
Seharusnya hari ini adalah hari dimana seluruh rakyat Ibu kota kerajaan Nusantara bersuka cita. Tawa dan bahagia, itulah yang harus terdengar hari ini, bukan tangis dan panik. Sebuah ledakan dahsyat membuyarkan semua kesenangan dan mendatangkan kesengsaraan, seperti itulah yang terjadi saat ini.
Ledakan itu membuat istana kerajaan Nusantara yang berdiri kokoh menjadi runtuh hampir rata dengan tanah. Orang-orang yang masih selamat menjerit minta tolong, sementara yang tidak beruntung dari mereka langsung hancur bersama dengan ledakan yang mengubah sebagian tempat itu menjadi partikel dan puing-puing kecil serta tanah yang berada di tempat itu retak dan longsor kebawah.
Semuanya terlihat porak-poranda dan tak berbentuk lagi seperti sebelumnya. Jangankan bangunan istana, interior dan ornamen yang terdapat dalam istana itu juga hancur tak berbentuk. Tiang dan atap istana runtuh dan membunuh orang-orang yang ada di dalamnya, termasuk orang-orang yang berada di ruangan tahta untuk menyaksikan upacara pernikahan.
Sementara di sekitar halaman istana, ada banyak mayat terlihat. Banyak di antara mereka yang mati akibat terkena puing-puing bangunan atau terkena langsung efek bola ledakan itu.
Kebanyakan mayat yang berada di halaman kerajaan bahkan sudah tidak utuh lagi. Ada mayat yang kehilangan setengah badan, kehilangan lengan, kehilangan kepala dan mayat yang tubuhnya remuk tak berbentuk akibat dampak dari ledakan. Hal itu membuat halaman depan istana dibanjiri oleh darah dari para mayat tersebut.
Suara tangis dari mereka yang masih hidup terdengar jelas, panik dan suara langkah kaki mereka juga terdengar. Mereka semua berlari keluar wilayah istana, bahkan saling dorong dan injak hingga tak sedikit pula yang mati karena hal itu.
Di wilayah kota sendiri, rakyat yang tersisa dan tidak sempat masuk ke arel halaman istana hanya bisa melihat dan merasakan getaran hebat dari ledakan yang menghancurkan istana kerajaan. Ada yang berlutut dan menangis, ada juga yang berdoa dan ada yang berlari menuju istana setelah ledakan berhenti untuk melihat keadaan orang-orang yang berada di lokasi ledakan.
Bahkan saking besarnya ledakan, getaran yang terjadi sampai ke pusat kota juga menghancurkan beberapa bangunan dan melukai penduduk kota. Apa lagi angin kencang yang menerjang sesaat setelah ledakan itu terjadi membuat beberapa rakyat terpental dan terbentur.
Di wilayah pinggir kota, pemukiman rakyat jelata. Mereka melihat hal yang sama, rakyat yang berada di tempat itu melihat jelas hal yang baru saja terjadi. Hanya dalam waktu satu detik, istana raksasa yang biasa mereka lihat dari pemukiman ini menghilang bersamaan hilangnya cahaya ledakan. Semua penduduk ibu kota dan yang berada di sekitar ibu kota tahu akan kejadian ini. Kejadian yang melenyapkan istana dan seluruh isinya.
Berada di halaman istana, dimana tempat itu masih dipenuhi oleh kabut pekat dari debu yang berterbangan dan mereka yang masih hidup berlarian saling dorong untuk keluar dari istana. Meski banyak yang masih hidup tapi mereka bukan tanpa luka, mereka semua mengalami luka dari luka parah sampai luka ringan.
Mereka berdesak-sedakkan untuk keluar dari istana. Ada yang berlari, berjalan, pincang bahkan ada yang ngesot karena kedua kakinya telat remuk. Mereka panik, masih panik dan tidak tahu apa-apa tentang hal yang baru saja terjadi.
Di sebuah tenda yang ada di tempat itu. Seorang anak kecil yang menangis dan selamat dari ledakan mencoba membangunkan ibunya yang sudah tak bernyawa. Ibunya mati karena melindungi anak itu dari efek ledakan yang terjadi.
