
Pasar menjadi salah sentral di berbagai tempat, karena aktivitas pasar yang membuat ekonomi menjadi tumbuh dan berkembang. Pun di kerajaan Nusantara, berbagai pasar yang berada di ibu kota terlihat ramai antara transaksi pembeli dan penjual.
Ada beberapa pasar yang terletak di ibu kota kerajaan Nusantara, mulai dari pasar yang menjual berbagai macam makanan sepele buah dan sayur serta daging hewan dan ikan.
Ada pula pasar yang khusus menjual pakaian dan alat-alat kebutuhan rumah tangga. Bisa di bilang jenis pasar berbeda termasuk dari barang yang di jualnya.
Bukan cuma itu, pasar yang berada di kawasan pusat Ibu kota kerajaan juga berbeda dengan pasar yang ada di wilayah kumuh pinggiran ibu kota.
Meski kerajaan Nusantara menjunjung tinggi nilai kesetaraan tapi tetap saja jenjang sosial masih terlihat jelas jika melihat bangunan-bangunan yang berada di pusat kota dengan bangunan yang berada di pinggiran kota.
Masih ada jarak yang tercipta antara kaum bangsawan dengan rakyat biasa, mungkin satu-satunya hal yang membedakan kerajaan ini dengan kerajaan yang lain adalah tidak arogansi dari para bangsawan kepada rakyat biasa yang tidak terlihat.
Bisa dibilang para bangsawan tidak memandang rendah para rakyat biasa mereka bisa hidup berdampingan tanpa ada diskriminasi walaupun jarak dan status mereka berbeda.
Di salah satu pasar yang terletak di wilayah kumuh, tepatnya di salah satu gerai buah. Seorang wanita muda tampak ceria sembari menjajakan dagangannya pada setiap pengunjung pasar yang lewat di depan gerai. Dengan elok dia berjalan sambil menenteng tas berisi buah dan mencoba menarik minta para pengunjung pasar.
Wanita itu adalah Gayatri, seorang putri raja yang sampai sekarang belum di temukan oleh para prajurit kerajaan.
Gayatri sangat menikmati hidupnya kala ia kabur dari istana kerajaan, bukan hanya karena ia bisa lebih menikmati hidupnya tapi juga karena ia bisa menghindari pernikahan yang tidak ia inginkan.
Meski keinginannya untuk keluar dari ibu kota dan pergi bertualang belum bisa diwujudkan olehnya, tapi berada dekat bersama dengan rakyat sudah cukup apa lagi ia bisa selalu berada di samping Wira lelaki yang ia cintai.
Saat ini Wira sedang tidak bersama Gayatri karena ia sedang melakukan tugasnya sebagai salah satu kesatria. Sudah 2 hari ini Wira pergi untuk menjalankan tugas di luar ibu kota kerajaan meski awalnya ia berjanji hanya berangkat sehari saja pada Gayatri.
Gayatri sendiri tinggal di gubuk tua milik wanita tua yang adalah mantan suster yang merawat Wira sejak kecil di salah satu panti asuhan kala ibu Wira meninggal. Wira dan suster Jiah, sangatlah dekat dan sudah seperti ibu dan anak. Wira sering memberikan koin emas kepada Jiah saat ia menerima upahnya sebagai kesatria kerajaan.
Jiah sendiri tahu betul siapa Gayatri tapi ia tetap menampung Gayatri di gubuk tua miliknya bahkan mempekerjakan Gayatri di gerai buah yang juga ia kelola sejak pensiun sebagai suster penjaga anak yatim. Jiah percaya bahwa apa yang dilakukan oleh Wira adalah sesuatu yang benar, ia percaya karena sudah menganggap Wira sebagai anaknya sendiri.
Identitas Gayatri hanya diketahui oleh mereka berdua, orang-orang yang berada di tempat ini juga tidak begitu mengenal wajah putri raja, bisa di bilang Gayatri cukup aman berada di tempat ini. Meski awalnya Jiah melarang Gayatri membantunya di gerai buah tapi Gayatri memaksa karena merasa bosan jika harus berada di dalam gubuk seharian.
