
"Aku akan membunuhmu!" Woli menatap Grobogan dengan tatapan tajam, seperti tatapan hewan liar yang siap menerkam mangsanya. Entah mengapa, tubuh Woli bertambah kekar dan aura yang ia keluarkan semakin pekat, itu adalah reaksi dari apa yang ia lihat saat ini.
"Hehhhh.. Pergi kau? Penjaga? Ada penyusup di sini!!" Grobogan berteriak sambil mengarahkan tang yang ia gunakan untuk mencabut kuku Irish secara paksa.
Suara Grobogan yang berteriak dengan keras di dengar oleh 2 orang prajurit yang berjaga tepat di depan pintu kamarnya. Sontak saja kedua prajurit yang mendengar teriakan itu masuk ke dalam kamar dan melihat tembok kamar Grobogan yang jebol mengarah ke ruang rahasia dimana Grobogan menyiksa para budaknya.
"Penjaga!! Ada penyusun!!" Suara teriakan Grobogan kembali di respon oleh 2 orang prajurit yang saat ini berada di kamar Grobogan, kedua prajurit itu berlari menuju tembok yang jebol dan melihat sosok Woli yang berdiri dengan gestur hewan buas.
"He-hei.. Siapa kau?" Salah satu prajurit meneriaki Woli.
"Bunuh dia.. Dia penyusun!" Grobogan memerintahkan kedai prajurit itu, tapi nyali kedua prajurit itu ciut seketika kala Woli berbalik melihat mereka dengan tatapan hewan buasnya.
Tanpa ampun Woli melompat dengan gesit ke arah dua prajurit tersebut dan berhasil melayangkan pukulan dan menancapkan cakar ke wajah salah satu prajurit hingga tewas, Woli tidak lagi mengikuti prinsipnya untuk tidak membunuh karena ia sangat marah melihat keadaan Irish saat ini.
Setelah melumpuhkan satu prajurit, Woli mengejar satu prajurit lain yang mencoba kabur karena ketakutan. Prajurit itu juga langsung tewas karena Woli menembus punggungnya dengan cakar tajamnya.
"Heehhh.. Si-siapa kau sialan!! Penjaga!?" Grobogan kembali berteriak tapi tidak ada respon, ia kembali mencoba berteriak tapi suaranya belum sempat terdengar Woli langsung melompat ke arah Grobogan dengan mencakar wajahnya.
"Arrrgggggggghhhhh!! Wajahku!" Grobogan mundur sejenak memegang wajahnya yang penuh dengan darah. "Sialan.. Sakit."
Woli mendekat perlahan, saat sampai di depan Grobogan yang berbaring ketakutan melihat Woli. Satu pukulan keras di layangkan oleh Woli hingga salah satu gigi Grobogan terlepas dan juga mengeluarkan darah dari mulutnya. "Sial.. Sial.. Penjaga!!!" Grobogan yang terlentang mencoba menjauh dan berteriak sekuat tenaga. Tapi Woli meraih lehernya dan membalikkan tubuh Grobogan lalu kembali memukul wajah Grobogan. Satu... Dua.. Hingga tiga kali.
Woli menyerang lagi, ia menyerang seperti hewan yang sedang mencabik-cabik mangsa yang sudah tidak berdaya. Grobogan yang masih dalam keadaan tanpa pakaian terluka parah, badannya penuh dengan darah setelah menjadi bulan-bulanan cakar tajam milik Woli.
"Ahhhh... Sial, sial. Penjaga!" Meski terluka seperti itu tapi siapa sangka jika Grobogan masih bisa bertahan hidup. Mungkin karena luka cakar yang ia terima tidak terlalu dalam karena saking tebalnya lemak tubuh yang ia miliki.
"Aku akan membunuhmu!" Woli mengatakan kalimat itu sekali lagi dengan geram, lalu menendang tubuh bongsor Grobogan dengan keras dari hadapan Irish. Seketika Grobogan menghantam jeruji besi yang ada di sebelah kanan hingga jeruji besi penjara itu bengkok.
"Aarhhhh.." Grobogan kesakitan.
Woli berhenti bereaksi, saat ini dia berada di depan Irish yang masih pingsan dengan kulit pucat dan jari-jari yang mengeluarkan darah. "Irish." Ucap Woli memegang wajah Irish dan menatap penuh iba. Aura pekat yang Woli tampakkan memudar kala melihat wajah Irish. Hanya dengan melihat wajah Irish kesadaran Woli kembali hingga saat bola matanya kembali melebar.
