
*Beberapa saat yang lalu.
Istana kerajaan Nusantara hancur berantakan, kemegahan bangunan tidak lagi bisa dinikmati oleh mata. Kini semua terlihat porak-poranda dengan hanya sekali serangan saja oleh Lucifer.
Bukan seratus atau seribu, bukan pula ratusan ribu tapi cukup hanya satu iblis saja. Hanya seorang saja, cukup Lucifer, ia sudah bisa membuat istana dan sekitarnya hancur serta membantai cukup banyak orang hanya dengan sekali serangan sihir.
Serangan sihir itu tidak hanya di rasakan oleh mereka yang ada di permukaan tanah, getaran yang terjadi di atas permukaan tanah juga terdengar dan dirasakan oleh para tahanan kerajaan yang berada di penjara bawah tanah, tak terkecuali disalah satu penjara yang di tempati oleh Wira.
Wira sangat terkejut saat ia merasakan gempa, apa lagi getaran kuat yang terasa tidak hanya dirasakan oleh Wira tapi semua tahanan yang berada di penjara itu, mereka semua sampai berteriak dengan keras agar penjaga tahanan melepaskan mereka karena panik akan runtuhnya penjara bawah tanah.
Sesaat kemudian, apa yang para tahanan itu khawatirkan terjadi. Bersamaan dengan ledakan sihir yang menghancurkan istana, pondasi penjara bawah tanah rubuh dan membuat para tahanan terkubur hidup-hidup. Ajaibnya, penjara yang ditempati oleh Wira, meski rubuh tapi tidak sampai membuat penjara itu menguburnya. Wira dengan kemampuannya bisa bertahan dari puing-puing yang terjatuh, sesaat keadaan sudah tenang. Ia membuka mata dan melihat jika ruang bawah tanah itu sudah penuh dengan puing-puing bangunan dan semua tahanan yang ada mati terkubur hidup-hidup.
Wira adalah satu-satunya orang yang selamat dari insiden ledakan itu, meski kakinya sempat terhimpit puing bangunan tapi ia berhasil melepaskan diri. Ia berjalan pincang karena kaki sebelah kirinya terluka, ia berjalan menyusuri lorong tahanan yang penuh dengan puing-puing. Ia berjalan melewati celah-celah sempit dari puing-puing yang bisa dia pindahkan.
Di pikirannya saat ini hanya ada satu, yaitu keadaan Gayatri. Apa lagi saat ia sudah menemukan jalan untuk naik ke atas istana, ia merasakan aura kuat dari iblis dan hal itu membuat Wira semakin khawatir.
Meski butuh usaha keras, ia berhasil masuk ke dalam istana yang sudah porak-poranda akibat ledakan sihir itu. Ia berjalan dan mencoba mencari dimana keberadaan Gayatri, ia berjalan pincang sampai akhirnya ia melihat seorang kesatria yang terluka parah di salah satu lorong kerajaan. Saat Wira mendekat, ia bisa mengenali kesatria itu.
Galang.. Melihat Galang yang terluka entah apa yang Wira rasakan. Ia cukup senang melihat orang yang membunuh keluarganya menderita tapi di sisi lain dia juga khawatir apa lagi saat Galang berkata jika Gayatri dalam bahaya. Ia mendekat dan mencoba membantu Galang tapi luka yang Galang terima terlalu berat, sudah tidak ada lagi harapan untuk Galang bisa selamat.
Akhirnya menjelang kematiannya, Galang memberikan pedang kepada Wira agar ia menyelamatkan Gayatri yang telah dibawa oleh iblis ke ruang tahta. Galang yang menerima pedang itu langsung berlari meski menahan sakit di kakinya yang terluka.
Ia berlari karena mengetahui jika Gayatri saat ini ditahan oleh iblis dan membutuhkan bantuannya, tekadnya kuat untuk menyelamatkan Gayatri dan membunuh iblis itu. Tak lama saat ia tiba di ruang tahta tempat dimana Gayatri berada bersama dengan orang tuanya. Wira melihat pemandangan pedih yang membakar amarahnya, ia melihat ratu di cekik oleh iblis dengan aura sangat kuat yang membuat Wira merinding.
Mengetahui itu, Wira yang sejak tadi memandang dengan amarah hanya bisa terdiam bagaikan patung. Ia bersembunyi di reruntuhan bangunan, ia tak bisa bergerak. Nyalinya menciut saat ia melihat Lucifer dengan aura mematikan luar biasa, itu adalah pertama kalinya ia melihat iblis sekuat Lucifer.
