
Setelah selesai bersantap malam, para kesatria suci dan kesatria kerajaan Inggram yang mengawal mereka menuju ke kerajaan Celestial beristirahat di tenda mereka masing-masing.
Tenda-tenda mereka mengelilingi api unggun yang terlihat sudah mulai meredup.
Sementara di sebuah bukit yang tak jauh dari tenda mereka, seorang pria yang mengenakan kaos oblong warna putih ala negeri dongeng terlihat sedang menikmati langit malam penuh bintang sambil rebahan dengan kedua tangannya sebagai alas untuk kepalanya.
"Arthur.."
Arthur yang rebahan di bawah rumput bukit menoleh ke arah sumber suara.
"Oh.. Paman!" Ucapnya.
"E.. Tolong jangan panggil aku Paman." Kata Gildarts membungkukkan badanya.
"Hahahah, sudah sudah.. Terima saja." Arthur berdiri dan menepuk-nepuk pundak Gildarts.
Gildarts hanya bisa pasrah dipanggil dengan sebutan paman oleh para kesatria suci yang lain, pasalnya ia adalah kesatria suci tertua diantara mereka.
"Ada apa Paman!?"
"Tidak.. Aku hanya tidak bisa tidur."
Mereka berdua kemudian duduk di atas rumput sambil memandangi langit berbintang.
"Aku tidak menyangka sudah lebih dari 4 bulan kita berada di dunia ini." Kata Gildarts.
Arthur tersenyum, masih sambil melihat langit.
"Hei Arthur.. Di dunia asalmu.. Apakah langit juga seindah ini?" Tanya Gildarts.
"Hm.. Di duniaku.. Hmm bintang di duniaku berwarna merah.." Jawab Arthur.
Gildarts berbalik ke arah Arthur karena tercengang.
"Di duniaku.. Duniaku sebelumnya tidak seindah ini. Aku hidup di dunia dimana teknologi sudah sangat maju.. Kota dimana-mana, tidak ada lagi alam serindang ini.. Semua hanya gedung pencakar langit. Hanya saja semua kecanggihan itu hanya bisa dinikmati oleh orang-orang kaya. Rakyat miskin seperti ku hanya bisa melihat dari jauh.." Jelas Arthur.
"Begitu rupanya!"
"Bagaimana denganmu Paman?" Arthur bertanya balik ke arah Gildarts.
"Duniaku.. Yah, mungkin juga sudah cukup modern karena di duniaku kami kemana-mana menggunakan mobil, bukan kereta koda."
"Mobil? Mobil seperti apa yang ada di duniamu Paman??" Arthur terlihat penasaran.
"Mobil.. Kau tau, benda yang bergerak dengan menggunakan mesin dan roda empat.." Terang Gildarts.
"Apakah mobil di duniamu bisa terbang di atas langit?"
"Hah!" Gildarts terkejut.
__ADS_1
"Mobil hanya bisa berjalan di atas aspal.. Kau tau jalan yang berwarna hitam." Gildarts bingung menjelaskan.
"Oh.. Berarti duniaku masih lebih maju." Kata Arthur.
"Paman tau.. Di duniaku mobil sudah bisa terbang di atas langit." Lanjut Arthur dengan antusias.
"Hah! Bohong.." Gildarts tak percaya.
Perbincangan mereka berdua malam ini berlanjut..
Para kesatria suci memang datang dari dunia dan era yang berbeda. Tidak ada satupun dari mereka yang datang dari dunia dan era yang sama, mereka semua dikumpulkan oleh sihir aneh dari seorang dewi.. Hingga terpanggil ke dunia ini.
Masih diwaktu yang sama..
Dalam sebuah ruangan..
Richard berjalan menyusuri lorong gelap sambil menjentikkan jarinya, mengeluarkan api kecil sebagai sumber cahaya untuk melihat ke depan.
Ia berjalan sambil meningkatkan kewaspadaannya.
"Dimana kau monster jelek!" Benaknya.
Saat ini dia sedang mencari monster cyclops bermata satu yang sudah memakan tangan kirinya. Ia berjalan dengan tatapan mata yang menunjukkan amarah.. Ia ingin balas dendam pada monster itu.
Sesaat kemudian di depannya terlihat dua jalan bercabang. Richard memejamkan mata.. Dia mencoba merasakan aura hidup dari monster tersebut. Richard mengirimkan gelombang sonar ke tanah untuk menemukan monster cyclops bermata satu itu.
Entah sejak kapan Richard bisa melakukan hal itu tapi yang pasti selama 4 bulan ini dia benar-benar banyak menguasai teknik baru, mungkin itu adalah keahlian hasil dari monster yang ia konsumsi selama ini.
