The Strongest Knight

The Strongest Knight
Ch. 81 - Pesta Pernikahan Bag. 2


__ADS_3

"Tuan Lingard... Apa yang kau lakukan!! Suica histeris melihat kereta yang di tumpangi oleh Lingard hancur


seketika di saat Lingard sendiri belum keluar dari kereta itu.


Bukan hanya Suica yang terkejut karena apa yang dilakukan oleh Ihsan tapi prajurit serta kesatria yang masih berada di tempat itu juga terkejut. Pasalnya selain karena tiba-tiba, serangan itu kini membuat kereta tak lagi berbentuk sebagaimana bentuk sebuah kereta dengan 4 roda.


Suica yang masih histeris dengan wajah panik mendorong Ihsan yang masih terlihat waspada dengan pedang di tangannya. Setelah mendorong Ihsan, Suica berlari mendekat ke arah kereta yang sudah hancur tersebut.


"Tunggu, jangan mendekat." Ihsan menahan Suica, memegang tangan Suica.


"Apa yang kau lakukan.. Lepaskan!!" Suica berontak tapi ia tak bisa melepaskan dirinya dari genggaman tangan Ihsan.


Beberapa orang yang datang bersama Suica dan termasuk dalam rombongan mendekati kereta yang telah hancur itu. Mereka melihat dengan seksama, tapi mereka tidak melihat tubuh Lingard. Semestinya Lingard ikut terkena serangan itu dan seharusnya serangan dahsyat itu membunuh Lingard.


"Lepaskan aku.." Suica melawan, kini dia mengeluarkan pedangnya dan memperkuat mental dengan imperiumnya.


"Apa yang kau lakukan? Kau telah membunuh kesatria besar kerajaan Inggram.. Kau seharusnya sadar! Hal ini sama saja dengan kau mendeklarasikan perang kepada kerajaan Inggram." Suica tak mampu lagi menahan amarahnya, apa lagi Lingard merupakan orang yang berjasa di hidupnya. Jika bukan karena Lingard dia tidak akan bisa menjadi kesatria dan masih akan berstatus sebagai rakyat jelata yang hidup dalam kemiskinan.


"Tenanglah Nona, coba lihat ke belakang. Orang yang selama ini bersama denganmu bukan lah tuanmu yang kau kenal.." Jelas Ihsan.


Suica berbalik, kini ia merasakan aura kuat yang berasal dari kereta yang telah hancur itu.


"A-apa itu?" Orang yang mendekati kereta itu melihat sesuatu yang bergerak dari bawah reruntuhan kereta yang hancur.


Lalu... Aura samar kini semakin kuat dan terpancar hingga aura itu mampu di rasakan oleh semua orang yang ada di tempat itu.


"Hei.. Kalian bertiga. Mundur dari situ!?" Ihsan yang tengah panik berteriak ke arah orang-orang yang ingin mendekati kereta itu.


Lalu.. Booom.. Suara ledakan terdengar cukup keras. Sesaat kemudian, ketiga orang yang mendekat itu langsung terlempar hingga mereka terluka cukup parah dan tak sadarkan diri.


"Hah! Ti-tidak mungkin!?" Suica melihat sosok yang baru saja bangkit dari puing kereta yang telah hancur. Sosok itu memiliki wajah Lingard tapi perlahan-lahan wajah Lingard meleleh dan kini wajah itu terlihat seperti iblis.


"Tch.. Ternyata masih ada kesatria hebat yang tinggal di sini. Aku pikir mereka semua telah berada di pulau Cebes." Sosok itu berdiri, bukan Lingard tapi sosok itu adalah iblis kuat yang tubuhnya terlihat seperti manusia dengan bulu dan tanduk domba yang melengkung di atas telinga.


"Maaf saja, tapi aku sudah bisa merasakan hawa membunuhmu saat kau masuk ke areal istana." Kata Ihsan.


Sementara itu, Suica yang syok melihat iblis di depannya berlutut terkejut. Bola matanya melebar, kedua alisnya mengerut tak percaya dengan apa yang ia lihat.


"Ba-bagaimana bisa.. Tuan Lingard." Ucapnya lirih.


Kedua prajurit yang menjaga kastil sihir itu kini terlihat waspada, mereka mengarahkan tombaknya pada iblis itu.


