The Strongest Knight

The Strongest Knight
Ch. 130 - Pelindung Kaum Tertindas


__ADS_3

"Wuah.. Sialan, jam berapa sekarang?" Aliyah dengan mata bengkak yang masih merah tiba-tiba bangkit dari ranjangnya dengan keadaan setengah sadar, ia duduk sambil menjernihkan pikiran setelah membuka mata dari tidur panjang yang dia kira singkat ini.


Seraya berdiri dia terheran dan masih mencoba mencerna keadaan. Dia melihat ke segala arah di ruangan yang ia tempati saat ini, ruangan yang tak lain adalah kamar tidurnya sendiri. "Huu.. Ini kamarku." Ucapnya sambil menghela nafas panjang, sebagai bentuk lega karena ia tidur di tempat yang benar hari ini.


Tidak heran Aliyah berpikir seperti itu, kebiasaannya yang gemar meminum anggur merah sampai mabuk membuat ia sering tertidur di tempat-tempat umum dan bangun dalam keadaan malu ditatap orang banyak.


Rasa lega karena hal itu buyar saat Aliyah membuka jendela dan melihat langit sore. "Aaaaaa.. Berapa lama aku tertidur!" Ucapnya panik sambil menganti pakaian dan bergegas keluar rumah. Tak heran karena matahari sebentar lagi akan tenggelam, tampak jelas dari cahaya langit sore yang menunjukkan warna indah dari rona senja yg terpancar.


Ia tertidur sehari penuh tanpa sadar akan waktu dan melewatkan hal penting yang seharusnya ia kerjakan hari ini. Sebagai pengajar di sekolah sihir, Aliyah telah melewatkan dua kelas yang seharusnya ia ajar hari ini, terlebih lagi dia melewatkan sebuah pertemuan penting untuk membahas item sihir yang sedang ia kembangkan bersama dengan timnya.


Dengan panik ia bergegas memakai pakaian dan jubah sihir tanpa membersihkan diri terlebih dahulu. Hanya cipratan air untuk membasuh muka dan sedikit kumur-kumur untuk menghilangkan bau mulut sehabis tidur. Setelah selesai, dandanan sederhana dengan sihir sudah nampak membuat parasnya terlihat cantik dan lebih muda dari usianya.


Setelah melakukan itu semua dengan sangat cepat, ia pun turun lalu setelah membuka pintu rumah, ia yang saat ini memegang sebuah tongkat kayu bersiap untuk menungganginya. Sesaat sebelum terbang dengan tongkat kayu itu, seorang wanita lain yang terlihat jalan kaki di depan rumahnya menyapa. "Aliyah.. Ya ampun, dari mana saja kau? Saint Jose mencari mu dari tadi." Ujar wanita itu.


"Maaf Ronde, aku sedang buru-buru.. Aku permisi." setelah percakapan singkat itu, Aliyah terbang menggunakan tongkat kayu. Tujuannya adalah sekolah sihir Hogward, rambut yg masih acak-acakan kini menjadi tambah berantakan karena hembusan angin kencang yang menerpa karena Aliyah yang menyadari kesalahannya tampak meluncur dengan cepat menggunakan tongkat kayu sehingga hembusan angin yang tercipta cukup kencang. Benaknya hanya satu, ia harus segera ke sekolah sihir meski agendanya hari ini benar-benar sudah berakhir.


Sementara di tempat lain, para kesatria suci yang telah tiba di kediaman Kanselir sihir kota Lockdown dikejutkan oleh penampakan sebuah bangunan yang tidak tampak megah, bangunan tua yang tidak memiliki pekarangan luas dan hanya mempunyai dua lantai. Seperti kesan rumah biasa yang tidak mungkin ditinggali oleh seorang pemimpin kota.


