
Pemakaman telah selesai, kini Parthe la Angele telah menyelesaikan tugasnya sebagai penyihir yang mewarisi mantra dari dewi Marlin, mantra akan kembali mencari inang baru jika semua kesatria suci mati, sekaligus akan kembali melemahkan portal dimensi yang membuat klan iblis leluasa berkeliaran di daratan ini.
Oana masih berdiri menatap nisan tepat dimana Parthe dimakamkan. Air matanya terus mengalir, begitu banyak kenangan yang telah dia lewati bersama Parthe selama ini. Oana sudah bersama Parthe sejak dia masih kecil sampai sekarang di umurnya yang ke 21 tahun.
Sebelum mendapatkan mantra dan menjadi penyihir suci, kekuatan dan keahlian Parthe sebagai penyihir sudah diakui apa lagi dia memang termasuk salah satu anggota konsulat sihir lockdown. Terlebih saat dirinya di daulat menjadi penyihir suci dan mendapatkan mantra, maka artinya saat itu dia telah menjadi penyihir terkuat yang pernah ada di daratan Neverland.
Kini Parthe telah tiada tapi tekad dan bakatnya telah ia wariskan pada murid yang sudah dia anggap sebagai anaknya sendiri. Dialah Oana, penyihir muda berbakat yang dibimbing oleh Parthe dan telah mendapatkan berbagai pengetahuan sihir dari Parthe. Saat ini tujuan Oana hanya satu, memenuhi permintaan terakhir Parthe yaitu bertemu dengan kesatria suci ignis.
Oana sendiri tidak yakin akan hal itu tapi dia akan mencoba, bagaimanapun itu adalah permintaan yang harus dia penuhi meski harus memakan waktu bertahan-tahun lamanya. Tekadnya sudah kuat, dia harus bertemu dengan Richard bagaimanapun caranya.
Oana berbalik, ia berjalan menjauh dari makam guru sekaligus sosok Ibu untuknya. Ia akan kembali ke istana untuk mengemas barang-barangnya laku kemudian pergi memenuhi janjinya kepada Parthe. Meski telat mendapat tawaran dari raja William untuk menjadi penyihir kerajaan tapi dia menolak, saat ini tujuannya adalah kerajaan Inggram.
Sementara itu, para kesatria suci yang telah selesai memberikan penghormatan kepada Parthe kini mulai melanjutkan perjalanan. Mereka semua telah menerima perintah dari raja William untuk berkenalan dan mencari kekuatan sejati dari diri mereka masing-masing, hingga mereka layak untuk menantang raja iblis. Kekuatan itu akan muncul seiring dengan pengalaman dan pengetahuan yang mereka dapatkan dalam bertarung dan berkelana.
Persis seperti apa yang dilakukan Iuron, kesatria suci pendahulu mereka yang menempuh perjalanan untuk menemukan kekuatan sejati dan menjadi lebih kuat, menjadi lebih kuat hingga mereka mampu mencapai puncak tertinggi dari kekuatan mereka.
Mencapai puncak tertinggi hanya bisa diraih dengan melakukan perjalanan ini. Tidak bisa di raih secara instan begitu saja, mereka harus bertarung dan mengasah kemampuan mereka, mereka harus memiliki pengalaman bertarung dan berada dalam situasi terdesak agar kekuatan sejati itu muncul.. Sama seperti apa yang dilakukan oleh Iuron dan para kesatria pendahulu mereka.
Kini mereka telah keluar dari Ibu kota kerajaan dan berjalan menuju arah timur. Di tengah jalan mereka menemukan jalan bercabang yang mengarah ke selatan dan utara. Di sini mereka akan berpisah dan membagi diri menjadi dua kelompok atas rekomendasi dari raja William.
"Sepertinya sampai di sini kebersamaan kita." Arthur menatap semua rekan-rekannya.
"Apakita memang harus berpisah? " Rebecca terlihat murung, dia tidak ingin berpisah dengan salah satu dari mereka.
"Tenang saja Rebecca.. Kita akan bertemu lagi.. Titik pertemuan kita adalah wilayah timur, tapi sebelum itu kita harus membagi diri terlebih dahulu." Gildarts mencoba menenangkan Rebecca.
Mereka semua sudah paham dengan hal ini, hanya saja bagi Rebecca cukup berat jika harus tercerai berai saat mereka sudah sangat dekat.
