
"Tuan putri.." Kata Galang melihat Gayatri dengan gaun kusut hitam yang ia kenakan saat ini.
Melihat kesatria besar dan beberapa prajurit di depannya membuat Wira dan Gayatri tak dapat berbuat banyak, mereka hanya diam sembari mencari celah untuk kabur dari tempat itu.
Galang menatap Gayatri dari atas sampai bawah, melihat putri raja dengan keadaan yang tidak sepantasnya.
"Tuan putri, dengan titah raja sekarang saya akan membawa anda kembali ke istana kerajaan." Kata Galang.
"Tidak, aku tidak ingin kembali." Gayatri bersembunyi di belakang punggung Wira sementara Wira terlihat waspada.
"Kau!! Cepat lepaskan tuan putri." Galang melirik Wira seolah memberi perintah karena pada dasarnya posisi Galang lebih tinggi ketimbang Wira.
Wira canggung, ia berkeringat karena tak tahu harus berbuat apa rapi genggaman tangan Gayatri membutakan matanya hingga ia menolak perintah daru Galang. "Tidak.. Putri tidak akan kemana-mana." Ucapnya.
Tentu saja Galang terkejut karena dibantah oleh kesatria biasa. Terlebih ia melihat jarak dan keintiman dari Wira dan Gayatri membuat getaran cemburu pada hatinya.
"Siapa namamu kesatria?"
"Wira.. Prawira Singhk." Jawabnya.
"Oh.. Prajurit tangkap Kesatria Wira. Dia telah melakukan kejahatan serius karena telah membawa kabur putri raja." Galang memberi perintah, sontak prajurit yang berada di sampingnya mendekat dan mengepung Wira.
6 prajurit mendekat sedang Wira mencabut pedang dari sarungnya lalu memasang kuda-kuda menyerang sembari melindungi Gayatri. Ia begitu fokus sampai-sampai aura terpancar dari tubuhnya, meski samar tapi Galang bisa melihat hal itu.
"Wira.. Wira..." Gayatri panik, hidupnya seperti akan berakhir padahal ia hanya akan dibawa kembali ke istana raja. Segitu tidak inginnya dia kembali hingga ia masih kekeh untuk tidak ikut atau kembali ke istana.
"Tuan putri menyerah lah.. Tidak akan ada yang terluka jika anda menyerah!?" Galang sekali lagi membujuk Gayatri yang sempat ingin menyerah tapi Wira meyakinkan Gayatri bahwa ia pasti bisa membawanya pergi dari tempat ini.
"Arrggg." Prajurit menyerang dari arah kanan dengan tombak.
Kesigapan dan konsentrasi Wira berhasil menyerang balik dan menangkis serangan kedua yang datang dari arah depan. Pertarungan 6 lawan 1 yang epik. Suara dentungan pedang terdengar nyaring di malam yang agak gelap. Hanya ada obor api yang menyala menerangi pinggiran sungai itu.
1 sampai 2 prajurit tumbang di tangan Wira, kini ia hanya harus menumbangkan 4 prajurit beserta 2 orang kesatria di depannya termasuk Galang.
"Huh. Hu.. Huh... Gayatri.. Tetap di belakangku." Wira terlihat lelah, pasalnya meski sudah menumbangkan 2 prajurit tapi 4 prajurit lainnya masih terus menyerang dan tidak memberi peluang bagi Wira setidaknya untuk mengambil nafas.
"Hebat juga kau.. Wira." Galang memuji keterampilan bertarung Wira.
Galang lalu maju dan menyuruh ke 4 prajurit lain untuk mundur. Kali ini Galang sendiri yang akan menghadapi Wira.
Bukannya gentar, Wira malah tambah termotivasi. Pikirnya jika ia berhasil mengalahkan Galang maka prajurit dan kesatria yang tersisa mungkin akan segan padanya dan membiarkan dia pergi karena telah mengalahkan kesatria besar.
"Sekarang.. Majulah." Galang mengambil pedangnya.
Wira maju, sempat dihentikan oleh Gayatri tapi ia kembali meyakinkan Gayatri.
"Jika aku menang darimu, maka biarkan aku dan Gayatri pergi dari sini." Ucap Wira.
"Heh. Baiklah.." Galang tersenyum, ia tampak meremehkan Wira.