Tak jauh di dekatnya, seorang prajurit yang terdempet tiang bangunan menjerit minta tolong. Di sebelahnya lagi, seorang pria tua yang tersungkur terus berdoa. Tidak ada siapapun yang menolong mereka semua karena para prajurit, kesatria hingga keluarga bangsawan terkubur di dalam istana.
Beberapa prajurit dan kesatria yang selamat bangkit dari tanah setelah sebelumnya mereka terhempas akibat ledakan. Mereka bingung, mereka tidak tahu harus melakukan apa setelah semua pemimpin mereka terkubur di dalam istana.
"Apa yang terjadi!?" Ucap salah satu kesatria yang mencoba melihat ke arah istana, pandangannya tertutupi oleh debu pekat masih memenuhi tempat itu.
Sementara kekacauan terjadi di istana yang telah hancur. Di sisi lain, tempat dimana Mbah Raka berada, wilayah paling belakang istana kerajaan.
Mbah Raka bangkit kembali setelah sebelumnya terhempas akibat dampak dari ledakan itu. Meski masih berada dalam satu wilayah, jarak yang cukup jauh antara kastil sihir dan istana raja membuat kastil sihir tidak terlalu terdampak meski bangun kastil ikut runtuh akibat getaran tanah yang terjadi pada saat ledakan.
Mbah Raka mencoba bangkit dari tanah, ia bersujud sambil memukul-mukul tanah karena menyesal tak dapat berbuat apa-apa. Di sekitarnya terdapat banyak pohon tumbang akibat hempasan yang terjadi saat ledakan.
Ia marah dan menggenggam tanah dengan keras untuk meluapkan kekesalannya. Sementara Iblis yang tadi melawan Mbah Raka terlihat melayang di udara, menatap ke arah istana yang telah lenyap tak tersisa. Iblis itu hanya diam, ia tak seagresif sebelumnya saat bertarung dengan Mbah Raka, bahkan Iblis itu meneteskan air mata, iblis yang menangis itu adalah Linda.
Di bawahnya, Suica yang juga terhempas akibat ledakan saat ini tidak sadarkan diri akibat terbentur benda keras di kepalanya.
Tak jauh dari tempat itu, di depan reruntuhan kastil. Tempat dimana seharusnya Ihsan berada, tapi saat ini ia tak terlihat lagi di tempat itu. Bersamaan dengan Ihsan yang tiba-tiba saja menghilang, Mbah Raka langsung tersadar akan sesuatu yang ia rasakan. Ia bangkit dari sujud dan berlutut sambil melirik ke arah istana, seakan-akan sesuatu sedang menuju ke tempat itu.
Kembali ke istana yang terlihat porak-poranda, di ruang tahta. Tempat dimana pesta sekaligus pengucapan akad pernikahan seharusnya berlangsung.
Ruangan itu kini terkubur oleh puing-puing bangunan. Mereka yang ada di dalam ruangan itu mati akibat ledakan dan terkubur puing atap serta tiang yang runtuh.
Dari ruangan itu terdengar suara gemuruh bangunan, sepertinya ada bangun yang bergerak, sesaat kemudian terlihat beberapa orang yang berdiri dari bawah bangunan. Mereka adalah beberapa dari kesatria besar yang berhasil mengeluarkan kemampuan mereka untuk bertahan menggunakan imperium tanah.
Hanya ada sedikit dari mereka yang selamat dan banyak yang tidak sempat bereaksi saat ledakan terjadi. Diantara mereka yang selamat adalah keluarga raja, Jolang, permaisuri, Gayatri dan Galang yang melindungi mereka sesaat sebelum ledakan terjadi.
Yang lain adalah 3 orang kesatria besar dan beberapa bangsawan yang sempat mereka lindungi.
Mereka semua tampak lusuh akibat debu dari bangunan runtuh, ruangan yang tertutup oleh reruntuhan itu membuat mereka kesulitan bernafas karena tidak adanya akses udara yang memadai. Sinar matahari bahkan tidak menembus reruntuhan itu sehingga reruntuhan ruangan itu minim pencahayaan.
