
Bulan telah meninggalkan titik tertingginya malam ini di langit lembah kota Lockdown, tapi tidak ada yang berubah. Bagi mereka yang tinggal dan bernaung di dalam kota, malam ini sama saja dengan malam-malam yang sebelumnya.
Damai dan tentram, begitulah kira-kira yang dirasakan oleh penduduk resmi kota Lockdown. Sangat berbeda dengan yang saat ini terjadi di luar kota, bahkan sampai saat ini pertarungan mempertahankan benteng kota masih berlangsung antara kesatria sihir dan para monster dan iblis yang menyerang kota dari segala arah.
"Lapor.. Kanselir!" Seorang pria bertopeng muncul di tengah Kanselir beserta para petinggi kota yang sejak tadi mengawasi pertarungan menggunakan cermin sihir dari ruang rahasia.
"Ada apa!?" Balas kanselir yang tak menatapnya, fokusnya saat ini tertuju pada cermin yang menampakkan bagaimana peliknya situasi yang terjadi di luar kota saat ini.
"Baron telah mati Kanselir..!" Ucap pria bertopeng itu.
"Hah! Bagaimana dengan subjek penting kita?" Balas Kanselir yang berbalik sedikit panik.
"Dari hasil pantauan kami, Subjek berhasil kabur di tengah pertarungan hebat antara iblis level atas dan seorang manusia yang tidak kami kenal identitasnya wahai Kanselir." Jelas Pria itu.
"Utus pengikut mu untuk mengamankan subjek.. Melihat kekacauan yang terjadi mungkin saatnya untuk mengakhiri serangan para iblis busuk itu." Tegas Kanselir yang sedikit emosi dengan berita yang ia dengar.
"Baron mati.. Bagaimana bisa? Siapa yang membunuhnya?" Salah satu petinggi bertanya tentang pembunuh Baron, karena bagaimanapun sosok Baron yang ia kenal adalah penyihir hebat yang tak bisa dianggap remeh.
"Asumsi tim kami, jika Baron mati karena di bunuh oleh iblis level dosa besar beserta para tangan kanannya." Jelas pria bertopeng itu.
Mereka semua cukup terkejut atas apa yang dikatakan oleh pria yang sejak tadi berlutut di hadapan mereka.
"Ahh.. Menarik.. Pantas saja serangan kali ini cukup merepotkan. Hahaha, entah iblis dosa apa yang menyerang. Yang pasti mereka akan tetap mengalami kegagalan sama seperti sebelumnya." Ucap Kanselir sihir yang begitu percaya diri.
Sementara itu, di dalam penginapan tempat para kesatria suci beristirahat.
"Richard!.. Richard... Richard!!! Ahh.." Dengan nafas yang terputus-putus Ivy terbangun dari mimpi buruk yang pernah menghantui malamnya beberapa kali saat ia tak bisa menyelamatkan Richard yang tewas di dalam labirin, setidaknya itu yang ia yakini hingga saat ini.
"Ouuhhh.. Duh, Ivy kau mengigau lagi yah.. Aku pikir kau sudah tidak mengalami mimpi buruk itu lagi." Ucap Rebecca yang ikut terbangun akibat teriakan Ivy.
"Aa, Rebecca maafkan aku.. Aku membangunkan mu. Maaf.."
"Iya iya, sudah tidur lagi.. Ini belum pagi." Ucap Rebecca yang kembali menarik selimutnya. Belum beberapa detik memejamkan mata, tiba-tiba pintu kamar mereka berbunyi, seseorang dari luar tiba-tiba mengetuk dan memanggil nama mereka berdua.
Di waktu yang sama, di tempat lain yang masih berada di dalam kota. Wilayah yang masih masuk dalam lingkup sekitar sekolah sihir Hogward, di salah satu gedung penelitian sekolah sihir.
Oana membuka mata setelah sebelumnya ia dibuat pingsan oleh seseorang yang menyerangnya secara tiba-tiba saat terlibat konflik dengan dua orang pria yang mengaku sebagai kesatria sihir.
"Hah!? Dimana ini?" Ucapnya sambil melihat sekeliling, ia bangkit dari sofa lembut tempatnya terbaring beberapa saat.