Setelah kesepakatan singkat itu, duel pedang antara mereka berdua terjadi.. Suara hantaman pedang terdengar jelas dari sebelumnya. Wira menebas ke arah kiri dan berhasil di tangkis dengan mudah oleh Galang. Dari hasil hantaman pedang itu, percikan-percikan api terlihat jelas, mungkin karena malam yang gelap.
Kelihaian Wira menggunakan pedang membuat Galang kagum tapi sayang hal itu tidak cukup untuk mengalahkan Galang. Meski telah berusaha tapi Galang sama sekali tidak terlihat terdesak, ia terlihat santai meladeni permainan pedang Wira.
Selain karena Wira yang sudah kelelahan, juga karena kekuatan Wira berada di bawah Galang. Hal yang tidak bisa ia pungkiri bahkan ia tahu dari hasil pertarungan ini pasti ia akan kalah. Satu-satunya alasan mengapa Wira masih terus berjuang mungkin karena Gayatri, ia karena wanita yang ia cintai.
Akhirnya dengan gerakan cepat, satu, dua dan tiga tebasan mengenai Wira meski ia tak terluka karena zirah yang ia kenakan tapi serangan itu membuat pedangnya terpental jauh.
Posisi saat ini.. Wira berlutut sembari pedang mengarah ke lehernya. Iya, Galang berhasil memenangkan duel dan membaur Wira tak bisa bergerak sama sekali.
"Wira.." Saat Gayatri ingin mendekat, dua orang kesatria lalu menghampiri dan memegang erat tangannya.
"Kau adalah Kesatria yang hebat, kau punya potensi.. Sayang sekali kau adalah pengkhianat kerajaan." Kata Galang sembari memasukkan pedang ke sarung pedang di pinggang kirinya.
__ADS_1
"Jika kita bertemu lagi, aku akan menjadikanmu kesatria dibawa nama keluar Lingga, itupun jika raja tidak menjatuhkan hukuman mati padamu." Galang melanjutkan.
Wira yang saat ini di pegang oleh prajurit tak bisa berbuat apa-apa, ia melihat Gayatri dengan tatapan lirih seakan pasrah karena sebentar lagi mungkin ia tidak akan melihat Gayatri.
"Lepaskan.. Lepaskan aku.. Aku adalah putri raja. Lepaskan ini perintah." Gayatri berontak.
"Tidak.. Ikat tuan putri, jangan sampai dia kabur lagi." Galang kembali memberi perintah.
"Apa? Ikat.. Aku akan melaporkan hal ini pada ayahku!" Ancamnya.
"Maaf tuan putri tapi ini adalah perintah ayah anda." Galang mendekat, saking dekatnya jarak wajah mereka berdua hanya sekitar 3 cm.
Setelah itu Galang menjauh lagi, hal yang membuat dia tidak bisa menahan diri adalah.. Melihat betapa cantik paras calon istrinya.
"Ah.. Kau mungkin tidak tahu tapi, Aku lah yang akan menikahi Gayatri." Tiba-tiba saja Galang mengintimidasi Wira.
Mendengar hal itu tentu saja raut wajah Wira berubah, pupil matanya menipis seakan marah. Ia berusaha berontak sampai 2 orang prajurit harus turun tangan memegang dirinya agar tidak lepas.
"Ah.. Begitu rupanya. Kau menyukai Gayatri?"
Sebuah pertanyaan yang membuat Wira terdiam, pun dengan Gayatri yang kaget dengan pertanyaan itu.
Galang mendekati Wira, ia memegang pipi Wira dan menampar-nampar pipinya sembari mengatakan hal yang sedikit melukai Wira.
"Kau harus berkaca.. Mimpimu terlalu tinggi jika kau menaruh hati pada tuan putri. Lihat dirimu!! Kau bisa punya apa? Seisi istana bahkan akan tertawa terbahak-bahak jika mengetahui seorang rakyat biasa sepertimu menyukai tuan putri."
Gayatri hanya diam, ia diam karena ia baru sadar akan hal itu. Benar juga, sekarang matanya terbuka meski agak terlambat sekarang ia tahu betul bahwa Wira menyukai dirinya dan dia juga menyukai Wira.
"Sekarang dosa mu bertambah lagi hanya dengan menyukai putri raja. Mungkin kau benar-benar akan mendapat hukuman mati." Tegas Galang.
"Wira.. Wira.. Apa itu benar?" Tiba-tiba saja Gayatri bertanya pada Wira.
Wira berbalik melihat Gayatri yang matanya mulai berkaca-kaca.