Tai nyatanya rumah sederhana itu memang merupakan kediaman dari kanselir sihir kota Lockdown atau pemimpin tertinggi kota Lockdown. "Apa ini tidak salah?" Rebecca spontan mempertanyakan kediaman yang mereka lihat. Saking sederhananya, Rebecca cukup sulit menerima jika bangunan yang ada di depannya saat ini adalah bangunan tempat tinggal kanselir sihir, pemimpin dan penyihir terkuat di kota ini.


"Anda tidak salah, ini adalah kediaman Kanselir sihir." Ucap Gerald yang sejak tadi memandu mereka semua.


Bersamaan dengan hal itu, mereka semua berjalan melangkah masuk melewati gerbang yang dijaga oleh 2 orang penjaga. Hanya ada 2 penjaga, tidak ada yang lain. Hal ini semakin membuat Rebecca heran. "Bagaimana mungkin kediaman pemimpin kota hanya dijaga oleh 2 orang!?" Ucapnya heran.


"Kau akan mengerti setelah bertemu dengannya nona Rebecca." Sambung Gerald yang memegang Gagang pintu rumah tersebut. Hanya ada Gerald dan para kesatria suci serta kedua penjaga gerbang pekarangan tersebut yang tidak ikut masuk ke dalam bangunan.


Sementara itu, Anne Drigory sejak pertemuan pertama dan sampai saat ini terus saja memeluk lengan dari Smits dengan tatapan penuh ketakutan. Terlebih pintu kediaman itu terbuka, hawa dan aura menusuk kulit Anne hingga membuat ia semakin merinding. "AHHH tidak, ampun.. Tidak, tidak maafkan aku.. Tidak..." Seketika, Anne yang sejak tadi memeluk Smits langsung bereaksi dan histeris. Dia melepas genggamannya pada lengan Smits, ia jongkok sambil memegang kedua kupingnya dengan raut wajah ketakutan sambil berteriak terus menerus meminta maaf.


Tentu saja, Smits dan para kesatria suci yang lain ikut terkejut dengan tingkah Anne yang menjadi histeris seperti itu. Smits dan Ivy sigap mendekat dan memegang Anne untuk mencoba menenangkan Anne yang terus berteriak minta ampun dan meminta maaf. Di tengah keributan itu, Gerald berteriak pada mereka. "Awas tuan.. Hati-hati, jika sudah seperti itu maka kutukan dalam diri Anne akan mengamuk!"


"Heh! Anne.." Kata Ivy yang sedikit panik.


Setelah mengatakan hal itu, Gerald berinisiatif untuk menyerang Anne dengan sihirnya. "Hei, apa yang kau lakukan?" Kata Smits yang menghalangi.


"Tuan.. Tolong minggir. Wanita itu berbahaya!"


"Tidak.. Dia tidak tampak berbahaya, dia hanya sedang ketakutan akan sesuatu." Smits bersikeras, lalu tak lama setelah insiden histeris itu, seorang pria tua berjubah putih dengan janggut putih panjang sampai dada dan kumis putih tebal di bawah hidungnya mendekat.


Gerald yang melihat langkah kaki berbalik dan spontan berlutut. "Kanselir.." Ucapnya.


Para kesatria suci berbalik, mereka semua merasakan imperium besar dari pria tua yang saat ini mereka lihat. Dengan tatapan tajam yang mengarah pada Anne, pria tua mengarahkan tongkat yang ia pegang kepada Anne dan sepersekian detik. Anne yang sedang histeris langsung diam dan tergeletak di lantai.


Melihat hal itu, Ivy yang sejak tadi memegang Anne langsung meletakkan kepala Anne pada pahanya dan berbalik ke arah pria tua yang membuat Anne pingsan. "Pak tua.. Apa yang kau lakukan!?" Smits terkejut, ia tidak sempat bereaksi saat serangan sihir itu keluar dan membuat Anne pingsan.


Rebecca dan Gildarts di sampingnya malah bersikap waspada, seakan-akan ingin bertarung. Sebelum terjadi kesalahpahaman, Pria tua itu berkata dengan lugas." Tenanglah.. Wanita itu hanya pingsan!"


