The Strongest Knight

The Strongest Knight
Ch. 70 - Semakin Berkembang


__ADS_3

Entah sudah berapa lama ia melangkah turun dan entah sudah berapa banyak monster penghuni labirin yang ia kalahkan. Richard sendiri tak tau soal itu karena ia tak pernah peduli lagi tentang waktu atau sekedar menghitung monster yang sudah ia lawan.


Sebenarnya, ia bisa saja menghindari pertarungan dengan monster di setiap lantai yang ia lalui tapi jika tidak mengalahkan monster artinya ia tak bisa makan dan jika tidak makan maka ia akan lapar, jika sudah lapar maka ia akan melemah dan mati.


Maka dari pemikiran sederhana itu, setiap hari dia harus mengalahkan monster setidaknya satu monster sudah cukup untuk kebutuhan gizi hariannya. Richard sudah lupa definisi makanan dengan rasa yang enak, lidahnya tidak lagi mengenal manis, asin, asam.. Satu-satunya yang membekas di lidahnya adalah rasa pahit dari daging monster yang telah ia konsumsi.


Satu hal yang pasti adalah, semakin ia masuk ke bawah labirin maka semakin sedikit monster yang ia temui tapi sekali ia bertemu maka monster yang akan ia hadapi lebih kuat dari sebelumnya.


Entah berapa kali dirinya hampir meregang nyawa, lagi-lagi berkat kristal blue eye Richard masih bertahan sampai sekarang. Fisik dan mentalnya semakin terasah tanpa Richard sadari, kepribadiannya juga berubah mengingat selama ia berada di labirin ini, tak ada seorangpun yang berinteraksi dengannya. Richard benar-benar sendirian, bukan karena jomblo tapi karena tak ada seorang manusia di dalam labirin ini kecuali dirinya dan Richard adalah satu-satunya orang yang telah sampai sejauh ini masuk ke bagian paling dalam labirin misterius.


Semua indera miliknya berevolusi mengikuti kondisi yang ada di dalam labirin. Misalnya saja indera penglihatannya yang sudah seperti hewan saja, dimana ia mampu melihat di kegelapan karena ia selama ini terjebak dalam labirin yang sebagian besar ruangan di dalamnya gelap.


Atau indera keenamnya yang bangkit, ia bisa merasakan hawa keberadaan monster yang ada di dekatnya meski monster itu bersembunyi darinya bahkan yang lebih hebatnya ia bisa merasakan hawa keberadaan makhluk apapun dari radius ratusan meter darinya jika ia fokus pada satu titik penginderaannya.


Bisa di bilang instingnya untuk bertahan hidup telah membuat Richard melampaui kemampuan manusia biasa, terlebih lagi dalam dirinya tersimpan kekuatan suci anugerah dari dewi. Untuk orang yang awalnya ingin bunuh diri, hal yang ia alami hingga saat ini merupakan suatu keajaiban luar biasa.


Kali ini Richard kembali melangkah menyusuri labirin yang terus berubah-ubah hingga ia sampai pada suatu ruangan yang penuh dengan tiang besar yang memopang atap ruangan itu.


Ruangan itu sangat besar, bahkan bisa dibilang itu adalah ruangan paling besar yang ia masuki dalam labirin selama ia terjebak di labirin ini.


Richard menengok ke atas, ia melihat betapa tingginya tiang yang berdiri kokoh itu. Jika bisa mengira-ngira mungkin tinggi tiang itu sekitar 20 meter dari permukaan tanah.


Yang lebih fantastis adalah lantai ruangan yang terdiri dari rumput hijau halus yang jika di injak dengan kaki tanpa menggunakan alas maka kita bisa merasakan lembutnya rumput yang menyentuh kaki.


Di pinggir ruangan itu terdapat pilar api yang menyala bahkan sudah menyala sebelum Richard masuk ke dalam ruangan ini. Sejauh mata memandang, yang terlihat hanya tiang besar dan lantai rumput halus yang memanjakan kaki.


Richard berjalan masuk ke dalam ruangan, ia menengok ke kanan dan ke kiri guna memperhatikan sekitar untuk mencari genangan air, sungai atau apapun itu. Yang penting bisa menghilangkan hausnya.


Sudah lama Richard tidak menemukan air, jika kembali ke dunia luar kira-kira Richard sudah tidak minum air selama 3 hari tapi Richard tidak sadar akan hal itu karena memang di dalam labirin Richard tidak mengetahui waktu siang maupun malam.


Apa lagi darah yang mengucur dari luka di kaki kirinya sudah mengering tapi bekas luka yang ia dapatkan dari pertarungan dengan beberapa monster di lantai sebelumnya masih basah. Jika tidak di berikan air rendaman kristal blue eye maka luka itu bisa saja membusuk dan berakibat fatal untuknya.


Haus plus luka di kaki kirinya, lengkap sudah penderitaan Richard kali ini. Meski begitu, Richard masih terus berjalan dengan tatapan tajam.


Hasil pertarungan Richard juga terlihat dari zirah emas yang ia kenakan. Zirah itu terlihat lusuh dan tak lagi utuh pun dengan bagian bawah yang ia kenakan di celana panjang miliknya. Sepertinya zirah emas itu tak sekuat kelihatannya karena Richard baru melakukan beberapa pertarungan tapi zirah itu sudah rusak.


Selama pertarungan Richard menggunakan senjata yang ia buat sendiri entah bagaimana caranya. Yang pasti ia memanfaatkan imperium api miliknya untuk membuat senjata dan membentuk bahan baku berupa gigi taring monster yang ia cabut sebelumnya menjadi sebelah pisau tajam tanpa gagang atau pegangannya.