"Uhuk.. Uhuk." Gayatri membersihkan debu yang menutup kepalanya.
"Gayatri.. Anak ku.. Kamu tidak papa." Permaisuri memeluk Gayatri.
__ADS_1
Sementara raja Jolang hanya bisa diam melihat istana kerajaannya runtuh. Di sebelah kanan, Galang menghampiri jasad kedua orang tuanya yang tidak selamat dan mati karena puing bangunan. Sebelum ledakan terjadi, Galang punya pilihan antara menyelamatkan kedua orang tuanya atau menyelamatkan keluarga raja. Ia memutuskan pilihan saat mengingat tanggung jawabnya sebagai kesatria besar untuk melindungi raja.
Hal itu membuat dia menyesal saat ini, sambil menangis Galang memegang pipi Ibunya yang sudah tidak bernyawa terhimpit tiang bangun.
"Ke-kenapa?" Saat Jolang mengatakan itu, ia langsung duduk ke belakang tahtanya. Ia syok atas apa yang baru saja terjadi.
Selama ini ia selalu merasa risau akibat mengirim seluruh pasukan terkuatnya ke Pulau Cebes, tapi ia tak punya pilihan karena desakan dari dewan bangsawan kerajaan. Sebagaimana sistem kerajaan di kerajaan ini, pengambilan keputusan militer diambil dalam keputusannya bersama dengan dewan bangsawan kerajaan. Hasil keputusan itu kini membuat istana kerajaan menjadi hancur berantakan. Hal yang membaut Raja Jolang sangat menyesal.
Para bangsawan yang masih hidup di ruangan itu juga hanya bisa meratapi apa yang terjadi. Sedangkan para kesatria besar berusaha keluar dengan memindahkan puing-puing bangunan satu persatu, ada pula yang berteriak ke luar agar orang luar yang mendengar teriakan itu bisa menolong mereka.
Jangankan menolong, semua orang yang berada diluar itu masih histeris dengan kejadian yang baru saja terjadi.
Di atas langit, sosok iblis turun dengan pancaran aura negatif yang besar. Hal itu menambah ketakutan pada penduduk Ibu kota, mereka yang tadi mendekati istana untuk menolong malah berbalik arah mengetahui jika ada iblis di istana. Pun dengan mereka yang sudah ada di istana dan berusaha keluar dari halaman istana. Melihat Lucifer muncul membuat mereka semakin histeris dan semakin berlomba-lomba untuk keluar dari halaman istana.
Kesatria yang berada di sekitar tempat itu mencoba menghadang Lucifer tapi mereka hanya dianggap sebagai serangga kecil oleh Lucifer. Cukup satu serangan, para kesatria yang mencoba menyerangnya langsung mati seketika.
Lucifer melayang tepat diatas tumpukan puing yang menutupi ruangan tahta dimana raja Jolang berada. Lucifer menggunakan sihir untuk mengangkat puing itu hingga ruangan tahta terlihat oleh Lucifer.
Sementara itu, mereka yang berada di dalam puing mendengarkan suara gemuruh bangunan. Mereka melindungi kepala mereka dari batu-batuan kecil yang berjatuhan.
"Baginda.. Sepertinya seseorang mencoba menolong kita." Ucap salah satu kesatria.
Tak lama setelah itu, cahaya terlihat dari atas. Semakin terang saat beberapa puing berhasil diangkat hingga langit kembali terlihat oleh mereka yang ada di dalam ruangan itu.
"Kita selamat.. Kita selamat." Salah satu bangsawan yang ada di ruangan itu bersorak kala ia melihat kembali langit biru dan bisa menghirup udara segar.
Bukan hanya dia tapi mereka semua terlihat senang sampai Lucifer menampakkan dirinya dan perlahan melayang turun ke arah mereka.
"Lucifer..!!" Kata raja Jolang.
Para kesatria besar yang melihat Lucifer langsung bereaksi, mereka bergerak ke arah raja Jolang untuk melindunginya.
"Hahahahahaha.. Sayang sekali, kerajaan ini sudah menjadi milikku." Ucap Lucifer saat kakinya menyentuh lantai ruangan yang itu.
