
Malam ini menjadi malam yang hening di taman depan kastil keluarga Snifooler, saking heningnya suara hembusan angin terdengar jelas di telinga. Semua kesatria menunduk melemaskan bahu kala mereka mengetahui fakta tentang apa yang dialami oleh Inggrid selama 5 tahun.
Kebanggaan mereka sebagai kesatria runtuh seketika begitu Inggrid mengumpat dan mengatai mereka semua dengan penuh emosi. Bahkan saking kesalnya, beberapa prajurit yang mengabdi untuk keluarga Snifooler tak kuasa menahan tangis.
Sementara itu, Eros malah berdiri mematung dengan tatapan kosong. "5 tahun." Ucapnya
5 tahun bukan waktu yan singkat.. Bahkan bisa dibilang 15 tahun sudah iblis berhasil mengelabui mereka semua. Mereka benar-benar telah di permainkan sampai hari ini.
Kane Lancester menegakkan pundaknya. Ia berjalan maju ke depan dan berlutut kembali di hadapan Inggrid yang masih berderai air mata. "Nyanyo.. Maafkan aku. Anda layak kecewa, tapi kami tidak bisa berbuat apa-apa karena selama ini iblis itu menggunakan sihir yang bisa membuat pikiran kami semua kacau."
"Aku siap menerima hukuman apapun Nyonya.. Aku siap kehilangan jabatan ku sebagai kesatria besar tangan kanan kesatria agung, aku sangat siap.. Tapi maaf..." Kane Lancester bangkit dan mendekat ke arah Inggrid." Meski tuan Grobogan telah dipengaruhi oleh iblis, tapi dia tetaplah anakmu dan tetap penguasa sah wilayah Lister." Grobogan memukul leher bagian belakang Inggrid hingga ia pingsan tak sadarkan diri.
"Tuan Kane.. Apa yang kau lakukan?" Eros terkejut atas tindakan Kane, ia langsung berlari ke arah mereka.
"Oleh karena itu!! Orang itu tetap bersalah!" Kane menunjuk Richard sembari berteriak hingga para kesatria yang tertunduk melihat dirinya.
Eros mendekap Inggrid yang telah pingsan, ia meletakkan kepala Inggrid di pahanya.
"Kalian semua.. Aku tahu kita telah kecolongan dengan keberadaan iblis yang selama ini membuat Nyonya Inggrid terluka tapi kita juga tidak boleh lupa.. Jika Tuan Grobogan masih penguasa yang sah.. Dan orang itu telah membunuh tuan Grobogan!!!" Kane berusaha mengembalikan keteguhan hati para kesatria dan prajurit.
"Kita akan bertanggung jawab di hadapan raja karena apa yang telah menimpa keluarga Snifooler tapi.. Jika kita juga membiarkan pembunuh tuan Grobogan pergi begitu saja maka hukuman kita akan berlipat ganda, oleh karena itu... Kita harus menangkap pria bermata merah itu hidup atau mati!!!" Kane berteriak dengan penuh percaya diri, keteguhannya sudah jelas dan kebanggaannya sebagai kesatria masih kokoh.
Hal itu menular kepada kesatria lain dan para prajurit, mereka tiba-tiba bersemangat menatap Richard.
"Ingat!! Kita masih punya harga diri, kerahkan kemampuan kalian untuk menangkap pria bermata merah itu." Kata Kane yang terus membakar kembali semangat para kesatrianya.
Sementara Eros yang bimbang merasa jika hal ini sudah tidak di perlukan lagi, tapi di sisi lain apa yang dikatakan oleh Kane ada benarnya.
"Dasar bodoh!" Richard kesal dengan keteguhan hati atau sikap keras kepala mereka semua.
Di saat Kane mencoba membakar kembali semangat bawahannya. Tiba-tiba dari arah depan, serangan sihir menerjang dan langsung dihentikan oleh Richard dengan tangan kirinya
Semua orang kembali terdiam, begitu juga Kane karena mereka melihat sosok iblis yang bangkit setelah Richard menghantamnya dengan cukup keras. Iblis itu adalah Luca Crollo, meski terluka ia masih bisa mengeluarkan kekuatannya.