Ia berdiri sambil memegang kepalanya dengan tangan kiri karena ia merasa masih pusing dan kesadarannya belum kembali sepenuhnya. Ia berjalan beberapa langkah sambil mengamati ruangan dimana dia berada saat ini.
Oana melihat beberapa buku yang tersusun rapi di sebelah kiri dengan rak buku yang menjulang cukup tinggi hingga ke mencapai langit-langit ruangan itu, kira-kira tinggi rak buku yang penuh dengan buku itu sekitar 3 meter sedangkan panjangnya dari arah kiri ke kana sekitar 5 meter.
Tak jauh di depannya terdapat sebuah meja kerja yang penuh dengan kertas dan beberapa buku. Meja itu terlihat berantakan dan terlihat pula beberapa coretan-coretan mantra sihir yang belum sempurna.
Terdapat juga item-item yang belum pernah Oana lihat sebelumnya di ruangan ini. Saat menoleh ke kanan, Oana melihat pintu dan segera menuju ke arah pintu itu sesaat setelah ia sadar jika ia pingsan karena diserang oleh orang tak dikenal. Tanpa pikir panjang ia mempercepat langkahnya menuju pintu, tapi saat ia memegang gagang pintu tiba-tiba saja seseorang membuka pintu dari luar, sontak saja Oana langsung mengambil ancang-ancang untuk menyerang.
"Haahhh. Sial, sial, sial... Gagal lagi, gagal lagi..." Ucap orang yang baru saja masuk ke ruangan itu.
"Siapa kau!?" Oana dengan sigap mengambil kuda-kuda untuk menyerang dengan sihir.
"Huh.. Hei, hei, tenang.. Ini aku Oana.." Ucap orang itu kepada Oana sambil menutup pintu.
"Siapa kau.. Aku tidak mengenalmu?" Ucap Oana yang mengeluarkan lingkaran sihir bercahaya di tangannya. Ia sangat siap untuk menyerang orang asing yang memanggil namanya.
"Hei tenanglah. Jangan ribut.. Ini aku, Aliyah." Katanya sambil menenangkan Oana.
"Aliyah.. Nyonya Aliyah Justifina?" Oana melemaskan pundaknya dan menghentikan kewaspadaannya.
"Ya.. Tapi kau tidak usah memanggilku Nyonya.. Kau tau, panggilan itu membuatku tampak tua." Ucap Aliyah sambil tertawa ringan.
"Nyonya Aliyah.." Raut wajah Oana berbuah menjadi sumringah kala mengetahui jika perempuan yang ada di depannya itu adalah orang yang selama ini dia cari. "Aku tidak menyangka akan bertemu Nyonya Aliyah di tempat ini, dan lagi aku sudah beberapa hari ini mencari anda.." Kata Oana yang terlihat senang, tapi setelah itu dia terkejut dan menjerit kesakitan karena Aliyah malah menjewer telinga mungilnya.
"Atthhh.. Sakit Nyonya." Ucapnya memegang tangan Aliyah yang menjewer telinganya.
"Jadi ada apa anak nakal.. Kenapa kau bisa masuk ke kota ini. Apa kau lupa pesan dari Nyonya Parthe yang melarang mu datang ke kota ini.. Huh!?" Tegas Aliyah yang sedikit membentak Oana.
Oana tertunduk lesu, ia terdiam sesaat kala mendengar omelan Aliyah.
"Oana.. Hei!" Aliyah yang tadi menjewer telinganya malah bingung dengan ekspresi sedih Oana saat ia mengatakan sesuatu tentang Parthe.
"Nyonya Aliyah.. Nyonya Parthe sudah.. Dia sudah meninggal." Ucap Oana, hal itu membuat Aliyah shock, tapi ia tak begitu terkejut karena ia sebagai penyihir telah mengetahui takdir yang akan menimpa Parthe.
"Jadi Parthe telah menyelesaikan tugasnya sebagai penyihir suci.. Aku yakin dia telah memberikan kekuatan terakhirnya pada para kesatria suci." Kata Aliyah yang terlihat cukup tenang setelah sempat dikejutkan dengan berita kematian Parthe. "Dia sudah melakukan apa yang seharusnya dia lakukan. Sambung Aliyah.
Oana yang masih tertunduk lesu langsung di peluk oleh Aliyah. "Kau benar-benar sudah tumbuh menjadi gadis yang cantik.. Nyonya Parthe pasti bangga padamu." Ucapnya menenangkan hati Oana yang terlihat sedih di depannya.
