
"Kekuatan suci, cahaya pemusnah iblis : Clypeus refulgens."
Tameng yang di pegang oleh Arthur bercahaya, terangnya cahaya itu membuat para iblis yang ada di depannya menutup mata dan tiba-tiba tubuh mereka melepuh dan meledak karena terkena cahaya yang bersinar sangat terang itu. Tameng cahaya adalah teknik baru dari kekuatan yang telah meningkat dari Arthur karena menerima segel dari Parthe sang penyihir suci.
Serangan itu sekaligus mengakhiri perlawanan para iblis yang menyerang sebuah benteng di wilayah utara kerajaan Celestial. Kota Degan lebih tepatnya, sebuah kota yang telah bertahan selama setahun penuh dari serangan dan serbuan klan Iblis.
Dan hari ini adalah hari dimana kota Degan berhasil bebas dari bayang-bayang kekalahan karena para kesatria suci berhasil mengalahkan seluruh pasukan iblis menyerang mereka. Cukup 3 hari semenjak para kesatria suci datang ke tempat ini, para iblis yang membangun benteng di dalam hutan berhasil di kalahkan seutuhnya.
"Yyeeeyyyyy.."
"Kita menang!!"
"Hidup kesatria suci!!!"
"Arthur.. Arthur!"
Sorak sorai kemenangan terdengar di tengah benteng yang di buat para iblis untuk bertahan. Kini benteng pertahanan itu terlihat runtuh karena di serang oleh pasukan kesatria dan prajurit kerajaan Celestial yang bermukim dan melindungi kota Degan.
Mereka berteriak kegirangan sesaat setelah Arthur berhasil mengalahkan pemimpin musuh yang merupakan iblis kelas parademon berjumlah 10 iblis sekaligus.
Dan karena hal itu juga.. Namanya bergema di tengah kerumunan pada prajurit kerajaan Celestial yang telah bertahan selama setahun dari gempuran klan iblis.
"Arthur.. Arthur!!
"Hidup kesatria lux"
Semua menyebut dan memuji Arthur..
Bukan hanya Arthur, tapi Diana, Rinto dan Leo juga ikut membantu kemenangan mereka kali ini, tapi karena Arthur yang memiliki peranan penting sekaligus langsung menyerang pemimpin para iblis maka hanya Arthur yang saat ini di topang bak pahlawan. Di angkat ke atas, lalu di lemparkan ke udara oleh beberapa orang sebagai tanda terima kasih dan euforia kemenangan yang baru saja mereka raih.
"Lihatlah dia.. Semangat sekali." Gumam Diana melihat ekspresi tertawa di wajah Arthur.
"Dia memang pantas mendapatkannya.. Jika bukan karena dia yang memilih jalan mungkin kita tidak akan sampai di tempat ini." Leo tersenyum, ia sangat mengagumi Arthur.
"Ya... Arthur memang hebat, dia jauh sangat berkembang dari kita semua." Rinto juga ikut memuji, hal yang jarang ia lakukan tapi jika Rinto yang berkata seperti itu maka Arthur memang layak untuk dipuji.
Arthur tertawa.. Ia sangat senang bisa membantu para kesatria mengalahkan iblis. Ia menerima banyak pujian bahkan ini adalah kota ketiga yang berhasil di bebaskan dari serangan iblis. Sebuah prestasi yang melampaui pendahulunya, karena hanya dalam waktu satu bulan saja Arthur dan 3 kesatria suci yang ia pimpin berhasil mengalahkan 3 pasukan iblis yang ingin merebut sebuah kota.
Setelah mendengar cerita tentang Iuron, pendahulunya. Arthur memang sangat termotivasi apa lagi dengan sosok kepemimpinan dan ketangguhan Iuron. Ia sangat ingin melanjutkan kisah keberhasilan Iuron, bahkan ia ingin melampaui Iuron yang gagal mengalahkan raja iblis. Arthur sangat yakin akan hal itu, apa lagi dengan kemampuannya yang sekarang. Ia pasti akan bisa mengalahkan raja iblis, terlebih kesatria ignis sudah mati jadi Arthur tidak perlu lagi khawatir dengan pengkhianatan. Mengingat kesatria suci terdahulu gagal karena pengkhianatan kesatria Ignis.
Jika saat ini Arthur dan para kesatria beserta prajurit yang bersamanya sedang bersenang-senang dengan kemenangan yang mereka dapatkan maka berbeda lagi dengan kesatria yang telah dianggap mati oleh mereka semua.