Ia tak bisa bergerak karena ketakutan, di momen itu ia melihat permaisuri sekaligus Ibu dari Gayatri mati meregang nyawa, ia juga melihat bagaimana Gayatri menangis dengan histeris. Melihat Gayatri di tarik rambutnya oleh iblis gemuk yang kemudian tak berhenti menampar Gayatri dengan keras hingga darah mengalir dari hidung Gayatri.
Wira menyaksikan momen itu dan hanya bisa bersembunyi. Ia kaku, ia takut bukan main dan kedua kakinya tak bisa bergerak sama sekali. Ia berkali-kali memukul kedua kakinya yang gemetar agar bergerak maju menolong Gayatri tapi tetap tidak bisa. Instingnya untuk tidak mati, membuat Wira tak bergerak dari tempat dia bersembunyi dan hanya bisa menyaksikan perempuan yang ia cintai di tampar dan dilukai oleh iblis gemuk jelek di ruang tahta.
Iblis itu terus menampar Gayatri yang histeris karena baru saja kehilangan Ibunya dan melihat Ayahnya sekarang penuh dengan luka di sekujur rubuh. Suara teriakan dan histeris membuat Wira mengeram, ia marah tapi tak bisa bergerak. Ia hanya bisa menyaksikan itu semua dengan tatapan penuh dendam dan air mata yang menetes dari matanya. Tangannya yang memegang pedang saja gemetar saking takutnya untuk mendekat.
Gayatri terus di siksa sampai.. Dengan cepat iblis gemuk itu kehilangan salah satu tangannya.
"Hah!? Siapa itu?" Wira terkejut, karena saat ini dia melihat seseorang yang menyerang iblis gemuk itu dengan cepat hingga iblis gemuk itu kehilangan lengannya.
*Saat ini.
"Arreeggg." Samhong berteriak kala tersadar jika salah satu lengannya terputus.
Lucifer yang menyadari serangan itu terlambat bertindak, sementara T'roy yang juga berada di ruangan itu terkejut melihat sosok yang menyerang Samhong.
Gayatri yang terlepas dari belenggu Samhong merangkak mendekati mayat Ibunya, ia menangis sambil memeluk mayat itu. Raja Jolang yang terluka parah juga mencoba bangkit dan mendekat ke arah anak dan jasad istrinya.
"Kurang ajarrr.. Kauu!" Samhong masih kesakitan, ia melihat sosok manusia yang saat ini berada tak jauh dari hadapannya
Manusia itu memegang salah satu lengannya yang terputus. Manusia itu berhasil memutuskan lengan Samhong hanya dengan menggunakan tangan kosong. Manusia itu bahkan memiliki aura yang hampir menyamai Lucifer.
"Kau!! Tidak mungkin. Seharusnya kau sudah mati!!" T'Roy berteriak pada manusia itu.
Samhong yang tersulut amarahnya menyerang dengan kekuatan penuh. Ia mengeluarkan sihir tanah yang langsung mengarah pada manusia itu, tapi manusia itu berhasil menghindar dan dengan cepat manusia itu melangkah ke arah Samhong.
Dengan imperium angin, cukup satu langkah dan ia sudah berada di depan Samhong. Dengan kuat ia memukul Samhong tepat di perut dan menampar Samhong dengan keras.
TAKKKKKKK. Suara tamparan sekali, dua kali, tiga kali hingga empat kali Samhong di tampar sebagaimana ia menampar Gayatri.
"Kurang ajar.." Samhong geram dan takkkk ia terkena tamparan sekali lagi. Tamparan dengan menggunakan imperium baja, sangat cukup membuat Samhong terluka dan mengeluarkan darah.
Lucifer bergerak, karena ia tahu jika manusia itu bukan lawan mudah bagi Samhong. Lucifer mengepakkan sayap dan terbang ke arah manusia itu. Dengan tangan kanan, Lucifer mengarahkan tinjunya ke manusia itu tapi manusia itu berhasil menghindar dan mundur kebelakang. Ia menjauh sejenak menjaga jarak aman dari Lucifer, karena ia tahu jika sekali terkena pukulan maka ia akan terluka sangat parah.
T'roy mendekati Gayatri dan sang raja, ia mengacungkan senjata pada keduanya dan mengancam agar manusia itu tak bergerak jika tak ingin Gayatri dan sang raja di bunuh olehnya.
__ADS_1
"Kau.. Hebat juga, bisa membuat Samhong terluka seperti itu." Lucifer memuji manusia itu.
Manusia itu tak gentar, ia hanya menatap para iblis dengan tatapan tajam tanpa berkedip sekalipun.