Raja Jolang memeluk permaisuri dan anaknya dengan erat, ia jelas sedang ketakutan saat ini.
"Sayang sekali Rein Wijaya tidak ada di tempat ini.. Hahahaha." Lucifer tertawa dengan keras.
Saat ini, ada 4 kesatria besar yang melindungi raja Jolang dan keluarganya termasuk Galang.
"Baginda.. Kami akan menyerang iblis itu dan saat kami menyerang, baginda dan keluarga harus keluar dari tempat ini!" Kata Galang yang memegang pedang dengan kedua tangannya.
"Tidak.. Aku akan bertarung." Ucap raja Jolang melepas pelukannya pada istri dan anaknya.
Jolang jelas tahu tahu kekuatan Lucifer, ia tahu bahwa para kesatria besar yang ada saat ini belum cukup meski hanya untuk menghadang Lucifer sesaat.
"Ayahanda.." Gayatri mulai khawatir.
"Lepaskan aku Gayatri, mendekat lah pada Ibumu." Raja Jolang menarik sebuah senjata dari belakang punggungnya.
"Kalian bertiga.. Bantu aku melawannya.." Raja Jolang meminta 3 kesatria besar untuk membantunya.
"Baginda.. Bagaimana denganku?" Tanya Galang.
"Galang.. Kau bawa mereka berdua dari tempat ini. Serahkan hidupmu untuk melindungi mereka berdua, kalian harus pergi ke pulau Cebes dan bertentangan dengan Rein." Tegas raja Jolang sambil melirik Permaisuri dan putrinya.
"Ayahanda.." Gayatri menolak.
__ADS_1
Permaisuri yang menatap mata raja Jolang mengerti dengan maksud tersebut. Permaisuri yang meneteskan air mata memegang erat Gayatri agar ia tak mendekat pada ayahnya. Permaisuri jelas tahu bahwa apa yang akan dilakukan oleh Jolang suaminya sama saja dengan bunuh diri. Ia tahu, sebab itulah ia mengeluarkan aie mata.
"Sekarang.. Galang tolonglah!" Kata Jolang sambil membaca mantra dengan memegang pisau belati dengan lekukan itu.
"Baginda.. Baiklah." Galang lalu berlari ke arah kanan, ditempat itu ada celah yang terlihat. Ia bermaksud untuk menghancurkan batuan yang menutupi celah itu agar mereka bisa keluar dari ruangan ini.
"Tunggu.. Tunggu kami!" Para bangsawan yang melihat pergerakan Galang berteriak untuk ikut.
"Berisik.." Setelah mengatakan hal itu, Galang membunuh semua bangsawan yang masih hidup hanya dengan satu serangan kecil.
Pembantaian itu membuat Jolang dan ke saat besar yang ada di dekatnya mengeram marah dan mulai menyerang Lucifer.
"Kurang ajar.. Lucifer...." Raja Jolang murka, ia mengeluarkan pusaka miliknya.
Raja Jolang bukanlah orang lemah, ia juga bisa bertarung. Apa lagi saat ini ia memegang sebuah pusaka sakti kerajaan yang menyimpan kekuatan besar dan saat ini dengan menggunakan pusaka itu untuk bertarung dengan Lucifer.
Gayatri yang masih histeris melihat Ayahnya sambil berlari bersamaan dengan Permaisuri dan Galang. Gayatri terus berteriak tapi Ibunya terus menarik Gayatri agar tetap berlari menjauh selagi Jolang membuat Lucifer sedikit sibuk.
Bersamaan dengan amarah yang meluap.. Aura kuat yang keluar dari Jolang membuat Lucifer tersenyum. Saat ini, dengan pusaka sakti yang dipegang Jolang, cukup membuat ia percaya diri dengan kekuatannya karena pusaka yang ia pegang itu menyimpan kekuatan leluhur raja-raja terdahulu. Pusaka itu adalah 'Keris Ciung Wanara', salah satu senjata kuat yang ada di daratan Neverland.
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
-Bersambung-
_______________
Visual look Ifrit, 4 pilar Neraka..
__ADS_1