
Pancaran cahaya keunguan tampak keluar dari tubuh wanita terkekang berjubah compang-camping. Dari segala sudut, ia dikelilingi oleh para kesatria sihir berjubah hitam.
Ada empat penyihir. Masing-masing diantar mereka sedang melafalkan mantra sembari mengarahkan kedua tangan ke wanita yang ada di depan mereka. Sementara mereka merapal mantra, wanita yang ada di depan mereka menjerit tak bersuara. Hanya ada ekspresi menahan sakit, tak ada suara. Hening.
Wanita itu melayang. Aura keunguan terus keluar. Memancar pudar dari lapisan kulit putihnya. Seakan di tarik oleh ke empat penyihir lain. Wajahnya pucat pasih, menahan sakit mendera.
Wanita itu menutup mata, ia seperti melawan. Melawan paksaan yang menyiksa tubuhnya. Tarikan yang ia rasakan membuat luka di beberapa bagian tubuhnya.
Sementara itu, di alam bawa sadar wanita itu. Terdapat suatu aura imperium luar biasa. Sebuah titik cahaya yang memiliki kekuatan besar. Kekuatan itu tersegel dan terkubur di alam bawa sadarnya. Bersama dengan kekuatan besar itu, tersimpan pula sihir pelindung yang sengaja di tanamkan untuk melindungi kekuatan besar itu dari tangan yang salah.
Ritual sihir itu sudah berlangsung sejak wanita terkekang itu berusia 4 tahun. Sudah bertahun-tahun sejak ia tersiksa dan sudah bertahun-tahun pula para penyihir yang mengekang dia mencoba menembus alam bawa sadarnya untuk merebut kekuatan besar yang sengaja tersegel dalam dirinya.
"Bagaimana perkembangannya?" Seorang wanita masuk ke ruangan itu. Wanita yang masuk tak lain adalah kanselir sihir.
"Maaf kanselir. Sepertinya segel yang berhasil kita buka secara perlahan kembali menutup seperti biasa." Balas salah seorang bawahannya.
"Emma.. Sialan!" Raut wajah geram itu menyebut satu nama. Kanselir lalu berbalik. "Bagaimana dengan anak keduanya? Apa sudah tertangkap?" Tanya Kanselir.
"Kesatria sihir yang mengurus anak itu kehilangan jejak kanselir." Balas seorang lagi diantara mereka.
"Ahhrrg. Dasar tidak berguna." Kanselir geram. Berbalik lagi lalu menatap ajudan setianya. "Sekromentus, bawa anak itu padaku sekarang juga." Ucapnya tegas.
Tanpa membalas, Sekromentus berbalik. Dengan sihir ia menghilang seketika. Bukan karena sihir dimensi tapi karena sihir percepatan. Sihir yang membuat Sekromentus dapat bergerak cepat bagai suara meski ia sudah tidak muda lagi.
Kanselir sihir berjalan ke depan, ke arah wanita yang sedari tadi melayang. Mengeluarkan cahaya redup keunguan. Dia menatap wanita itu. "Emma.. Aku masih saja belum melampaui mu, meski kau sudah lama mati."
Wanita yang dia tatap adalah Anne Drigory.
Di ruangan berbeda, kediaman kanselir sihir.
"Maaf ya aku merepotkan kalian." Anne menunduk, menunjukan rasa bersalah atas keresahan dan kesalahpahaman yang dia sebabkan pada kesatria suci.
Melihat Anne yang baik-baik saja, membuat kekhawatiran berlebih dari para kesatria suci mereda. Setidaknya untuk saat ini.
Smits menyeringai. "Anne!" Pelan tanpa ada yang dengar. Otaknya sedang dipenuhi oleh berbagai macam pertanyaan. Apa lagi kalau bukan tentang Anne sendiri. Meski saat ini jelas ia melihat Anne, tak ada keanehan apapun yang dia rasakan. Tapi, mengapa batinnya masih menolak untuk percaya jika Anne baik-baik saja.
Pikiran-pikiran kacaunya itu lenyap kala Anne melirik pada Smits. Memandang dengan mata indah warna coklat tua. Menyilaukan, anggun dan membuat hati sejuk. Ya, sejak awal Smits cukup terkagum akan hal itu.