"Aku telah melakukan kesalahan, aku pikir aku telah membunuhmu. Ternyata kau masih hidup.." Ujar T'roy sambil mengarahkan tombaknya pada Gayatri.
Saat basa basi itu terjadi, T'roy kembali dikejutkan dengan serangan sihir tanaman yang membuat dirinya terlempar jauh dan menghantam puing bangunan dengan keras.
"Baginda.. Baginda raja.." Teriak orang yang menyerang itu.
Orang yang menyerang dengan sihir itu adalah Mbah Raka, penyihir terkuat kerajaan. Ia masuk ke tempat ini melewati atap yang sudah terbuka karena runtuh akibat ledakan.
Lalu orang yang memotong lengan Samhong dengan cepat dengan hanya menggunakan tangan kosong adalah Ihsan Wijaya, anak dari kesatria agung Rein Wijaya. Tapi dengan aura yang berbeda, tatapan matanya juga berbeda dengan Ihsan yang sesaat sebelumnya hampir mati karena serangan T'roy. Saat ini Ihsan berdiri dengan Aura besar yang menyerupai aura seorang kesatria suci..
Berada di bagian timur istana kerajaan, tepatnya di seberang laut wilayah kerajaan Nusantara. Tempat dimana perang sedang berkecamuk, bagian paling timur pulau Cebes tepatnya 5 km dari luar kota Kander.
Terlihat banyak tenda dan prajurit yang sedang berlatih dan berbaris. Ada pula kesatria berzirah yang terlihat lalu lalang dan ada pula yang terlihat terluka akibat pertempuran yang baru saja terjadi.
Perang antara pasukan Rein Wijaya dan pasukan iblis dengan jumlah 5 kali lipat dari pasukan Rein masih berlangsung hingga hari ini, belum ada tanda-tanda perang akan selesai. Hanya saja untuk hari ini perang telah usai setelah pasukan Rein berhasil menahan kembali serangan pasukan iblis yang dipimpin oleh Astharot.
Pasukan Rein meninggalkan kota Kander karena kota itu sudah tidak layak untuk ditinggali lagi. Kota Kander sudah menjadi medan peperangan dan saat ini pasukan Rein Wijaya bertahan di luar kota tepatnya 5 km dari gerbang kota Kander yang juga sudah rubuh akibat peperangan. Sementara pasukan Iblis masih terombang ambing di tengah laut dan hanya menyerang dengan pasukan kecil saja.
Astharot yang memimpin pasukan iblis tidak pernah terlihat di medan peperangan, ia hanya memberi perintah dari armada kapal laut yang berada 1 km dari pelabuhan kota Kander yang juga sudah hancur.
Setiap Astharot menyerang, ia hanya mengirimkan pasukan undead dan beberapa monster saja untuk mendesak pasukan Rein meski cukup berhasil membuat pasukan Rein meninggalkan kota Kander tapi semenjak Rein membangun barikade di tempatnya sekarang, ia dan pasukannya tidak lagi terdesak dan mampu bertahan dari serbuan pasukan iblis.
Pasukan Rein terlalu sibuk meladeni pasukan Astharot sampai-sampai Rein tak sadar jika saat ini Ibu kota kerajaan telah diserang oleh Lucifer. Ia terlalu sibuk memikirkan strategi untuk bisa membunuh Astharot hingga ia lupa jika seharusnya hari ini dia mendapatkan sebuah surat dari istana.
Dari banyaknya tenda yang berdiri di areal pasukan, Rein terlihat berjalan setalah sebelumnya berada di medan perang membantai pada pasukan undead bersama dengan pasukannya.
Di sampingnya terlihat seorang wanita, mereka berdua lalu masuk ke dalam tenda yang berada tepat d tengah-tengah tenda yang lain. Itu adalah tenda seorang komandan tertinggi, tempat dimana Rein beristirahat setelah peperangan.
Saat ia masuk, wanita yang bersamanya juga ikut masuk, melihat hal itu Rein melirik. "Eee.. Sepertinya kau salah masuk tenda." Ucapnya.
Rein mulai membuka zirah bajanya satu persatu, ia terlihat kotor akibat debu dari peperangan serta noda darah dari lawan-lawannya.
"Seharusnya kau senang aku masuk ke sini." Siska mendekat, ia menggoda Rein.
"Maaf tapi,.. Huh aku harus membersihkan diriku." Rein mulai membuka bajunya. Saat ini ia hanya mengenakan celana panjangnya saja.
Siska memegang abs (otot sixpack) Rein, ia masih menggodanya.
"Siska tolonglah.. Sebaiknya kau istirahat. Sebentar malam kita harus memikirkan kembali strategi untuk mengalahkan pasukan iblis itu." Ujar Rein.
