
Dalam sebuah ruangan sempit yang penuh dedaunan dan rempah alam. Ruangan dengan pencahayaan remang-remang, rada gelap dengan lampu kerlap-kerlip. Seorang wanita terlihat berdiri di atas perapian dengan tungku panas yang cukup besar berisi air dan berbagai rempah yang telah ia masukkan ke dalamnya.
Wanita itu masih terlihat muda, ia mengenakan topi runcing khas penyihir dengan jubah biru yang menutup tubuhnya. Kuku jarinya terlihat panjang dan hidungnya juga terlihat lancip atau bisa dibilang ia memiliki hidung yang terlalu mancung.
Wanita itu tertawa sambil terus mengaduk air yang berada di dalam tungku besar berisikan air dan rempah yang telah ia masukkan.
"Huahahahah.. Sebenar lagi.. Sebentar lagi akan selesai." Ucapnya.
Ia tertawa menyeramkan..
Tiba-tiba di belakangnya, suara pintu terbuka dan ruangan yang tadi terlihat remang-remang menjadi terang bersamaan dengan pintu yang terbuka.
"ALISTA.. BERHENTI MEMPERAGAKAN NENEK SIHIR." Wanita paruh baya itu masuk, menyalakan sihir cahaya dan membentak wanita yang saat ini berada di depan tungku perapian.
"He.. Bibi!"
"Huffff.. Alista, berhentilah terlihat bodoh.. Cepat hapus make up anehmu itu." Wanita itu terkejut melihat Alista berdandan aneh.
"Hehe.. Biar seperti dongeng-dongeng Bi."
"Sini biar aku hapus.. Sini cepat.." Wanita paruh baya itu menghapus make up menor dari Alista yang terlihat seperti nenek sihir negeri dongeng.
Alista cemberut karena ia sangat menyukai cerita-cerita negeri dongeng yang pernah ia dengar saat masih menimba ilmu sihir di sekolah sihir di sebuah kota bernama kota Lockdown.
Saking sukanya ia, bahkan ia sering menirukan tokoh penyihir jahat yang ia dengar dari salah satu gurunya kala itu.. Sosok penyihir yang sering memakai topi lancip dan juga berhidung sangat mancung.
"Ayolah.. Ganti pakaianmu. Tuan Depone sudah menunggu di bawah." Kata Wanita paru bayah itu, wanita itu bernama Judy.. Seorang pelayan yang membantu klinik sihir Alista. Meski pelayan, tapi mereka berdua sangat dekat bahkan Alista sudah menganggap bahwa Judy adalah Ibunya.
"Baiklah.. Iya, iya. Aku akan ganti baju." Alista pasrah saat Judy menghapus make up menor di wajahnya sambil mencabut aksesori hidung mancung yg ia kenakan.
"Hemm dasar.. Tidak usah sok mancung. Syukurilah hidung bulat pesekmu yang lucu itu." Ledek Judy kepada Alista.
Di lantai bawah bangunan klinik sihir itu.
Terlihat Depone yang baru saja sampai, ia kesini karena Alista sendiri lah yang telah memanggilnya.
Alista Hugre, penyihir muda yang menguasai sihir-sihir pengobatan. Ia adalah salah satu murid dari sekolah sihir di kota Lockdown. Dimana kota itu adalah kota para penyihir-penyihir hebat di daratan ini. Organisasi sihir terbesar yang ada di kota itu di sebut dengan konsulat sihir lockdown.
Alista sendiri merupakan penduduk asli kerajaan Nusantara, saat ini usianya menginjak 26 tahun.
"Tuan Depone.. Silahkan naik." Judy mempersilahkan Depone naik ke lantai atas klinik.
Di lantai atas, di dalam ruangan perawatan. Ruangan yang cukup besar hingga bisa menampung 5 ranjang pasien, dinding ruangan terlihat kokoh dengan batu bata hitam yang tersusun rapi.
Di ruangan itu, terlihat salah satu kesatria sedang dalam perawatan. Kesatria itu adalah Lingard, wakil komandan pasukan bantuan yang dikirim ke pulau irian. Di sampingnya terlihat pula kesatria lain bernama Suica, kesatria setia tangan kanannya.