"Jadi ini kanselir sihir.. Dia bahkan tidak merapalkan mantra untuk sihir yang ia keluarkan tadi." Benak Gildarts bergejolak mengetahui kekuatan dari kanselir sihir.


Dengan wibawa dan karisma pria tua yang ada di hadapan mereka, para kesatria suci akhirnya mengurangi sikap waspada dan mulai bersikap lebih santai sementara Gerald masih berlutut sambil menunduk. "Baiklah.. Aku sudah mendengar tentang kalian." Ucap seorang wanita yang ada di belakang pria tua itu.


Para kesatria suci terkejut, bersamaan dengan suara yang terdengar maka muncullah sosok suara wanita yang mereka dengar dari balik pria tua itu. Seorang wanita cantik berambut panjang hitam pekat dengan warna kulit putih mulus dan bibir merah merona.

__ADS_1


"Kanselir.." Ucap Gerald sekali lagi.


"Gerald.. Kau melakukan tugasmu dengan baik. Sekarang kau boleh berdiri." Ucap wanita itu dengan menatap penuh makna.


Masih tidak sadar dan belum mengerti situasi, Rebecca menunjuk wanita yang berada di depan pria tua didepannya. "Hei wanita cantik yang montok, siapa kau?" Ucapnya dengan nada sarkas karena merasa iri dengan kecantikan wanita yang ia tunjuk di depannya. "No-nona Rebecca dia adalah kanselir sihir." Tegas Gerald.


Apa yang dikatakan oleh Gerald kemudian mengejutkan mereka semua, ternyata pria tua yang menyerang Anne bukanlah kanselir yang mereka duga, tapi wanita cantik dengan bibir merah merona itulah yang merupakan kanselir sihir atau pemimpin kota Lockdown.


"Aaapaaaa.. Wanita montok ini kanselir!" Rebecca seakan mewakili rekan-rekannya dengan mengungkapkan perasaan terkejut itu pada Gerald.


"Hahahaha.. Meskipun kesatria suci, kau tetaplah remaja yang baru puber." Ucap Kanselir pada Rebecca.


"Apa!? Hemm.. Dasar kanselir montok."


"Tapi aku senang bisa bertemu dengan kesatria suci generasi saat ini. Kalau begitu, sebaiknya kita berbicara di ruangan lain." Ucap Kanselir sihir.


Setelah kejadian itu, dari dalam ruangan lain tiba-tiba dua orang yang mengenakan jubah muncul dan berjalan mendekat. Mereka berdua adalah pelayan yang memegang borgol, kedua pelayan itu bermaksud untuk memakaikan borgol ke tangan Anne dan memasukkan Anne ke tempat yang seharusnya.


Baru saja kedua pelayan itu akan mendekat, Smits kembali menghalangi. "Aku sudah bilang, aku ke sini ingin mendengar penjelasan kanselir tentang wanita ini.. Wanita yang sejak beberapa hari ini terus memeluk lenganku dengan gemetar ketakutan. Oleh karena itu, aku tidak akan menyerahkannya sebelum kanselir menjelaskan situasi dan kondisi tentang wanita itu.. Tidak akan!" Tegas Smits dengan wajah serius sambil menatap ke arah kanselir sihir.


Kedua pelayan itu menatap kanselir, mereka menunggu perintah untuk menerobos paksa atau membiarkannya. "Haa.. Sungguh pria jantan.." Sela Kanselir sihir. "Baiklah.. Pelayan biarkan saja." Lanjut kanselir memberi perintah.


Kedua pelayan itu menjauh dan membiarkan para kesatria suci yang membawa Anne masuk ke dalam ruang yang sedang mereka tuju, ruangan yang ada di sebelah kiri ruangan mereka berada saat ini. Smits lalu memberikan kode kepada Gildarts untuk menggendong dan menjaga Anne dari apapun yang dirasa berbahaya.