"Wira jawab? Apa benar? Apa benar.." Gayatri masih penasaran dan ingin mengetahui langsung dari Wira.
Wira menunduk, berat rasanya untuk melihat wajah Gayatri saat ini.
"Baiklah cukup! Saatnya kita kembali ke istana." Kata Galang.
Galang berbalik, tiba-tiba saja seorang wanita tua mendekat sambil mengarahkan pedang pada dirinya dan.. Serangan amatiran itu cukup berhasil membuat Galang terluka karena lengah dengan keadaan. Galang terluka di paha bagian kirinya, ia terkena tusukan pedang oleh Jiah yang bersembunyi ketika Galang dan beberapa prajurit menghadang Wira dan Gayatri.
Galang berlutut karena luka di kakinya, saat ini Galang menjadi sandera, bilah pedang jelas di arahkan pada lehernya dan yang mengarahkan pedang itu adalah Jiah seorang wanita tua.
"Lepaskan mereka berdua!?" Jiah mengancam para prajurit yang memegang Wira dan Gayatri.
"Jangan.. Jangan dengarkan wanita tua ini." Balas Galang yang sedang di sandera.
"Lepaskan atau dia akan ku bunuh." Jiah bersikeras.
"Bi-bibi.." Kata Gayatri.
"Bibi.. Apa yang kau lakukan. Hentikan, mereka bisa membunuhmu!" Wira berteriak keras ke arah Jiah.
"Lepaskan mereka atau ku bunuh pemimpin kalian!!" Jiah semakin nekat.
"Dengarkan aku wanita tua, kau tidak akan bisa membunuhku.. Sekarang lepaskan aku dan pergi dari sini, aku akan melupakan luka yang kau berikan ini atau saat ini juga kau akan mati." Galang terlihat percaya diri meski dengan luka di kakinya.
"Tidak.. Lepaskan mereka berdua."
Tampaknya Jiah tahu betul, bahwa Wira benar-benar mencintai Gayatri begitupun sebaliknya. Saat ini Jiah akan melakukan apa yang bisa dia lakukan demi Wira, orang yang sudah ia anggap sebagai anaknya sendiri.
"Nyonya.. Kau sendiri yang memilih." Kata Galang.
__ADS_1
Setelah mengucapkan kata itu, hanya dengan satu gerakan Galang mampu melepaskan diri dan menusuk Jiah tepat di jantungnya.
"BIBI... BIBI.." Wira meronta, ia menangis kala menikah wanita yang sudah dia anggap sebagai ibu mati tepat di depannya.
"Tidak, tidak, tidak, tidak.... Lepaskan.." Gayatri juga histeris, meski ia hanya bertemu dan mengenal Jiah beberapa hari tapi ia sudah sangat dekat dengannya.
Jiah meninggal tanpa sempat berbicara sepatah kata pun pada Wira.
Tentu bukan hal mudah bagi Galang melepaskan diri dari seorang wanita tua yang memegang pedang dengan tangan gemetar seperti itu. Meski kakinya terluka, bagaimanapun ia adalah seorang kesatria besar.
"Bibi.." Wira masih histeris melihat mayat Jiah.
"Tega.. Kau membunuh seorang wanita tua.. Cuih." Gayatri meludahi wajah Galang.
"Maafkan aku tuan putri tapi dia sendiri yang memilih hal itu. Aku sudah memperingatkannya." Kata Galang sembari mengusap ludah Gayatri di wajahnya.
"Kau bisa saja membuat dia pingsan atau, atau sekedar melukainya tapi kau malah membunuhnya." Gayatri teriak sejadi-jadinya.
"Iya, benar.. Aku bisa saja melakukan itu tapi aku memilih untuk membunuhnya" Kata Galang sambil melihat Wira yang masih histeris dengan kemari Jiah.
Rupanya Galang sedikit emosional kala mengetahui Gayatri juga punya rasa yang sama dengan Wira. Galang membunuh Wira semata-mata untuk membuat Wira sadar dan melukai hatinya, agar Wira tidak lagi dekat dengan Gayatri.
"Aku harap kematian wanita tua itu menjadi peringatan untukmu agar tidak macam-macam dengan putri raja." Ucapnya pada Wira.
Setelah semua yang terjadi, Galang akhirnya kembali ke istana membawa putri raja pulang dan menangkap Wira atas tuduhan membawa kabur putri raja.
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
__ADS_1
-Bersambung-