The Strongest Knight

The Strongest Knight
Ch. 63 - Muncul Kembali


__ADS_3

Di dalam hutan.. Terlihat beberapa tenda yang berdiri. Tepat di tengah tenda, abu hitam dari bekas api unggun terlihat masih menyala meski kayu sudah terbakar habis.


Beberapa orang terlihat keluar dari tenda. Ada yang berjalan menuju kuda dan kereta, ada pula yang terlihat sedang melakukan percakapan sambil tertawa. Dari raut wajah mereka, sepertinya mereka semua baru saja bangun dari istirahat malam.


Di ikuti oleh matahari yang semakin bersinar, tenda yang ada di tempat itupun ikut di bongkar. Orang yang tadinya berpakaian biasa kini terlihat gagah dengan zirah baja yang mereka gunakan.


Di salah satu tenda yang juga akan di bongkar, seorang wanita keluar dengan gagahnya memakai zirah baja. Ia adalah kesatria kerajaan Inggram yang mengemban tugas untuk mengawal rombongan ini menuju Ibu kota kerajaan Nusantara.


Ia berjalan menuju salah satu kereta kuda yang tak jauh dari tendanya. Saat ia masuk.. Dilihatnya pria tengah duduk sambil menyantap roti gandum.


"Tuan Lingard!"


"Oh.. Suica kah!?"


Suica masuk dan duduk di depan Lingard.


"Ini.. Cobalah.. Ini enak loh!" Lingard mendorong sepiring roti gandum yang ada di depannya.


"Saya sudah kenyang tuan." Suica menolak sambil tersenyum.


"Ayolah.. Kau harus makan banyak."


"Hehe.. Tidak tuan. Terimakasih.."


"Oh iya, bagaimana keadaan anda hari ini?" Suica melanjutkan.


"Seperti yang kau lihat.. Aku baik-baik saja." Lingard berpose layaknya binaragawan di depan Suica.


Kondisi Lingard memang sudah sangat sehat, jika saja bukan karena ia kehilangan kedua kakinya saat ini. Mungkin Lingard masih berada di kota Kander untuk ikut bertahan melawan pasukan iblis yang akan menyerang kota itu.


Tapi karena saran dari Alista, penyihir yang ahli dalam bidang penyembuhan. Lingard ikut dalam rombongan menuju ke Ibu kota kerajaan Nusantara dengan harapan di sana, ia bisa bertemu penyihir hebat yang dapat menyambung kembali kedua kakinya.


Sekian Lingard, dalam rombongan ini juga ada Murd Londa Chaya beserta para kesatria yang mengalami luka serius.


Suica sendiri adalah pemimpin yang di tugaskan oleh Depone untuk memimpin rombongan ini hingga ia tiba di ibu kota kerajaan Nusantara.


Dan pagi ini, rombongan mereka akan melanjutkan perjalanan setelah sebelumnya istirahat karena sangat beresiko melanjutkan perjalanan di malam yang gelap.


Hari yang sama.. Di tempat lain..


Perkemahan lain yang di buat oleh kesatria suci.


Tempat yang penuh dengan bunga, ada berbagai jenis bunga yang menghiasi tempat mereka saat ini sedang istirahat.


Juga terlihat jalan setapak yang di lalui oleh banyak kereta kuda yang lalu lalang membawa barang. Jalan yang sepertinya mengarah langsung menuju Ibu kota kerajaan Celestial.


Sedangkan tenda yang mereka buat untuk istirahat saat ini berada di pinggiran sungai, hal itu mereka lakukan supaya mereka bisa lebih mudah untuk mengambil air dan memasak makanan.


Meski kemarin mereka sempat berdebat untuk tinggal sehari lagi di kota Dermen tapi akhirnya mereka memilih untuk melanjutkan perjalanan. Dan perdebatan tidak penting itu cukup membuang-buang waktu mereka hingga mereka berakhir di tempat ini.


Gildarts saat ini sedang membereskan tenda mereka, bisa di bilang itu adalah tugas pokok dari Gildarts. Bukan karena Gildarts rajin tapi memang tidak ada orang lain yang mau melakukan itu.. Apa lagi Smits yang lebih suka malas-malasan sambil rebahan di dekat aliran sungai.


Sementara Pege.. Ia sedang berdiri sambil mengangkat satu kakinya dan meletakkan kedua tangannya di depan dada dengan menutup kedua matanya.


"Hoaammm.." Rinto menguap sambil membakar ikan yang telah di tangkap oleh Leo sebelumnya.