Richard mengambil arah kiri, ia berlari dengan cepat seperti seorang assassin yang siap untuk membunuh mangsanya.
Sesaat kemudian.. Di depannya. Monster cyclops yang memegang balok raksasa itu sedang menyantap bangkai monster lain.
Tanpa pikir panjang Richard langsung melayangkan serangan.. Dengan dorongan api di kedua telapak kakinya Richard melompat tinggi ke arah monster itu. Kemudian Richard menghantam monster itu dengan pukulan api miliknya tepat di punggungnya.
Monster itu terkejut dan terpental ke depan. Sesaat kemudian monster cyclops yang sudah buta tersebut meronta.. Ia bangkit dan mulai menyerang ke segala arah karena tidak dapat melihat.
Satu-satunya mata yang ia miliki saat ini telah tertancap sebilah pisau yang di tusuk kan Richard 4 bulan yang lalu ke arah matanya. Pisau itu masih bersarang dimata monster itu sampai sekarang.
Serangan ke segala arah monster cyclops cukup merepotkan karena daya hancurnya cukup besar dan juga cukup lincah. Tapi Richard bisa menghindari semua itu dengan keahliannya saat ini.. Ia lompat sana, lompat sini..
"Hm, ini tidak ada apa-apannya." Kata Richard.
"Oi monster jelekk.. Apa kau masih ingat suaraku.. Hah!" Richard berteriak ke arah monster cyclops tersebut.
Monster itu diam sejenak.. Ia tampak mendengar dan mencoba menerka perkataan Richard.
"Ini aku.. Jangan pura-pura tidak mengenal suaraku." Richard berteriak kembali dan melompat ke arah monster.
Monster itu merespon.. Ia akhirnya mengenal suara Richard dan semakin marah karena gara-gara Richard monster itu sekarang buta.
__ADS_1
Monster itu melayangkan senjata balok besarnya ke depan tepat ke arah Richard yang melompat ke arahnya.. Tapi dengan kelihaian Richard, ia menggunakan sihir api miliknya untuk menghindar dan memutari monster tersebut.
Sesaat kemudian.. Richard berada di depan wajah monster itu dan.. Richard memegang pisaunya. Dengan kekuatan penuh ia kembali mendorong pisau yang telah tertancap itu.
"Rasakan ini!!" Teriaknya.
Monster itu mengeram kesakitan.. Darah hijau yang mengering dari wajahnya kembali keluar akibat ulah Richard. Monster itu, dengan tangan kanannya mencoba memukul Richard, tapi Richard berhasil menghindar sambil mencabut pisau itu dari mata monster cyclops, maka jadilah monster itu malah menonjok wajahnya sendiri.
"Enak bukan.. hah!" Richard berteriak lagi.
Monster itu terjatuh akibat pukulannya sendiri. Monster itu terus mengeram kesakitan.. Apa lagi setelah pisau itu di cabut. Ia benar-benar meronta kesakitan..
"Saatnya kau mati.." Kata Richard.
Richard memegang pisaunya dengan tangan kanan, satu-satunya tangan yang ia miliki saat ini. Ia mengalirkan imperium ke pisau itu..
Monster yang tadi terjatuh bangkit, dia terlihat marah besar..
Richard.. Manatap tajam monster itu.
"Punctio." Kata Richard
Cukup satu kedipan mata.. monster itu mati seketika dengan tusukan pisau yang menembus dada sebelah kiri, menembus jantung dan menembus hingga dadanya terlihat bolong.
Pisau itu tertancap dengan jantung monster itu di dinding tanah, tepat di belakang monster cyclops yang saat ini terjatuh ke arah depan.
"Dendam Ku terbalaskan." Kata Richard sambil mencabut pisau dari dinding tanah.
"Sekarang kau yang akan jadi makan malam ku."
Richard berjalan sambil menyeret monster yang beratnya ratusan kilogram itu dengan hanya satu tangan. Otot dan urat di sekujur tubuhnya terlihat jelas, meski berat ia tetap menarik bangkai monster itu..
Sejauh 5 kilometer ia menarik bangkai itu, hingga ia kembali lagi ke ruangan ia sebelumnya. Ruangan yang sangat terang karena di atas langit-langit ruangan ada sebuah kristal blue eye yang meneteskan air hingga membuat sebuah genangan air di setengah ruangan itu.
Ia tertatih karena lelah.. Setelah diam sejenak akhirnya Richard kembali mendekat ke bangkai monster itu dan mulai menguliti bangkai monster tersebut..
'
'
'
'
'
'
'
__ADS_1
-Bersambung-