"Buah buah.. Apel, jeruk, anggur.. Silahkan." Gayatri terlihat wara wiri di depan gerai buah.
Jiah yang berada di dalam gerai tersenyum melihat Gayatri yang energik, itu mengingatkan dirinya saat ia masih muda.
Cukup ramai memang apa lagi hari masih pagi, hari yang pas untuk menjajakan buah segar kepada para pembeli.
Masih berada di dalam wilayah ibu kota, tepatnya di pusat ibu kota. Para kesatria dan prajurit terlihat masih sibuk mencari dan menyebarkan poster wajah putri Gayatri hingga para penduduk kini mengetahui bahwa putri raja telah kabur dari istana.
Hal yang pernah terjadi beberapa tahun yang lalu, dimana saat itu putri raja pertama, kakak dari Gayatri kabur dari istana dan pergi melanglang buana ke berbagai wilayah meski sempat kembali dan menceritakan semua kisah perjalanannya pada Gayatri tapi setelah itu ia kembali kabur dan tak lagi kembali hingga suatu ketika yang kembali ke hadapan raja adalah jasad tak bernyawa.
Mengetahui hal itu tentu saja para penduduk ibu kota kerajaan tidak lagi ingin kehilangan sosok putri raja, kini mereka juga ikut mencari sang putri bahkan para bangsawan juga mengerahkan kesatria pribadinya hanya sekedar mencari keberadaan putri Gayatri saat ini. Pencarian semakin intens hingga saat ini para prajurit dan kesatria juga mulai menjajaki dan mulai mencari di kawasan kumuh pinggiran ibu kota kerajaan tempat dimana Gayatri berada.
Di dalam istana kerajaan Nusantara.
Istana dengan arsitektur kuno yang di keliling oleh candi-candi kecil yang menjulang tinggi sebagai benteng pertahanan.
Istana dengan warna dominan hitam ke abu-abuan dengan bendera hitam berlambang wajah burung mistis yang di sebut oleh rakyat kerajaan adalah burung garuda.
Di dalam istana di ruang tahta, raja Jolang Ingalaga teringat masih pusing dengan kondisi kerajaannya saat ini. Kondisi pertama adalah pasukan kerajaan yang menjaga ibu kota sangat kurang dan yang kedua adalah anak gadisnya yang belum ditemukan.
"Suamiku, tenanglah.. Gayatri pasti akan kembali." Permaisuri terus saja menenangkan kekhawatiran raja tentang hal buruk yang bisa saja terjadi.
"Anak itu, aku akan menghukumnya jika ia sudah ketemu." Jolang terlihat kesal.
"Baginda.. Saat ini para bangsawan sedang membantu pencarian putri Gayatri, saya yakin sebentar lagi putri akan ketemu." Kata Penasehat raja bernama Parmang.
"Semoga saja." Raja Jolang tidak bisa menyembunyikan kekesalan dan kekhawatirannya.
Sementara itu..
Pasukan aliansi yang di bentuk untuk pergi membantu pertahanan ibu kota kerajaan Nusantara sudah tiba di wilayah kerajaan Skandia. Pasukan itu dipimpin oleh kesatria yang berasal dari kerajaan Dongion yang bernama Gajef Svinof.
Pasukan aliansi yang terdiri dari gabungan 5 kerajaan yaitu kerajaan Dongion, kerajaan Celestial, kerajaan Naugrim dan dua kerajaan lainnya. Total keseluruhan dari pasukan itu adalah 5000 orang. Tentu itu adalah jumlah yang sedikit tapi memang hanya segitu yang bisa terkumpul mengingat perang sedang berlangsung dimana-mana.
Kembali ke tempat dimana Gayatri berada..
__ADS_1
Ia tersenyum bahagia menikmati profesi barunya sebagai penjual buah, setidaknya sampai ia melihat beberapa prajurit yang mendekat sambil menanyai pengunjung pasar.