"Nona Suica.. Sadarlah, apa kau mengenal iblis itu?" Ihsan melihat Suica yang berlutut tak berdaya di tanah karena masih belum percaya dengan apa yang terjadi.


"Mbambambambamba.. Halo Suica, bagaimana rasanya bercinta dengan iblis." Ucapnya tertawa dengan puas.


Suica yang terdiam tiba-tiba saja bangkit, ia menunduk memegang kembali pedangnya. Lalu dengan cepat ia menyerang dengan kekuatan imperium kehidupan dari tumbuhan.. Tapi, serangan itu berhasil di mentalkan oleh iblis yang dia serang.


"Aarrggggg.. Mati, mati, mati, mati!!!" Suica menyerang terus menerus, sementara iblis itu tak bergerak dari tempat dia berdiri sambil terus menepis serangan Suica.


"Mbambambambamba.. Kau tahu. Kau punya tubuh yang sangat indah.. Aku begitu menikmatinya." Iblis itu kembali memprovokasi.


"Areggghhhh.. Diam. Kembalikan tuan Lingard padaku."


"Bodoh.. Orang itu sudah mati, bahkan mayatnya sudah menjadi pasukan undead yang menyerang kota Kander saat ini." Ujar iblis itu.


"Tidak, tidak.. Tidak mungkin.." Suica menyerang dengan pedang secara membabi buta.


Itu terlihat seperti serangan sia-sia, raut wajahnya jels menggambarkan keputusasaan.


"Hei kau.. Segeralah ke istana dan minta bantuan kesatria untuk mengamankan kastil sihir ini." Ihsan melihat ke arah prajurit yang berada di depan kastil.


"Baiklah tuan, saya segera ke istana." Kata salah satu prajurit yang kemudian langsung berlari meninggalkan mereka.


"Dan kau, masuk ke dalam kastil.. Peringatkan para penyihir untuk menyegel ruang bawah tanah!" Ihsan kembali memberi perintah kepada prajurit yang lain.


Bukan tanpa alasan Ihsan memerintahkan hal itu, pasalnya di bawah kastil terdapat item sihir kuat yang selama ini melindungi ibu kota kerajaan dan sekitarnya dari gangguan portal dimensi. Jika saja item itu hancur maka portal akan terbuka di sekitar ibu kota bahkan di seluruh pulau Jatra dan saat portal terbuka maka pasukan iblis akan memiliki akses untuk menyerang langsung pulau Jatra serta Ibu kota kerajaan.


"Kau yang terbaik.. Aku bahkan masih mencium aroma tubuhmu." Iblis itu masih terus memprovokasi Suica yang menyerangnya.


"Diam, diam, diam, diam..." Suica yang frustasi tak bisa lagi menahan air matanya.


Selama ini, Suica menganggap jika Lingard tuannya sekaligus pria yang dia cintai masih hidup tapi yang bersamanya selama ini adalah iblis yang menyamar. Suica tidak sadar akan hal itu karena selama mereka bersama sejak di kota Kander sampai dengan saat ini, Lingard terlihat seperti biasa dan tidak begitu mencurigakan.

__ADS_1


"Sialan.. Kau Diablo!!" Teriaknya.


Iblis yang menyamar menjadi Lingard adalah Diablo, iblis kuat yang berada dibawah naungan Lucifer sang dosa Kesombongan. Suica mengetahui Diablo karena memang mereka sudah bertemu sebelumnya saat perang di pulau Irian.


"Mbambambamba.. Tidak usah marah seperti itu, padahal baru kemarin malam kita berenang-senang."


"TIDAKKKK.. Mati.. Kau harus mati!!" Suica kembali mendekati Diablo, dia tidak bisa menahan dirinya. Saat ini serangan yang akan dia layangkan ke Diablo membuka banyak celah yang membuat Suica sangat mudah untuk dibunuh.


"Mati kau..!" Diablo yang sedari tadi tidak bergerak kini melangkah dan membungkuk untuk menyerang Suica dengan tanduk domba yang ada di kepalanya.


Duuaaarrr.... Hantaman keras pun tak terhindarkan.


Suica tersungkur sebelum sundulan keras itu mengenai dirinya. Ia di dorong oleh Ihsan yang saat ini menahan serangan Diablo dengan pedangnya.


"Rrrrmmmmmm." Diablo mengeram.


Sementara Ihsan yang masih menahan serangan itu terlihat tak gentar. Akhirnya mereka berdua melompat kebelakang setelah adu kekuatan itu tak menghasilkan apa-apa.