"Huh... Rein, kau sama sekali tidak bisa di ajak berenang-senang. Aku jadi ingin pulang ke istana.. Lebih baik berada di istana merayakan pesta pernikahan putri Gayatri dari pada harus terjebak bersama laki-laki membosankan sepele dirimu." Siska menjauh, ia terlihat kesal.
Rein dan pasukannya masih mengira jika saat ini di istana, pesta pernikahan sedang berlangsung meriah, apa lagi mereka tidak mendapatkan kabar apapun tentang penyerangan yang terjadi oleh Lucifer. Rencana untuk membuat Rein sibuk dengan seluruh pasukan yang saat ini dipimpin oleh Astharot sepertinya berhasil.
"Bagaimana yah.. Pestanya. Pasti sangat meriah.." Siska bergumam, ia masih melihat Rein yang berdiri di ujung tenda membersihkan bahu dan punggung dengan sebuah kain yang dicelupkan ke air.
"Jika kau ingin, kau boleh kembali ke istana." Rein menanggapi ocehan Siska tentang pesta pernikahan sambil tersenyum.
"Ayolah Rein.. Huh.. Kau benar-benar membuatku kesal."
"Kau tahu aku seperti apa.."
"Iya aku sangat tahu.. Sampai-sampai kau menikahi seorang wanita asing yang berasal dari dunia lain." Tegas Siska.
Rein tersenyum mendengar ocehan kekesalan Siska padanya.
"Padahal aku lebih cantik dari wanita itu.. Hem."
__ADS_1
"Aku tidak menikahinya karena dia cantik, tapi karena aku mencintainya."
"Walaupun kau mendapatkan perintah untuk membunuhnya!?" Sebuah pertanyaan yang membuat Rein tak bisa berkata apa-apa.
Rein menunduk, ia terlihat sedih. Melihat Rein yang seperti itu Siska menyesal. "Eee Rein, maaf aku tidak bermaksud." Ucap Siska.
"Iya.. Tidak papa." Ucap Rein lanjut membasuh dadanya dengan kain basah untuk membersihkan debu-debu yang menempel.
Rein masih menggunakan celana panjang, ia hanya membuka baju saja untuk membersihkan tubuh bagian atasnya. Dari tubuhnya itu terlihat jelas luka-luka yang diderita oleh Rein dalam semua pertarungan yang pernah ia lalui.
Siska kembali mendekat, ia memegang pinggang bagian kanan Rein. Di pinggang itu terdapat sebuah bekas luka, dari bekas luka itu saja bisa tergambarkan dengan jelas betapa parahnya luka itu. Itu adalah luka yang membuat Rein harus kehilangan salah satu dari ginjalnya.
"Rein.. Kita sudah berperang bersama sejak lama tapi aku baru tahu jika kau memiliki bekas luka seperti ini." Kata Siska.
"Ah.. Itu bekas luka saat aku sedang latihan bersama dengan Ihsan." Jelasnya.
"Ihsan? Latihan? Apakah anakmu hampir saja membunuh Ayahnya di sesi latihan? Lihat lah.. Ini adalah luka serius, bagaimana bisa kau terluka oleh Ihsan.. Apakah Ihsan sekuat itu." Siska tak percaya, ia paham betul dengan kekuatan Rein. Apa lagi Siska juga mengenal Ihsan dan sepengetahuan Siska kekuatan Ihsan belum sepadan dengan kekuatan Rein.
"Bukan.. Bukan Ihsan yang melukaiku. Anak itu tidak sekuat ini tapi.. Itu beda lagi jika Kakaknya yang mengambil alih tubuhnya." Jelas Rein.
"Hah!? Apa maksudmu? Aku tidak mengerti."
"Yang melukaiku adalah Kian."
"Kian..? Kakak kembar Ihsan!? Bukan kah Kian mati saat masih bayi di umur 1 tahun."
"Iya benar.. Jasadnya yang lemah memang mati. Itu karena tubuhnya tak bisa menahan kekuatan besar yang ada di jiwanya."
"Aku masih belum mengerti.." Siska masih mencoba mencerna maksud dari Rein.
"Kian.. Ia masih hidup. Ia hidup dan menyatu ke dalam raga adiknya Ihsan. Kian... Kekuatan anak itu bahkan lebih besar dari kekuatan yang aku miliki. Dia hampir saja membunuhku saat dia muncul tiba-tiba dan mengambil alih tubuh Ihsan. Anak itu, dia sangat berbahaya!" Tegas Rein.
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
__ADS_1
'
-Bersambung-