"Khikhikhi.. Dasar bodoh!! Khikhikhi.." Luca Crollo mendekat sambil tersenyum dengan wajah keriputnya.
"Iblis itu.. Sialan!" Eros geram, ia marah dan rasanya ingin membunuh iblis yang telah membuat Inggrid menderita hingga saat ini.
"Lihatlah!! Lihat baik-baik dengan mata kalian. Aku bukan ancaman, yang seharusnya menjadi ancaman adalah iblis menjijikan itu!" Richard menunjuk Luca Crollo yang muncul di belakangnya.
Para prajurit dan kesatria terdiam. "Diam.. Kau sama saja dengan iblis itu!" Kane bersikeras.
"Huh... Dasar keras kepala! Kalau begitu aku pamit saja. Selamat tinggal!!" Richard kembali mengeluarkan kemampuannya untuk terbang dengan menggunakan api, ia pergi meninggalkan para prajurit dan kesatria yang masih gusar dan ingin menangkapnya.
"Hei.. Jangan pergi sialan." Saat Kane menyerang, Richard sudah cukup jauh sehingga ia tak sempat lagi untuk melukainya. "Sialan.. Orang itu kabur!"
"Khikhikhi... Dasar orang-orang bodoh!" Luca Crollo tertawa, menertawakan kebodohan mereka semua.
Kane menengok ke arah Luca Crollo, ia langsung menyerang. Saat ini dia tidak tenang karena jauh di lubuk hatinya ia merasa malu dan kebanggaannya sebagai kesatria telah runtuh. Ia memaksakan kehendaknya untuk tetap menangkap Richard murni sebagai alasan pembenaran untuk menenangkan dirinya dari rasa bersalah karena telah melukai Inggrid saat ia terkenal sihir manipulasi Luca Crollo. Harga dirinya terlalu tinggi untuk mengakui kesalahannya.
"Kau.. Sialan, gara-gara kau aku melukai Nyonya Inggrid." Kane menyerang dan mengarahkan tebasan pedang pada Luca Crollo.
"Acervus ossum." Serangan dadakan mengarah dari depan begitu portal terbuka, Kane yang terkejut langsung mementalkan satu persatu tulang tajam yang mengarah padanya, tapi sayang ia tak begitu cepat sehingga 2 tulang tajam menancap di paha kiri dan lengan kanannya.
"Arrhhg, sial. Dari mana serangan itu?" Kane terjatuh, ia mencoba mencabut tulang yang tertancap padanya.
"Huh!!" Eros yang masih bersama dengan Inggrid melongo kala melihat sosok yang keluar dari portal. "Re.. Rever Block!" Ucapnya tak percaya.
Bersamaan dengan itu, semua prajurit gemetar dan kesatria terlihat ragu kala mereka merasakan aura pekat dari sosok yang mereka lihat.
"Khikhikhi..." Luca Crollo berbalik, ia berlutut pada Rever Block sang dosa kemarahan. "Tuan Rever..." Ucapnya.
"Luca...!"
"Tuanku, maafkan aku karena sepertinya aku tidak bisa mempertahankan sandiwara ku sebelum hari kiamat datang!" Ujarnya berlutut di depan Rever.
"Mau bagaimana lagi, aku datang ke sini karena merasa jika kau dalam bahaya. Kau belum boleh mati, kemampuanmu masih di butuhkan." Tegas Rever.
Tidak ada yang berani menyerang sekarang, mereka semua hanya bisa terpaku mematung ketakutan karena intimidasi dari Rever. Ia bisa membuka portal di tempat ini karena wilayah Lister telah menjadi wilayah tanpa segel apa lagi setelah Luca Crollo berhasil memimpin wilayah ini dalam bayang-bayang Grobogan.
"Aku merasa tersanjung tuanku, raja iblis sampai repot-repot membuka portal demi menyelamatkanku." Luca Crollo tersenyum.
__ADS_1
"Kau tenang saja.. Portal ini tidak dibuat oleh raja iblis. Itu hanya akan membuang-buang tenaganya. Portal ini di buat dari energi kehidupan seorang penyihir dari kerajaan Nusantara." Jelas Rever memandang rendah Luca Crollo.