Sontak saat ia melihat hal itu ia langsung menutup wajahnya dengan selendang yang ia kenakan di bahunya. Meski tak mendengar apa yang dikatakan oleh para prajurit itu, yang pasti prajurit itu sedang mencari dirinya.
Saat itu juga ia berbalik dan ingin masuk ke dalam gerai buah yang tidak jauh dari tempat saat ini dia berdiri. Tapi begitu ia berbalik, tangannya di genggam dengan kuat oleh seseorang.
Ia terkejut sampai menjatuhkan keranjang buah itu, buah-buah dalam keranjang berjatuhan dan membuat orang-orang yang berada di dekat tempat itu melihat ke arahnya.
"Mau kemana kau nona..khekhekhe." Ucap pria yang memegang tangannya.
Gayatri berbalik, ia panik kala melihat pria berotot yang tak mengenakan baju itu memegang erat dirinya.
"Lepaskan.. Lepaskan aku." Gayatri mencoba berontak sebisa mungkin.
"Tidak mungkin.. Hari ini kau akan menemaniku. Khekhekhe.. Kita akan bersenang-senang."
Rupanya yang memegang Gayatri adalah seorang pria mabuk *****, bukan prajurit yang dikira oleh Gayatri tapi tetap saja ia benar-benar dalam bahaya. Apa lagi tak ada seorangpun yang menolong dirinya karena pria mabuk itu merupakan pria yang terkenal akan keganasan dan kekuatannya.
"Lepaskan.. Lepaskan.." Gayatri masih berontak.
Karena mulai ribut, para prajurit yang tadi tidak memperhatikan arah dimana Gayatri berada kini mulai melirik karena suara dan kegaduhan yang terjadi.
"Ayolah jangan malu." Pria mabuk itu memegang pinggang Gayatri dan mencoba mengangkatnya pergi.
Tak lama, pria mabuk itu dikejutkan oleh buah apel yang tetap mengenai matanya hingga ia mengeram kesakitan. Momen itu membuat Gayatri bisa lepas dan berlari meninggalkan pria mabuk itu, rupanya Jiah yang melempar buah apel itu.
Sungguh hebat, wanita tua bisa melempar apel sekuat itu hingga membuat pria mabuk yang memegang Gayatri merasa sakit.
Tapi sayang, prajurit itu sudah sempat melihat wajah Gayatri dan mengenalinya sebagai putri raja yang kabur dari istana.
"Itu putri Gayatri.." Salah satu prajurit berteriak, Sontak suara teriakan itu membuat pasar gempar karena mengetahui bahwa di pasar kumuh itu ada seorang putri raja.
Padatnya pasar membuat Gayatri cukup sulit untuk kabur hingga ia di tarik oleh Jiah dari kerumunan.
"Bibi Jiah.. A-aku tidak papa." Gayatri jelas terlihat kesakitan, ia memegang pergelangan tangannya yang merah akibat genggaman pria mabuk itu.
"Ayo kita pergi dari sini!" Jiah dan Gayatri lalu pergi dari pasar menghindari kejaran dari para prajurit yang mengetahui identitasnya.
Tak cukup lama kabar tentang keberadaan Gayatri di pinggiran ibu kota tersebar dan membuat konsentrasi pencarian dirinya dipusatkan pada pinggir kota. Hal yang membuat Gayatri sulit untuk bergerak, ia beruntung karena Jiah kenal betul dengan struktur dari wilayah ini sehingga ia bisa menghindari kejaran demi kejaran para prajurit yang mengejarnya.
Pencarian itu berlangsung hingga malam hari, tak ada satupun yang berhasil menemukan mereka berdua. Tapi seperti kata pepatah, sepandai-pandainya tupai melompat lada waktunya pasti akan jatuh juga. Ungkapan yang pas kala melihat Jiah dan Gayatri di keling oleh beberapa prajurit.
Meski butuh waktu seharian tapi prajurit berhasil menemukan Jiah dan Gayatri di pinggiran sungai, tempat pembuangan akhir di saluran air pada pusat kota.