Meski terlihat ramah, tapi Smits tetap waspada. Apa lagi setelah melihat kekuatan pria tua yang terus berada di samping kanselir sihir, jika pria tua itu saja sudah sangat kuat lalu bagaimana dengan Kanselir sihir.


...----------------...


Di hari yang sama, berada di luar kota Lockdown. Tak jauh dari kerumunan orang yang sedang meratapi nasib karena tak bisa masuk ke dalam kota Lockdown. Lebih tepatnya di pinggiran hutan, Richard terlihat jalan mendekati kerumunan orang dari arah hutan setelah berjalan beberapa jam.


Baru saja Richard keluar dari hutan, ia langsung terdiam kala melihat banyaknya kerumunan makhluk yang berkumpul di depan gerbang besar, mulai dari manusia sampai dengan ras-ras lain. Saking padatnya dari arah Richard saat ini, terdapat beberapa bangunan semi permanen yang juga terlihat sebagai tempat istirahat. Mulai dari bangunan kayu, tenda semi permanen dan juga tenda besar yang tak tertutup membentang di sekitar pinggir tembok besar yang menutup kota.


Cukup lama Richard memperhatikan sampai dari belakang Woli menyusul dengan wajah penuh penyesalan. "Tuan Richard.. Maafkan aku, aku tidak bermaksud untuk berbohong." Ucapnya menunduk lemas.


Richard berbalik dengan wajah datar, lalu berjalan ke depan tanpa membalas ucapan Woli yang terlihat sangat menyesal. Rupanya Richard sudah mengetahui jika Woli sama sekali tidak tahu menahu jalan menuju daratan Gres dan hal itu membuat Richard cukup kesal. Richard mengetahui kebohongan Woli saat Richard mendesak Woli untuk jujur setelah insiden salah paham mereka dengan penyihir ras elf siang tadi.


Dengan penuh penyesalan Woli mencoba jujur dengan dalih terpaksa melakukan kebohongan agar ia bisa ikut menemani petualangan Richard. Bagaimanapun, Woli sangat takjub dan sangat menghormati Richard. Hanya saja, karena kebohongan itu Richard jadi kesal dan tak lagi menggubris Woli, bahkan dia mengatakan pada Woli supaya Woli kembali saja ke kerajaan Inggram.


Woli tentu tidak mengikuti saran itu, meski sepanjang jalan ia tak digubris sama sekali oleh Richard tapi ia tetap setia menemani Richard meski Richard sendiri terlihat risau dan terus menjaga jarak. Richard menjadi sangat sensi karena ia pernah dikhianati oleh rekan-rekannya dan sekarang ia kembali dibohongi oleh rekan perjalanannya meski ia sendiri belum menganggap Woli rekan dan tak lebih dari hanya sekedar penunjuk jalan.


Kemudian, saat Richard sampai di tengah kerumunan. Ia melihat sebuah antrian panjang. Saat mencoba mendekat, tiba-tiba orang lain menegur dirinya agar mulai mengantri dari arah luar. Richard sendiri tak mengerti mengapa ia harus mengantri, padahal ia hanya ingin mendekat dan melihat gerbang pintu masuk kota tertutup yang ada di depannya.


Richard tak ingin mencari masalah, ia akhirnya mengalah dan mencoba mencari ujung paling belakang antrian. Hasilnya membuat Richard geleng-geleng kepala karena antrian itu sangat panjang bahkan jika ia harus ikut mengantri maka butuh waktu seminggu agar ia bisa berada paling depan.


Ia pun terheran dan bertanya dalam benaknya. "Ada apa dengan antrian ini?"


Sementara Woli yang terpisah dari Richard mencoba mengendus bau dan menemukan Richard di tengah kerumunan antrian. Sangat banyak orang hingga membuat Woli kesulitan bergerak, ia tak sadar dan kehilangan jejak Richard di saat mereka berdua mencoba menerobos antrian panjang.