"Ihsan Wijaya.." Kata Diablo yang tersenyum.


"Ada hubungan apa kau dengan Rein Wijaya?" Tanya Diablo.


"Rupanya kau mengenal Ayahku.." Jawab Ihsan dengan tenang.


"Ayahmu? Mbambambamba.. Kami sempat bertemu di tengah laut. Dia bahkan tidak menyadari keberadaan ku."


"Heh, mungkin instingnya sudah tumpul termakan oleh usia." Kata Ihsan memesan kuda-kuda bertahan.


"Mbambambamba.. Rasanya beruntung jika aku bisa membunuh anak dari Rein Wijaya." Kata Diablo masih tertawa.


"Magicae creatio, dum dracde flosius." Seseorang yang baru saja keluar dari kastil menyerang dengan serangan sihir.


Sebuah akar besar yang merambat dari dalam tanah menyerang Diablo dan membuat dia terkunci karena tak bisa bergerak dibuatnya.


Ihsan berbalik melihat orang itu.


"Ihsan kah?" Sapa orang itu,


Orang itu adalah Raka Tingkir, salah satu dari 5 orang generasi emas yang masih hidup selain Rein Wijaya, Siska Pradita dan Suhtomo Reider. Ia adalah seorang penyihir kelas atas, oleh semua kesatria dan para penyihir memberikan julukan padanya dengan sebutan 'Mbah', sebuah julukan yang menandakan jika Raka adalah penyihir terkuat kerajaan Nusantara.


"Aku mendengar jika ada iblis di sini.. Jadi aku menghentikan pertapaan ku di dalam dan segera menuju ke sini. Aku tak menyangka jika ada iblis kuat yang bisa masuk ke dalam wilayah istana dengan mudah." Raka mendekat dan mendarat mulus si samping Ihsan.


"Seharusnya Mbah Raka tidak usah ikut campur, aku sendiri bisa menghadapi iblis ini."


"Kau terlalu sesumbar Ihsan.. Bagaimanapun Iblis yang berada di depanmu ini bukan lah iblis biasa, lihat saja.." Mbah Raka menunjuk ke arah Diablo.


Akar besar yang menjerat Diablo hancur akibat dari kekuatan besar yang muncul memenuhi tubuh Diablo.


"Mbamba.. Sepertinya aku kedatangan orang kuat lain." Ujar Diablo.


Tak lama, beberapa penyihir lain yang mengetahui iblis berada di depan kastil kembali ke tempat ini setelah sebelumnya mereka membantu para kesatria yang terluka masuk ke ruang perawatan.


"Hei iblis.. Kau telah di kepung. Sebaiknya kua menyerah saja." Kata Mbah Raka.


"Mbah, sepertinya dia ingin menyerang batu akik." Ujar Ihsan.


Batu akik adalah item sihir yang melindungi seluruh wilayah ibu kota kerajaan dari portal dimensi yang bisa muncul dimana saja.


"Oh, begitu rupanya. Jika sampai batu akik itu hancur maka ibu kota akan dipenuhi dengan pasukan iblis." Kata Mbah Raka memegang dagunya.


Diablo yang terkepung bukannya merasa khawatir, ia malah tersenyum seolah-olah dirinya telah memenangkan pertarungan ini.


"Ihsan, siapa wanita yang merajuk itu?" Mbah Raka melihat Suica yang tersungkur dengan tatapan kosong. Mentalnya sudah hancur sejak ia mengetahui jika Lingard telah mati dan Diablo, iblis dengan tanduk domba itu adalah orang yang bersama dirinya selama ini.


Ihsan menjelaskan pada Mbah Raka situasinya.


"Hm, begitu rupanya.." Kata Mbah Raka.


Saat mereka berdua berbicara, Diablo yang tahu jika dirinya sedang terdesak tak segan mengeluarkan semua kekuatan iblisnya kini ia tak terlihat lagi berwujud seperti manusia. Fisiknya berubah, bulu putih memenuhi tubuhnya, otot tangan dan kaki juga bertambah besar. Apa lagi dengan tanduk yang ada di kepalanya.


Ia melepas semua aura yang ada dalam dirinya hingga ia mampu berubah menjadi seperti itu. Tidak ada lagi pilihan selain mengeluarkan semua kekuatan karena dia sudah terpojok.