__ADS_1
Di lain tempat..
Situasi yang menegangkan masih saja terjadi. Pertarungan antara kesatria sihir yang mengamankan benteng kota melawan rombongan monster dan iblis masih berlanjut.
"Pertahankan.. Pertahankan, jangan takut.. Kanselir sihir bersama dengan kita!" Teriak salah satu kesatria sihir yang menyerang para gerombolan monster yang terus menyerang mereka dari langit.
"Yarrgggggg!!!! Sontak saja kesatria sihir lain ikut berteriak untuk sebagai tanda semangat yang membara.
Saling serang antara pasukan sihir dan para monster serta iblis terus terjadi, dari langit sampai darat. Suara gemuruh reruntuhan dan retakan tanah akibat dampak dari berbagai serangan sihir jelas terlihat.
Ada banyak monster dan iblis yang gugur dalam penyerangan kali ini, beruntung bagi pihak kesatria sihir karena mereka dilindungi oleh perisai sihir maka dari pihak mereka tidak ada korban yang berjatuhan meski perang telah berlangsung selama kurang lebih 4 jam sejak lonceng berbunyi di awal tengah malam saat bulan mulai naik ke titik tertingginya.
Meski telah banyak pasukan klan iblis yang tewas tapi tetap saja, para kesatria sihir masih disibukkan oleh rombongan monster dan iblis yang masih terus berdatangan, sehingga mereka tidak bisa meninggalkan pos pertahanan untuk membantu para penduduk yang menetap di lembah, di luar kota Lockdown.
Meski tidak ada korban yang jatuh dari pihak kesatria sihir pelindung kota Lockdown, tapi tetap saja para iblis berhasil membunuh dan memporak-porandakan pemukiman semi permanen yang berdiri di luar kota Lockdown. Tidak hanya itu, ada banyak korban jiwa yang harus meregang nyawa menjadi santapan lezat iblis dan monster yang menyerang dari segala arah.
Pemukiman yang berdiri dari arah barat, selatan, timur hingga utara telah hancur. Tidak ada yan tersisa, para penduduk yang selamat melarikan diri dan masuk ke hutan yang ada di arah selatan untuk menghindari pasukan iblis yang menyerang dari arah utara.
Sementara itu, jika dilihat dari atas maka semua pemukiman semi permanen yang beberapa jam lalu berdiri kebanyakan telah rata dengan tanah yang telah bercampur dengan darah dari mereka yang telah mati, tidak ada mayat terlihat karena tubuh para korban telah dilahap secara utuh tanpa tersisa oleh para iblis dan monster yang terkenal rakus.
Pasukan yang dipimpin oleh Bellzebub, benar-benar berhasil berpesta malam ini. Sebuah pesta mewah, awal dari kehancuran kota yang selama ini tak bisa ditembus oleh pasukan mana pun.
Di satu tempat yang juga terlihat porak-poranda, sebuah pertarungan yang cukup sengit masih terjadi. Di sekitar lokasi pertarungan terlihat beberapa mayat iblis dan monster yang berhasil dikalahkan oleh 2 orang kesatria yang saat ini terdesak dengan serangan fatal dari salah satu iblis level dosa besar.
"Rasakan ini... Aarrgggg!!!" Bellzebub terus mengarahkan serangan kuat itu kepada Richard tanpa henti, serangan beruntun itu menuju ke arah Richard seperti air hujan dan meledak terus menerus tanpamu henti dengan daya ledakan yang sangat besar.
"Chichichichi.... Mati kau.. Mati!!" Bellzebub terus menyerang dan tertawa dengan wajah mengerikannya. Sementara itu, Richard yang terdesak mencoba menahan serangan itu dengan kedua tangannya. Daya ledak yang besar membuat Richard tak bisa berbuat apa-apa, dia terdesak dan terluka. Lengan kanannya mulai lecet sementara itu hidungnya juga mengeluarkan darah akibat besarnya damage yang dia dapat dari serangan beruntun yang di arahkan Bellzebub padanya.
"Arrgg!" Richard mengeram, ia kesakitan dan pandangannya mulai agak kabur. Sesaat sebelum dia tergeletak karena lelah menahan serangan beruntun itu, tiba-tiba saja serangan berhenti.