Sementara itu, Kane yang terluka berhasil mencabut dua tulang tajam yang menancap pada paha dan lengannya. Ia bangkit tanpa intimidasi dan mengarahkan pedangnya pada Rever dengan gagah selayaknya kesatria. "Rever!! Aku tidak menyangka kau akan muncul tempat ini!"
"Tuan Kane.." Ujar Eros yang melihat Kane bediri tanpa beban.
"Ternyata kau adalah dalang dari semua ini.. Yaaaarrggggg!" Kane menyerang, ia berlari ke arah Rever.
"Bodoh!! Manusia bodoh, sadari dirimu." Luca Crollo mengumpat. Bersamaan dengan itu Rever menyerangnya dengan sihir yang sama dengan tadi. Kane yang menghentakkan kakinya membuat sebuah dinding tanah muncul dan melindungi dia dari serangan dan melompat langsung menebas ke depan dengan kedua tangan.
Rever menangkis dengan tulang kerasnya, hantaman itu memicu kejut yang membuat angin berhembus meski tidak terlalu kuat.
"Yyaaarggg!!!" Kane menyerang lagi, ia menyerang dengan sekuat tenaga sambil menghindari serangan Rever. Pertarungan mereka berlangsung sengit dimana para kesatria hanya bisa melongo dan melihat apa yang akan terjadi.
Eros mengangkat tubuh Inggrid menjauh, ia menyuruh beberapa prajurit dan kesatria untuk membawa Inggrid ke tempat yang lebih aman sementara ia berniat membantu Kane yang bertarung dengan Rever dengan gagah berani.
Sementara itu..
Berada di luar kastil keluarga Snifooler, di bawah pohon lebat dengan batang besar dan tangkai yang banyak. Irish duduk bersandar sambil meluruskan kakinya, sementara Woli yang masih belum sadar berbaring dipangkuan Irish.
Irish yang bersandar menunduk melihat wajah Woli penuh luka, ia meletakkan kepala Woli di paha sebelah kanannya. Irish tersenyum pada Woli "Terima kasih." Ucapnya lirih.
Sesaat yang lalu, ia telah di tolong oleh pria yang mengenakan jubah hitam. Pria itu berkata jika dia adalah kenalan Woli, hal yang membuat Irish berasumsi jika yang menolongnya adalah teman dari Woli padahal Richard sendiri tidak menganggap jika Woli adalah temannya.
Irish meneteskan air mata, kali ini air mata bahagia karena ia bisa bebas dari keterbudakan. Hanya dalam waktu sehari saja menjadi budak, sudah membuat Irish sengsara apa lagi saat ini kuku jari di kedua tangannya telah di cabut secara paksa. Wajah Irish juga terluka akibat pukulan dari Grobogan serta sebagian tubuhnya yang lain mengalami lebam.
Di tengah hembusan angin malam yang menggerakkan dedaunan pohon, Woli membuka mata. "Woli!?" Ucap bibir Irish.
Woli terkejut, ia langsung bangkit dan melihat sekeliling dengan panik. "Dimana.. Dimana musuh?" Ucapnya.
"Woli tenang lah!" Irish tersenyum.
"Irish! Kau tidak papa?" Woli segera mendekat dan memeriksa kondisi Irish.
Irish merespon dengan tersenyum saat Woli tersulut amarahnya melihat jari kemari serta luka lebam di tubuh Irish. "Ssssssstkkkkggggrrrr, aku akan membunuh orang itu!" Baru Woli bangkit dengan raut wajah marahnya, ia kembali duduk karena merasakan sakit di sekujur tubuh. Faktanya, bukan cuma Irish yang terluka tapi Woli juga mengalami luka serius karena sudah terlibat banyak pertarungan selama sehari ini.
"Tenang lah Woli, Red telah menyelamatkan kita." Jelas Irish.
"Ee.. Red kembali ke kastil, dia mengatakan jika dia merasakan aura aneh yang sangat besar dari arah kastil itu."
"Hah.. Kenapa?" Richard berbalik, ia melihat ke arah kastil. Sesaat kemudian ia juga merasakan aura besar yang membuat Richard memilih untuk kembali ke kastil, aura itu membuat Woli merinding.
