
Runtuhnya istana kerajaan Nusantara membuat semua penduduk kota panik, tidak ada kesatria atau prajurit. Semuanya telah dibantai oleh Samhong dan T'roy, apa lagi tidak ada kesatria atau prajurit yang mempuni. Blunder yang dilakukan oleh para petinggi kerajaan membuat istana kerajaan hancur hanya dalam waktu satu jam dan yang lebih mencengangkan adalah kehancuran yang terjadi hanya disebabkan oleh satu ekor iblis bernama Lucifer.
Saat ini..
Bertempat di kastil sihir, wilayah paling belakang kompleks istana kerajaan.
Wira masih bersandar, ia lalu mencoba kembali bangkit sambil berpegang pada pohon. Ia harus memaksa tubuhnya untuk bangkit karena ia tahu bahwa posisinya saat ini belumlah aman.
Sesaat setalah Wira berada di tempat ini, langit yang awalnya cerah dengan sinar matahari mulai nampak gelap seiring dengan datangnya awan hitam dan gemuruh petir yang terdengar dan menyambar beberapa kali. Lalu.. Tak lama setalah itu, langit yang telah di penuhi awan hitam seutuhnya mulai mengeluarkan air hujan.. Perlahan namun pasti air hujan semakin deras dan semakin deras.
Hujan deras turun membasahi Wira, juga membasahi Ibu kota kerajaan. Genangan air hujan yang memenuhi sekitar istana kerajaan tampak berwarna merah, itu karena air yang tergenang bercampur dengan darah dari jasad yang berserakan di sekitar istana dan di dalam istana tentunya. Hanya dalam waktu singkat, genangan air yang tercipta juga membuat beberapa jasad tenggelam.
Hujan deras dan gemuruh petir seakan menjadi tanda jika kerajaan Nusantara telah runtuh.
"Aku harus pergi dari sini!" Wira berhasil bangkit, ia menggendong Gayatri di punggungnya sambil menyeret Ihsan yang belum sadarkan diri.
"Maafkan aku tuan.. Aku tidak punya pilihan lain selain menyeret anda seperti ini." Katanya sambil terus menyeret Ihsan di tengah derasnya hujan.
Masih belum bergerak terlalu jauh, ia terjatuh karena terpeleset, Gayatri yang ia gendong juga terjatuh ke tanah yang penuh dengan genangan air.
"Sial.. Aku, aku tidak bisa." Wira yang wajahnya telah pucat mencoba memukul tanah karena tak sanggup lagi untuk bangkit.
Sementara itu, di dalam istana.
"Kau mau bawa kemana wanita itu?" Lucifer melihat Rever menggendong Linda yang tengah sekarat.
"Wanita ini akan sangat berguna dengan sihir ruang yang ia kuasai. Dengan sihirnya kita bisa membuka lebih banyak portal dan tidak lagi bergantung dengan raja Iblis.. Raja Iblis memang sangat kuat tapi membuka portal terus menerus untuk kita pasukannya akan sangat membebani dirinya. Oleh karena itu, wanita ini akan menggantikan peran raja iblis."Jelas Rever.
"Aku benci mengakuinya tapi kau benar juga." Sahut Lucifer yang mengangkat tubuh raja Jolang.
Di depan mereka terbuka sebuah portal.. Rever akan masuk ke dalam portal dan menuju ke tempat dimana Leviathan Serphen berada, lalu Lucifer akan memulihkan dirinya dan kembali ke Darksideland. Rencana mereka telah berhasil, kini istana kerajaan yang merupakan simbol sebuah kerajaan telah berhasil mereka runtuhkan. Sisanya adalah pasukan besar yang ada di bagian timur pulau Cebes, pasukan yang dipimpin oleh Rein Wijaya.
Tapi tidak ada lagi yang tersisa...
Bukan hanya istana kerajaan yang hancur, pasukan yang dipimpin oleh Rein Wijaya juga telah musnah. Tampak jelas dari tumpukan jasad-jasad para prajurit dan kesatria yang tertumpuk di lembah pertempuran yang berada 3 km dari gerbang kota Kander yang sudah hancur.
