
"Eghhh.. Huh...." Sir Jean tertegun, ia tak bergerak sama sekali. Tepat di depan wajahnya kepalan tangan dengan api hitam hampir saja meremukkan wajahnya jika saja pria yang mengarahkan tinju itu tidak menghentikan pukulannya.
Kucuran keringat memenuhi wajah Sir Jean karena dia tahu jika saja pukulan itu masuk mengenai wajahnya maka kemungkinan terburuknya dia akan mengalami cacat permanen pada wajah atau yang lebih buruk adalah kematian.
Snijder menghentikan langkah kala melihat pria yang mengarahkan tinju itu menghentikan agresifitas kala mengarahkan pukulan pada Sir Jean, ia tersenyum. "Hehe.. Sudah ku duga!" Ucap Snijder yang merasa jika pria dengan mata merah itu tidak akan melukai manusia begitu saja.
Richard.. Sesaat yang lalu, dia bisa saja memukul dengan serius saat emosinya memuncak tapi sesaat sebelum pukulan itu menghantam wajah Sir Jean Richard mengendorkan serangan dan menghentikan pukulan tepat di depan wajah Sir Jean yang tidak bisa mengelak. Bagaimanapun Richard tidak ingin melukai manusia dan tidak ingin berurusan lebih jauh lagi dengan kerajaan Inggram. Pikirannya yang jernih membuat dia mampu untuk memikirkan dampak dari tindakannya sehingga ia bisa memilih tindakan dengan bijak.
Bersamaan dengan hal itu, semua prajurit dan kesatria terdiam. Mereka terkejut, apa lagi Kane.. Ia syok melihat tuan yang sangat ia hormati dibuat tak bisa bergerak seperti yang terjadi saat ini. "Si brengsek itu!!" Gumamnya.
Di tengah luka yang masih terasa akibat pertarungannya dengan Rever, Kane mengamuk dan mengeluarkan pedang dari sarungnya. "Brengsek kau... Pembunuh!!!!!" Ujarnya.
Rupanya, harga dirinya sebagai seorang kesatria semakin tergores begitu tahu jika tuannya dibuat tak bergerak hanya dengan gertakan pukulan aneh dengan aura hitam panas yang keluar dari tangan kiri pembunuh bangsawan itu.
Melihat Kane yang meluap-luap, semua orang yang tadi melihat ke arah Richard dan Sir Jean mengalihkan pandangan pada Kane. "Tuan Kane!" Eros berbalik, baru kali ini dia melihat Kane menjadi orang yang gegabah seperti ini.
Di tengah kegaduhan yang dilakukan Kane dengan memaksakan imperium miliknya yang tersisa, Sir Jean yang masih berdiri diam di depan pukulan Richard melirik kelakuan tangan kanannya itu. "Tch..." Sir Jean bergerak, ia menggerakkan tombaknya menuju ke arah Kane lalu menghantam punggung Kane dengan keras hingga Kane pingsan tak sadarkan diri. Ja menggerakkan tombaknya dengan pengendalian jarak jauhnya "Dasar bodoh!! Kau hanya membuatku seperti orang yang sudah kalah." Gumam Sir Jean.
Setelah kejadian itu.. Perlahan namun pasti, api hitam yang membalut tangan kiri Richard lenyap. Ia pun berdiri dan menanggalkan kuda-kuda menyerangnya sambil memegang tangan kirinya. "Hampir saja!" Gumamnya merasa lega, entah kenapa ia bisa bernafas lega karena tidak jadi menghantam Sir Jean.
Sir Jean yan masih di depannya melihat Richard dengan wajah serius. "Hei kau!" Sapanya dengan nada garang.
Richard melirik ke depan, mata mereka bertemu. "Tch.. Aku benci mengakuinya tapi.. Jika kau tidak menghentikan pukulan berbahaya mu itu, mungkin wajahku ini sudah bonyok. Khukhahahahahaha!" Sir Jean malah tertawa, kepribadiannya berubah 100 derajat dari sebelumnya.
"Ehh!!"
"Apa!??"
"Tu-tuan Jean.."
Para prajurit dan kesatria terkejut dengan hal yang mereka lihat.
"Mm.. Sepertinya orang itu telah mendapatkan pengakuan dari tuan Jean!" Ujar Eros yang melihat Sir Jean tertawa terbahak-bahak.