"Baiklah teman-teman.. Seperti yang sudah kita bahas sebelumnya. Aku, Diana, Rinto dan juga Leo akan berjalan menuju Utara sedangkan Smits, Ivy, Rebecca, Gildarts dan juga Pege akan berjalan menuju selatan." Arthur terlihat sangat bersemangat dengan petualangan yang akan menanti mereka.
"Smits.. Kau akan memimpin mereka. Aku yakin kau bisa menjadi pemimpin yang baik bagi mereka." Ujar Arthur.
"Hadehh merepotkan saja. Baiklah, mau bagaimana lagi." Seperti biasa, Smits yang terlihat malas kini menjadi pemimpin dari kelompok yang akan berjalan menuju selatan.
"Yossshhh.. Ayo kita berangkat!!" Ujar Arthur.
Setelah mereka saling berpamitan satu sama lain, kedua kelompok kesatria suci itu perlahan saling menjauh. Kini mereka akan di tuntun oleh takdir yang akan mempertemukan mereka nanti di wilayah timur, wilayah yang saat ini sedang dalam bahaya.. Wilayah timur adalah tempat dimana kerajaan Nusantara berada. Kerajaan yang terancam oleh invasi klan Iblis, tapi sayangnya para kesatria suci tidak mengetahui hal itu.. Tidak ada yang tahu akan hal itu bahkan para raja pendiri konferensi meja bundar sekalipun.
Jika para kesatria suci sudah bergerak melanjutkan petualangan mereka, maka berbeda lagi dengan kesatria suci yang telah dianggap mati oleh rekan-rekannya.
Richard.. Kesatria suci bergelar ignis yang telah tertidur selama beberapa hari tiba-tiba saja membuka mata dan terbangun. Ia bangkit dengan tiba-tiba karena terkejut akan satu hal. "Huh huh.. Dimana ini?" Ucapan pertama yang ia ucapkan saat bangkit dari ranjang yang ia tempati saat ini.
__ADS_1
Nafasnya yang tidak teratur membuat jantung Richard berdetak cepat, ia terheran karena berada di suatu ruangan aneh dengan ornamen yang belum pernah dia lihat sebelumnya. Bahkan yang paling aneh saat ini dia berada di atas ranjang empuk dengan selimut serta pakaian bersih yang ia kenakan.
"Apa yang terjadi!?" Richard mulai berpikir jernih, ia kembali mengingat kembali kejadian yang terjadi sebelum ia berada di ruangan ini.
Setelah berapa saat, ia teringat kembali dengan iblis bernama Darkger yang ia lawan di sebuah ruangan besa penuh dengan rumput hijau dan pilar raksasa yang menjelang tinggi sejauh 20 meter di atas tanah.
"Bagaimana aku bisa berada di tempat ini?" Richard masih bingung.
Di tengah kebingungan dia bergerak dari ranjang dan keluar turun sambil membuka selimut lembut yang menyelimuti dirinya saat ia sedang tertidur. Ia berjalan mendekati pintu yang ada di sebelah kanan ranjang empuk itu.
Saat ini, luka di tubuhnya telah sembuh dan pakaian yang ia kenakan terlihat seperti piyama yang dikenakan oleh bangsawan di abad pertengahan. Saat ia berada tepat di depan pintu, ia membuka pintu itu perlahan. Suara gesekan pintu terdengar saat ia mulai membuka pintu, lalu saat ia sudah berada di bagian lain dari ruangan itu.. Richard terdiam, ia takjub dengan ala yang ia lihat.
Sebuah ruangan yang dilapisi dengan emas membuat matanya silau akibat terkena cahaya pantulan dari emas yang memenuhi ruangan itu. Richard berbalik lagi ke tempat dimana ia tertidur dan baru sadar jika kerangka ranjang yang ia tempati itu juga terbuat dari emas yang mengkilap.
Richard berjalan keluar, ia melihat sebuah tiang penyangga ruangan yang terbuat dari emas. Melihat berbagai patung yang terbuat dari emas, lalu ia sadar jika saat ini dia berada di lantai atas karena ia melihatku sebuah tangga yang mengarah ke bawah.
Begitu dia turun, tidak ada suara langkah yang terdengar dari anak tangga yang dia injak saking bersih dan licinnya. Itu adalah tangga yang juga terbuat dari emas yang mengkilap, bukan tangga yang terbuat dari kayu yang jika di injak akan menghasilkan bunyi decitan. Meski penuh dengan emas, tapi beberapa dari ruangan juga masih terbuat dari semen dan kayu, tidak semua ruangan itu dipenuhi dengan emas.