Entah bagaimana, malam ini sepertinya petualangan Gayatri akan berakhir.
"Tuan putri, maafkan kami. Kami hanya menjalankan perintah raja." Salah satu prajurit membujuk agar Gayatri menghentikan perawan sia-sia yang ia lakukan.
"Kau wanita tua.. Kau telah melakukan kejahatan besar karena telah membawa putri raja kabur." Salah satu prajurit melihat ke arah Jiah.
"Tidak.. Dia tidak membawa aku kabur. Aku kabur karena keinginanku sendiri." Gayatri berteriak.
Akhirnya salah satu prajurit mendekat dan mencoba memegang Gayatri tapi Jiah sigap melerai dan mendorong prajurit itu hingga ada celah untuk kabur.
"Tuan putri pergi!! Cepat pergi.." Jiah berteriak menahan prajurit dengan tubuhnya.
Gayatri melihat Jiah, ia menangis dan berbalik tapi sayang jumlah prajurit saat itu 5 orang.. Jiah mungkin berhasil menahan 3 orang dengan tubuhnya tapi 2 orang yang lain sigap menahan Gayatri agar tidak kabur.
"Lepaskan.. Lepaskan aku." Gayatri mencoba berontak tapi 2 prajurit yang memegangnya membuat ia tak bisa berbuat banyak.
"Tuan putri, Raja sangat mengkhawatirkan anda. Kami akan mengantar anda pulang dengan selamat." Ucap salah satu kesatria.
Jiah yang juga akan di bawa ke hadapan raja terlihat berontak meski itu sia-sia.
Saat mereka akan meninggalkan tempat itu, tiba-tiba salah satu prajurit tersungkur karena terkena pukulan di leher.
__ADS_1
"Siapa itu?" Setelah mengucapkan hal itu, prajurit kedua pun tersungkur karena pukulan keras yang mengarah di wajah.
"Wiraaa.." Teriak Gayatri.
Cukup mudah bagi Wira tentunya untuk menumbangkan 5 prajurit sekaligus karena ia adalah kesatria, meski hanya kesatria biasa ia termasuk kesatria yang cukup hebat karena bisa mengendalikan imperium.
Hanya dengan satu, dua gerakan ia sudah bisa membebaskan Jiah dan Gayatri dari genggam para prajurit.
Melihat Wira spontan Gayatri memeluknya, dibalas kontan oleh Wira dengan memeluk balik.
"Maaf aku terlambat." Kata Wira.
"Tidak. Yang penting kau sudah ada di sini." Gayatri masih di pelukan Wira.
"Kalian harus pergi dari sini, tempat ini sudah tidak aman lagi." Jiah mengingatkan mereka berdua.
"Bibi.. Terima kasih telah membantu Gayatri." Wira melihat lirih ke arah Jiah.
"Tenang saja.. Aku cukup senang bisa membantumu."
"Bibi bagaimana denganmu?" Tanya Gayatri.
"Yaa.. Aku juga akan pergi, tapi aku tidak bisa bersama dengan kalian. Aku hanya akan menghambat gerakan kalian. Sepertinya kita akan berpisah di sini." Jiah tersenyum.
"Bibi.." Gayatri memeluk Jiah erat sebagai ucapan terima kasih karena telah membantu ia selama beberapa hari ini.
"Baiklah.. pergilah sekarang. Jika aku masih panjang umur mungkin kita akan bertemu lagi." Jiah melepaskan pelukan Gayatri.
Mereka tidak bisa berlama-lama untuk mengucapkan selamat tinggal, karena di pinggiran kota saat ini telah banyak prajurit dan kesatria yang mencari keberadaan Gayatri.
Akhirnya dengan berat mereka berpisah, baru beberapa langkah berpisah Wira dan Gayatri terkejut karena di depan mereka saat ini berdiri sosok gagah yang mengenakan zirah baja bersama beberapa pasukannya.
Orang itu adalah Galang Lingga, calon suami Gayatri.
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
-Bersambung-
__ADS_1