1
Dari arah kota Kander yang sudah luluh lantah, dua orang terlihat berjalan melawan tumpukan-tumpukan mayat di bawah hujan deras yang mengguyur tempat itu.
"Darah mereka masih segar.. Sepertinya perang yang terjadi belum berlangsung terlalu lama." Kata salah seorang diantara mereka.
"Lihatlah.. Tumpukan mayat prajurit dan kesatria ini.. Mereka dari ras manusia dan atlantian. Mungkin saja mereka adalah pasukan kerajaan Nusantara." Salah satu diantara mereka menunduk memeriksa wajah mayat-mayat itu.
Selain mayat manusia dan atlantian, terdapat juga mayat monster, iblis dan undead bertebaran sejauh mata memandang. Perang puncak telah berakhir bahkan berakhir sangat cepat dengan kemenangan pasukan iblis, yang kedua orang itu tak tahu.
Kedua orang yang berjalan di tengah tumpukan mayat itu adalah Lusio dan Ilume yang baru saja tiba menggunakan perahu kecil yang dibuat Oleh Lusio menyeberangi lautan dari pulau Irian ke pulau Cebes.
Mereka tiba di kota Kander 3 jam setelah terjadinya perang puncak dan hasil dari perang puncak itu adalah tumpukan mayat yang berserakan memenuhi jalan.
Lusio dan Ilume berjalannya perlahan, mereka mencoba waspada jika saja ada serangan mendadak dari musuh. Lalu di depan mereka terlihat sesuatu yang bergerak.
Ilume berlari ke arah gerakan itu. "Nyonya Ilume.. Tunggu aku." Teriak Lusio.
Saat mereka sampai, mereka melihat salah satu dari tumpukan mayat masih bernafas dan bergerak. Dengan sigap Lusio mengeluarkan orang itu agar ia dapat segera di pulihkan dengan sihir Ilume.
"Orang ini.. Paru-parunya penuh dengan air. Kemungkinan ia terkena serangan sihir air." Ucap Ilume.
"Apa Nyonya bisa menyembuhkan dia?" Lusio menatap Ilume.
"Tergantung.. Itu semua tergantung sejauh mana orang ini ingin bertahan hidup." Tegas Ilume
Dibawah guyuran air hujan, Ilume mencoba menyembuhkan orang yang terluka itu.. Lalu tak lama orang itu bernafas dan membuka mata.
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
__ADS_1
-Bersambung-