
"Hooaammm." Leo menguap sambil merengganggkan badanya.
Sementara itu, di luar tenda terlihat Gildarts sedang membereskan peralatan tenda mereka.
Richard dan beberapa kesatria yang mengawal mereka sedang duduk di depan perapian, sedang menyantap bubur gandum sebagai sarapan mereka pagi ini.
Pagi ini cukup cerah, matahari sudah mulai meninggi disertai dengan kicauan burung yang terdengar menjadi pengganti suara ayam berkokok di pagi cerah ini.
Berada tak jauh dari tempat mereka berkemah, di suatu sungai. Ivy dan Diana sedang berdiri di tepi sungai tersebut sambil mengisi botol mereka dengan air sebagai bekal untuk melanjutkan perjalanan menuju kerajaan Celestial.
"Ivy.. Apa kau masih memikirkannya?"
"Hm..!?" Ivy berbalik ke arah Diana. Ivy tidak mengerti apa maksud dari pertanyaan itu.
"Sudahlah Ivy, jangan menyiksa dirimu sendiri."
"Ap-apa maksudmu!?" Ivy tersenyum canggung.
"Aku melihatmu semalam, dari wajahmu saja sudah tergambar jelas. Kau masih memikirkan Richard bukan?" Diana bertanya sambil membungkuk mengisi beberapa botol air.
Ivy yang mendengar hal itu tertunduk dan cemberut.
"Ak-aku, ti-."
"Aku juga masih memikirkan hal itu.." Smits tiba-tiba muncul dari arah semak belukar dan mendekati mereka berdua.
Mereka berdua terkejut dan menengok ke arah Smits.
"Eh, Smits!!" Kata Ivy.
__ADS_1
"Aku juga masih memikirkan itu.. Iya, andai saja waktu itu kita sekuat sekarang mungkin Richard tidak akan mati."
Ivy menatap Smits dengan wajah serius.
"Rever Block.. Kata Tuan Eros. Iblis itu bukanlah iblis biasa. Dia adalah salah satu dari pemegang gelar 6 dosa besar klan Iblis, iblis dengan gelar itu mempunyai kekuatan luar biasa.. Oleh sebab itu.. Ivy, kau tidak usah menyalahkan dirimu. Kita semua saat itu memang masih lemah.." Smits mendekat ke arah Ivy.
"Yoshh.. Sebaiknya kita kembali." Kata Diana merusak suasana.
"Hadehh.. Kau memang tak tau situasi." Smits mengeluh melihat Diana yang langsung menarik Ivy pergi menjauh dari hadapan Smits.
Ivy yang melihat itu langsung tersenyum manis.
Bergeser ke dalam labirin yang berada di wilayah kerajaan Inggram.
Di depan gubuk tulang beratapkan kulit monster. Richard terlihat sedang melakukan sesuatu, ia sedang menjahit sebuah jubah dari kulit monster yang telah ia bunuh.. Ia menjahit hanya dengan menggunakan satu tangannya saja.
Meski ia hanya asal dalam menjahit tapi seridaknya ia bisa membuat pakaian layak pakai. Bahkan pakaian yang ia kenakan saat ini terbuat dari gabungan kulit-kulit monster yang sudah ia bunuh.
Ia menggunakan tulang sebagai jarum dan urat nadi monster sebagai benang.. Maka jadilah pakaian kulit monster yang membuat tampilan Richard tampak konyol.
"Aku harus meninggalkan tempat ini!" Gumamnya.
Richard tak tau sudah berapa lama ia terjebak di dalam labirin ini. Apa lagi ia sudah tidak bisa lagi keluar dengan naik ke lantai teratas hingga ia bisa keluar karena jalan satu-satunya telah tertimbun reruntuhan tanah.
Satu-satunya harapan Richard saat ini adalah menuju ke dasar labirin dan berharap di dasar labirin tersebut ada jalan lain untuk keluar dari sini. Meski kendalanya adalah Richard tidak tau pasti seberapa jauh ia harus turun untuk mencapai lantai dasar dari labirin gelap ini.
Setelah ia menyelesaikan jahitan amburadulnya.. Ia mengenakan jubah itu.. Terlihat seperti hodie yang memiliki tudung menutup kepala. Tapi tetap saja, karena terlalu ketat maka hal itu membuat dia sulit bernafas.
"Ah sial.. Seharusnya waktu sekolah aku mengikuti ekskul menjahit." Katanya sambil membanting jubah itu.
__ADS_1
"Celana ini saja sudah membuat selengkanganku terasa sakit." Ia masih mengeluh.
Ia berdiri dan masuk ke dalam gubuk tulang yang ada di belakangnya. Tak lama ia keluar, terlihat ia menggunakan ransel yang juga terbuat dari kulit.. Tidak usah ditanya bentuk ranselnya seperti apa.. Yang pasti di luar ekspektasi.
Kemudian Richard mendekati genangan air.. Ia berjalan sampai ke tengah hingga genangan air menutupi kedua betisnya.
Richard melirik ke atas.. Ia melihat kristal blue eye yang tertancap di langit-langit. Dengan tangan kanannya ia mengeluarkan pisau dari sarung pisaunya yang berada di pinggang kirinya.
Dengan kekuatan dan kecepatan serta dorongan api.. Ia melempar pisau itu hingga meledek dan membuat kristal blue eye tersebut terjatuh ke bawah genangan air.
Richard mendekat.. Ia mengambil pisaunya dan juga mengambil kristal blue eye yang besarnya seperti kepalan tangan orang dewasa itu. Cahaya kristal itu membuat silau..
"Aku akan membutuhkan kristal ini.. Jangan sampai aku terluka." Ucapnya sambil memegang kristal tersebut.
Ia lalu memasukkan kristal itu ke ransel kulit yang telah ia buat. Richard berbalik menuju ke arah berlawanan.. Ia diam sejenak melihat gubuk tulangnya." Selamat tinggal!!" Ucapnya.
Ia pun keluar dari ruangan itu dan menuju ke jalan yang mengarah ke bawah.. Menuju bagian yang lebih dalam lagi dari perut labirin.
Satu hal yang tidak Richard ketahui.. Bahwa semakin dalam ia masuk maka semakin kuat pula monster yang menantinya.
'
'
'
'
'
__ADS_1
'
-Bersambung-