Saat perhatian Woli tertuju pada Irish, Grobogan yang terluka berusaha berdiri. Ia tak bisa menjaga keseimbangan karena tubuh besarnya, hingga ia memegang jeruji besi untuk bangkit. Setelah berhasil berdiri ia melihat kesempatan dan mencoba kabur dari ruangan itu sambil terkatung-katung. "Ihh arrhhh.. Penjaga!!" Grobogan berteriak saat berhasil keluar dari ruangan itu. Ia berlari masih dalam keadaan tanpa busana.
Woli tidak menggubrisnya, perhatiannya saat ini tertuju pada Irish dan ia pun menghancurkan rantai yang mengikat tangan dan kaki Irish di tembok, ia tak peduli lagi dengan pria bongsor mesum. Meski sangat marah tapi tujuannya sudah tercapai saat ini, dengan perlahan ia menyandarkan Irish pada tembok. "Irish!!"
Suara lembut Woli sudah cukup membuat Irish membuka mata. Perlahan tapi pasti penglihatannya membaik dan dengan spontan langsung memeluk begitu tahu jika orang yang ada di depannya saat ini adalah Woli. "Woli....!" Ia kembali menangis.
"Irish.. Tenanglah, kau sudah aman." Ujar Woli, ia mencoba mengangkat Irish dan segera pergi dari tempat ini.
"Aku akan membawamu keluar dari sini!" Woli memegang kedua pundak Irish yang masih lemas.
"Woli... Bagaimana dengan mereka?" Irish menunjuk ke jeruji besi yang ada di sebelah kanan. Terdapat belasan gadis shed yang tergantung di dalam tahanan besi itu dan mereka semua dalam keadaan mengenaskan meski sebagian ada yang masih hidup.
Woli berbalik, ia menunduk. " Jujur saja, aku tidak punya kemampuan menyelamatkan mereka saat ini Irish."
"Woli.. Tolonglah! Selamatkan mereka juga." Irish bersikeras.
Woli berpikir sejenak. "Irish kita tidak punya banyak waktu.." Woli kembali mencoba untuk mengangkat Irish dan segera pergi sebelum terlambat.
Sayangnya Irish bersikeras, ia merasa iba kala melihat gadis-gadis shed itu dan merasa harus menolong mereka semua. Irish menatap Woli, sebuah tatapan yang dapat meluluhkan pendirian seorang pria. Tapi sayang, waktu untuk kabur terbuang percuma karena sikap keras kepala Irish.
Bersamaan dengan hal itu. "Itu dia.. Manusia serigala itulah yang membuat aku seperti ini!" Grobogan yang tadi kabur kembali ke tempat penyiksaan, tapi kali ini dia kembali bersama dengan 2 orang kesatria besar dan beberapa kesatria beserta prajurit kastil yang siap siaga melindunginya.
Hal itu membuat Woli terpojok.
"Apa-apaan ini!" Eros menatap Grobogan kala ia melihat belasan gadis shed tergantung dengan luka serius di dalam jeruji besi, ada rasa kesal yang di rasakan olehnya.
"Kenapa kau menatapku seperti itu kesatria? Aku adalah bangsawan dan mereka semua adalah budak ku, aku bebas melakukan apa saja pada mereka?" Grobogan ngotot, saat ini ai telah mengenakan sebuah jubah yang diberikan oleh para prajuritnya kala ia di temukan terkatung-katung penuh darah saat kabur dari Woli.
"Hei.. Tuan Eros. Lihatlah.. Manusia serigala, bukankah buronan yang kau buru adalah manusia serigala?" Kane melirik Eros yang masih menatap Grobogan dengan tatapan kesal.
Sementara itu, Woli yang terpojok membentangkan tangan untuk melindungi Irish sambil mengeram dengan taringnya. Eros melirik Woli. " Benar.. Itu adalah dia dan... Gadis kelinci? Kakak dari Belle?" Gumam Eros begitu ia melihat gadis kelinci di belakang Woli.
"Manusia serigala itu.. Dia mengganggu waktu bersenang-senang milikku, dia juga hampir membunuhku dan sekarang dia mau mencuri budak ku.. Bunuh dia!!" Grobogan dengan suara lantang memerintahkan prajuritnya.
"Tunggu dulu!" Eros menahan mereka semua. "Tuan Grobogan.. Kenapa kau melakukan hal ini, apa kau tidak punya hati?" Seorang Eros bingung harus berbuat apa, di satu sisi ia terikat janji oleh seorang anak kecil untuk menyelamatkan kakak dari anak itu lalu di sisi lain ia tak bisa berbuat apa-apa dengan hal mengerikan yang ia saksikan di ruangan ini.