"Tuan Lingard.. Anda sudah sadar?" Depone yang masuk ke ruangan berjalan cepat ke arah Lingard yang terlihat rebahan di salah satu ranjang.
"Tuan Depone.. Aku sudah baikan." Balas Lingard.
Depone berdiri di samping Lingard sambil melihat kedua kakinya. Kedua kaki yang sudah buntung akibat dari perang yang terjadi saat mereka menyerang benteng ampt yang sudah di kuasai klan iblis.
"Ak-aku minta maaf." Depone tertunduk.
Lingard melihat ke arah Depone yang mengepalkan kedua tangannya karena sedikit emosi atas apa yang menimpa Lingard.
"Sudahlah.. Kau tidak perlu minta maaf. Aku melakukan itu untuk menyelamatkanmu."
"Seharusnya saat itu.. Saat itu aku yang harus terkena serangan itu." Depone sangat menyesal.
Saat itu.. Saat perang menjadi kacau. Saat pasukan porak-poranda dan Lucifer mengamuk. Serangan yang seharusnya mengenai Depone malah mengenai Lingard karena Lingard melindungi Depone dari serangan mematikan itu.
__ADS_1
"Aku sudah mendengar semuanya, semua yang terjadi. Suica menceritakan semuanya padaku, termasuk pengorbanan tuan Arwen." Lingard mencoba bangkit dari tidurnya di bantu oleh Suica kesatria wanita tangan kanannya.
Depone tidak merespon, ia terus tertunduk karena menyesal dengan keadaan.
"Aku tidak menyangka bahwa iblis bergelar 6 dosa besar telah bergerak. Itu artinya.. Sihir suci yang membatasi dimensi daratan Neverland dan Darksideland sudah kembali terbuka lebar" Kata Lingard.
"Ha.." Sahut Depone.
"Apa kau sudah melaporkan hal ini kepada raja Jolang?"
"Iya.. Seharusnya raja Jolang dan para raja yang lain sudah mengetahui hal ini. Mungkin mereka akan membahas hal ini dalam pertemuan darurat meja bundar." Depone membalas pertanyaan Lingard.
"Aku juga sudah mengirim pesan kepada raja Charles tuan." Suica ikut berbicara.
"Baguslah.., Tuan Depone. Bagaimana situasi saat ini?"
Depone akhirnya menjelaskan situasi mereka saat ini. Bagaimana mereka tengah sibuk mempersiapkan pertahanan untuk gempuran klan iblis yang masih belum menyerang sama sekali meski para pasukan mereka sudah berada tepat di depan pelabuhan kota.
"Aku mengerti, berapa pasukan yang selamat dari armada bantuan yang menyerang ke pulau Irian?"
Depone menunduk.. Ia cukup berat untuk menjawab pertanyaan itu.
"Setengah dari pasukan.. Mereka yang selamat banyak dari prajurit biasa, sedangkan para kesatria dan kesatria besar yang tersisa hanya.. Tuanku, Tuan Depone, Tuan Jons, Nona Rachelle, Tuan Mamet dan Nyonya Linda." Suica menjawab pertanyaan itu karena Depone terlihat diam.
"Begitu rupanya! Bagaimana dengan pasukan pertahanan saat ini?" Lingard kembali bertanya.
"Setengah pasukan dari pasukan kita Tuan dan juga pasukan dari kesatria yang menjaga kota Kander. Beberapa pasukan bantuan dari wilayah lain sedang di kerahkan menuju kota ini.. Saat ini pasukan yang berjumlah 100.000 orang juga sedang menuju ke tempat ini." Jelas Suica.
"Itu pasukan yang sangat banyak.. Semoga saja kita bisa mengalahkan pasukan iblis.." Lingard terlihat berpikir.
"Hai hai.. Maaf menunggu.. Hehe." Seorang wanita muda masuk ke dalam ruangan.
Rambutnya hitam, berhidung bulat mancung ke dalam hingga tampak lucu, kulitnya berwarna kuning langsat, serta tingginya sekitar 167 cm.
"Siapa dia?"
"Tuan Lingard.. Dialah yang merawat mu saat kau sedang kritis." Jawab Suica.
"Oh.. Maaf.. Dan terima kasih karena telah menyelamatkan nyawaku." Lingard tunduk sebagai sikap rasa terima kasih darinya.
"Iyaa.. Huahaha. Aku hebat kan.. Bahkan saat itu kau benar-benar hampir mati." Alista menyombongkan diri.
"Jadi Nona Alista.. Ada apa kau memanggilku kemari?" Depone bertanya.
Alista yang tertawa karena pujian tiba-tiba diam.. Ia berjalan mondar mandir sambil meletakkan jari tangan kanannya di pipi. Ia terlihat berpikir dengan serius.
"Nona..!?" Depone bingung melihat gerak gerik Alista.
"Sudahlah.. Cepat katakan!" Judy yang kesal dengan sikap Alista melempar sesuatu hingga mengenai kepala Alista.
"Bibi.. Hiks hiks. Sakit tau." Alista memegang kepalanya.
"Kau membuang-buang waktu orang lain." Judy membentak.
"Iya iya.. Maaf.. Hehe."
Depone, Lingard dan Suica hanya bisa diam melihat hal konyol itu.
"Baiklah.. Sekarang." Kata Alista memberi tanda kepada Judy.
Judy lalu membuka tirai yang ada di depan mereka. Terlihat di balik tirai adalah tabung air sihir yang berisikan kedua kaki utuh.. Kaki itu adalah milik Lingard.
__ADS_1
Lingard yang melihat hal itu cukup terkejut.
"Ini adalah kaki tuan Lingard.. Kaki ini berhasil di selamatkan. Berkat tuan Depone." Kata Alista.
"Aku berhasil menghentikan pembusukan jaringan otot dan syarafnya.. Sehingga kedua kaki ini bisa di sambung kembali." Lanjut Alista menjelaskan.
"Hah? Benarkah?" Lingard sedikit berharap.
"Iya tentu saja.. Aku juga berhasil membuat jaringan dari paha anda tidak tertutup. Sehingga jika paha anda di sambung kembali dengan kaki ini maka.. Kemungkinan besar anda dapat kembali menggunakannya." Jelas Alista serius.
"Baiklah.. Kalau begitu lakukan sekarang." Lingard terlihat bersemangat.
"Sayang sekali tapi aku tidak bisa..."
"Hah.. Lalu bagaimana? Bukannya nona adalah penyihir hebat?"
"Aku memang hebat tapi.. Tidak untuk kasus ini. Untuk bisa menyambung kaki anda diperlukan alat khusus yang di sebut benang sihir. Sayangnya di tempat ini tidak ada item langka seperti itu." Alista menjelaskan sambil bolak balik.
"Jadi?"
"Aku mengerti sekarang.. Karena itu anda memanggil saya ke sini." Kata Depone.
"Iya.. Betul sekali. Aku menyarankan Tuan Lingard dan Nyonya Linda kembali ke Ibu kota kerajaan. Di sana fasilitas sihir untuk pengobatan lebih lengkap." Jelas Alista.
"Ta-tapi.. Aku ingin berada di sini. Aku harus berjuang untuk mengalahkan iblis-iblis itu.."
"Tuan Lingard.. Memangnya anda bisa apa tanpa berjalan."
Perkataan Alista itu sontak menumbangkan mental Lingard yang tadi terlihat bersemangat.
"ahh.. Hiks hiks.. Bibi. Kenapa kau memukul kepalaku?"
"Kau tidak menjaga ucapan mu. Lihatlah kesatria besar Lingard menjadi sedih karena ucapan bodoh mu itu."
Melihat hal konyol itu, membuat lingard tertawa ringan.
"Aku mengerti.. Aku akan kembali ke ibu kota kerajaan Nusantara." Tegas Lingard.
'
'
'
'
'
'
'
'
-Bersambung-
---------------------------------------------------------
Visual look ras dwarf yang ada di dalam cerita..
__ADS_1