"Ihsan.. Awas." Mbah Raka menghindar bersama dengan Ihsan saat Diablo tiba-tiba saja menghilang di hadapan mereka.

__ADS_1


Sayang karena salah satu penyihir yang ada di dekat mereka terkena serangan sundulan tanduk yang membuat penyihir itu tak sadarkan diri setelah terlempar dan terbentur cukup keras ke tembok kastil yang ada di belakangnya.


"Semua.. Serang iblis itu." Mbah Raka memberi perintah.


7 penyihir tersisa menyerang dengan serangan jarak jauh dan berhasil membuat Diablo terpojok tak berdaya. Diablo tak bisa bergerak karena serangan itu, ia menahan serangan yang berasal dari segala arah itu hanya dengan kekuatan fisiknya saja sekarang.


"Kau tak bisa bergerak lagi..." Kata Mbah Raka.


"Aku akan membunuhnya.." Ihsan mengambil ancang-ancang. Ia memegang pedang dengan kedua tangannya sangat erat.


Sementara itu Diablo yang tak berkutik karena serangan sihir dari 7 penyihir yang mengelilinginya tak bisa berbuat banyak dan masij berusaha melepaskan diri.


Saat sebelum Ihsan menebas Diablo, tiba-tiba saja salah satu penyihir goyah akibat sundulan Diablo yang membuat tanah menjadi bergerak. Ia jelas menyundul tanah dengan sangat keras dan berkat hal itu Diablo bisa melompat tinggi untuk melepaskan diri dari serangan sihir yang tadi membuatnya tak bisa bergerak bebas.


"Argggg!" Diablo yang tidak lagi sadarkan diri karenanya telah masuk ke mode iblis seutuhnya menyerang ke arah Ihsan.


"Longum intervallum." Kata Ihsan menebas langsung ke arah Diablo.


Pedang yang dikelilingi dengan angin yang menyelimutinya, membuat dada hingga bahu Diablo tertebas, darah mengalir deras tapi.. Diablo seakan tak merasa sakit dan terus berlari hingga dia berhasil menyundul Ihsan yang lengah karena mengira Diablo akan tumbang hanya dengan satu serangan saja.


Serangan yang di terima Ihsan bahkan lebih hebat dari serangan tebasan pedangnya. Ihsan terlempar cukup jauh ke belakang, ia mengeluarkan darah dari mulutnya, saat ia berhenti terlempar. Ia mengeram kesakitan di bagian perut yang terkena tanduk domba dari Diablo.


"Ihsan.." Kata Mbah Raka.


Diablo berbalik, kali ini dia mengarahkan serangan pada Mbah Raka.


"Magicae creaturae: Helianthusa porta." Sebuah penghalang muncul tiba-tiba di depan Mbah Raka. Penghalang kuat yang bisa menahan serangan Diablo.


Setalah menahan serangan Diablo, Mbah Raka melayang dengan imperium angin dan kembali menyerang dengan imperium tumbuhan.


Creatio Magia: spinae congregatae." Ucapnya, dari kedua tangannya muncul lingkaran sihir besar, kemudian dari lingkaran sihir itu keluar duri-duri yang mengarah pada Diablo.


Serangan duri itu seperti hujan dan membuat tubuh Diablo tertusuk terus menerus sampai memenuhi punggungnya.


"Mbaaaaaaaaaaa." Diablo berteriak kesakitan akibat serangan itu.


Tidak sampai di situ, Diablo ternyata belum tumbang. Dia kembali menyerang penyihir lain yang dia lihat sedang lengah dan alhasil salah satu penyihir kembali tumbang akibat serangan Diablo.


Pengeroyokan itu kembali berlanjut, Mbah Raka yang masih melayang terus menyerang dari atas langit sementara 5 penyihir tersisa menyerang secara bersamaan ke arah Diablo.


Salah satu penyihir lain berlari ke arah Ihsan untuk mengobati lukanya akibat serangan kuat Diablo yang mengenai perutnya. Penyihir itu terlihat menyentuh perut dari Ihsan, lalu beberapa saat kemudian Ihsan yang tadi sempat merasa sakit kini bisa bangkit dan berdiri.


"Sial.. Ternyata satu serangan tidak cukup." Gumamnya.


'


'


'


'


'


'


'


'


'


'


'


'


'


'


-Bersambung-

__ADS_1


__ADS_2