The Strongest Knight

The Strongest Knight
Ch. 77 - Di tengah keputusasaan


__ADS_3

Raja William mendekat ke arah para kesatria suci seraya mengawang dan mengingat kembali perang yang hampir saja mereka menangkan. Sebuah perang yang hampir saja membebaskan mereka semua dari invasi para klan Iblis.


"Hal itu terjadi 15 tahun yang lalu, sebelum Nyonya Parthe mendapatkan segel dewi dari penyihir suci pendahulunya." Kata Raja William memejamkan mata, sepertinya ia merasa tertekan harus menceritakan dan mengingat hal yang ingin dia lupakan sebab hari itu adalah harapan yang di hancurkan tepat di depan matanya.


Diantara para kesatria suci yang menyimak kisah itu, Arthur adalah orang yang paling antusias sekaligus orang yang paling penasaran di antara yang lain sebab ia adalah orang yang penuh dengan rasa ingin tahu apa lagi hal itu melibatkan informasi tentang adanya kesatria suci sebelum mereka semua.


Sementara itu..


Berada di tengah-tengah keributan perang yang terjadi antara pasukan yang bertahan di kota kander dengan pasukan iblis yang dipimpin oleh Balphegor.


Benar saja, seperti yang telah diprediksikan oleh ahli strategi pihak lawan bahwa pasukan mereka akan dengan mudah menembus kota Kander bahkan sebelum matahari terbenam mereka sudah akan menguasainya.


Alur perang jelas terlihat, pasukan yang dipimpin oleh Depone kewalahan menghadapi pasukan undead yang menyerang mereka dengan tiba-tiba. Undead memanglah makhluk lemah di antara yang lain tapi melawan mereka adalah hal sulit karena undead tidak lagi merasakan sakit dan mereka tidak mati hanya dengan satu atau dua kali serangan. Mereka bisa mati jika tubuh mereka benar-benar hancur lebur dan itulah yang membuat para pasukan Depone kewalahan dibuatnya.


Apa lagi jajaran monster besar juga terlihat di antara pasukan iblis, perang yang sangat mustahil bisa mereka menangkan. Jangankan menang, bertahan saja sampai bala bantuan datang sudah mustahil mereka lakukan. Ini adalah perang bunuh diri, perang yang hanya akan menambah pasukan undead dari musuh mereka.


"Huh.. Uh.. Huh.." Depone melihat sekeliling, melihat kekacauan yang terjadi. Ia melihat satu persatu prajurit dan kesatrianya mati di tangan monster dan iblis.


Sementara itu tak jauh dari tempatnya berdiri, Jons masih bertarung satu lawan satu dengan Astharot. Meski terlihat kewalahan tapi dengan kemampuannya ia bisa sedikit meladeni Astharot meski saat ini tengah terluka karena serangan demi serangan yang dilayangkan padanya.


Bola api yang tidak sebesar sebelumnya masih menghujani kota dan meratakan setiap bangunan-bangunan yang ada di kota Kander. Serangan itu adalah sihir dari Balphegor yang masih santai menyerang dark atas langit.


Kini, pasukan iblis sudah masuk ke dalam kota. Membanjiri kota dengan teror dan ketakutan meski di kota ini sudah tidak ada lagi penduduk yang tinggal karena telah mengungsi sebelumnya. Pun dengan Alista, penyihir yang ahli dalam bidang penyembuhan. Ia seperti telah memprediksi serangan ini dan sehari sebelumnya memutuskan untuk pergi dari kota.


Pasukan yang berada di garda depan juga sudah musnah, telah dikalahkan sepenuhnya. Pemimpin garda depan juga telah tewas terbunuh, kesatria besar Arie.. Ia tewas akibat di tusuk dengan 10 pedang yang masih menancap di tubuhnya saat ini.


"Ahhhhhhhh." kesatria kerajaan Nusantara menebas semua monster dan undead yang mendekat padanya. Seolah telah frustrasi, ia menyerang membabi buta. Semua strategi yang merela ramu sebelum penyerangan menjadi buyar saat melihat lautan undead memenuhi pasukan iblis, pasukan yang tidak merela temukan dalam pengintaian itu berhasil membuat para kesatria putus asa.


Kembali ketempat dimana Depone berada, masih di tengah peperangan di dalam kota yang sudah porak-poranda. Depone masih linglung, ia kembali mengingat apa yang terjadi di pulau Irian dan saat ini hal itu terjadi lagi, pembantaian. Ya.. Ini bukan perang tapi pembantaian. Itulah yang dipikirkan oleh Depone sekarang hingga membuat nyalinya jadi ciut.


