
Balphegor terkejut oleh serangan mendadak yang mengenainya, tapi serangan itu tidak cukup kuat untuk meninggalkan bekas luka di tubuhnya. Serangan itu bahkan belum cukup untuk mengelitik kulit kerasnya.
"Hehh.. Tuan Sebastian." Pistris melihat ke arah Sebastian Austin yang mendekat.
"Keh!! Datang lagi serangga pengganggu.." Kata Balphegor.
Balphegor mengarahkan sihirnya ke arah Sebastian yang mendekati Pistris dan Linda yang terluka. "Vetus inspiratione."
"Ain.." Ucap Sebastian.
Belum Ain bereaksi, serangan beruntun itu sudah tepat berada di depan mereka berdua.
Sebelum serangan itu menghantam Sebastian, sebuah cahaya muncul di depannya.. Serangan dari Balphegor tiba-tiba saja ditelan oleh cahaya itu dan seketika serangan itu berada di depan Balphegor hingga membuat Balphegor terlempar dan terluka akibat dari serangannya sendiri.
"Nyonya Linda.." Ain menyadari bahwa itu adalah sihir perpindahan ruang oleh Linda.
Mereka berdua mendekat ke arah Pistris dan Linda yg saat ini tersungkur akibat luka yang di deritanya.
"Tuan Sebastian..."
"Tuan Pistris.. Apa yg terjadi?"
"Seperti yang telah kau lihat.. Benteng ini sudah jatuh di tangan musuh." Ucap Pistris tertunduk putus asa.
Sementara Ain mendekat dan memegang Linda.
"Maafkan aku Tuan Sebastian.. Tapi aku tidak bisa melindungi benteng ini.. Bahkan pasukan penjaga gerbang barat sampai di pukul mundur hingga ke tempat ini."
"Tidak.." Sebastian menegaskan.
"Kau telah menyelamatkan banyak penduduk dengan bertahan dari peperangan yg tidak mungkin kita menangkan ini. Itu sudah prestasi luar biasa.." Sebastian memegang pundak dari Pistris.
Sementara itu.. Ain mencoba mengalirkan imperium miliknya kepada Linda. Serangan yang dilancarkan oleh Balphegor kepada Linda bukanlah serangan biasa, itu adalah serangan sihir yang dapat membuat imperium dalam tubuh terkuras dengan cepat.. Meski hanya satu serangan, itu sudah sangat cukup membuat Linda kehilangan hampir seluruh imperium miliknya.
"Terimakasih Penyihir muda.." Kata Linda kepada Ain.
"Baiklah.. Sudah cukup." Linda berdiri.
"Nyonya.. Tolong katakan bahwa bala bantuan sudah datang?" Kata Sebastian penuh harap.
"Maaf tapi.. Aku hanya datang sendiri."
"Hah! Bagaimana dengan bantuan dari konferensi meja bundar?"
"Mereka semua masih di sibukkan dengan gangguan monster laut." Kata Linda.
"Sial." Sebastian mengeram, dia memperlihatkan kekecewaannya.
"Nyonya Linda, apa yang harus kita lakukan sekarang?"
Sementara mereka semua sedang mencari solusi terbaik.. Para kesatria yang lain masih bergelut dengan para monster dan iblis yang menyerang.. Perang belum berakhir..
Saat-saat fajar menyongsong mulai terlihat.. Dari arah timur, cahaya matahari perlahan kian meninggi dan memerangi benteng ampt.
Terangnya matahari mulai memperlihatkan betapa ngerinya perang yang terjadi, tumpukan mayat kesatria dan prajurit memenuhi benteng ampt.. Pun dengan tumpukan mayat monster dan iblis, terlihat pula genangan darah dimana-mana.. Tanah benteng ampt yg kecoklatan kini terlihat berwarna merah akibat banyaknya darah yg tumpah ruah memenuhi tanah.
"Saat ini kita harus mengevakuasi penduduk.."
"Nyonya Linda, di bawah tebing ada sebuah dermaga.. Pasukan atlantian bersiaga di dermaga itu untuk menyiapkan perahu." Kata Pistris.
"Yosh.. Aku akan membuat portal menuju tempat itu."
__ADS_1
"Tunggu sebentar.. Nyonya, kenapa anda tidak membuat portal untuk bala bantuan yang sedang menuju ke sini." Sebastian dengan rasa penasarannya.
"Jika aku bisa.. Aku sudah melakukan itu dari tadi." Jawab Linda lugas.
"Ta-tapi.."
"Tuan Sebastian.. Sihir ruang adalah sihir tingkat tinggi yang menggunakan banyak imperium.. Apa lagi jarak sangat menentukan jumlah imperium yang digunakan saat menggunakan sihir ruang.. Jika jarak bala bantuan masih ratusan km di lepas laut.. Maka itu benar-benar membutuhkan jumlah imperium yang sangat besar.. Mungkin satu-satunya yang bisa melakukan itu hanya penyihir suci. " Jelas Ain menjawab keraguan Sebastian.
"Baiklah.. Pistris."
"Siap Nyonya." Kata Pistris seolah mengerti apa yang di ingankan oleh Linda.
Pistris mendekati rombongan penduduk yang masih terjebak di benteng ampt.
"Pistris.. Pistris..." Salosa berteriak ke arah Pistris.
"Tuan Salosa.. Syukurlah anda masih selamat."
Pistris mendekat ke arah Salosa dan memberikan instruksi bahwa mereka akan di pindahkan ke dermaga yang berada di bawah tebing.
Tak lama kemudian..
"Berani sekali kau.." Balphegor bangkit kembali setelah terkena serangan beruntun dari sihirnya sendiri.
"Hah! Bagaimana mungkin!!" Ain terkejut melihat tubuh Balphegor yang kembali utuh tanpa luka sedikitpun.
"Regenerasi." Ucap Linda.
"Sialan.." Sebastian menganga melihat Balphegor.
"Aku salah perhitungan.. Iblis yang saat ini kita hadapi berada di level yang berbeda." Kata Linda dengan wajah yang serius.
"Dari tadi aku merasakan aura yang sangat menyeramkan.. Sial, ada apa ini!" Benak Linda bergejolak.
"Oi.. Kau, apa kau bisa menahannya sementara aku memindahkan penduduk!" Kata Linda kepada Sebastian.
"De-dengan senang hati." Kata Sebastian sambil tersenyum membuladkan tekatnya.
"Pistris.. Bantulah orang itu.." Kata Linda.
"Baik Nyonya.."
"Moro.. Igwan.." Pistris memanggil kesatria terbaiknya untuk ikut membantu menahan Balphegor.
Sementara Pistris, Sebastian, Ain, Moro dan Igwan menahan Balphegor.. Di depan kastil yang sudah runtuh.
"Aliam dimensionem." