
Di ruangan tahta kerajaan Celestial, seperti biasa raja kerajaan Celestial Sebastian William Copenhart terlihat duduk di singasananya yang terbuat dari lapisan emas murni. Tampak bersinar dengan lambang naga yang merupakan emblem kerajaan Celestial.
Di hadapan raja berdiri 9 kesatria suci yang telah memulihkan diri dan kembali pada kondisi terbaik mereka. Mereka semua tampak gagah memakai zirah baru yang di berikan oleh raja.
Kali ini mereka dikumpul untuk suatu alasan dan jawaban yang selama ini Arthur pertanyakan. Jawaban atas apa yang dikatakan oleh Rever sebelumnya.
"Kalian sudah jauh lebih baik sekarang, kalau begitu kita akan pindah ke ruangan lain." Kata Raja William.
Bersamaan dengan hal itu, Raja William berdiri dari tahtanya, bersama dengan menteri kerajaan yang berada di sampingnya. Sementara kesatria besar Redhawk Wings terlihat mendampingi para kesatria suci dan menggiring mereka untuk mengikuti Raja William.
Mereka keluar dari ruang tahta dan melangkah jauh dari ruangan itu, melewati beberapa belokan dan beberapa koridor hingga sampailah mereka semua di suatu ruangan tertutup.
"Ne. Ne.. Arthur. Kita mau kemana?" Rebecca berbisik pada Arthur.
"Sudah ikuti saja." Jawabnya ketus.
Tentu Rebecca langsung memasang wajah kesal, ia tampak cemberut karena jawaban cuek dari Arthur. Todak yang seperti biasanya, hari ini Arthur terlihat berbeda. Raut wajahnya serius sepanjang jalan menuju sebuah ruangan yang terdapat agak jauh dari ruang tahta raja.
Tak lama pintu ruangan terbuka dan masuklah mereka di suatu ruangan luas. Ruangan itu tidak sepenuhnya tertutup karena ternyata bagian dalam ruangan terbuka lebar dengan balkon yang cukup besar dan pemandangan taman yang terlihat dari arah balkon tepatnya di sebelah kanan mereka berdiri saat ini.
Di depan mereka terlihat sebuah tirai tipis yang menjadi pembatas antara mereka dan seseorang yang berada di dalam tirai itu. Orang yang terlihat sedang terbaring itu kemudian bangkit dan duduk di ranjang menghadap pada mereka semua.
Tak lama seorang wanita masuk dan membuka tirai itu, yang membuka tirai itu adalah Oana Lamiete dan yang duduk di balik tirai itu adalah penyihir suci, Parthe la Angele.
"Nyonya Parthe, aku telah membawa mereka." Kata Raja William mendekat dan duduk di samping Parthe sambil memegang tangannya.
Melihat hal itu Arthur spontan berlutut karena bagaimanapun, Parthe adalah penyihir yang memberi mereka kekuatan. Setelah terakhir kali mereka bertemu adalah saat pertama kali mereka di panggil ke dunia ini. Para kesatria suci yang melihat hal itu juga ikut berlutut dihadapan penyihir suci Parthe.
Wujud Parthe sendiri tak sama seperti pertama kali ia memanggil para kesatria suci, kini rambutnya sudah memutih dan kulitnya juga terlihat keriput. Ia tak lagi bisa menggunakan sihir awet mudanya seperti kala ia belum mengeluarkan kekuatannya untuk memanggil para kesatria suci.
"Berdirilah!" Sahut penyihir suci Parthe.
Mereka bersembilan kemudian berdiri. Di ruangan ini sekarang cuma ada mereka, Oana, Raja William, menteri dan kesatria besar Redhawk Wings.
"Aku akan membuka segel yang telah di tanamkan oleh para pendahulu kalian." Ucap penyihir suci Parthe.
Parthe lalu menengok ke arah Raha William. "Tapi sebelum itu, ada yang ingin di sampaikan oleh raja William kepada kalian."
Para kesatria suci yang terlihat penasaran mengalihkan pandangan mereka dari Parthe kepada raja William.
"Raja William.. Apakah kau akan memberitahukan kepada kami tentang apa yang selama ini aku tanyakan padamu?" Arthur menatap tajam.
"Iya, benar. Ini adalah cerita yang terjadi pada para pendahulu kalian dan cerita tentang perang besar 15 tahun yang lalu." Tegas raja William.