Sementara itu, Richard yang saling berhadapan dengan Sir Jean di buat bingung karena melihat sikap Sir Jean yang jadi sok akrab dengannya. Di tengah kebingungan itu, Snijder mendekat dan menyapa Richard sambil memberikan tangannya. "Maaf.. Orang ini emang aneh! Aku Snijder Stollen.. Senang bisa berkenalan denganmu!" Ucapnya.
"Oi oi.. Jangan mendahuluiku seperti itu Snijder.." Kata Sir Jean, ia melanjutkan sambil mengarahkan tangannya. "Aku Sir Jean Stephenson.. Khukhahahahaha." Ucapnya.
Richard menjadi semakin bingung.. Situasi tegang yang tadi terjadi tiba-tiba saja menjadi cair. Orang yang telah melukai pahanya dengan tombak tiba-tiba menjadi sangat baik padanya. Richard berpikir, mungkin saja pria itu mengakui kekalahannya di pertarungan kali ini.. Tapi tetap saja bagi Richard, sikap Sir Jean benar-benar aneh.
"Maaf.. Orang ini memang aneh. Dia bisa berubah menjadi seperti ini karena 2 alasan.. Yang pertama karena dia tidak merasakan niat jahat mu dan yang kedua karena sepertinya dia telah mengakui kekuatan dan kehebatan mu." Tegas Snijder yang melihat wajah bingung Richard.
"Tch.. Kau jangan terlalu sok tahu tentangku Snijder..." Sahut Sir Jean.
"Maaf.. Aku masih tidak mengerti, kau bersikap seperti ini setelah kau melakukan ini padaku!" Richard menunjuk paha kakinya yang terluka dengan wajah datar.
"Ahh.. Akhakahahaha.. Megister!! Magister!! Cepat obati orang ini.. Hehe.." Sir Ejaan tertawa canggung sambil memanggil ahli sihir pengobatan.
Para prajurit dan kesatria yang melihat ikut kebingungan, sementara itu Eros.. Dia merasa aneh. Ia mengingat sesuatu sebelum pria bermata merah itu hampir saja melayangkan pukulan mematikan pada Sir jean. Eros mencoba mengingat tapi ia tak kunjung menemukan jawaban dari rasa penasarannya tentang pria bermata merah itu.
Sementara Eros tenggelam dengan rasa penasarannya, Sir Jean malah bertingkah aneh di dekat Richard sambil memegang lengan kirinya. "Woow.. Sungguh lengan yang sangat kuat.. Khukhahahahaha..."
"E..........." Richard diam tanpa kata.
"Hehe.. Tidak usah di pikirkan, dia memang sering bersikap seperti itu kepada orang yang baru saja diakui olehnya." Kata Snijder pad Richard.
Snijder melanjutkan. "Oh ya.. Kau belum menjawab pertanyaan ku, siapa namamu?" Tanyanya.
"Sebut saja aku Red." Jawab Richard.
Sesaat kemudian, seorang magister mendekat ke arahnya. "Tidak.. Jika bisa kau tolong obati luka manusia serigala itu!" Tegas Richard menunjuk ke arah belakang.
Magister itu diam, ia bingung karena Sir Jean sendiri yang memerintahkannya untuk mengobati luka dari Richard. "Apa yang kau lakukan.. Cepat ikuti perintah tuan Red!" Tegas Sir Jean kala dilirik oleh magister yang merupakan bawahannya itu.
"Si-siap tuanku!" Setelah tegap, magister itu bergegas ke arahku Woli yang duduk tak berdaya di tanah.
Sementara itu.. Berada cukup jauh di arah timur. Daratan terluas yang ada di Neverland.. Wilayah yang bernama Gres.
Berada di dalam kastil tua, tempat rombongan kesatria suci beristirahat. Rombongan yang dipimpin oleh Smits dikejutkan oleh ledakan yang terjadi tak jauh dari arah kastil. "Smits..." Gildarts menatap Smits yang berada di samping kirinya. Mereka berdua sedang duduk di depan api unggun sementara Rebecca, Ivy dan Pege telah tidur dengan lelap.
"Paman! Apa kau mendengar apa yang aku dengarkan." Kata Smits pada Gildarts.
"Ya.. Sebaiknya kita memeriksa apa yang terjadi. Aku akan membangunkan mereka bertiga.."