"Bodoh!!!! Aku adalah bangsawan!! Mereka adalah budak.. Terserah padaku, aku ingin melakukan apapun pada budak-budak itu terserah padaku!!" Grobogan berteriak dengan arogan.
__ADS_1
"Eros.. Sudah jelas bukan, sepertinya kau sudah tidak punya pilihan lain. Lupakan saja janji mu pada anak kecil itu, lebih baik kau menangkap manusia serigala itu dan menyelesaikan apa yang menjadi tugasmu." Tegas Kane Lancester.
"Ta-tapi.."
"Tuan Eros.. Ingat posisimu sebagai kesatria besar, tangan kanan kesatria agung. Kau harus mementingkan para bangsawan ketimbang rakyat jelata, lagi pula tuan Grobogan tidak melakukan kesalahan apa-apa. Budak.. Memang layak diperlukan sangat rendah!" Kane kembali menegaskan posisi mereka sebagai kesatria, ucapan tegas dan lantang itu membuat Eros sadar akan zirah yang ia kenakan.
Meski berat tapi Eros tidak punya pilihan lain." Belle sepertinya kakakmu sudah tidak punya harapan lagi." Gumamnya dalam hati.
"Kau sudah mengerti bukan? Sekarang aku perintahkan bunuh manusia serigala itu..!" Grobogan berteriak sambil menunjuk Woli yang telah bersiap untuk bertarung habis-habisan.
"Tanpa di suruh pun, aku akan menangkap buronan ini lagi pula dia telah membuat bawahan ku terluka!" Kata Eros mengambil pedangnya.
"Woli.." Irish merasa khawatir saat ini, bagaimana tidak. Mereka hanya berdua sedangkan di hadapan mereka ada belasan prajurit yang siap menyerang.
Woli yang terluka sudah tidak bisa mengeluarkan kemampuan terbaiknya, bahkan ia sendiri sudah tidak yakin bisa keluar dari tempat ini sekarang.
Berada di tempat lain, tepatnya di sebelah kiri tangga ruang tengah. Igena yang mendengar keributan itu, langsung menuju ruangan dimana Inggrid berada. Ia memanfaatkan situasi genting dimana saat ini para kesatria dan prajurit tengah berkumpul di kamar pribadi Grobogan yang ada di sebelah kanan tangga ruang tengah.
Igena ingin memengaruhi Inggrid dengan sihir manipulasi agar Inggrid tidak mengatakan yang sebenarnya pada kesatria saat ia dimintai keterangan terkait surat yang telah ia kirim. Hal yang sudah Igena lakukan selama lebih dari 5 tahun ini.
Dengan wujud manusianya, Igena berjalan cepat sambil menggunakan tongkat. "Sialan.. Kenapa juga aku harus menyamar menjadi manusia keriput seperti ini!" Gumamnya.
Ia melihat ke kiri dan ke kanan kala ia sampai pada satu ruangan untuk memastikan tidak ada orang yang mengikuti dirinya. Saat ia membuka pintu, ia terkejut kala Inggrid melemparkan bantal padanya, sontak ia menangkis dan pada momen itu Inggrid dengan sigap mendorong Igena dan berlari dengan sekuat yang ia bisa. Inggrid tahu betul jika kesempatan ini tidak akan datang 2 kali, kalau sampai fikirannya kembali di pengaruhi oleh Igena maka tidak akan ada lagi kesempatan untuk mengakhiri sandiwara Igena yang selama ini menghancurkan keluarganya.
Igena yang geram lalu menampakkan wujud aslinnya sebagai Luca Crollo lalu menjerat Inggrid dengan sihir yang membuat Inggrid terjatuh, sihir yang membuat semua tubuhnya lumpuh dan membuat ia tak bisa berteriak sama sekali. "Wanita ******! Percuma saja, kau tidak akan bisa lepas dariku. Khikhikhi.. Aku beruntung dengan kekacauan yang terjadi di ruangan Grobogan, berkat itu aku bisa memanipulasi pikiranmu lagi dan mengelabui para kesatria seperti apa yang aku lakukan selama ini." Luca mendekat, ia mengangkat tubuh Inggrid dengan sihir.
Ketika Luca berbalik, entah dari mana datangnya. Richard berdiri sambil melipat kedua tangannya di depan dada. "Ternyata seperti itu wujud mu iblis?"