Richard tiba dibawah, ia kembali takjub karena melihat sebuah ruangan yang penuh dengan rak-rak buku. Dari tempat dia berdiri sekarang hingga kemanapun matanya melihat, ia hanya bisa melihat tumpukan buku-buku tua yang sangat terawat dan tidak berdebu sama sekali. Meski tak menyentuh tapi Richard yakin hanya dengan melihat buku-buku itu. Begitu terawat, rasanya seperti melihat sebuah buku baru yang belum pernah dibaca oleh siapa pun.
Di tengah ruangan itu, terdapat kursi yang melingkar dan sebuah meja di tengahnya. Richard berjalan ke samping, ia memegang beberapa buka yang tersusun rapi di rak-rak buku itu, dia juga beberapa kali membuka buku yang menarik perhatiannya dan kembali menyimpan buku itu dengan layak.
Ini adalah ruangan yang terlihat seperti perpustakaan penuh dengan buku dan juga ornamen serta interior yang terbuat dari emas. Di atas langit ruangan itu, terdapat sebuah lampu yang bersinar. Setidaknya Richard mengenal cahaya itu adalah cahaya lampu tapi sebenarnya itu adalah item sihir yang bersinar dengan imperium cahaya. Item itulah yang membuat ruangan ini sangat terang, bahkan saking terangnya Richard bisa melihat apapun yang ada di ruangan ini tanpa adanya bayangan.
"Kau sudah sadar rupanya.." Seseorang menegur Richard.
"Siapa itu?" Richard terkejut, tentu saja karena ia merasakan sebuah aura aneh yang terpancar dari sosok yang menegur dirinya.
"Tenanglah ignis, aku tidak ada niat untuk bertarung denganmu." Kata Sosok yang mendekat ke arah Richard dari arah kirinya.
Sosok itu keluar dari ruangan yang ada di belakangnya, Sosok aneh itu berkulit hitam pekat dengan mata yang menyala seperti lampu senter, tubuhnya masih menyerupai manusia, memiliki kaki dan lengan. Sosok itu memakai pakaian kuno yang juga terbuat dari serat emas yang di jahit menjadi kain.
Sosok itu memiliki gigi putih yang terlihat jelas ketika dia berbicara karenanya kulit wajah hingga tubuhnya semua berwarna hitam pekat. Ia juga memiliki rambut putih yang bercahaya terurai dari kepala hingga punggungnya.
Meski mempunyai kaki tapi kakinya tak menyentuh lantai sama sekali. Ia melayang lalu mendekat ke arah Richard.
"Kau.. Aku mengenalmu!" Kata Richard yang tak lagi waspada. Richard tentu tahu bahwa sosok yang saat ini mendekati dirinya tidak ada niatan untuk menyerang sama sekali.
"Tentu kau mengenalku.. Aku lah yang menuntun dirimu ke tempat ini." Ujar Sosok itu, ia masih melayang meski telah berada di depannya Richard.
"Suaramu.. Ya aku ingat.. Suaramu lah yang selama ini terngiang di kepalaku." Richard kembali mengingat saat dia sedang sekarat, ketika tangan kirinya dimakan oleh Cyclops. Suara yang ia dengar waktu itu ternyata aalah suara dari sosok yang saat ini ada di depannya.
__ADS_1
"Dimana ini? Dan siapa kau?" Richard mengerutkan dahi, wajahnya kini penuh dengan pertanyaan.
"Tenanglah ignis, aku akan memperkenalkan diriku padamu... Aku adalah tuan rumah di sini, akulah yang menciptakan labirin ini, sekarang kau telah berada di bagian paling bawah dalam labirin.. Dan akulah yang membawamu masuk ke dalam rumahku saat kau telah membunuh Darkger iblis tua yang telah lama ingin menangkap ku." Jelas Sosok itu.
"Apa? Pemilik labirin? Lantai dasar?.. Siapa kau sebenarnya?" Pandangan Richard tak berubah, ia masih belum mengerti dengan apa yang dikatakan sosok yang ada di depannya saat ini.
"Namaku adalah Ifrit, aku adalah bagian dari pasukan elit raja iblis dengan gelar 4 pilar neraka.."
"Kau.. Iblis?" Tanya Richard ketika mendengar raja iblis.
"Bukan, aku berasal dari ras Jin. Salah satu ras yang hidup di daratan Darksideland." Tegas Ifrit, 4 pilar neraka, sebuah gelar yang berada di atas level 6 dosa besar.
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
__ADS_1
-Bersambung-