Hanya ada jasad, bau darah serta tenda yang telah porak-poranda. Sementara pasukan iblis yang berhasil mengalahkan dan membantai pasukan Rein Wijaya melanjutkan invasi mereka menuju seluruh kota dan pemukiman yang ada di pulau Cebes. Pasukan itu dipimpin langsung oleh Leviathan Serphen.
Pertarungan yang terjadi antara Rein, Siska dan Tomo melawan Leviathan Serphen berlangsung epic tapi mereka bertiga tidak punya kesempatan untuk menang melawan monster raksasa itu. Kekalahan mereka bertiga sekaligus memupuskan harapan pasukan yang berperang dibawahnya, merusak formasi hingga membuat pertahanan mereka berhasil ditembus oleh pasukan Astharot.
Sama halnya di wilayah Ibu kota kerajaan, saat ini.. Tepat di atas tumpukan-tumpukan mayat prajurit dan kesatria itu. Langit tengah berduka dengan menurunkan air sebagai tanda kesedihan langit atas kekalahan mereka.
Dengan dimusnahkannya pasukan Rein Wijaya oleh sosok yang mereka anggap raja iblis, maka tidak ada lagi harapan untuk mempertahankan kerajaan. Tinggal menunggu waktu saja sebelum seluruh pasukan iblis berhasil menguasai seluruh pulau dan wilayah kerajaan Nusantara.
Kembali ke tempat dimana Wira berada.. Masih ditengah derasnya guyuran hujan.
"Terima kasih, kau sangat membantu." Ucap Wira yang menggendong Gayatri di punggungnya.
"Iya, maaf aku tidak bisa berbuat banyak." Balas seseorang yang menggendong Ihsan di punggungnya.
Mereka berdua berjalan di bawah derasnya hujan menuju ke arah kastil sihir. Tak lama mereka sampai dan masuk ke dalam kastil sihir. Kastil itu masih utuh, hanya ada sedikit bangunan yang runtuh akibat pertarungan Mbah Raka dengan Linda sebelum ledakan terjadi.
"Kau.. Kau tidak papa?"
__ADS_1
"Iya aku tidak papa." Wira sempat oleng karena ia sudah sangat kelelahan.
"Kau tidak sedang baik-baik saja, lihatlah wajahmu pucat. Sebaiknya kita istirahat!" Orang itu menurunkan Ihsan, pun dengan Wira yang menurunkan Gayatri.
Wira bersandar di tembok, ia memejamkan mata sejenak.
"Aku akan keluar.."
"Kau mau kemana?" Wira melihat orang itu.
"Aku akan menghapus jejak kaki kita, aku pikir sebentar lagi akan ada yang menyusul jadi sebaiknya kita menghilangkan jejak yang mengarah ke dalam kastil ini." Ucapnya.
Setalah itu, ia keluar dan kembali terkena hujan deras saat ia keluar dari dalam kastil. Ia menyusuri kembali jejak kaki yang masih membekas dan dengan imperium tanah, ia membuat jejak kaki itu seolah-oleh berjalan ke arah berlawanan.
Tapi.. Saat ia melakukan itu. T'roy yang diperintahkan oleh Lucifer untuk mencari keberadaan Ihsan muncul tepat di hadapannya.
"Kau!!"
"Huh.." Spontan orang itu mengeluarkan pedangnya.
"Rupanya kau masih bisa mengangkat pedang, setelah apa yang kau lakukan pada kerajaan ini?" T'roy mengintimidasi.
"Diam.. Diam kau.. Aku akan membunuhmu!"
"Terima kasih, karena dirimu lah kami bisa masuk ke ibu kota dan menghancurkan istana serta membunuh para bangsawan negeri ini."
"Diam.." Wanita itu langsung menyerang.
Pertarungan terjadi di tengah derasnya hujan. Wanita yang tersulut emosinya itu karena intimidasi T'roy adalah Suica.
Suica sadar hal itu adalah kesalahannya, ia bangkit dari keterpurukan begitu ia tahu jika putri kerajaan masih hidup dan saat ini dia akan melakukan apapun untuk membantu putri kerajaan Gayatri kabur dari kerajaan iblis yang ingin membunuhnya.