Sementara para kesatria suci menanti jawaban atas apa yang dikatakan oleh Rever, di saat ini juga para kesatria tengah berjuang mempertahankan pelabuhan kota Kander.
"Seranggggg!!" Kesatria besar Arie memimpin garda depan penuh dengan semangat.
Ribuan bahkan ratusan ribu monster menyerang, entah dari mana datangnya mereka padahal monster yang berada di depan mereka sebelumnya tidak sebanyak ini tapi tiba-tiba saja mereka dikejutkan oleh serangan pasukan sebanyak ini, yang datang dari dalam laut.
Para pengintai dari ras atlantian juga tidak menyangka akan ada serangan dadakan seperti ini hingga membuat mereka semua kocar kacir dan tak sempat untuk menghela nafas walau hanya sejenak.
Pasukan monster yang dipimpin oleh Balphegor ini dengan mudah menerobos penghalang yang telah dibuat oleh mereka semua.
Jika diperhatikan lagi, monster yang menyerang kebanyakan adalah undead atau mayat hidup yang berasal dari mayat para kesatria dan warga dari pulau Irian. Jumlah mereka sangat banyak hingga memenuhi pelabuhan kota dengan cepat.
__ADS_1
"Jangan gentar... Kuatkan nyali kalian!" Depone berteriak sembari menghantam satu persatu monster yang menyerang dirinya.
"Arrgghhh.."
Gaduh.. Suara teriakan para kesatria terdengar. Hantaman dan gesekan senjata juga terdengar, bangunan-bangunan yang berada di sekitar roboh satu persatu. Perang yang memakan banyak korban baru saja terjadi.
Jons kesatria dari kerajaan Dongion menengok ke atas, ia melihat Balphegor yang terus saja menyerang dengan sihir bola api miliknya.
Sihir itu menghancurkan bangunan dan benteng pertahanan para kesatria. Beruntung karena kota ini sudah kosong sepenuhnya. Para penduduk sudah di ungsikan sebelum para monster ini menyerang.
Jons mengambil panah busur miliknya, ia membidik Balphegor dengan imperium air miliknya. Serangan berwujud busur air itu berhasil dimentalkan oleh Astharot yang ternyata juga muncul dalam penyerangan kali ini.
Astharot yang melihat Jons lalu mendekat dan menghantam dengan sihirnya tapi Jons berhasil menghindar. Depone yang berada di sekitar tempat itu melihat dan menyerang Astharot tapi berhasil di hindari.
Perang semakin pecah..
Di tempat lain yang juga terlihat porak-poranda akibat pertarungan. Tempat dimana Richard berada..
"Gree gree.." Iblis bernama Darkger itu mengeram, ia terluka di bagian dada akibat tebasan pisau dari Richard.
Richard sendiri bukan tanpa luka, selain wajahnya yang sudah penuh dengan darah, beberapa luka lebam juga terlihat dari tubuhnya.
"Iblis memang beda." Kata Richard.
Ini adalah pertama kalinya ia berhadapan dengan iblis setelah sebelumnya ia melihat iblis level atas bernama Rever dan yang Richard hadapi saat ini adalah iblis kuat bawahan langsung dari Rever. Posisinya sama dengan Astharot maupun Balphegor yang juga berada di bawah naungan Lucifer.
Iblis dengan tubuh besar bertanduk dua itu melihat Richard dengan tatapan marah. Pasalnya ia berhasil dibuat babak belur oleh Richard melalui pertarungan sengit yang terjadi sejak tadi.
Iblis itu memegang pedang besar, ia menggunakan senjata. Ia memiliki dua tanduk dan berambut putih sebahu dan berjenggot putih. Kulitnya pucat dan penuh bekas luka akibat serangan Richard.
"Gre.. Gre.. GRAAA." Iblis itu kembali menyerang Richard tapi kini gerakannya sudah agak mulai melambat, mungkin karena efek dari luka yang saat ini dia derita.
Richard tentu dengan mudah menghindar dan membuat Iblis itu tersungkur cukup mudah hanya dengan menendang wajahnya. Kepala monster itu menghantam tanah duluan hingga membuat ia tak sadarkan diri dan sepertinya Richard berhasil menang.
"Huhhh.. Cukup merepotkan juga." Richard tersungkur karena lelah.
Kemenangannya buyar saat iblis itu bangkit kembali tapi tak sadarkan diri. Iya, iblis itu seperti sedang tertidur dan yang bangkit adalah sosok lain yang berada dalam dirinya.