"Chichichi.. Masih hidup rupanya. Hebat juga!"
"Huhhh!" Richard dengan pandangan setengah sadar dan tubuh yang berat mencoba bangkit, ia terlihat sempoyongan dan kakinya bergetar. "Sialan..." Umpatnya sambil menoleh ke atas langit, tempat dimana Bellzebub melayang dengan sayap tipisnya.
"lihat apa kau manusia.." Setelah berteriak dengan keras, Crokus yang telah babak belur dihajar oleh Richard melayang pukulan keras yang membuat Richard tersentak ke tanah dengan keras. Tak berhenti sampai di situ, pukulan, tendangan dan serangan sihir terus dia layangkan ke arah Richard tanpa henti sebagai balasan atas apa yang telah Richard perbuat kepadanya.
Richard yang terdesak tak bisa berbuat banyak karena ia benar-benar terluka akibat serangan fatal dari Bellzebub. Setelah serangan terakhir dari Crokus ia masih berdiri bahkan masih bisa tersenyum sambil menatap tajam dengan mata merahnya ke arah Crokus.
"Sialan.. Kau meremehkan ku!" Teriak Crokus yang menyerang dengan sekuat tenaga, tapi kali ini Richard menghindari serangan itu sambil memegang tangan dari Crokus. "alidum flammae palmas." setelah mengatakan itu, api langsung membakar lengan Crokus, sontak saja ia berteriak kepanasan dan mencoba memadamkan api di lengannya tapi sebelum itu Richard mengambil langkah lalu menyerang.
"Cih, serangan merepotkan ini.." Umpat Richard yang tak sempat menyerang Crokus.
Richard lalu menjauh dan menghindari serangan beruntun yang datang dan terus mengejarnya. Serangan itu terus mengikuti pergerakan Richard dan karena lelah akhirnya Richard harus berhadapan lagi dengan serangan yang hampir saja menghilangkan kesadarannya.
"Argggg..." Serangan itu menjadi semakin kuat hingga akhirnya tubuh Richard goyang dan terjatuh.
"Mati kau... Argggg....." Bellzebub memadatkan serangan bola kecilnya yang seperti peluru menjadi bola besar seperti torpedo yang siap mengunci dan menyerang lawannya yang bahkan tak lagi bergerak.
Richard telah sepenuhnya kehilangan kesadaran akibat serangan beruntun itu, tubuhnya penuh memar saat ini. Sesaat setelah memadatkan serangan fatalnya, Bellzebub melepaskan bola cahaya itu dengan kecepatan tinggi ke arah Richard yang telah tergeletak di tanah.
Dan sesaat kemudian serangan itu meledak, ledakannya 3 kali lebih kuat dari serangan beruntun yang membuat Richard tak berdaya bahkan shock wave dari ledakan itu mencapai radius 2 km, dari lokasi ledakan. Jika saja ledakan itu terjadi tepat sasaran maka mungkin saja tempat ini sudah menjadi lubang kawah besar berdiamater 2 km, beruntung karena serangan itu meledak di atas langit.
Benar.. Serangan itu berhasil dimentalkan kembali ke arah Bellzebub, meski tak mengenai Bellzebub karena serangan kuatnya berhasil dikembalikan maka Bellzebub cukup terkejut. "Chichichi.. Kau masih bisa berdiri rupanya." Ucap Bellzebub melihat sosok yang telah babak belur berhasil mementalkan serangan kuatnya dengan pedang besar yang ia genggam menggunakan tangan kanan.
"Kesatria suci!! Chichichi... Menarik." Ucap Bellzebub.
Tepat sebelum serangan itu menghantam Richard, Pege dengan tubuh yang penuh luka berhasil mengembalikan serangan itu ke arah Bellzebub meski melesat tapi ia berhasil membuat serangan itu meledak di udara, jauh dari pemukiman.
"Tepat waktu." Kata Pege menggenggam pedangnya dengan erat, sampai urat ototnya terlihat. Wajahnya yang penuh darah pun tak menutupi tatapan matanya yang tajam.