Richard.. Sang kesatria ignis.
Saat ini berada di daerah pinggiran kota Lister, wilayah kerajaan Inggram. Ia berjalan ke arah pusat kota untuk mendapatkan informasi tentang daratan Gres atau gunung olimpik tempat dimana para dewa tinggal menurut buku yang dia baca di kastil Ifrit.
Pinggiran kota Lister adalah daerah kumuh, berada di wilayah barat kota dekat dengan hutan. Pinggiran kota ini terlihat sangat kumuh, hanya ada bangunan gubuk sejauh mata memandang jika pun ada bangunan yang terbuat dari bata maka bangunan itu pasti sudah rusak dan terbengkalai walaupun masih ada yang tinggal di dalam bangunan itu.
Daerah kumuh ini dinamakan distrik nol, tempat dimana hukum tidak berlaku. Dikatakan seperti itu karena sangat jarang ada kesatria atau prajurit yang melakukan patroli di tempat ini karena tempat ini memang sangat jorok dan banyak sampah berserakan.
Tercium bau busuk dari bangkai-bangkai makhluk hidup yang mati di distrik nol karena mereka yang mati akan dibiarkan terbengkalai hingga membusuk sampai tinggal tulang benulang karena ketiadaan biaya anggota keluarga untuk mengurus jenazahnya.
Hal itu yang membuat para kesatria dan prajurit enggan berpatroli di tempat ini walaupun titah raja memerintahkan semua wilayah kerajaan mendapatkan perlindungan dari prajurit dan kesatria. Apa lagi wilayah ini juga sering menyetor pajak kepada kerajaan dan berhak atas perlindungan dari kerajaan.
Richard masih berjalan.. Ia hanya melihat lurus ke depan, hati kecilnya terenyuh ketika melewati dan melihat kondisi distrik nol ini tapi tidak ada yang bisa ia lakukan karena sesungguhnya Richard bukanlah siapa-siapa dan dia juga tidak ingin ikut campur dengan masalah kemiskinan yang ia saksikan saat ini. Pada dasarnya masalah ini adalah masalah kerajaan dan Richard tidak ingin mencari masalah dengan kerajaan apapun, meski tadi ia telah terlibat sedikit insiden dengan para kesatria dan prajurit kerajaan.
"Tuan.. Tuan, tunggu! Tunggu aku.." Suara teriakan yang memanggil Richard terdengar dari belakang. Tapi Richard tidak peduli karena ia bukanlah kesatria dan tidak memiliki gelar apapun sekarang, dia tidak merasa dirinya adalah 'tuan' dari orang lain.
__ADS_1
Orang yang mengejar Richard secara sempoyongan itu adalah Woli yang juga berhasil kabur dari para prajurit dan kesatria yang menangkap dan membuatnya babak belur setelah Richard berhasil membuat mereka semua tersungkur.
Ia berlari menahan rasa sakit yang masih bisa ia rasakan dan saat ini ia telah berada di samping Richard. "Tuanku.. Aku menemukanmu.." Ucapnya tertawa kegirangan.
Richard melihat Woli, ia mengabaikan Woli karena ia tak mengerti dan tidak mengenal siapa Woli. Ia juga tidak mengusir dan memukul Woli karena ia merasa jika Woli tidak bermaksud jahat padanya.
"Hei.. Tuan, ayolah.. Kau pasti mengingat siapa diriku kan? Ini aku.." Woli masih terus berbicara sambil berjalan di samping Richard yang tidak menghiraukannya sedari tadi.
"Ada apa dengan manusia serigala ini? Siapa dia? Apakah dia mengenalku?" Gumam Richard sambil meliriknya.
"Yah.. Tapi aku tidak menyangka ternyata benar bahwa tuan masih hidup.." Meski kesakitan tapi ia masih memaksa dirinya untuk berjalan di samping Richard, ia juga bersikap santai di samping Richard seolah mereka adalah teman dekat sedangkan Richard hanya diam dan tidak menggubris Woli sama sekali. "Meskipun tuan sudah banyak berubah tapi aku masih mengenalimu.. Tuan Richard!" Lanjut Woli, sontak karena menyebut namanya, Richard berhenti berjalan.
"Heh! Tuan Richard!" Woli terkejut saat Richard berhenti dan berdiam diri sambil menatapnya.