Tentu Richard terkejut, belum sempat ia bereaksi. Richard terlempar jauh akibat pukulan iblis itu dan menghantam dinding ruangan yang terdapat ukiran huruf-huruf kuno di dalamnya.
"Sial aku lengah lagi."
Dan.. Duarr.
Richard kembali dihantam pukulan bersama dengan dinding tersebut. Hancur lebur, itu adalah kata yang tepat untuk menggambarkan dinding yang di hantam oleh iblis bersamaan dengan Richard yang berada tepat di antara pukulan keras dan dinding itu. Mungkin jika bukan Richard, orang yang terkena pukulan keras dari tangan besar iblis itu akan penyok dan tubuhnya hancur berantakan.
Iblis itu mengamuk sejati-jadinya.. Kali ini ia lebih kuat dari sebelumnya.
Richard bangkit lagi, kali ini ia tersenyum, sebuah senyum yang lebih lebar dari sebelumnya. Luka di tubuhnya bertambah, warna darah kini telah menjadi warna di sekujur tubuhnya.
Mereka berdua kembali baku hantam. Gerakan-gerakan itu, sangat kuat. Pukulan yang di balas dengan pukulan, saling terkena luka.. Darah berceceran dari tubuh mereka berdua.
Satu pukulan fatal mengenai wajah Richard hingga ia terlempar ke belakang, tapi ia bertahan hingga punggungnya tak menyentuh tanah. Sejenak ia berhenti bergerak, ia menatap Darkger dengan mata merahnya yang menyala.
Darkger mendekat, ia berlari dan karena hentakan kaki besarnya seluruh ruangan itu bergetar. Tapi Richard tak gentar, ia juga mendekat dan meladeni apapun yang dilakukan oleh iblis itu.
__ADS_1
Darkger melayangkan pukulan berat ke arah kiri, Richard yang konsentrasinya menjadi lebih tinggi dari sebelumnya mampu menghindar dengan mudah. Kali ini Richard berada dalan mode dimana seluruh indera dalam tubuhnya mengalami peningkatan kepekaan sehingga ia bisa merasakan apa saja yang bergerak termasuk mampu membaca arah pukulan dengan baik dan tepat. Dengan keahlian itu, beberapa kali Richard mampu menghindar dan menangkis pukulan fatal dari Darkger.
Pada satu momen terlihat Darkger mengarahkan pukulan keras tepat menuju arah wajah Richard tapi dengan sigap Richard tertunduk, ia mengambil ancang-ancang untuk pukulan upper cut dan menyasar dagu dari Darkger, dengan dorongan imperium api di kaki dan tangannya Richard berhasil membuat iblis sebesar Darkger melayang dengan pukulan upper miliknya.
Saking keras dan kuatnya pukulan Richard, Darkger melayang ke atas sangat tinggi bahkan hampir mencapai atap ruangan yang tingginya sekitar 20 meter dari permukaan tanah tempat mereka berpijak.
Tak sampai di situ, Darkger yang masih melayang dan tak bisa banyak bergerak mulai turun dengan sangat cepat seperti ditarik oleh gaya gravitasi yang sangat kuat. Sebelum Darkger menyentuh tanah, Richard dengan imperium api miliknya mulai mengeluarkan serangan besar yang belum ia gunakan saat menghadapi monster manapun.
Matanya terlihat menyala, tubuhnya menguap dan seketika mengeluarkan api. "Api pemusnah, Urere.. donec de decurrit." Ucapnya.
Richard terlihat memerah saking panasnya uap yang muncul malah membakar rerumputan hijau di sekitarnya. Lalu dengan dorongan api dari kakinya Richard terbang mendekati Darkger, api di kakinya itu seperti dorongan roket yang membuat Richard bisa bergerak di udara sekaligus mendekati Dragker dengan cepat. Dragker yang tidak sempat bereaksi seketika terbakar terkena pukulan api merah yang tepat mengenai perutnya. Pukulan itu membuat seluruh tubuhnya terbakar hebat bahkan dalam sekejap seluruh api itu memenuhi tubuhnya dan sebelum sampai ke tanah Darkger sudah menjadi butiran-butiran debu.
Itu adalah api yang membakar dengan cepat segala yang di sentuhnya, api suci pemusnah iblis.
Bersamaan dengan mendaratnya Richard di tanah, ia langsung pingsan akibat terlalu memaksakan diri dengan imperium miliknya.
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
-Bersambung-
-----------------------------------------
Visual look iblis Dragker dalam cerita..
__ADS_1