
"Tidak.. Aku tidak tertarik."
Setalah panjang lebar Ifrit menjelaskan tentang bangsanya yang mengalami kepunahan dan bermaksud untuk menganugerahkan kekuatan pada Richard, jawaban yang diterima oleh Ifrit malah semakin membuat Ifrit yakin jika Richard adalah orang yang tepat.
Richard yang sama sekali tidak menunjukkan ketertarikan pada kekuatan membuat Ifrit yakin jika Richard bukanlah orang yang tamak.
"Whahahawhahaha.. Menarik sekali." Ifrit tertawa karena Richard menolak mentah-mentah penawaran Ifrit padanya.
Richard melirik Ifrit yang tertawa, lalu memulai kembali bacaannya. Saat ini mereka berdua masih berada di dalam ruangan perpustakaan dengan banyak buku. Seperti yang telah diketahui jika Richard adalah orang yang gemar akan membaca, apa lagi sejak ia terkurung di dalam labirin ia sudah tidak pernah membaca atau memegang sebuah buku.
Ia membaca sambil menyimak apa yang dikatakan oleh Ifrit tentang bangsa Jin dan perang yang terjadi antara bangsa Jin melawan pasukan Iblis.
Hanya ada 4 jin yang berhasil selamat dari perang itu dan keempat Jin itu telah bersembunyi sangat lama dari pasukan iblis di dalam labirin yang mereka buat.
Keempat labirin itu tersebar di 4 benua yang berada di daratan Neverland. Labirin tempat Ifrit berada saat ini adalah daratan Neverland wilayah barat, lalu ketiga labirin lainnya masing-masing berada di wilayah utara, selatan dan timur.
Selain bersembunyi, keempat jin itu juga mencari kandidat untuk menjadi penerus kekuatan besar yang bersemayam dalam diri mereka. Para jin mencari sosok yang kuat, bijak dan terpenting sosok yang tidak haus akan kekuatan. Sebab jika mereka memberikan kekuatan pada sosok yang haus akan kekuatan dan kekuasaan maka orang itu akan menjadi tamak.
Tamak adalah sifat yang bisa membuat manusia terjerumus ke dalam hati yang gelap dan akan membuat manusia serta makhluk yang terjerumus pada hal itu berubah menjadi iblis.
Oleh sebab itu, sangat lama Ifrit menanti seseorang yang pantas meski telah ratusan hingga ribuan tahun berlalu. Bahkan ia tak menjatuhkan pilihannya pada kesatria-kesatria suci terdahulu karena menilai tidak ada yang pantas untuk mendapatkan anugerah kekuatan darinya.
Ifrit tidak peduli, apalah itu orang biasa, atau kesatria hebat, bangsawan atau rakyat jelata, kesatria suci atau bukan.. Ifrit tidak peduli sama sekali, ia memilih orang yang pantas dengan melihat hati orang tersebut dan Ifrit merasa jika Richard memiliki kebijaksanaan yang ia cari selama ini.
Richard masih duduk sambil membuka lembaran-lembaran kertas dari buku yang ia baca, lalu sesuatu terdengar...
"whahahwahaha. Sepertinya kau lapar!?"
"Ya.. Apakah tidak ada monster di tempat ini yang bisa aku bunuh?" Richard bangkit dari tempat duduknya setelah perutnya berbunyi karena kelaparan.
"Duduklah.. Kau akan memberimu makanan."
"Oh.. Baiklah. Terima kasih." Richard duduk kembali, baru ia duduk. Makanan yang Ifrit maksud sudah tersaji di atas meja tepat didepan Richard.
"Silahkan dimakan!" Ifrit menunduk.
Richard mengedipkan mata, ia terheran melihat banyak makanan yang muncul tiba-tiba di depannya.
"Bagaimana kau melakukannya?" Richard penasaran karena Ifrit hanya menjentikkan jari dan seketika muncul begitu banyak makan berupa buah, sayur daging dan roti.
Richard yang masih penasaran dengan cara Ifrit memunculkan makanan meraih sepotong daging yang menggoda penciumannya. Bau yang harum menggugah selera membuat Richard menelan ludah hingga saat Richard menggigit daging itu dan perlahan mengunyah lalu menelannya.
Matanya terbelalak tidak percaya, ia berbalik melihat ke arah Ifrit. Bukan tanpa alasan ia terkejut seperti itu karena untuk pertama kali semenjak Richard terjebak di dalam labirin, ia kembali bisa merasakan makanan yang enak dan tidak beracun masuk kedalam tenggorokannya.
"Sialan. Ini enak!" Gumamnya, tanpa pikir panjang lagi ia melanjutkan makan dengan mencoba semua menu yang ada di depannya.
"Makanlah yang banyak.. Aku tahu betul bagaimana kau bisa bertahan sampai di tempat ini." Ujar Ifrit.
Richard melihat Ifrit sambil mengunyah makanan lalu menelan makanannya. "Jadi, kenapa kau harus melepaskan kekuatan hebat yang ada dalam dirimu dan memberikan kekuatan itu pada orang yang kau pilih?" Tanya Richard, ia masih penasaran dengan alasan Ifrit.
__ADS_1
"Perang yang terjadi melawan pasukan iblis sudah membuat tubuh kami terluka parah, apa yang kau lihat saat ini bukanlah diriku yang sebenarnya.. Yang kau lihat ini adalah kloningan tubuhku. Tubuhku yang sebenarnya telah mati dan terkubur di labirin ini tapi kekuatanku masih tersimpan di tempat ini."