__ADS_1
"Tidak.. Tidak perlu. Kau tunggu saja di sini.. Aku yang akan memeriksanya. Jika aku tidak kembali dalam 30 menit, paman tahu harus melakukan apa."
"Baiklah." Tegas Gildarts seolah tahu apa yang harus dia lakukan jika Smits tak kunjung kembali dalam waktu yang telah ditentukan.
Smits bangkit, ia bergegas ke sumber suara yang mungkin tidak terlalu besar tapi dengan keahlian mereka sebagai kesatria suci, mereka bisa merasakan ancaman yang berasal dari ledakan kecil itu.
Lalu, beberapa ratus meter di luar kastil tempat para kesatria suci itu beristirahat. Seorang wanita berlari terkatung-katung menghindari monster yang mengejar dirinya sambil menyerang dengan serangan ledakan yang keluar dari mulutnya. Monster itu cukup besar dengan tinggi yang hampir mencapai tinggi pohon-pohon yang berdiri tegap di hutan tempat wanita itu di kerja olehnya.
Ledakan itu terus dilayangkan pada wanita yang berlari tanpa mengenakan alas kaki. Beruntung ia bisa menghindar karena bersembunyi di balik pohon-pohon yang berdiri, ledakan itu sekaligus menumbangkan beberapa pohon hingga memecah kesunyian malam. Suara yang dihasilkan cukup besar meski suara yang didengar oleh Smits dan Gildarts yang berada di dalam kastil tidak sebesar pada tempat kejadian.
Wanita itu terus berlari, telapak kakinya terlihat memerah dan melepuh. Entah sudah berapa lama ia berlari, yang pasti dengan telapak kaki yang terluka seperti itu jarak yang ia tempuh pasti sangatlah jauh hingga bisa berada di tempat ini.
Monster besar itu terus menyerang,.. Ia menyerang sementara di atas langit melayang seorang pria yang menginjak sebatang kayu. Pria itu menggunakan jubah hitam dan topi lancip, ia terlihat seperti penyihir.
"Tch., menyerahlah.. Kau benar-benar merepotkan." Ucap pria yang melayang itu.
Sesaat kemudian, wanita yang berlari tersandung akar pohon dan terjatuh menggelinding. Ia kesakitan dan mencoba bangkit untuk kembali berlari, ia sangat takut tapi wanita itu tidak takut dengan monster besar yang terus menyerangnya melainkan takut pada pria yang melayang di udara tersebut. "Huh.. Kau benar-benar membuang waktuku! Menyerahlah ******!!!" Teriak pria yang melayang itu.
Monster yang menyerangnya kini berada tepat di belakang dirinya tapi wanita itu masih belum bisa bangkit, ia masih kesakitan. Hingga akhirnya wanita itu terpojok dan tak bisa lagi kabur dari monster serta dari pria yang melayang tepat di atas kepala monster itu.
"Tidak.. Tidak!! Tolong lepaskan aku, lepaskan aku..." Wanita itu histeris, ia memejamkan mata saat tangan besar monster yang ada di belakangnya mengarah padanya.
"Frigus Conscidisti." Seketika Tangan monster itu teropong, darah tidak mengalir karena sesaat setelah terpotong lengan monster itu membeku.
"Huh! Siapa?" Pria yang melayang dikejutkan oleh serangan tiba-tiba yang datang dari arah samping.
"Hei hei... Monster jelek!" Kata Smits yang berdiri tegap dengan tombak dinginnya di arah kanan monster tersebut.
Lalu tak lama setelah serangan itu.. Monster yang tangannya terpotong dan membeku berteriak. Ia kehilangan kendali dan alat sihir yang ada di keningnya pecah. "Argg.. Sial, alat pengendalinya rusak.. Monster ini, kesadarannya telah kembali." Ucap Pria yang melayang itu.
Monster itu mengamuk.. Ia kesakitan dan menatap wanita yang ada di depannya. Tanpa pikir panjang, monster itu langsung melayangkan pukulan tapi,..
"Tarian musim dingin.. Prickling nix." Smits bergerak cepat, ia melompat dan menusuk monster itu dengan tombak yang sangat dingin, monster itu terkena tusukan tombak beberapa kali. Tusukan tombak itu terlihat seperti hujan salju, perlahan tapi mematikan.. Dinginnya sampai ke pembuluh darah. Monster itu tumbang dan mati seketika.