"Tuan Smits. Maaf sudah merepotkan anda." Ucapnya tersenyum tentram. Senyum itupun melunturkan berbagai macam pikiran Smits. Menghancurkan ego Smits dan membuat dia percaya jika benar. Memang benar, Anne baik-baik saja. Benar bahwa Anne mengidap kutukan dan benar hanya kanselir sihir yang mampu untuk menolong Anne.
"Ah, iya. Tidak papa." Balasnya canggung. Perkataan itu membuat ia melupakan fakta bahwa betapa terpuruk dan takutnya Anne kala itu. Kala Anne memegang erat lengannya.
Anne dan para kesatria suci bercengrama, begitu ceria seolah tak pernah terjadi kejadian memilukan. Mereka banyak berbicara tentang sihir, tentang kota Lockdown dan berbagai hal baik yang ada di kota. Anne berubah menjadi wanita cerita nan anggun. Berbanding terbalik kala mereka pertama kali bertemu di dalam hutan. Saat ia masih mengenakan pakaian lusuh penuh luka, ketakutan dan gemetar bak sedang dikejar hantu.
"Bagaimana jika kita berangkat malam ini!" Usul Gildarts pada Smits. "Jangan, akan sulit menemukan tempat bagus untuk tidur di luar sana. Lebih baik kita berangkat besok pagi-pagi buta." Lugasnya.
"Apa boleh tuan Gerald?" Smits menatap Gerald.
"Tentu saja tuan Smits. Kami akan menyiapkan bekal untuk kalian." Balasnya santun.
Matahari kian merendah di luar kota. Cahaya yang berasal dari barat kini perlahan memudar. Bayangan hitam mulai nampak bersama dengan langit jingga di atas kepala. Ada banyak yang tak sadar jika sebentar lagi malam akan tiba.
Pun bagi mereka yang sedang menikmati pesta. Pesta untuk melepas kepergian Nora. Seperti sebelumnya, pesta meriah ini hanya untuk melepas Nora yang sebentar lagi akan diizinkan masuk ke dalam kota Lockdown.
Bersama dengan langit jingga yang menghitam. Cahaya-cahaya dari para kesatria sihir menjadi penerang bagi para penikmat pesta. Mereka semua berseru untuk Nora.
Nora yang melihat hal itu tersipu malu, meneteskan air mata. Mengucap maaf dan terima kasih pada siapa pun yang mendukungnya. Pada siapa pun yang berharap banyak padanya. Terlebih bagi keluarga yang telah lama di tinggalkan oleh mereka calon terpilih sebelum Nora.
Seorang Ibu tua mendekat. Memeluk Nora dan memberikan sebotol jus jeruk. Tersimpan dalam wadah bambu sederhana. Jus jeruk buatan rumah. Jus kesukaan anak dari Ibu tua yang memeluk Nora.
"Berikan ini pada Gisla, ini adalah minuman kesukaannya. Ucapnya penuh harap.
Nora memeluk Ibu tua itu dan mengangguk. Ia tersenyum kemudian menggenggam wadah bambu yang diberikan Ibu tua itu padanya.
Gisla adalah anak Ibu tua itu, sekaligus wanita muda terpilih enam bulan yang lalu. Sama seperti Nora, Gisla juga dilepas dengan pesta untuk masuk dan memenuhi panggilan kanselir sihir. Bukan hanya Gisla, ada beberapa. Setiap enam bulan tepatnya dan tak satupun dari mereka yang masuk ke dalam kota terlihat lagi batang hidungnya.
Bagi para nope, itu adalah hal wajar. Bukan sesuatu yang aneh. Mereka sadar jika menjadi penyihir dan murid langsung kanselir sihir maka anak-anak mereka yang masuk ke salam kota Lockdown pasti amat sibuk. Mereka semua masuk membawa harapan, sekali lagi harapan agar mereka semua nantinya punya tempat di dalam kota. Harapan para nope yang tak tahu kapan akan terwujud.
Lalu Nora memeluk Ibunya. Ia berderai air mata karena akan meninggalkan Ibunya sendiri di lembah sementara ia akan masuk ke dalam kota. Ia tak sanggup. Ibunya meyakinkan bahwa ia akan baik-baik saja, terlebih lagi mereka semua para nope adalah keluarga. Para nope yang lain ikut meyakinkan Nora, jika mereka semua akan menemani Ibunya.