Berada tak jauh dari lokasi tenda.. Rebecca dan Ivy sedang memetik beberapa bunga. Mereka berdua terlihat senang, apa lagi Ivy yang merasa rindu dengan dunia tempat asalnya.


Dunia tempat asalnya memang tak beda jauh dengan dunia saat ini dia berada, dimana yang berkuasa saat ini adalah raja dan para bangsawan. Ivy sendiri juga merupakan bangsawan, karena itu ia sangat familiar dengan dunia tempatnya saat ini berada.


Hal yang membedakan dunia Ivy dengan daratan Neverland ini adalah keberadaan ras lain dan perang yang bergejolak. Di dunia Ivy, tidak ada ras selain manusia dan juga dunia yang tergolong sangat aman karena minim terjadi peperangan.


Berada di tengah-tengah bunga seperti ini membuat Ivy mengingat taman bunga yang ada di belakang kediaman keluarganya. Hal itu membuat ia sedikit emosional dan tak sadar meneteskan air mata.


"Ivy.. Kamu kenapa?" Arthur yang juga berada di sekitar tempat itu tak sengaja melihat Ivy.


"Eh.. Arthur! Tidak, tidak.. Aku baik-baik saja."


"Benarkah?"


"Iya.. Aku hanya rindu dengan duniaku sebelumnya." Ivy menghapus air matanya.


"Arrrrrthhhurrrrrr.." Rebecca mendekat sambil mengeram.

__ADS_1


Arthur bingung melihat tingkah Rebecca yang melihat dirinya dengan tatapan kesal.


"Nee..... Kau apakan Ivy sampai menangis seperti ini?" Rebecca menatap Arthur.


"Hah!"


"Tidak, tidak.. Rebecca. Tidak papa." Ivy tersenyum manis.


Di arah jalan yang membentang itu, rombongan beberapa kesatria berhenti.


"Wah wah wah!! Para kesatria suci rupanya." Seorang yang memakai pakaian mewah turun dari kereta dan menyapa Arthur.


Arthur beserta Ivy dan Rebecca langsung menoleh ke arah sumber suara.


Pria berambut pirang itu mendekat, ia sedikit gemuk. Sepertinya ia adalah bangsawan.


"Perkenalkan.. Saya adalah Arnold Jonaseen." Pria itu tunduk sambil mencium tangan Ivy.


Ivy yang juga seorang bangsawan tentu tidak terganggu dengan hal itu, karena ia tau bahwa itu adalah tatakrama para bangsawan dalam menyapa. Sedangkan Rebecca yang tidak tau akan hal itu, terlihat kesal dan menatap sinis pria itu.


"Oh.. Tuan Arnold." Arthur menyapa balik dengan gestur hormat.


"Sungguh suatu kebetulan bisa bertemu di tempat ini. Saya sudah dengar desas desus jika para kesatria suci akan berangkat menuju Ibu kota dan saya juga sudah dengar berita jika tuan Arthur dan rombongannya telah menyelamatkan beberapa desa dari kekangan klan iblis. Sungguh luar biasa.. Hahahahaha." Pria gemuk yang di temani oleh seorang pria di sampingnya itu tertawa cukup keras.


"Ah.. Iya, itu adalah tugas kami tuan." Arthur dengan sopan merespon.


Di tempat para kesatria beristirahat memang cukup ramai orang yang lalu lalang menggunakan kuda atau kereta kuda. Tapi tidak ada satupun yang menyapa karena mereka tidak tau jika yang sedang berkemah di pinggir sungai adalah para kesatria suci.


Sedangkan Arnold yang notabenenya adalah seorang bangsawan tentu mengenal rupa para kesatria suci.


Tak jauh dari tempat Arthur dan Arnold berbincang.


Gildarts yang telah selesai membereskan tenda kini ikut duduk di depan perapian sambil menyantap ikan bakar yang di buat oleh Rinto.


"Siapa orang itu?" Leo melihat ke arah Arthur.


"Dari pakaiannya.. Mungkin dia bangsawan." Kata Diana.


"Ada apa Smits?" Gildarts melihat kekesalan di wajah Smits.


"Jika aku melihat itu terlalu lama.. Aku akan muak." Smits menunduk.


Ketika mereka memperhatikan kembali, di samping pria bangsawan Itu, juga berdiri seorang pria yang tidak mengenakan pakaian dan hanya mengenakan celana compang-camping.


Pria di sebelah Arnold adalah budak..


Tubuh budak itu penuh luka lebam yang masih memerah. Ia juga terlihat kurus hingga tulang punggungnya terlihat jelas dari jauh.


"Itu budak.. Sudah aku katakan di dunia ini.. Budak yang penuh luka seperti itu adalah hal yang wajar." Rinto bergumam.


