
Di lepas pantai pelabuhan kota Kander..
Biasanya jika pagi seperti ini, pelabuhan akan ramai dan sibuk dengan bongkar angkut muatan laut dari berbagai wilayah, bisa di bilang pelabuhan ini menjadi tempat penting yang menghubungkan wilayah-wilayah lain di bagian timur pulau cebes.
Selain aktivitas itu, aktivitas lain yang biasa terlihat di pelabuhan adalah bongkar muatan kapal nelayan yang selanjutnya hasil dari kapal nelayan itu akan langsung dilelang di bagian utara pelabuhan, di sana terdapat pasar laut yang menjual aneka makanan laut dan barang-barang hasil laut lainnya.
Setidaknya setiap pagi.. Aktivitas itulah yang akan terlihat di pelabuhan tapi tidak untuk pagi ini.
Tidak ada aktivitas apapun selain aktivitas para kesatria yang lalu lalang membangun sebuah dinding sihir dan pertahanan guna menghalau serangan pasukan iblis yang sejak 2 hari lalu sudah berada 1 km dari bibir pelabuhan.
Hanya saja pasukan iblis itu tidak menyerang sama sekali dan tidak ada pergerakan yang aneh dari para iblis tersebut. Pun di dalam air laut.. Dimana para kesatria atlantian melakukan pengawasan
Dari dalam laut terlihat tidak ada apa-apa, tidak ada serangan kejutan atau pasukan yang bersembunyi. Semuanya nampak normal dan hal itulah yang membuat Depone, selaku komandan pasukan pertahanan kali ini bingung di buatnya.
Saat ini Depone berdiri di tepi pelabuhan sambil menatap kapal musuh yang terus terombang ambing dengan ombak laut.
"Tuan.. Nyonya Alista ingin bertemu dengan anda." Seorang prajurit mendekat ke arah Depone.
"Ada apa?"
"Dia ingin membicarakan kondisi Nyonya Linda dan Tuan Lingard."
Mendengar hal itu, Depone berbalik untuk segera menuju ke tempat Alista seorang penyihir yang menguasai sihir-sihir penyembuhan, bisa di bilang penyihir yang menguasai hal itu adalah dokter di dunia ini.
Berpindah ke tempat lain..
Kota Gouda.. Di depan gerbang kota.
"Tuan Arthur.. Sepertinya kita harus berpisah di sini."
"Iya, tidak masalah. Kami akan melanjutkan perjalanan ini tanpa kalian." Arthur berjabat tangan dengan salah satu kesatria Inggram
Perjalanan para kesatria suci tidak akan lagi dikawal oleh kesatria Inggram, hal ini karena Arthur memutuskan agar para kesatria Inggram tidak perlu repot-repot mengawal karena keadaannya malah para kesatria Inggram lah yang menjadi beban bagi para kesatria suci.
Insiden di sebuah desa membuka mata Arthur jika kali ini mereka memang sudah sangat kuat dan dengan kekuatan mereka saat ini. Mereka benar-benar bisa menjaga diri dan menjadi pahlawan bagi semua orang. Oleh karena itu, Arthur mengatakan pada kesatria Inggram supaya mereka tak perlu mengantar lebih jauh.
"Kalau begitu kami pamit.. Semoga tuan Arthur dan semuanya sampai di ibu kota kerajaan dengan selamat."
Setelah mengatakan itu.. Para kesatria Inggram lalu pergi dengan menggunakan kuda.
"Tuan Arthur.. Kami sudah menyiapkan bekal perjalanan. Jika anda terus berjalan dengan kecepatan biasa maka anda akan sampai di ibu kota kerajaan Celestial dalam waktu 3 hari." Ighalo menjelaskan.
Sementara itu..
Di dalam kota..
"Hadeuh.. Gawat, jangan-jangan mereka sudah meninggalkanku." Kata Smits menggunakan zirah baja miliknya.
Karena kegaduhan semalam, Smits memilih untuk meninggalkan alun-alun kota dan pergi ke sebuah kandang kuda untuk menenangkan diri dan tidur di tumpukan jerami.
Tidurnya sangat nyenyak hingga dia lupa kalau hari ini mereka sudah harus berangkat pagi melanjutkan perjalanan mereka.
Setelah menggunakan zirahnya, ia bergegas keluar dari kandang kuda yang kosong itu menuju bagian depan gerbang kota.
Ia berlari menyusuri jalan kota yang cukup padat, sebuah kota dengan bangunan-bangunan kecil terbuat dari tumpukan batu bata putih dan beberapa masih terbuat dari kayu.
Setiap penduduk yang melihat ia berlari, maka penduduk itu akan menyapa Smits sambil tersenyum.
__ADS_1
"Tuan kesatria suci."
"Selamat pagi tuan."
"Tuan singgah lah untuk sarapan."
"Tuan minum teh dulu."
"Taun."
"Tuan kesatria."
Hal yang membuat Smits terganggu karena setiap orang yang menyapa membuat dia harus pura-pura tersenyum ke arah orang itu agar dianggap ramah. Hal merepotkan ini adalah perintah dari Arthur kepada semua rekan-rekannya.
Tentu hal ini berlawanan dari sifat Smits yang lebih suka bersikap cuek dan tidak terlalu suka terlibat dalam percakapan basa basi dengan orang lain. Bahkan saat ia mencoba untuk senyum pun, wajahnya tampak mengerikan.
Itulah Smits.. Meski memiliki wajah yang tampan dan otak yang encer, ia adalah seorang yang anti sosial.
Saat ia berlari, tak sengaja ia menyenggol seorang wanita yang sedang mengangkat keranjang buah. Karena senggolan itu keranjang buah yang di pegang oleh wanita itu terjatuh dan buah berjatuhan ke jalan.