Satu persatu para Nope yang berada di dekatnya memberi dukungan. Sangat indah, mereka adalah keluarga besar lembah kota Lockdown. Nora tersentuh akan hal itu, sekaligus membuat ia yakin untuk melangkah.
Waktu berlalu cepat bagi Nora yang bersuka cita dan sebentar lagi akan berpisah dengan Ibu dan keluarga besar lembah kota Lockdown.
__ADS_1
Begitu malam benar-benar datang. Matahari tenggelam sempurna. Cahaya keemasan dari arah selatan terpancar. Cahaya itu memanjang dari arah tenda mewah ke gerbang kota Lockdown.
Semua orang melihat ke arah tenda. Menyilaukan mata. Samar-samar Nora melihat ke arah tenda mewah. Berdiri berjejeran dengan gagah para kesatria sihir. Dipimpinan oleh Master Clivard, seorang Dewan konsulat sihir sekaligus yang bertanggung jawab dengan acara pesta penjemputan calon murid kanselir sihir.
Di samping dan di belakangnya terdapat beberapa kesatria sihir lain. Berjejeran rapih penuh wibawa. Berjalan pelan dengan irama hentakkan kaki. Mereka memasang wajah serius, tak ada sedikitpun ekspresi dari wajah mereka.
Para kesatria itu berjalan mendekat dengan formasi dua barisan lurus dengan Master Clivard tepat berada di depan.
Para nope terkesima melihat kegagahan para kesatria sihir. Kesatria yang menolong dan mengorbankan nyawa untuk mereka semua. Setidaknya itu yang mereka pikirkan.
Nora tersentak kala Master Clivard menyebut namanya dengan lantang. "Nora Lasanria." Ucapnya lugas.
"Iyaa." Spontan Nora mengangkat tangan.
Master Clivard membuka sebuah perkamen yang ia genggam dengan tangannya. Sebuah gulungan yang berisi informasi. Dengan lantang ia membaca perkamen itu.
"Atas nama Leluhur, Kanselir sihir mengangkat Nora Lasanria sebagai murid sekaligus berhak masuk ke dalam kota Lockdown. Nora Lasanria selanjut akan dianugerahkan gelar sihir dan akan dibimbing langsung oleh kanselir sihir. Pemimpin kota Lockdown." Ucapnya tegas, lugas dan jelas.
Seketika para nope bersorak, kurang lebih sama persis dengan enam bulan yang lalu. Mereka selalu bersorak untuk siapa saja anak-anak dari kaum mereka yang berhasil masuk ke dalam kota. Untuk Nora, untuk Gisla dan untuk para wanita muda yang terpilih sebelum-sebelumnya.
"Yaeyyyy!!!"
"Nora!!! Nora!"
Mereka menjadi antusias. Sebagai kaum tertindas dari berbagai ras yang mencari suaka pada kota Lockdown. Sekali lagi, Nora dan para gadis muda sebelum Nora yang masuk ke dalam kota adalah harapan. Jadi sangat wajar jika mereka menjadi histeris seperti saat ini.
"Cihh, menjijikan." Bisik salah satu kesatria sihir.
"Pelankan suaramu. Ini adalah pertunjukan yang menarik bukan? Hehhehehe." Balas salah seorang di dekatnya. Saling berbisik.
"Aku tidak menyangka ini akan sangat menghibur. Kanselir sihir benar-benar jenius." Lanjut salah seorang lagi.
Para kesatria sihir yang melihat betapa antusiasnya para nope di depan mereka merasa terhibur. Karena bagi mereka yang tahu persis jika saat ini mereka hanya bersandiwara. Mengadakan pesta, melepas keluarga mereka untuk menjadi persembahan kota. Ya, mereka para kesatria sihir mengenai kepalsuan pesta dan berbagai formalitas yang terjadi saat ini.
Para kesatria sihir yang berjejer itu tahu semua sandiwara ini. Mereka menahan tawa, menahan kelucuan yang mereka saksikan saat ini.
Ada yang menutup mulutnya, ada yang menundukkan pandangan ke bawah agar tidak terlihat oleh para orang bodoh yang saat ini terbawa suasana.