"Siapa orang ini? Kenapa dia bisa mengetahui identitasku." Richard yang mencoba mengabaikan Woli sejak tadi, kini malah bersikap waspada.
Lalu.. Cukup satu kedipan mata Richard bergerak dengan sangat cepat. "Loh.. Kok, tuan Richard!" Hanya sekali kedipan mata, Woli kini kehilangan Richard padahal baru saja Richard berada tepat di sampingnya.
Sekitar 1 km dari lokasi yang sebelumnya, Richard terlihat berdiri di atas pohon, ia bergerak cepat untuk kabur dari Woli karena ia merasa aneh dan mewaspadai Woli. Bagaimana tidak, Woli mengetahui identitas yang sebenarnya dari Richard.
"Gawat, manusia serigala itu mengetahui tentangku. Apakah sebaiknya aku membunuhnya saja atau.." Richard bimbang karena ia merasa jika Woli tidak berbahaya.
Di tengah rasa bimbang itu, dari bawah pohon. "Tuan Richard.. Apa yang kau lakukan di atas sana!" Woli berteriak dari bawah pohon.
"Ah..! Aku ketahuan." Gumam Richard.
Lalu dengan cepat Richard turun dan menyandarkan Woli ke batang pohon memegang erat bahu Woli agar Woli tidak bergerak. "Siapa kau sebenarnya? Kenapa kau memanggilku dengan nama itu?" Richard mengancam dengan menjulurkan pisau ke leher Woli.
"Ah.. Tuan, bahuku sakit.. Ah aduh." Melihat Woli yang kesakitan, Richard spontan melepas Woli. "Ah, maaf.." Ucapnya.
Richard menyimpan kembali pisaunya, ia tidak bisa melakukan itu pada orang yang tidak punya tenaga lagi untuk bertarung. Apa lagi Woli memang tidak punya niat buruk, Richard bisa merasakan hal itu berkat inderanya yang telah jauh meningkat.
"Baiklah.. Siapa kau sebenernya? Aku tidak mengenalmu lalu kenapa kau memanggilku dengan nama Richard?" Tanya Richard yang penasaran dengan Woli.
"Aku Woli.. Aku adalah budakmu." Tegas Woli.
"Hah!?" Richard bengong dan tak bisa berkata apa-apa. "Dengar... Aku tidak punya budak dan aku tidak ingin memiliki budak." Lanjut Richard berbalik dan berjalan menjauh, ia sepenuhnya tidak menggubris apa yang dikatakan oleh Woli.
"Tunggu.. Pernah.. Kau pernah membeli ku. Tidak.. Lebih tepatnya kau membebaskan aku dan memberikan aku kemerdekaan. Itu terjadi 1 tahun yang lalu." Woli bercerita tentang pertemuan pertama mereka, bagaimana Richard memperlakukannya sangat baik kala itu.
Woli menceritakan hal itu pada Richard, menceritakan hubungan singkat mereka dan bagaimana Woli menempuh perjalanan untuk mencari keberadaan Richard selama ini. "Hem.. baiklah, tapi maaf aku tidak ingat, lagi pula aku bukan Richard." Ucapnya dengan datar.
"Sebaiknya kau tidak mencari orang yang bernama Richard itu, orang itu adalah orang yang buruk." Kata Richard sekali lagi.
"Tidak.. Tuan Richard tidaklah buruk, dia sangat baik. Aku tahu itu.. Dan aku tidak akan mencari tuan Richard lagi karena aku telah menemukannya.. Kau, kaulah orangnya!" Woli sangat tegas kali ini, ia yakin dengan tatapan tajamnya.
Richard berbalik lagi, lalu menatap mata Woli. Richard membuka penutup mulut dan tudung yang ia kenakan untuk menutupi kepalanya. Ia memperlihatkan wajahnya pada Woli. " Apa aku terlihat seperti orang yang kau kenal itu?" Tanya Richard.
"Tidak.. Wajahmu memang berbeda tapi.. Tapi aku mengenalimu dari bau tubuhmu. Kau memiliki bau yang sama persis dengan tuan Richard, itu tidak salah lagi.." Woli masih bersikeras jika Richard adalah orang yang selama ini Woli cari.
"Bau hah!? Mungkin saja itu cuma kebetulan."