Richard sendiri malah keluar dari kerumunan antrian yg padat itu, ia merasa gerah karena tak bisa bergerak bebas. Ia melihat ke arah langit, dengan hanya melihat sebuah gerbang besar, Richard langsung tahu jika gerbang tersebut telah dilapisi oleh sihir tameng bahkan Richard juga dapat mengetahui sebuah kubah yang menutup kota meski kubah itu transparan dan tak bisa dilihat oleh orang biasa.


"Sebenarnya kota apa ini? Apakah seperti ini kota sihir?" Celotehnya, yang tanpa ia sadari dibalas oleh seorang pria tua yg saat ini memungut ranting kayu di belakangnya.

__ADS_1


"Ya.. Itu adalah kota sihir Lockdown, kota teraman yang ada di daratan Neverland." Ucap Pria tua itu tiba-tiba.


Richard berbalik dan melihat seorang pria tua atau lebih tepatnya seorang kakek dengan rambut putih dan kumis putih.


"Kenapa? Kenapa kau menatapku seperti itu? Apa kau belum pernah melihat seorang kakek ras Dwarf." Ucap kakek itu.


"Maaf kakek tua, aku hanya heran melihat tubuh kekarmu." Kata Richard.


"Heh.. Seperti inilah kami.. Meski sudah tua tapi kami masih kekar, tidak seperti kalian manusia. Bangga dengan perut besar dan status kebangsawanan." Balas kakek itu.


Di tengah pertemuan mereka, suara teriakan kerumunan orang yang mengantri terdengar. Suara itu membuat perhatian Richard teralihkan dan melihat segerombolan monster menyerang sebuah pemukiman yang tak jauh dari lokasi antrian masuk ke dalam kota.


Pemukiman semi permanen yang dihuni oleh hampir semua ras dan mereka yang tertolak masuk ke dalam kota. Namun anehnya, kegaduhan hanya terdengar dari mereka yang mengantri sedangkan orang-orang yang berada di pemukiman itu tidak terlihat takut sama sekali.


"Gawat..!!" Richard sedikit panik,


"Tenang saja.. Kami aman." Ucap kakek tua itu.


Richard kembali menatap wajah kakek yang tetap santai memungut ranting kering. Sesaat kemudian, gemuruh ledakan terdengar dan menghancurkan rombongan monster yang keluar dari hutan untuk menyerang pemukiman tersebut.


Bersamaan dengan hal itu, suara histeris berubah menjadi pujian terdengar dari arah rombongan antrian. Mereka melihat kesatria sihir berjubah yang terbang dengan tongkat sihir dan menyerang rombongan monster level rendah yang mencoba menyerang.


Richard pun menyaksikannya, menyaksikan bagaimana pasukan kesatria sihir bertarung melawan rombongan monster tersebut.


"Meski kami bukan penyihir dan gagal masuk ke dalam kota Lockdown tapi kami masih diberi izin oleh Kanselir sihir untuk tinggal di sekitar kota dan mendapatkan perlindungan dari kesatria sihir.. Setidaknya kami lebih aman dari pada berada di areal kerajaan. Cih... Yang kerajaan pedulikan hanyalah bangsawan." Umpat Kakek tua itu sambil berjalan santai meninggalkan Richard.


Tak berlangsung lama, seluruh monster yang menyerang telah luluh lantah dibantai oleh kesatria sihir. Hal yang membuat sorak sorai kembali terdengar dari arah antrian sampai arah pemukiman semi permanen itu.


"Hidup Kanselir sihir... Puji Kanselir sihir..." Teriak salah satu kesatria sihir yang melayang dengan tongkatnya. Lalu kemudian diikuti oleh semua orang yang ada dibawahnya.


Suara pujian kepada kanselir sihirpun menggema sampai ke langit.


"Siapa sebenarnya kanselir sihir itu?" Ucap Richard.


'


'


'


'


'


'


'


'


'

__ADS_1


-Bersambung-


*Lagi sibuk, jadi jarang Update.


__ADS_2