"Lalu kenapa kau tidak menggunakan tubuh itu untuk keluar dan mengalahkan monster yang mengejar mu?" Richard berhenti mengunyah dan menenggak air putih.
"Tidak bisa.. Tidak bisa dengan tubuh ini.. Aku tidak bisa meninggalkan Labirin." Tegas Ifrit yang duduk di depan Richard.
"Baiklah.. Lalu kenapa kau memilihku?" Richard mendekatkan badan ke arah Ifrit, ia menatap dengan tajam.
"Aku sudah mengawasi mu sejak pertama kau masuk ke dalam labirin ini. Kau memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh orang lain."
"Apa maksudmu?"
"Ignis.. Kau memiliki jiwa kepemimpinan, kau punya tekad yang kuat dan yang paling penting adalah.. Kau memiliki kebijaksanaan yang tidak akan membuat kau salah dalam menentukan pilihan." Tegas Ifrit degan mata yang berseri-seri.
"Terima kasih tapi.. Kau terlalu memuji. Aku tidak lebih hanya seorang pecundang yang kebetulan bisa bertahan hidup." Richard mundur dan menyadarkan badannya pada kursi yang ia duduki.
"Tidak.. Aku tidak mungkin salah. Di bangsaku.. Aku terkenal sebagai Jin berpengetahuan dan semua buku yang ada di tempat ini adalah buku yang aku tulis karena pengetahuan ku.. Aku tidak mungkin salah dalam menilai orang." Ifrit sangat yakin dengan kemampuannya.
"Baiklah.. Apa untungnya bagiku jika aku mendapatkan kekuatan darimu?"
"Kau akan mendapatkan kekuatan hebat, lalu kau bisa keluar dari tempat ini dan kembali bergabung dengan para kesatria suci untuk mengalahkan pasukan iblis."
"Tidak.." Richard geleng-geleng kepala, ia terlihat kesal begitu ia mendengar tentang kesatria suci.
"Aku tidak akan bergabung dengan mereka.. Tidak akan pernah.. Mereka pastinya telah menganggap bahwa aku telah mati, jika tidak mereka semua pasti AKAN KEMBALI DAN MENYELAMATKAN AKU.." Richard meninggikan suaranya.
"Aku tahu perasaanmu.. Tapi aku yakin para kesatria suci membutuhkanmu. Sebab kau akan memimpin mereka dalam pertempuran melawan raja iblis!"
"Omong kosong.. Pemimpin para kesatria suci saat ini adalah Arthur.. Bukan aku dan.. Satu hal, aku tidak peduli lagi dengan raja iblis. Satu-satunya yang aku pedulikan adalah cara agar aku bisa kembali ke duniaku."
Ifrit mengerutu.. Ia paham bagaimana perasan Richard tapi ia juga yakin jika Richard adalah orang yang tepat.
"Baiklah, tidak masalah jika kau tidak peduli lagi dengan raja iblis atau tidak ingin lagi bertemu dengan para kesatria suci. Tapi kau harus tetap mewarisi kekuatan milikku.. Karena dengan kekuatan itu kau bisa keluar dari tempat ini?"
"Bagaimana dengan kembali ke dunia asalku? Apa kau tahu??" Richard berdiri dari tempat duduknya.
"Aku tidak yakin tapi sihir yang dipakai untuk memanggilmu ke dunia ini adalah sihir langit. Jadi kau harus bertemu penduduk langit dan bertanya langsung pada mereka."
"Bagaimana, bagaimana cara aku pergi bertanya kepada mereka?"
"Aku tidak tahu.. Yang pasti kau harus keluar dulu dari tempat ini dan untuk keluar dari tempat ini kau harus mewarisi kekuatanku." Ifrit bersikeras, ia sangat yakin dan harus memberikan Richard kekuatan miliknya pada Richard.
"Huh.." Richard menghela nafas, ia masih berpikir tentang hal itu.
Ifrit melihat celah untuk membujuk Richard. "Aku lihat kau sedikit kesusahan dengan hanya memiliki satu tangan saja." Ucapnya.
Richard melihat lengan kirinya yang buntung.
"Dengan kekuatan yang aku miliki, aku bisa menumbuhkan tangan kiri mu kembali seperti semula." Ifrit tersenyum.
__ADS_1
Richard tidak yakin, ia menatap Ifrit sambil berpikir. Lalu tak lama kemudian.. "Baiklah.. Aku akan terima." Tegasnya.
"Bagus!!" Ifrit tersenyum sambil menjentikkan jari dan seketika mereka berdua langsung pindah ke tempat lain yang ada di sekitar kastil tersebut.
"Hah! Dimana ini? Apa yang kau lakukan?" Richard terkejut karena mereka secara tiba-tiba berpindah ke tempat yang berbeda hanya dengan sekali jentik jari dar Ifrit.
"Kita berada di luar kastil.. Di halaman belakang." Ucapnya.
Merekapun berdua berada di sebuah taman yang penuh dengan pepohonan rindang dan bunga. Di depan mereka terlibat sebuah kuburan kuno.
"Itu adalah tubuhku yang asli, terkubur dan membusuk di bawah tanah.
Terlihat pula sebuah obor terbakar di atas kuburan itu.
"Apa itu, aku baru melihat api yang seperti itu?" Richard melihat api yang membakar obor itu.
"Itu adalah api abadi.. Itu adalah sumber kekuatanku. Masih menyala meski tubuh asliku telah membusuk." Ujar Ifrit.
"Tidak, bukan itu yang aku tanyakan padamu. Maksudku.. Aku baru melihat api yang berwarna hitam seperti itu?" Richard mendekat perlahan ke arah api itu.
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
-Bersambung-
__ADS_1