Smits berhenti.. "Hadeuh.. Kenapa aku malah terlibat hal merepotkan di pagi hari." Benaknya.
Wanita itu tampak ketakutan saat ia menjatuhkan buah-buah segar itu ke jalan yang kotor.
"E.. Nona.. Nona." Smits menyapa wanita muda yang terlihat mematung itu.
"Ahhh.." Wanita itu terkejut saat Smits memegang tangannya.
Smits terkejut melihat wanita muda itu..
Seorang wanita dari ras Shed dengan gen Kelinci, terlihat jelas dari telinga yang menjuntai dan ekor bulat di tulang belakangnya.
Bahkan saat diperhatikan lagi, di sekujur tubuhnya terdapat luka lebam yang masih merah dan tatapan mata wanita kelinci itu, tatapan itu adalah tatapan kosong kesedihan yang amat dalam.
"Maaf tuan.. Maaf.. Maaf.. Maaf. Maafkan aku tidak sengaja menyenggol anda. Maafkan aku." Wanita kelinci itu bereaksi berlebihan saat Smits mendekati dirinya, wajahnya terlihat sangat ketakutan padahal bukan wanita itu yang menyenggol tapi Smits lah yang menyenggolnya hingga buah-buah terjatuh dari keranjang yang ia pegang.
"Ehh.. Ada dengan wanita cantik ini." Benak Smits.
"ERICA!! Apa yang kau lakukan pada tuan kesatria suci?"
Mendengar suara teriakan wanita lain dari arah belakang, wanita kelinci itu semakin ketakutan terlebih saat mengetahui bahwa yang ia tabrak adalah seorang kesatria suci.
Spontan karena hal itu.. Wanita kelinci yang bernama Erica malah bersujud di bawah kaki Smits sambil terus meminta maaf.
"Eh.. Nona.. Nona.. Ayolah. Jangan seperti itu. Aku lah yang salah karena tak sengaja menyenggolmu." Smits tunduk mencoba mengangkat tubuh Erica yang bersujud minta maaf padanya.
Tak lama, wanita yang meneriaki Erica berada di depan Smits. Tak tanggung-tanggung wanita itu malah menarik telinga kelinci Erica dengan keras.
"Ahh.. Sakit. Maafkan aku." Erica memegang tangan wanita yang saat ini menarik kedua telinga panjangnya.
"Apa yang kau lakukan dasar budak tidak berguna..!!" Wanita itu marah besar.
"Eh Nyonya.. Dia tid." Belum selesai Smits berbicara, wanita itu malah menampar-nampar Erica hingga hidungnya berdarah.
Smits terkejut, tiba-tiba tatapannya menjadi dingin.. Ia meraih tombak di punggungnya.. Ia melepaskan aura amarah..
Entah kenapa.. Darah Smits mendidih melihat seorang wanita yang penuh luka itu, terus di tampar oleh wanita lain. Ia tak terima, hatinya kacau.. Akalnya tertutup. Saat ini ia marah.. Benar-benar marah.
__ADS_1
Tanpa sadar Smits meraih tombak yang ada di belakang punggungnya, tiba-tiba..
"Apa yang kau lakukan?" Leo muncul dan memegang tangan Smits.
Sementara itu, wanita yang berada di depan Smits masih terus menampar wajah Erica yang sudah penuh dengan luka lebam.
"Kau sudah membuang buah dagangan ku kotor dan kau juga sudah menyusahkan para kesatria suci.. Dasar budak tidak berguna."
"Nyonya.. Heh.. Heh. Heh." Arthur mendekat, ia nampak sesak karena berlari.
"Tuan kesatria suci.. Maafkan budak ku.. Aku akan menghukumnya saat aku pulang nanti." Wanita itu menunduk, masih memegang kedua telinga kelinci Erica.
Sementara Smits.. Melihat hal keji itu amarahnya terus naik. Ia masih mencoba meraih tombaknya, benaknya saat ini adalah.. Ingin membunuh wanita itu. Tapi Leo yang muncul dengan cepat menghentikan gerakan Smits.
"Tidak, tidak.. Tidak papa. Hahaha." Arthur membalas permintaan maaf wanita itu.
"Maaf tuan maaf.. Budak ini benar-benar bodoh."
Sampai akhirnya percakapan Arthur dan wanita itu berakhir. Wanita itu pergi sambil menyeret Erica dengan menarik telinga kelincinya.
"Maafkan aku nyonya. Maaf..." Erica meronta kesakitan.
Leo melepaskan tangan Smits.
"Apa yang kau pikirkan dasar bodoh! Biasanya kaulah yang paling bijak dan logis dalam mengambil keputusan.. Sekarang kau malah ingin membunuh wanita itu." Kata Leo saat melepas tangan Smits.
"Sudah.. Sudah.. Tapi Smits, jika kami tidak datang dan menghentikan mu. Apa kau benar-benar akan membunuhnya?" Tanya Arthur.
"Sudahlah.. Dari tatapan matamu sudah terjawab. Kau benar-benar akan membunuhnya." Arthur menjawab sendiri pertanyaannya saat melihat tatapan serius dari Smits.
'
'
'
'
'
'
'
'
'
-Bersambung-
----------------—------------------------------------------
Supaya author semakin semangat untuk meneruskan cerita ini, saya harap para pembaca sekalian meninggalkan jejak ketika selesai membaca. Like, komen jika berkenan untuk memberikan vote maka author akan sangat berterima kasih!!
Jejak yang pembaca tinggalkan tentu akan menjadi penyemangat untuk author agar terus melanjutkan cerita ini.
Terima kasih.
__ADS_1
Visual look kesatria berziarah yang ada dalam cerita!