Pisau yang sangat mirip dengan pisau yang di buat oleh orang-orang manusia purba menggunakan batu yang di asah secara terus menerus hingga ketajamannya terlihat.


Dengan pisau itu, Richard dapat dengan mudah mengoyak lawannya bahkan tanpa menggunakan imperium miliknya.

__ADS_1


Benar juga, dalam beberapa pertarungan Richard sengaja tidak menggunakan imperium api miliknya dan hanya mengandalkan kekuatan fisik dan hasilnya luar biasa. Kemampuan fisik Richard meningkat pesat bersama dengan kemampuan dia bertarung menggunakan pisau yang ia buat dengan tangannya sendiri.


Yang lebih mengesankan dari itu semua adalah Richard selama ini bertarung hanya menggunakan satu tangannya saja yaitu tangan kanannya. Seperti diketahui sebelumnya jika tangan kirinya buntung akibat pertarungan dengan monster cyclops.


Richard masih berjalan di ruangan luas itu, tapi ia tak menemukan air yang ia cari. Richard berhenti sejenak dan menelan ludah tapi tak ada yang bisa ia telan lagi katena tenggorokannya sudah kering, jelas sekali terlihat dari bibir pecah-pecahnya.


Pandangannya juga mulai kabur, Richard melihat batu besar di dekatnya lalu kemudian ia menghampiri batu itu dan duduk bersandar sambil memejamkan matanya.


"Apakah sampai disini saja." Batinnya.


Richard tak tau lagi ia harus berbuat apa, saat ini Richard benar-benar membutuhkan air. Sekuat apapun dirinya jika tanpa air maka ia tak bida berbuat banyak, bagaimanapun ia masih lah manusia seperti yang lain. Di tengah pikiran kacaunya tiba-tiba terdengar suara gemuruh awan dan sambaran kilat di ruangan itu.


Richard membuka mata karena baru kali ini ia kembali mendengar suara kilat dan gemuruh guntur tapi pikirnya mungkin itu hanya halusinasinya saja, mana mungkin di dalam ruangan yang jauh dari dalam tanah terdengar suatu gemuruh guntur. Apa lagi gemuruh guntur yang ia dengar merupakan tanda awal akan datangnya hujan.


Hingga tetesan air mengenai keningnya.. Benar saja, tak lama setelah gemuruh itu hujan pun turun.


Richard membuka mata dengan lebar, ia menatap ke atas dan melihat air hujan yang mulai jatuh membasahi dirinya. Air hujan itu semakin deras hingga tubuhnya basah kuyup, air hujan turun beserta kilat dan suara gemuruh yang masih terdengar.


"Hah! Apa, apakah aku sedang bermimpi?" Ucapnya masih tidak percaya.


Richard membuka mulutnya ke atas, membiarkan air hujan itu membasahi mulut dan tenggorokan yang sudah mulai mengering.


Hujan itu sangar deras sampai-sampai Richard harus menutup matanya jika tak ingin air hujan melukai matanya. Hujan yang deras itu terus turun hingga di beberapa titik dalam ruangan itu terdapat genangan air yang berkumpul membentuk danau-danau kecil di sekitar Richard.


Kini Richard bisa bernafas lega karena rasa haus dan luka pada kaki kirinya bisa hilang akibat dari hujan aneh yang tiba-tiba turun membasahi rumput halus dalam ruangan itu. Meski awalnya tidak begitu paham tapi Richard tidak peduli yang penting sekarang dia masih bisa selamat dan melanjutkan kembali petualangannya di dalam labirin ini.


Tak berapa lama, hujan deras itu mereda..


Dari genangan air terlihat Richard yang berbaring menutup mata. Di dekatnya terdapat kristal blue eye yang ukurannya mulai mengecil dari biasanya.


Richard membuka mata, ia bangkit dan duduk di tengah genangan air dan melihat luka pada kakinya. Benar saja luka itu sudah sembuh seketika dan ia kembali bugar seperti sebelumnya.


Ia berdiri sambil mengambil kristal blue eye.


"Ukurannya semakin mengecil, aku sebaiknya menghemat kristal ini" Ucapnya.


Richard melangkah, kali ini dia mencari hal penting lainnya. Ia akan mencari monster karena saat ini ia lapar, tidak ada hal lain yang bisa mengisi perutnya selain daging monster bahkan tidak pula dengan buah maupun tanaman. Yang bisa ia temukan dalam labirin ini hanya monster.


Saat melangkah keluar dari genangan air, Richard berhenti sejenak memperhatikan sesuatu di wajahnya. Ada yang aneh pikirnya, ia semakin penasaran dengan pantulan wajahnya pada genangan air. Akhirnya Richard tunduk untuk melihat pantulan wajahnya lebih jelas, ia memegang pipi di bawah matanya.


"Sejak kapan?" Ucapnya.

__ADS_1


Ia melihat dari pantulan air bahwa kedua matanya kini berubah, yang semula berwarna hitam kini bola matanya berwarna merah darah. Entah sejak kapan tapi ia baru menyadarinya saat ini. Perubahan bola matanya itu akibat dari seringnya ia mengkonsumsi daging monster.


Bukan hanya kemampuan yang meningkat jika ia mengkonsumsi daging monster tapi juga fisiknya yang berkembang selain menjadi kuat beberapa hal spesifik juga mulai tampak berubah, salah satunya adalah bola matanya yang kini berwarna merah darah.


'


'


'


'


'


'


'


'


'


'


'


'


'


'


'


'


'


'


'

__ADS_1


'


-Bersambung-


__ADS_2