Diantara mereka yang mengolok-olok, ada juga yang menunduk kasihan. Ia sedih dan tak bisa berbuat apa-apa. Ia tanya bisa mengikuti perintah meski hatinya sesak.
"Neyah, jangan pasang raut wajah seperti itu!?" Nerwen menegur Neyah.
Neyah tanpa sadar meneteskan air mata.
Tak ada dari para pencari suaka yang menyadari sandiwara ini. Meskipun telah berlangsung lama, meskipun telah banyak anak gadis dan wanita muda yang diambil dari mereka.
Benar-benar tak ada yang tahu, kecuali satu orang yang mengamati dari jauh. Seseorang yang sejak awal merasakan keanehan dari pesta tak masuk akal yang terjadi saat ini.
Dengan mata merahnya, ia memandang tajam ke arah para kesatria sihir. "Sebenarnya, apa yang mereka sembunyikan?" Gumamnya.
Beralih ke dalam kota Lockdown.
Meski tertutup kubah pelindung, tapi para penduduk kota juga bisa merasakan dan melihat cahaya matahari. Itu semua berkat sihir kubah pelindung kota yang transparan. Meski begitu, sangat kuat untuk melindungi kota bahkan bagi serangan skala besar klan iblis seperti yane terjadi malam sebelumnya.
Komplek penelitian, sekolah Hogward. Gedung tua tempat dimana para peneliti kelas atas kota Lockdown berada.
Sebuah lingkaran sihir dan rapalan mantra tertulis pada dinding ruang bawah tanah gedung tua tersebut.
Terdapat tiang yang menjulang setinggi satu meter di sebelah kira lingkaran sihir. Pada tiang itu, tertancap berbagai jenis item sihir yang memiliki berbagai macam kemampuan.
Item sihir itu bagai pelengkap tiang yang kemudian memancarkan imperium. Hasil dari item-item sihir yang tertancap. Tiang itu seperti mesin canggih yang ditenagai oleh item sihir.
Mesin itu di ciptakan oleh salah satu peneliti terhebat Kota Lockdown. Saint Jose, yang juga merupakan salah satu dewan konsulat sihir.
Ia menciptakan mesin itu sebagai jawaban dari kegagalan mereka menciptakan item sihir yang dapat membuka portal dimensi.Penelitian yang telah dicanangkan oleh Professor Asking, Aliyah, Saint Jose dan para peneliti lain sekelas mereka.
Mereka gagal mencari solusi untuk menciptakan energi ketiga. Penopang yang dapat membuka portal dimensi. Tanpa orang berbakat seperti Murd Linda Chaya, akan mustahil membuka portal dimensi.
Tim peneliti yang awalnya optimis bisa menyelesaikan penelitian mereka kemudian kecewa. Saat item yang mereka coba ciptakan tiba-tiba mengalami malfungsi dan dapat meledak jika diteruskan. Ledakan yang bisa saja terjadi jika tetap dilanjutkan dapat mengakibatkan terjadinya kerusakan fatal yang dapat mencapai radius 10 km.
Mereka akhirnya menyerah, tapi tidak dengan Saint Jose. Ia menemukan jawaban dari perjalannya mencari alternatif baru untuk menciptakan alat yang dapat membuka portal dimensi.
Alih-alih membuat item pembuka portal dimensi, ia malah kepikiran untuk membuat alat atau mesin yang ditenagai oleh item sihir yang menyimpan imperium besar seperti proton buatan Aliyah.
__ADS_1
Menggunakan mesin sebagai tenaga ketiga yang akan menopang imperium atau tenaga dari lingkaran sihir yang akan terbuka.
Rancangan yang Saint Jose paparkan itu hampir terlihat sempurna. Namun Aliyah malah melihat kegagalan lain dari rancangan itu. Jika saja rancangan itu gagal maka radius kerusakannya bisa dua hingga tiga kali lipat dari penelitian mereka sebelumnya.
Aliyah menentang hal itu, tapi sayang Professor Asking melihat peluang besar dari apa yang paparkan oleh Saint Jose.
Itulah yang sedang mereka kerjakan saat ini. Di ruang bawah tanah gedung tua komplek sekolah sihir Hogward.