"Hah! Siapa kau!?" Luca terkejut dan spontan langsung menyerang. "Vim animi." Serangan sihir mengarah tepat ke kepala Richard, dengan tangan kiri ia mementalkan serangan itu. Tanpa Richard sadari tangan kirinya bisa mematahkan serangan sihir yang datang kepadanya.
Sesaat setelah serangan sihir itu dimentalkan, Richard bergerak cepat untuk menyerang balik. "Huh!" Luca terkejut kala hanya satu langkah dan Richard telah berada tepat di depannya.
Dengan mengepalkan tangan kanannya, Richard melayangkan pukulan tepat di wajah Luca. "Semusta ictibus personant." Tinju api yang membuat Luca terpental menghantam tembok dan terlempar jauh kebelakang meruntuhkan tembok-tembok yang menghalanginya.
"Ah.. Sepertinya aku terlalu berlebihan." Ucap Richard. Ia lalu melihat seorang wanita paruh baya yang tersungkur tak berdaya di lantai, sepertinya efek sihir yang membuat Inggrid lumpuh belum hilang. Richard mendekat, ia menunduk dan memegang Inggrid dengan tangan kirinya dan seketika Inggrid bisa bergerak dan berbicara.
"Huhh... Uh huh huh.." Inggrid menghela nafas dengan tergesa-gesa. "Siapa pun kau anak muda.. Terima kasih!" Inggrid menatap Richard.
"Aku.. Aku adalah Istri dari Gorgon Snifooler, penguasa kota Lister yang sah." Tegas Inggrid.
"Hmm.." Richard terlihat kebingungan.
"Aku adalah pemilik kastil ini."
"Ups.., maaf soal kastilnya!" Richard sungkan karena akibat dari pukulan kerasnya, beberapa tembok menjadi bolong dan kastil terlihat berantakan.
Sementara itu, di ruangan pribadi Grobogan yang berada di balik tembok yang runtuh, ruangan rahasia tempat Grobogan menularkan hasrat psikopatnya.
"Cuih.. Rasakan ini.. Rasakan ini.. Dasar brengsek." Grobogan menendang tubuh Woli yang sudah tidak bisa bergerak akibat luka yang ia terima dari pertarungan demi pertarungan seharian ini. Apa lagi setelah menerima serangan berat dari Eros, hanya satu serangan membuat Woli tersungkur tak berdaya.
"Hentikan.. Jangan lukai Woli!" Irish mendekat sambil merangkak dan ia langsung terhempas karena mendapatkan tendangan tepat di kepala dari Grobogan.
Eros yang melihat hal itu hanya bisa tertunduk menahan emosinya. Eros tidak peduli dengan Woli karena ia tahu jika Woli adalah buronan tapi tidak dengan Irish, apa lagi setelah ia mengucapkan janji dan menumbuhkan harapan pada Belle jika Eros akan mempertemukan mereka kembali. Eros tahu jika saat ini dia sudah tidak bisa melakukan hal itu mengingat sifat Grobogan tidak seperti apa yang ia bayangkan.
"Kau dengar itu?" Tanya Kane yang kembali mendengar suara reruntuhan.
"Ya.."
"Apa yang terjadi?" Tanya Kane sekali lagi. "Aku akan melihatnya, tuan Eros tetaplah di sini!" Tegas Kane yang segera berlari menuju kegaduhan. Ia meyakini satu hal, ia yakin jika keributan yang terjadi kali ini adalah tanda dari pesan darurat yang diterima oleh otoritas kerajaan.
"Rasakan ini, rasakan ini!" Grobogan menendang Woli sampai akhir Woli muntah darah tak berdaya.
"Tuan Grobogan.." Eros mendekat.
"Apa? Huuhhhh.. Maaf aku sedang terbawa emosi. Ada apa?" Grobogan yang sejak tadi meluapkan kekesalan menarik nafas dan menenangkan diri, ia tampak berantakan dengan luka di wajah akibat serangan Woli sesaat yang lalu.
"Apakah.. Kau bisa membebaskan gadis kelinci itu?" Sepertinya Eros belum menyerah, ia menunjuk Irish yang duduk memegang kedua lututnya dengan gemetar.
"Huh!!! Apa kau gila?"
__ADS_1
"Tuan tolonglah.." Eros menunduk. "Aku akan mencari budak gadis kelinci lain tapi tolong.. Lepaskan dia, dia bukanlah budak tapi hanya korban penculikan saja." Eros memohon dengan sungguh-sungguh.
