The Strongest Knight

The Strongest Knight
Ch. 27 - Murd Linda Chaya


__ADS_3

Bola api raksasa yang menghantam kastil membuat satu-satunya jalan keluar dari pulau tertutup. Reruntuhan kastil bahkan membunuh penduduk yang tidak sempat masuk ke jalan rahasia bawah tanah yang ada di dalam kastil.


Sedangkan orang-orang yang terjebak mulai histeris, pun dengan Salosa yang belum sempat masuk ke dalam kastil. Melihat kastilnya runtuh, matanya menatap lurus ke arah kastil yang sudah hancur. Raut wajahnya berubah, ia menggigit bibirnya sampai berdarah menahan marah.


Sementara itu.. Di laut lepas. Di bawah tebing, beberapa perahu sudah mulai meninggalkan dermaga yang berada di bawah tebing.. Sekitar 1 km meter dari dermaga, di salah satu perahu yang penuh dengan pengungsi.


Seorang wanita sedang memeluk anak perempuannya. Wanita itu melihat ke arah kastil yg meledak dan hancur seketika, kobaran api masih terlihat dari jauh.. "Papa..!!" Kata anak kecil di pelukan wanita itu.


"Mia.." Wanita itu melihat anaknya, dia memeluk anaknya dengan erat sambil menahan tangis. Ia menangisi suaminya.. Meski masih berharap, tapi serangan dahsyat itu bisa saja sudah membunuh Salosa yang merupakan suaminya.


Bersama dengan wanita itu.. Pengungsi lain terlihat meratapi hancurnya kastil. Suara isak tangis mulai terdengar dari mereka yg saat ini sudah selamat.. Jika di lihat dari kejauhan, ratusan perahu kecil sudah mengapung menjauh dari benteng. Di setiap perahu kecil, seorang prajurit atlantian mendorong sambil berenang menjauh dari benteng yang saat ini sudah tampak di kuasai musuh.


40 menit sebelum matahari terbit..


Di sisi timur benteng..


Sebastian melihat dan mendengar ledakan dari arah kastil, begitu pula dengan kesatria dan prajurit yang lain.


"Sebastian.." Ain melihat ke arah Sebastian Austin.


"Yaa,, pasukan iblis sudah berada di kastil. Ssialll.." Umpatnya.


"Tuan Austin, apa yg harus kita lakukan?" salah seorang kesatria yang panik bertanya ke arah Sebastian.


"Tch.. Ain." ia melihat ke arah Ain.


"Baiklah.." Ain mengangguk seakan mengerti apa maksud dari Sebastian.


Ain berkonsentrasi.. Ia menutup mata sambil mengumpulkan imperium di sekitar tempat dia berdiri, lalu.. "Holy sancta.." Ucapnya membuka mata.


Di sebelah kirinya, Sebastian mengambil ancang-ancang.. "Sancta virgo.." Ucap Sebastian sambil menebaskan pedangnya ke arah pasukan iblis


Serangan sihir dan serangan jarak jauh Sebastian menyatu dan membentuk kekuatan luar biasa yang mengarah ke pasukan monster yang ada di depan mereka.. Serangan gabungan itu.. Seketika membuat setengah dari pasukan iblis yang mereka hadapi hancur.. Tak terisa.


Serangan itu juga membunuh 2 iblis Tiropus yang dari tadi mendesak para kesatria.


"Baiklah, sekarang kita harus segera menuju kastil." Sebastian berkata kepada Ain.


Tapi tiba-tiba tubuhnya terasa berat dan ia berlutut ke tanah. "Sial, imperiumku terkuras." Gumamnya.


"All heal.." Seorang penyihir mendekati Sebastian.


"Giron." Ucap Sebastian melirik penyihir itu.


Setelah sedikit pulih, Sebastian kembali bangkit. "Voncer, aku akan pergi ke kastil. Sekarang kau adalah pepimpin pasukan, sisanya ku serahkan padamu." Sebastian Austin memberikan komando kepada salah satu kesatrianya untuk mengalahkan sisa-sisa monster dan iblis yang masih hidup di gerbang timur, sedangkan ia dan Ain akan langsung pergi menuju kastil yang telah hancur.

__ADS_1


Kembali ke kastil.. Semua orang tergeletak di tanah akibat hantaman sihir yang memporak-porandakan kastil dan sekitarnya. Tak terkecuali para kesatria dan monster yang menyerang.


"Si-sial." Umpat Pistris mencoba bangkit.


"Tuan Salosa.. Tuan, apakah anda tidak papa." Moro mendekat ke arah Salosa yang masih syok atas serangan yang terjadi.


Di atas langit.. Sesosok iblis berkulit putih pucat dengan tanduk tunggal di dahi sedang membentangkan sayap hitamnya, seperti sayap kalelawar jika di lihat sekilas.


Matanya hitam pekat, melihat ke bawah sambil tertawa puas. Ia tak punya gigi, hidungnya juga pesek dan tak memiliki rambut alias botak. Bentuk tubuhnya seperti manusia dengan hanya memakai celana pendek kusut.


Tampak kurus dengan raut wajah yang keriput, ia adalah Balphegor.. Salah satu Iblis bawahan langsung dari Lucifer sekaligus pemimpin pasukan klan iblis yang menyerang kali ini.


"Balphegor!!" Ucap Pistris pucat.


Semua kesatria dan manusia yg masih hidup kini menengok ke atas dan melihat Balphegor.