"Zorre." Seketika Bellzebub berpindah dari atas langit ke bawah dengan cepat. Hal itu membuat Pege terkejut, Bellzebub yang melihat celah langsung menyerang Pege dengan serangan sihirnya. Pege menangkis, ia membalas sambil menebaskan pedangnya tapi hanya dengan satu tangan tebasan itu berhasil di tangkis.
Saat Pege ingin mengangkat kembali pedangnya, Dia tak menduga Bellzebub malah menahan pedang itu dengan erat sehingga Pege kesulitan untuk mengangkat pedang besarnya. Bellzebub dengan satu kedipan kembali menyerang, serangannya kali ini mampu membuat memar di wajah Pege yang terpaksa harus melepas genggaman pedang besarnya untuk menghindari pukulan Bellzebub walaupun masih terkena dampak serangan itu tapi setidaknya dia mampu meminimalisir dampak dari serangan kuat itu.
"Sesuai dengan dugaanku.. Sepertinya kau telah mendapatkan kekuatan seutuhnya dari penyihir busuk yang memanggil mu ke dunia ini." Ucap Bellzebub dengan tenang.
Jika di perhatikan, kondisi tubuh Bellzebub sampai saat ini masih baik-baik saja meski telah beberapa kali mendapatkan serangan. Dengan kekuatannya, Bellzebub mampu memulihkan diri dari serangan yang telah dia dapatkan saat menghadapi Richard.
Pege yang mundur tetap waspada sembari memperhatikan gerak - gerik Bellzebub yang saat ini ada di depannya. Sementara itu, Richard yang masih tersungkur tepat berada di depan Pege dan Bellzebub. Richard terbaring di tengah-tengah pertarungan antara Pege dan Bellzebub setelah sebelumnya mendapatkan seragan fatal dari Bellzebub.
"Hm.. Ngomong-ngomong apa kau kenal manusia busuk yang terbaring itu, dia masih bernafas.. Chichichi, hebat juga, bahkan setelah aku serang berkali-kali dengan sihir terkuatku, dia masih bernafas.. Chichichi..." Bellzebub melirik Richard yang terbaring.
Pege yang mendengar itu juga melihat tubuh Richard, ia merasa tidak asing dengan aura milik Richard yang terbaring di depannya saat ini.
"Tapi tetap saja.. Manusia itu bukanlah apa-apa, bahkan kau.." Bellzebub menunjuk Pege dengan tatapan hina. "Kau hanya akan di jadikan alat oleh penghuni dunia ini." Lanjut Bellzebub.
"Zorre." Ucap Bellzebub yang lagi-lagi bergerak cepat.
__ADS_1
"Huh!!" Pege menghindari serangan dari samping dan memegang lengan Bellzebub lalu membantingnya tapi Bellzebub mampu menyeimbangkan dirinya dan membanting balik Pege. "Arrggg...." Suara gebrakan tanah terdengar cukup keras, debu beterbangan akibat tubrukan Pege yang menghantam tanah.
Tak sampai di situ, Bellzebub kembali melempar Pege ke arah atas dengan kuat. "zorre." dengan mentra itu, Bellzebub berpindah ke tempat dimana Pege melayang dan menghantam tubuh Pege dengan kuat, sekali, dua, hingga tiga kali pukulan sampai akhirnya Pege mengeram kesakitan dan terjatuh ke bawah.
"Chichichi.. Sihir kematian, Hukuman bentuk kedua : frumenti pulvis." Bellzebub mengarahkan serangan kuatnya untuk mengakhiri pertarungan, dengan kekuatan besar ia menyerang ke arah Pege yang sudah mencapai tanah.
"Mati kau!!!" Teriaknya sambil menyerang.
"Oioi.. Pege, lihat dirimu!" Suara tak asing terdengar.
Sesaat kemudian ledakan besar terjadi, sekali lagi ledakan besar itu membentuk kawah yang cukup besar, membuat tanah berlubang dan menghancurkan beberapa bangunan. Sekarang tempat itu sudah hampir terlihat seperti tanah kering tak berpenghuni akibat dari dampak serangan sihir yang sejak tadi menimpanya.
Bellzebub terlihat tidak puas, dia melihat jika Pege tidak terkena serangan fatalnya. Dari balik debu yang beterbangan, terlihat beberapa sosok bayangan yang menopang tubuh Pege.
"Pege.. Lihat dirimu, kau tampak kacau!" Ucap Rebecca yang mengamati Pege.