"Depone.. Depone.. Hei.. Depone." Depone menengok dan melihat wanita yang memegang pundaknya.


Wanita itu adalah Rachelle, penyihir kerajaan Naugrim yang berada di pasukan yang sama dengan Depone saat menyerang pulau Irian.

__ADS_1


"Sadarlah.. Kau adalah pemimpin." Rechelle menampar Depone, berusaha membuat kesadarannya kembali.


"Nyo-nyonya Rachelle." Ujar Depone.


Mereka berada di tengah-tengah perang, suara dentuman senjata nyaring terdengar hingga membuat Rachelle harus berteriak agar Depone mendengarkan suaranya meski jarak mereka berdua sangat dekat.


Sementara mental Depone yang mulai runtuh, beberapa kesatria malah berjuang mati-matian dan mengerahkan apa yang mereka punya. Satu persatu tumbang tentu saja tapi pasukan iblis juga tidak sedikit yang tumbang. Ya.. Akhirnya setelah di Sadarkan oleh Rachelle, Depone kembali bangkit dengan mata yang tajam tak seperti tadi saat ia mulai putus asa.


Dari arah samping kiri mereka berdua terdengar suara teriakan, agak samar karena suara peperangan yang menggelar. Mereka berdua tak sadar karena tak mendengar apapun, padahal yang berteriak itu adalah Jons, meski sudaj berteriak dengan suara terbesarnya tapi suara teriakan Jons tak juga terdengar di telinga mereka berdua sampai..


"Huh... Nyonya Rachelle.." Depone syok melihat tubuh bagian atas Rachelle pecah, ia terkena serangan sihir dari Astharot yang sejak tadi bertarung dengan Jons.


Serangan tiba-tiba itu membuat Rachelle mati seketika. Sementara Jons yang memperingatkan mereka tersungkur karena serangan racun dari ekor berbentuk ularnya Astharot. Ia berteriak untuk memperingatkan serangan mendadak itu pada Rachelle dan Depone tapi terlambat.Lagi, Depone tertegun.. Salah satu rekannya kembali gugur.


"Kalian adalah sampah.. Tunduklah pada perintah raja iblis." Astharot mulai mendekat, kali ini ia akan mengakhiri hidup dari Depone.


"Tidak, tidak.. DEPONE SADARLAH.." Jons yang sudah terluka cukup parah masih mencoba berteriak kepada Depone.


"Mati." Ucap Astharot mengarahkan sihirnya.


Suara benda dari langit terdengar nyaring dan Duarrr....


Tak jauh dari arah Depone dan Astharot, sebuah benda jatuh menghantam tanah dan meninggalkan bekas yang cukup dalam.


Hal itu menarik perhatian Astharot dan juga Depone. Pun dengan orang-orang yang bertarung sejenak melirik benda yang tiba-tiba jatuh itu. Dari tanah yang telah berlubang itu, sosok makhluk merangkak keluar dengan luka di bahu kanannya. Luka tebasan pedang yang membuat bahunya robek, hampir saja membuat tubuhnya terbesar jadi dua.


Melihat makhluk itu, tentu saja membuat Astharot terkejut. "Balphegor." Ucapnya.


Benar.. Itu adalah Balphegor yang terluka sangat parah bahkan dengan sihir regenerasinya saja mungkin itu tidak akan cukup membuat ia pulih kembali.


"Sialan..." Balphegor menengok ke atas, ia melihat kembali sosok yang tiba-tiba menyerang dirinya.


Melihat hal itu, Astharot juga menengok ke atas dan melihat gumpalan api yang berbentuk burung raksasa. Pun dengan para prajurit dan kesatria, keberadaan burung api raksasa itu menarik perhatian mereka semua.

__ADS_1


"Si-siapa itu?" Kata Jons.


Tak lama, seorang pria terlihat turun dari burung api tersebut. Ia meluncur bak meteor jatuh dan menghantam tanah tepat di depan Balphegor. Tidak hanya satu, ternyata ada tiga orang di antara mereka.


Depone yang pandangannya kosong tersadar kala melihat ketiga orang itu muncul.


"Depone.. Lihat dirimu, kau terlihat menyedihkan." Salah seorang di antara mereka meledeknya.


"Nyonya.. Siska." Balas Depone.


Ketiga orang yang muncul tiba-tiba itu adalah bagian dari generasi emas kesatria kerajaan Nusantara, Siska Pradita, Suhtomo Raider dan tentu saja kesatria agung kerajaan Nusantara Rein Wijaya.


'


'


'


'


'


'


'


'


'


'


-Bersambung-

__ADS_1


__ADS_2