Sementara itu... Pada kastil tempat aura pekat menakutkan itu berasal. Kane Lancester begitu menikmati pertarungannya, ia tertawa san terus mendesak Rever dengan segenap kemampuan yang ia miliki.
"Hahahahaha.. Mana kemampuanmu Rever, pantas saja kau hampir kalah 15 tahun yang lalu." Ucap Kane tebas sana dan tebas sini.
Lalu dekat dari kastil.. Eros memberikannya instruksi agar mereka membawakan kabur Nyonya Inggrid dan mengirimkan surat segera ke istana kerajaan, sebuah pesan darurat kepada kesatria agung kerajaan.
Saat perhatiannya teralihkan, Luca Crollo menyerang dengan sihirnya. Beruntung Eros menyadari sedangkan itu dan berhasil menangkisnya. "Khikhikhi.."
"Iblis brengsek.." Salah satu kesatria tersudut emosinya dan langsung menyerang. Fisik Luca Crollo yang pendek dan kurus membuat kesatria itu berpikir jika Luca Crollo adalah iblis lemah yang mudah untuk di bunuh sampai akhirnya. Manipulation Magia: Moertem." Seusai mengeluarkan sihir, kesatria yang berniat menyerang Luca malah menggorok lehernya sendiri.
"Khikhikhi.. Dasar bodoh! Jangan remehkan aku. Aku adalah iblis yang berenang di bawah tuan Rever." Ucapnya.
Mengetahui hal itu, Eros langsung waspada karena ia tahu betul jika yang dikatakan oleh Luca bukan lah gertakan belaka. "Kalian semua hati-hati dengan iblis itu... Dia bisa memanipulasi kalian."
"Khikhikhi.. Bagaimana rasanya mengikuti perintah iblis sepertiku. Ha? Khikhikhi..."
Mendengar hal itu mereka semau merasa geram karena hal itulah yang membuat harga diri mereka jatuh sebagai seorang kesatria dan prajurit yang mengikuti keluarga Snifooler.
"Jangan terintimidasi!! Kau.. Segera pergi dan bawa Nyonya Inggrid jauh-jauh dari tempat ini." Eros yang meningkatkan kewaspadaannya memerintahkan beberapa di antara mereka.
Dengan sigap kesatria dan pray yang mendapatkan perintah menjauh. "Oi.. Mau kau bawa kemana wanitaku.. Khikhikhi."
Mendengar hal itu sontak saja salah satu kesatria mendekat, ia menyerang dengan kapaknya. Kesatria itu adalah kesatria yang memimpin pasukan penjagaan keluarga Snifooler. Ia menyerang dengan kemarahan karena mengetahui jika dia selama ini telah di bodohi dan Nyonya Inggris tuannya telah mengalami kesengsaraan. "Aku akan membalas apa yang telah kau perbuat!"
Luca Crollo menyerang lagi, tapi Eros yang ikut membantu mematahkan serangannya. Hingga akhirnya kesatria yang kesal itu mendekat dan mengarahkan kapaknya pada Luca Crollo, satu hingga dua tebasan membuat Luca terluka hingga ia mundur untuk menjaga jarak. "Sial.. Sepertinya bertarung seperti ini bukanlah keahlianku!" Ujarnya saat terdesak.
Kali ini sekitar 4 kesatria menyerang Luca Crollo, ia benar-benar terdesak. Sesaat kemudian keempat kesatria itu langsung terlempar jauh akibat serangan jauh dari arah samping kiri.
"Bodoh! Cepat mundur Luca.. Kau tidak boleh mati, kekuatanmu masih berguna." Kata Rever yang berjalan mendekat.
__ADS_1
Eros yang melihat ke arahnya Rever terkejut karena melihat Kane Lancester tersungkur dengan luka dan darah yang mengalir dari tubuhnya, sudah bisa terprediksi jika Kane bukan tandingan dari iblis kuat seperti Rever sang dasa kemarahan.
"Sialan, mau kemana kau!?" Kane mencoba bangkit dengan luka-luka yang ia derita.
"Kane!?" Kata Eros.