"Wahai makhluk-makhluk hina.. Tunduklah, tunduklah kalian dengan kekuatan iblis.." Ucapannya menggelegar.


Ia menganggat tangan kirinya ke atas.. "Igne irae." Ucapnya.


Api muncul bersamaan dengan lingkaran sihir merah yang keluar dari tangannya. Api tersebut semakin besar hingga membuat gelap menjadi terang di sekitar kastil. Bola api itu semakin besar bahkan lebih besar dari sebelumnya.


"Matilah kalian semua.." Sesaat setelah mengucapkan hal itu, dia mengarahkan bola api dengan tangannya ke arah para kesatria yang berada di bawahnya.


Mereka semua hanya bisa melihat dan tak bergerak. Benak mereka semua.. Saat ini hanya kematian..


Layaknya meteor jatuh, bola api itu semakin dekat ke arah para kesatria yang hanya bisa menganga. Panas bola api itu bahkan sudah membuat mereka mengeluarkan keringat.


Tiba-tiba..


"Magicae creatura : aquae scuto." Seorang wanita berjubah hitam tiba-tiba berada di depan bola api tersebut.


Di depan wanita itu.. Muncul gumpalan air bercahaya yang membentuk sebuah tameng taksasa dan menutupi hampir semua kesatria dan penduduk yang sudah pasrah di bawahnya.


Seketika.. Hantaman bola api dan air berbentuk tameng raksasa tak terhindarkan.


Hantaman tersebut membuat air menguap, dan sebaliknya.. Bola api tersebut menghilang karena terkena air.


Ledakan energinya cukup besar.. Ledakan itu bahkan membuat getaran udara dan angin kencang di sekitar lokasi..


"he!?" Pistris terkejut.


Semua orang yang menyaksikan hal itu juga terkejut.


Balphegor mengerutkan dahi, dia tak percaya bahwa serangan sihirnya dapat di tangkis dengan mudah.

__ADS_1


Akibat angin kencang dari ledakan sihir tersebut, jubah yang menutupi wajah wanita itu terangkat.. Dia terlihat sedang tersenyum. "huh.. Masih sempat." Ucapnya merasa lega.


"Hah!?? Nyon-Nyona LINDA.." Pistris berteriak ke arah wanita itu.


Wanita bernama Linda menoleh ke bawah, melihat ke arah sumber suara.


"Ohh!! Pistris kah? Sudah lama tidak bertemu manusia hiu. Ahhahahahaha." Ucapnya sambil tertawa.


"Eh,.. Apanya yg lucu!!"


"Hahahaha, yo Pistris.. Aku pikir kau sudah mati?"


Pistris diam sesaat.. Lalu dia kembali berteriak. "Nyonya.. Jika kau sudah di sini, mungkin kah.." Belum selesai Pistris mengucapkan kalimat.


"Tidak,, bala bantuan masih jauh. Aku ke sini menggunakan sihir ruang." Linda memotong perkataan Pistris.


"Nyonya.. Kal...."


"Tidak.. Jika aku menggunakan sihir ruang untuk memindahkan mereka semua, maka aku akan mati.. Iblis yang saat ini berada di depanku berada di level yang berbeda, jika lengah sedikit saja. Maka aku akan mati." Tegas Linda memotong lagi ucapan Pistris.


Pistris.. Ia terkejut karena Linda bisa membaca pikirannya.


Benak Linda bergejolak, karena aura mengerikan dari iblis yang saat ini berada di depannya. Ia cukup menyesali dirinya karena terlalu menghabiskan waktu mencari ibu dari anak kecil yang dia selamatkan di tengah benteng sejak awal kedatangannya.


"Huh.. Seharusnya aku membawa satu atau dua orang kesatria besar bersamaku." Gumam Linda menyesali kedatangannya.


Linda menyesal karena tidak memperkirakan bahwa iblis yang menyerang benteng adalah iblis level atas dengan kemampuan di luar nalar manusia biasa. Dia bahkan datang tanpa persiapan apa-apa ke benteng ini, yaa.. Linda, meskipun seorang penyihir hebat tapi dia juga sangat ceroboh dan sangat suka tampil mencolok di depan orang-orang.


Dia lebih suka tampil solo dan menjadi pusat perhatian... Itu adalah ego yang membuat dia tak mengajak satupun kesatria besar bersamanya untuk datang ke benteng ampt menggunakan sihir ruang miliknya, yaitu sihir yang dapat memanipulasi dimensi dan membuat dia mampu berpindah tempat ke tempat yang lain.


Sihir ruang adalah sihir tingkat tinggi yang membutuhkan banyak imperium. Bahkan untuk memindahkan diri sendiri saja sudah cukup membuat penyihir biasa kehabisan imperium.


Sejak awal Linda tak mengajak pasukan bantuan menggunakan sihirnya karena ia ingin menghemat imperium miliknya, tapi sekarang dia malah menyesali hal itu karena terlalu meremehkan musuh. Itu adalah salah satu sifat buruknya selalu saja bersikap ceroboh.


"Siapa kau?" Balphegor melihat ke arah Linda.


"Aku...!? Ingat namaku iblis jelek. Aku adalah Murd Linda Chaya, orang yang akan membunuhmu. HAHAHAHA." Linda membalas pertanyaan Balphegor dengan penuh percaya diri meski saat ini benaknya bergejolak.


-Bersambung-


---------------------------------------------


Visual look Linda di dalam cerita!!


__ADS_1


__ADS_2