Sementara di tempat Arthur.


"Hahahaha.. Hebat. Sangat hebat.. Seperti itulah kesatria suci." Arnold terlihat terhibur dengan cerita Arthur tentang mengalahkan monster dan membebaskan sebuah desa.


Saat Arnold tertawa.. Tiba-tiba pria yang ada di sampingnya terjatuh. Maka jadilah sepiring buah segar yang dipegangnya juga terjatuh. Buah-buah itu adalah sarapan Arnold yang sedari tadi ia kunyah sambil berbincang dengan Arthur.


Ia berbincang sambil melahap buah, bahkan tanpa membagi buah itu kepada Arthur, Ivy dan Rebecca.


"Oi oi.. Yang benar saja. Kau menjatuhkan MAKANANKU!!" Arnold menjadi marah saat budaknya menjatuhkan buah-buah itu.


"Ma-maafkan aku tuan.. Ak-aku sudah seminggu tidak tidur ja-jadi aku." Budak itu terlihat bersujud dan meminta maaf.


"Sialan... Kau banyak alasan. Mati saja kau dasar tidak berguna. Mati! Mati! Mati!" Arnold menginjak punggung budak yang bersujud di kakinya.


Sementara budak itu terus minta maaf.. Ia terjatuh karena tiba-tiba kehilangan kesadaran. Entah karena hal apa, oleh tuannya budak itu dilarang tidur selama sebulan dan ia baru menyelesaikan perintah itu selama seminggu.


Bahkan baru seminggu perintah tidak masuk akal itu ia lakukan, tubuhnya sudah tidak kuat. Apa lagi ia harus melakukan itu dalam waktu sebulan.


"Mati! Mati! Mati!" Arnold sang bangsawan terus menginjak budak itu hingga.. Budak itu pingsan dalam keadaan mengenaskan.


Sementara Rebecca yang mulai marah di pegang erat oleh Ivy. Sedangkan Arthur dengan wajah datar ia hanya bisa melihat tanpa melakukan apa-apa.


"Cuih... Dasar tidak berguna." Arnold meludahi budak yang sudah pingsan itu.

__ADS_1


"Maafkan aku.. Hahahaha. Orang-orang rendahan ini memang sering menyusahkan."


"Tidak papa tuan." Balas Arthur tenang.


"Oi kalian.. Angkat orang ini." Arnold sang bangsawan berteriak kepada dua orang kesatrianya yang menunggu di dekat kereta kudanya.


Kedua kesatria mendekat dan mengangkat tubuh budak itu. Bahkan jika di perhatikan mungkin budak itu sudah seperti mayat kurang gizi.


"Baiklah tuan Arthur, Nona Ivy dan Nona Rebecca.. Semoga kita bisa bertemu lagi. Oh iya.. Jika kalian mengikuti jalan ini maka kalian akan sampai di ibu kota siang nanti." Kata Arnold.


"Iya tuan.. Terima kasih!" Arthur masih mencoba tenang setelah apa yang ia lihat.


"Nona Ivy.. Senang bertemu dengan anda." Lagi, Arnold menunduk dan mencium tangan Ivy.


Ivy hanya bisa tersenyum canggung tanpa bisa menolak hal itu.


Arnold pun berbalik dan meninggalkan mereka bertiga dengan suasana hati yang kacau karena pemandangan memilukan yang ia lihat.


"Sial, sial, sial..!" Rebecca mengumpat karena kesal.


"Tenanglah Rebecca.. Kita tak bisa berbuat apa-apa tentang hal ini." Kata Arthur.


5 langkah Arnold berjalan meninggalkan mereka bertiga. Tiba-tiba dari arah langit.. Dengan kecepatan tinggi tanpa Arthur sadari..


Duarrrrr...


Hantaman tanah cukup keras hingga meninggalkan bekas seperti meteor jatuh. Debu dari hantaman itu menghalangi pandang mereka bertiga.


Saat debu mulai hilang.. Mereka bertiga melihat sang bangsawan Arnold Jonaseen meninggal seketika dengan tubuh yang tercerai berai penuh darah akibat hantaman dari langit.


"Hah!!" Arthur mengeluarkan keringat.


"Eh! Ivy gemetar sesaat.


Sementara Rebecca diam tanpa kata.


Saat ini.. Di depan mereka muncul sosok kuat yang pernah membuat salah satu rekan mereka mati di dalam Labirin.


Sosok itu adalah Rever Block sang dosa kemarahan.


'


'


'


'


'


'


'


'


'


'


'


'


'


'


'


'


-Bersambung-

__ADS_1


__ADS_2