Rever berbalik, ia melihat Kane. "Kau belum mati? Keras kepala juga." Rever mendekat kembali ke arah Kane dan menendang wajah Kane dengan keras, saking kerasnya hembusan angin kencang terbentuk begitu Rever mengayunkan kakinya.
"Tuan Kaneee..." Eros berteriak.
Sesaat kemudian.. Rever heran karena Kane menghilang dari hadapannya tetapi sebelum tendangannya mengenai wajah Kane.
"huh, kau berat juga!" Kata Richard yang meletakkan Kane setelah ia berhasil menyelamatkan Kane tepat waktu. "Huh.. Kau, penjahat!?" Ucap Kane begitu ia melihat wajah Richard.
"Oi huh.. Padahal aku sudah menyelamatkanmu dasar bodoh!" Richard geleng-geleng kepala.
Eros yang melihat hal itu tertegun, ia tak percaya jika Richard yang ia kenal sebagai Red berhasil bergerak cepat tanpa disadari oleh Rever.
"Kau.. Kau.. Penjahat, kau harus di tangkap." Setelah di tolong, bukannya berterima kasih. Kane malah ngeyel memegang celana Richard dan terus mengatakan perkataan bodoh tentang penjahat.
"Hei. Berhenti.. Sial, tahu begini aku tidak menyelamatkanmu." Richard mendorong Kane menjauh darinya, tapi Kane tetap kekeh memegang kaki Richard hingga ia tak bisa bergerak.
Pada kesempatan itu.. Rever menatap Richard, ia langsung mengarahkan sihir kuat padanya. "Magicae nigrae, fulgurel mortem." Itu adalah petir hitam yang keluar dengan kecepatan tinggi mengarah tepat ke arah Richard.
"Awasss!!!" Eros memperingatkan Richard yang sibuk meladeni Kane.
Richard melihat ke depan dan banggggg. Ledakan luar biasa tercipta sesaat setelahnya serangan sihir itu mengenai Richard. Asap pekat menutupi tubuh Richard, ia terkenal dengan telak serangan petir hitam yang di keluarkan oleh Rever.
"Uhuk uhuk.. Tch. Asap ini menganggu!" Ucapnya menggerakkan tangan untuk menghilangkan asap yang memenuhi sekiranya akibat dari serangan petir hitam itu.
"Ahh.. Ka-kau tidak papa?" Kane yang tersungkur di tanah memegang kaki Richard terkejut karena melihat jika Richard sama sekali tidak terluka.
Semua orang terbelalak, Rever pun tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. "Siapa orang itu?" Rever melihat tangannya, ia mengingat kembali bagaimana dia mengeluarkan serangan itu. Ia sangat yakin jika itu adalah serangan yang kuat dan sangat bisa membunuh manusia.
"Tuan.. Tuanku.. Orang itu, dialah yang menghancurkan penyamaranku!" Luca Crollo berlari ke arah Rever.
Lalu Richard sendiri.. "uhuk uhuk.." Ia batuk bukan karena terluka tapi karena asap yang ia hirup. "Ahh.. Sialan, hei k-.." Richard yang baru sadar terdiam, ia baru mengetahui jika sosok yang menyerang dirinya adalah Rever. "Rever kah?" Richard tersenyum dengan mata merah menyalanya.
Sesaat yang lalu, saat Rever menyerangnya dengan peter hitam. Richard yang terkejut spontan menangkis serangan itu dengan tangan kirinya. Meski meledak cukup besar tapi Richard tidak merasakan sakit sedikitpun.
"Jadi dia.. Tenang telah membongkar penyamaran mu selama 15 tahun ini?" Kata Rever merespon perkataan Luca Crollo.
Richard yang baru sadar jika sosok di depannya itu adalah Rever merasakan tegang sekaligus merasa bersemangat, jantungnya terpacu sangat cepat karena ia ingat betul bagaimana mengerikannya saat Rever muncul di dalam labirin dan membuat ia terjatuh lalu terjebak dalam labirin selama satu tahun.
"Sial.. Aku baru keluar dari labirin dan sekarang harus menghadapi iblis kuat." Richard bergumam, sambil tersenyum puas.
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
-Bersambung-
__ADS_1