"Huh.. Hampir saja terlambat!" Kata Gildarts yang menopang tubuh Pege.
"Hadehh.. Lagi enak-enak tidur, kau malah memberikan sinyal pada kami." Ucap Smits yang tadi berteriak ke arah Pege.
"Pege.. Kau tidak papa kan?" Ivy terlihat khawatir dengan kondisi tubuh Pege yang penuh dengan luka, bahkan zirahnya juga terlihat hancur.
Tepat sebelum serangan kuat itu menghantam Pege, dia berhasil diselamatkan oleh para kesatria suci yang lain. Entah bagaimana, para kesatria itu muncul sesaat sebelum Pege meregang nyawa.
"Tapi bahaya juga serangan itu.. Hampir saja kau mati Pege." Tegas Smits yang menoleh ke arah Bellzebub.
Sementara itu, Bellzebub yang sudah bisa melihat dengan jelas keempat orang yang datang menyelamatkan Pege langsung terbelalak. "Chachachacha..." Tawanya berbeda, Itu karena malam ini dia cukup senang merasakan aura pada kesatria suci yang muncul di depannya. Bellzebub tau betul dengan aura ini. "Menarik.. Sangat menarik.. Chachachacha... Ini adalah adalah hidangan pembuka yang luar biasa." Teriak Bellzebub. .
"Hm.. Ada apa dengan iblis jelek itu!?" Tanya Rebecca yang mengarahkan anak panahnya pada pada Bellzebub. "Sagitta luminis." Rebecca melepaskan anak panah yang melesat dengan kecepatan cahaya.
Saking cepatnya, anak panah itu mustahil diikuti oleh penglihatan mata. "Chi.... Dasar bodoh. Kau pikir ini bisa mengenaiku!" Kata Bellzebub yang menangkap anak panah itu dan menghancurkannya.
"Wahh.. Sial, iblis itu ternyata hebat." Rebecca mengumpat kesal.
"Hati-hati.. Di, dia sama seperti Rever." Ucap Pege yang berusaha mengangkat wajahnya.
"Huh!?" Rebecca terkejut, kesatria suci yang lain juga cukup terkejut. "Ahh.. Pantas saja kau di buat babak belur seperti ini." Ucap Smits dengan tatapan dinginnya.
"Ah.. Orang itu!" Pege menyadari sesuatu dan menoleh ke samping.
Pege sadar jika masih ada orang lain yang juga terluka dan masih hidup. Orang itu adalah Richard yang terbaring lemah di depannya. "Mungkin saja orang itu mati, mengingat dampak serangan kuat Bellzebub." Pege menyeringai dalam hati sambil mencari keberadaan Richard yang hilang dari tempatnya terbaring lemah.
"Pege.. Apa yang kau cari!?" Tanya Ivy yang melihat ekspresi Pege.
Lalu sesaat kemudian..
"Hei Ivy lihat, tas selempang sihirmu bersinar." Ucap Gildarts yang menyadari cahaya merah memancar dari dalam tas selempang Uvy.
"Ahh.. Panas.." Ucap Ivy yang mengeluarkan sumber cahaya itu. Ternyata yang bersinar dan memanas adalah belati atau pisau milik Richard yang selama ini di bawa oleh Ivy, belati itu adalah senjata sihir kesatria suci Ignis.
Saking panasnya senjata itu melukai tangan Ivy dan karena tak bisa memegang senjata itu Ivy tak sengaja menjatuhkannya.
"Ehh... Ada apa dengan pisau itu!?" Ucap Rebecca yang melihat pisau itu menyala cukup terang dan terbakar seketika, seakan merespon sesuatu.
Dari arah langit, Bellzebub yang melihat para kesatria sihir berbalik ke kanan dan cukup terkejut melihat Richard menerjang bagaikan meteor yang membara. Tubuh Richard terbakar sepenuhnya dan luka tubuhnya terlihat pulih entah bagaimana caranya, Mata merahnya menyala seakan mengisyaratkan sepasang mata yang lapar akan mangsanya.
"Lihat itu.. Meteor." Rebecca menunjuk ke arah Richard dan seketika ledakan terjadi begitu Richard menyentuh Bellzebub yang tidak siap menerima serangannya.
'
'
'
'
'
'
'
'
'
-Bersambung-
__ADS_1