"Uhh.. Gawat! Siapa orang itu?" Pria yang melayang itu langsung menciut nyalinya kala melihat kemampuan Smits yang dengan mudah menumbangkan monster kuat yang tadi ia kendalikan dengan item sihir.
Sementara itu, wanita yang tersungkur di tanah tercengang kala menyaksikan Smits menumbangkan monster dengan mudah. "Baiklah.. Nona, apa kau baik-baik saja?" Smits dengan gayanya mendekat sambil memberikan tangannya pada wanita itu dan wanita itupun tersipu kala moga wajah tampan dari Smits.
"Hah!?"
"Ahh.. Maaf.. Maafkan aku. Maafkan aku." Wanita itu menunduk, ia langsung malu karena tersipu dengan ketampanan Smits.
Pada momen itu, pria yang melayang lalu menyerang dengan sihirnya. "Awass!!" Wanita itu melihat serangan dari langit, hanya saja wanita dan pria yang menyerang itu tak tahu jika Smits bukanlah orang biasa, mereka tidak tahu Smits adalah kesatria suci yang telah mendapatkan segel kekuatan baru.
Tentu dengan kemampuannya saat ini, Smits mampu mementalkan serangan itu dengan tombaknya bahkan menyerang balik dengan cara melempar tombak miliknya ke arah Pria yang melayang dengan sebatang kayu di atas mereka.
Meski pria itu berhasil menangkis dengan tameng sihir tapi, pria itu terlihat kewalahan dibuatnya.
"Nona.. Siapa orang itu?" Tanya Smits
"Ah.. Di-dia adalah penyihir dari konsulat sihir kota Lockdown."
"Hah!? Konsulat sihir?" Smits terkejut, pasalnya pria yang menyerang wanita yang ingin dia selamatkan ini bukan lah iblis melainkan seorang penyihir yang berasal dari kota para penyihir, kota Lockdown.
"Oioi... Kenapa kau menyerang wanita dasar penyihir bodoh?" Smits berteriak dengan keras ke arah penyihir pria yang melayang di atasnya. "Aku adalah Smits.. Kesatria suci dengan gelar Glacies." Smits melanjutkan.
"Huh!? Kesatria suci!?" Wanita itu terkejut, sementara pria yang melayang perlahan turun dari langit dan mendekat, sesaat setelah menyentuh tanah ia berlutut dan memperkenalkan dirinya.
"Maaf saya tidak mengenali anda.. Saya adalah Gerald Grifindor, anggota konsulat sihir kota Lockdown."
"Berdirilah.. Merepotkan jika setiap bertemu orang dan mereka terus menerus menunduk seperti ini." Ujar Smits dengan wajah datar.
Gerald berdiri dan menatap wanita yang saat ini bersembunyi di punggung Smits sambil memegang zirahnya.
"Tuan kesatria suci.. Mohon maaf, tapi wanita itu adalah tahanan kota Lockdown yang kabur. Sudah seminggu aku mengejarnya hingga sampai ke tempat ini." Kata Gerald.
"Huh, tahanan!?" Smits melirik Wanita yang memegang pundaknya itu.
"Tolong tuan.. Serahkan kembali tahanan itu." Gerald mendekat dan mencoba memegang tangan wanita yang bersembunyi di punggung Smits.
"Tidak, tunggu sebentar. Atas dasar apa wanita ini di tahan? Aku sendiri tidak merasakan aura jahat dari wanita ini?" Smits menghalangi Gerald dengan tombaknya.
"Tch.. Menganggu saja" Gerald mengerutu dalam hatinya. Ia melanjutkan. "Wanita itu telah melakukan dosa dan telah mengkhianati kota Lockdown. Dia harus dibawa kembali ke tahanan kota Lockdown." Tegas Gerald.
__ADS_1
Smits ragu, ia merasa jika ada hak yang disembunyikan oleh Gerald. Apa lagi wanita itu sangat ketakutan saat Gerald ingin memegangnya. "Hadeuh.. Akan lebih mudah bagiku jika aku memberikan wanita ini padamu." Ucap Smits.
"Terima kasih taun, itu sangat membantu.." Balas Gerald.
"Tapi.. Maaf, tampangmu mencurigakan. Sepertinya.. Aku tidak bisa memberikan wanita ini begitu saja."
"Ehh.. Tapi tuan..."