"Apa kau bodoh.. Aku tidak peduli latar belakangnya, jika rantai sudah melekat di leher maka secara legal dia sudah menjadi budak.. Lagi pula aku belum selesai bersenang-senang dengannya." Grobogan dengan tatapan mengerikan menatap Irish dengan nafsu yang meluap-luap.
"Tapi tuan, aku.."
"Diam.. Sadarilah posisimu kesatria. Tapi jika kau masih menginginkannya, baiklah!!" Grobogan tersenyum menyeramkan.
"Huh..Tuan?" Eros mengangkat wajahnya kala Grobogan memberi sedikit harapan.
"Aku akan mengabulkan permintaanmu kalau kelinci itu bisa terus tersenyum saat aku menikmati tubuhnya.. Huahahaha.." Grobogan mengatakan itu sambil membayangkan kesenangan dan imajinasi liarnya bisa terwujud. Selama ini, semua gadis shed yang telah ia siksa sering kali menangis dan berteriak kesakitan. Ia belum pernah melihat gadis shed yang di siksa tersenyum dan tertawa.
"Huh...!" Eros tak habis pikir, karena apa yang diminta oleh Grobogan adalah hal yan sangat mustahil.
Kembali ke lorong dimana Richard dan Inggrid berada.
"Jadi begitu.. Aku tidak habis pikir bagaimana para kesatria kerajaan ini bisa diperdaya oleh iblis bernama Luca Crollo itu." Kata Richard begitu mendengar penjelasan singkat Inggrid tentang apa yang sebenarnya terjadi pada keluarganya.
"Huh.. Untung saja kau datang tepat waktu kesatria!"
"Maaf Nyonya.. Tapi aku bukan seorang kesatria." Richard menolak kala Inggrid memujinya, walaupun nyatanya dia adalah kesatria ignis.
"Bukan kah kau bagian dari kesatria yang dikirim oleh kerajaan Inggram untuk merespon surat yang aku kirimkan padamu!" Inggrid salah mengira.
"Bukan.. Aku hanya orang biasa yang kebetulan lewat."
"Lewat! Apa maksudmu?"
"Huh.. Aku ke sini ingin menyelamatkan seorang gadis kelinci dari anakmu.. Jika apa yang kau katakan padaku tentang kekejian anakmu itu benar, mungkin sebaiknya aku bergegas sebelum anakmu membunuh gadis kelinci itu." Richard berdiri, ia berjalan menjauh meninggalkan Inggrid.
"Hei.. Siapa namamu?"
"Red!" Richard mengangkat tangannya, lagi-lagi ia menyembunyikan identitas aslinya sebagai Richard August sang kesatria ignis.
Dan.. Di halaman depan kastil. Terlihat bangunan lantai dua kastil berlubang dan pada taman yang penuh dengan bunga terlihat rusak akibat di hantam dengan keras oleh Luca Crollo yang terlempar cukup keras.
Sontak karena hal itu, para penjaga yang berada di luar kastil mendekat dan tak lama kemudian kesatria besar Kane Lancester juga sampai di tempat itu untuk memastikan sesuatu. Kane terkejut kala melihat seseorang tersungkur di tanah yang telah berlubang. "Tuan Igena!?" Kata Kane.
Sesaat sebelum tempat itu dipenuhi dengan prajurit kesatria yang penasaran, Luca Crollo merubah wujudnya menjadi Igena untuk mengelabui para prajurit dan kesatria. "Aku hampir mati.. Siapa orang itu!" Gumamnya dalam hati.
"Tuan Igena.. Kenapa kau bisa berada di tempat ini?" Kane melihat tembok yang berlubang di lantai 2, ia merasa aneh karena jika Igena terhempas dan terjatuh dengan kecepatan yang bisa membagi tembok maka seharusnya dia sudah mati, tapi Igena yang sudah tua dan renta masih bisa hidup. Kane benar-benar merasa aneh dengan keajaiban yang terjadi.
"Mentem confundunt." Luca Crollo mengeluarkan sihir tanpa sepengetahuan Kane, sebuah sihir yang membaur dengan udara. Ketika sihir itu di hirup oleh manusia maka pikiran manusia tersebut akan bisa di manipulasi oleh Luca Crollo.
Tanpa sadar, Kane dan para prajurit terkena sihir itu. Pikiran aneh dan kecurigaan Kane pada Igena langsung sirna kala pikirannya kini di pengaruhi oleh Igena alias Luca Crollo.
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
__ADS_1
'
-Bersambung-