Ia tahu jika Gayatri adalah putri raja saat ia tak sengaja mendengar Wira yang mengeram kesakitan akibat luka yang dideritanya. Ia berbicara dengan Wira dan yang langsung mengerti situasinya dan Suica memutuskan untuk membantu Wira melarikan diri. Ia melakukan itu sebagai wujud penyesalannya karena telah membuat kerajaan ini hancur walau sebenarnya ia tidak melakukan itu secara sengaja.
Setidaknya hal kecil ini yang bisa ia lakukan sekarang untuk membalas kesalahannya walaupun tidak sepadan dengan apa yang telah terjadi.
Suara hentakan pedang dan tombak terdengar di tengah suara derasnya hujan. Beruntung Suica berhasil menghapus jejak langkah dan jejak darah yang mengarah ke dalam kastil lahir sebelum T'roy menyadarinya. Bahkan saat ini Suica bertarung sambil mendesak T'roy menjauh dari kastil sihir tempat dimana Wira, Gayatri dan Ihsan sedang bersembunyi.
Di tempat lain..
Di dalam sebuah perpustakaan bawah tanah yang jauh dari permukaan tanah. Tepatnya di kastil Ifrit, dasar terbawah labirin misterius yang tidak pernah dijelajahi oleh orang selain Richard.
"Kau suka membaca rupanya?"
"Ya.. Itu cukup bagus untuk meningkatkan pengetahuan dan membuang-buang waktu." Sahut Richard menjawab pertanyaan Ifrit.
Saat ini kondisi Richard sudah tidak berantakan seperti sebelumnya, ia telah memotong janggut dan kumisnya yang telah memanjang. Ia juga telah merapikan rambutnya meski rambutnya masih agak panjang hingga bahunya.
"Tidak kah, sebaiknya kau keluar ke permukaan? Aku tidak pernah tahu apa yang terjadi di atas sana tapi sepertinya situasi menjadi lebih buruk." Ifrit menengok ke atas, ia sedang membayangkan situasi yang terjadi di permukaan.
"Aku sudah bilang bukan, aku tidak peduli. Lagi pula mengalahkan pasukan iblis adalah tugas kesatria suci sialan itu!" Umpatnya.
"Ya.. Dan kau adalah kesatria suci ignis!" Ifrit menunjuk Richard yang masih sibuk dengan buku yang ia baca.
__ADS_1
Richard melirik. "Tidak, Ignis sudah mati 9 bulan yang lalu.. Ignis mati karena terjatuh ke lantai bawah labirin ini."
"Tapi kau masih hidup.. Kau bahkan telah berkembang jauh dari para kesatria suci yang lain."
"Aku bukan ignis, aku hanya orang biasa yang bernama Richard. Aku hanya peduli tentang penduduk langit saat ini.. Aku akan mencari mereka begitu aku keluar dari sini, tapi sebelum itu.. Aku akan mencoba membaca beberapa buku milikmu." Tegas Richard.
"Ignis.. Kau tidak akan bisa kabur dari tanggung jawab yang menunggumu." Gumam Ifrit dalam hati.
Kembali ke kastil sihir di wilayah kerajaan Nusantara.
Di dalam kastil, Wira masih mengeram.. Lingkaran hitam dibawah matanya seakan jadi tanda jika ia saat ini sedang dalam masa kritisnya. Tubuhnya penuh luka dari atas jingga ke bawah. Luka berat yang dideritanya pada bagian punggung adalah yang terparah.
"Kemana.. wanita itu?" Gumamnya.
Ia melihat Gayatri yang mengenakan gaun pengantin, gaun yang dikenakan oleh Gayatri tentu saja sudah kotor dan kusut apa lagi saat ini tengah basah. Gayatri seperti putri tidur di penglihatan Wira, tampak cantik meski dandanannya telah luntur.
"Gayatri.. Kau cantik hari ini!" Wira tersenyum.
"Tapi aku lebih suka jika hari ini kau menikah dengan orang lain dari pada kerajaan ini hancur seperti sekarang. Aku menyesal telah membawamu kabur.." Wira tertunduk
Tak berapa lama kemudian..
"Ahhuu ahuuuu huuhhh.." Ihsan terbangun, ia bangun seperti sedang mengalami mimpi buruk. Ia langsung duduk dan melihat ke depan denah nafas yang tidak beraturan.
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
__ADS_1
-Bersambung-