"Maaf tapi.. Aku ngantuk. Aku akan membawakan wanita ini ke kastil yang tak jauh dari tempat ini. Di kastil itu ada teman-temanku yang lain.. Lalu besok kita akan membahas masalah ini.." Tegas Smits yang berbalik badan sambil memegang tangan wanita itu. "Orang ini benar-benar anggota konsulat sihir.. Tapi aku masih tidak yakin dengan perkataannya." Benak Smits kala berbalik.
Sementara itu Gerald yang geram tak bisa berbuat apa-apa, ia hanya bisa mengikuti kemauan Smits karena jika ia memaksa kemungkinan dia akan kalah dalam pertarungan mengingat kekuatan Smits berada di level yang jauh darinya.
Smits.. Ia merasa aneh apa lagi saat memegang tangan wanita itu. Tangannya sangat dingin dan tubuhnya sangat lemah, wanita itu bahkan tidak punya aura jahat yang menunjukan jika dia adalah serapan tahanan.
Untuk sekarang, Smits akan membawa wanita itu ke tempat dimana mereka beristirahat dan besok akan mendiskusikan hal ini bersama dengan teman-temannya.
Kembali ke bagian barat Neverland, kerajaan Inggram di kota Lister. Bulan sabit yang sejak tadi tepat di atas kepala kini telah turun, bisa dibilang tengah malamnya sudah lewat dan beberapa jam lagi matahari akan terbit.
Kekacauan yang terjadi di kastil keluarga Snifooler telah mereda, para kesatria dan prajurit tambak membantu rekan-rekan mereka yang terluka. Sementara Richard masih dengan luka yang sama berdiri bersama dengan Snijder dan juga Sir Jean.. Mereka terlibat beberapa pembicaraan atau lebih tepatnya Richard sejak tadi menjawab pertanyaan yang dilontarkan kedua kesatria agung tersebut.
Meski begitu, Richard tidak sekalipun menyinggung tentangku identitas aslinya sebagai kesatria Ignis.
"Ahh.. Begitu rupanya. Jadi kau ingin menyelamatkan gadis kelinci dari tuan Grobogan dan tak sengaja menemukan iblis yang sedang menyamar... Hm." Ujar Sir Jean.
"Aku sudah mengatakannya dengan lantang, tapi orang itu tidak mau mendengarkan." Richard menunjuk ke arahnya Kane yang masih pingsan setelah sebelumnya dibuat pingsan oleh Sir Jean.
"Aku baru tahu jika petualangan sepertimu bisa memojokkan iblis selevel Rever Block." Snijder menaruh curiga.
Richard diam tanpa kata atas perkataan Snijder padanya, karena ia takut salah ucap.
"Huhh.. Sial, para kesatria benar-benar terpedaya oleh iblis yang membuat tuan Grobogan berbuah jadi psikopat.." Sir Jean masih menyesali dirinya yang terlambat sadar akan hal itu.
Setelah basa-basi itu, Richard berbalik tanpa kata. Tapi baru sekali melangkah ia langsung kehilangan keseimbangan karena pada dasarnya, ia sedang terluka parah. Beruntung Woli sigap menopang dari samping. "Huh.. Kau!" Ucap Richard yang melihat Woli.
"Hehe.. Tuan, biarkan aku membantumu. Aku sudah tidak papa sekarang." Ucap Woli tersenyum.
Sambil melangkah perlahan, Snijder dan Sir Jean hanya melihat dari belakang. Pada saat itu, Eros mendekat. "Tuan Jean.. Apa, apa tidak papa membiarkan dia pergi begitu saja!?" Ucap Eros pada Sir Jean.
"Huh.. Kau seharusnya malu Eros. Orang itu telah menyelamatkan Nyonya Inggrid." Entah mengapa tiba-tiba Sir Ruan menjadi serius.
"Aku tidak menyangka jika kita akan bertemu dengan orang yang telah diramalkan." Kata Snijder.
Eros yang bingung dengan perkataan itu mempertanyakan maksud dari ucapan mereka berdua. Sambil tersenyum Sir Jean menjelaskan pada Eros.. Menjelaskan tentang sandiwara yang baru saja mereka lakukan untuk melihat kemampuan pria bermata merah, pria yang diceritakan kepada mereka melalui catatan kuno.. Ramalan tentang munculnya kesatria terkuat yang akan menjadi kiblat perdamaian Neverland.
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
-Bersambung-
__ADS_1