"Tidak, tidak.. Manusia serigala punya satu kemampuan, penciuman yang sangat tajam. Sekali kami mengenali bau maka kami tidak akan pernah lupa dengan bau itu.. Jadi aku yakin kau.. , kau adalah tuan Richard!" Air mata Woli kini menetes karena ia meluapkan emosinya, ia benar-benar ingin bertemu lagi dengan Richard tapi sayang ia merasa sedih karena Richard tidak mengenalinya.
Woli yakin, sangat yakin karena memang ia mengenali Richard dari bau badan Richard, bukan karena wajahnya. Penciumannya yang sangat tajam mengkonfirmasi hal itu bahkan saat pertama kali mereka bertemu di dalam hutan ketika Woli babak belur di keroyok oleh para kesatria dan prajurit.
Sementara itu Richard.. Ia jelas mengenal siapa Woli setelah Woli menceritakan panjang lebar tentang kejadian 1 tahun lalu. Berkat cerita itu Richard mengingat satu momen dimana ia pernah menghabiskan kepingin emas miliknya untuk membeli budak kecil ras shed yang memiliki gen kucing, tapi Richard salah mengira ternyata Woli yang ia beli dan ia merdeka kan memiliki gen serigala bukan kucing.
__ADS_1
"Huh.. Jangan menangis. Lagi pula kau sudah besar sekarang.. Tapi sayang sekali aku bukan Richard yang kau kenal." Richard masih mengelak, ia tak ingin terikat hubungan apapun dengan seseorang karena tujuan utamanya saat ini adalah kembali ke dunia asalnya.
Mendengar hal itu Woli menjadi semakin sedih, matanya berkaca karena merasa tidak diakui oleh Richard. " Manusia serigala tidak pernah salah dalam mengenali bau." Sebuah kata yang keluar dari mulut Woli, kata yang ia dengar dari Ibunya ketika ia masih kecil.
"Huh.. Baiklah aku pergi dulu. Maaf membuatmu kecewa tapi ada hal yang harus aku lakukan." Baru saja Richard ingin pergi, tiba-tiba perhatiannya teralihkan dengan suara teriak dan tangis dari arah depan.
"Tolong.. Tolong.. He nghe.. Tolong!" Teriak seorang anak kecil yang berlari menuju ketempat mereka berdua.
"Kakak Woli tolong.. Tolong.." Anak kecil itu berlari sambil menangis, ia mengenal Woli dan ternyata Woli juga mengenalnya.
Woli terkejut, ia dengan cepat berlari ke arah anak kecil itu dan memeluknya. "Belle.. Ada apa?" Tanya Woli yang jongkok memeluk anak ras shed yang memiliki gen kelinci itu.
Sementara Richard masih berdiri menyaksikan mereka berdua.
"Kakak ku.. Kakak ku.." Belle kecil terisak di pelukan Woli.
"Irish.. Kenapa? Kenapa dengan Irish?"
"Kakak ku di culik, dia di culik!"
"Apa!? Irish di culik.." Wiliam terkejut, ia tahu jika penculik yang melakukan penculikan di distrik nol ini adalah pemburu budak.
Pemburu budak adalah orang yang melakukan kejahatan dengan menangkap manusia, shed atau makhluk ras apapun untuk di jual ke tempat pelelangan budak. Umumnya pemburu budak melakukan aksinya dengan cara berkelompok, mereka banyak melakukan aksi di tempat-tempat yang minim penegakan hukum seperti wilayah kumuh ini.
Dampak dari tidak adanya patroli dari pihak kerajaan baik itu prajurit ataupun kesatria adalah kejahatan di distrik nol menjadi sangat tinggi. Terutama tingkat kejahatan penculikan yang dilakukan oleh kelompok pemburu budak.
Target mereka adalah anak-anak atau wanita cantik yang selanjutnya akan dimasukkan ke pelelangan budak yang ada di pusat kota Lister. Mereka menargetkan anak-anak dan wanita karena pada umumnya anak-anak dan wanita sangat mudah untuk di culik karena minimnya perlawanan sehingga membuat lara penculikan atau pemburu budak bisa leluasa melakukan aksinya.
Sementara itu..
Di dalam hutan yang tak jauh dari distrik nol kota Lister.
"Ada apa ini? Kenapa kalian semua terlihat babak belur?" Eros Lopnika melihat prajurit dan kesatria bawahannya tersungkur penuh luka.
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
__ADS_1
'
-Bersambung-