"Mantra-mantra sihir ini.. Luar biasa." Ucap Saint Jose. "Aliyah, dia benar-benar jenius. Bisa memecahkan mantra-mantra seperti ini dan menyusunnya menjadi lingkaran sihir untuk membuka portal dimensi." Sambungnya.
Professor Asking menatap mesin yang dibuat oleh Saint Jose. Ia memberikan proton kepada salah seorang peneliti. "Sekarang tancapkan proton pada inti mesin itu." Ucapnya.
"Mesin itu akan menjadi penopang energi untuk mengaktifkan mantra dan membuka portal." Ucapnya ambisius.
Sesaat kemudian, ketiak proton tertancap. Aliran imperium memenuhi mesin setinggi satu meter itu. Mesin itu bercahaya, cahayanya pekat berwarna biru.
"Professor.. Mari kita mulai." Ucap Saint Jose tersenyum.
Mereka berempat lalu berdiri mengelilingi mesin yang bercahaya itu. Saling berpegangan tangan. Mereka mengatakan sesuatu, tak terdengar tapi sepertinya sedang melafalkan mantra sihir.
Mesin yang berada di tengah mereka bereaksi, mesin itu menyerap imperium yang keluar dari tubuh meraka lalu beberapa saat kemudian mesin itu menembakkan sinar ke atas langit ruangan.
Laser cahaya yang keluar tak menembus atap langit. Laser cahaya itu kemudian merespon lingkaran sihir yang tiba-tiba aktif disebelahnya.
Di tengah-tengah ritual, seseorang masuk ke dalam dan berteriak kencang. "Hentikan Professor..!" Aliyah mendekat sambil menahan tekanan angin yang tiba-tiba keluar dari arah lingkaran sihir.
Bersamaan dengan hal itu keempat peneliti terlempar akibat dorongan imperium yang terserap dari mesin ke lingkaran sihir.
"Arggg.." Saint Jose yang tersungkup bangkit dan melihat ke arah ciptaannya.
"Hei, Jose. Bagaimana menghentikannya?" Aliyah mencoba mendekat.
"Tunggu Aliyah.. Jangan hentikan." Professor Asking memegang lengan Aliyah yang nekat mendekat. Dengan perhitungannya, Professor Asking masih sangat yakin jika hal ini akam berhasil.
Beda lagi dengan Aliyah, dia tidak mau mengambil resiko. Ancaman ledakan besar bisa merusak seluruh komplek sekolah sihir Hogward bahkan sampai pada pemukiman setempat. Aliyah melawan. "Apa kau gila Professor. Benda ini alan meledak. Akan banyak korban yang berjatuhan."
"Tidak, tidak mungkin. Ini akan berhasil." Ucapnya sekali lagi.
Sementara mereka berdebat, mesin itu memanas, pun dengan lingkaran sihir yang sudah membentuk gumpalan awan hitam. Terlihat seperti lubang hitam luar angkasa yang siap menghisap apapun.
Aura yang dihasilkan sangat kuat, sampai-sampai para peneliti merinding. "Sialan." Aliyah mengelak dan mendorong Professor Asking. Lalu ia mencoba mendekat dengan tujuan menghancurkan mesin dan menghentikan lingkaran sihir yang semakin kuat.
"Exitium magicae: Exp... " Sebelum Aliyah selesai melafalkan mantra, ia tersungkup dan tak bisa bergerak.
"Ad tempus resolutum" Ucap Saint Jose. Sebuah sihir pelumpuh yang membuat Aliyah tak dapat bergerak sejenak.
"Joseeeee." Aliyah dengan kekuatannya mencoba bangkit.
Sementara itu..
Mesin yang ada di depan meraka, beserta lingkaran sihir yang telah penuh dengan awan hitam mencapai level tertinggi. Ledakan benar-benar akan terjadi dan Aliyah menatap lirih ke arahnya. "Oh tidak, terlambat."
Dan..
Mereka semua menutup mata, bersiap dengan ledakan yang akan segera terjadi. Adrenalin mereka memuncak. Ledakan pun...
"Arrgghhhhhh!!!!!" Mereka semua berteriak kencang.
_
_
_
_
_
_
_
-Bersambung-
__ADS_1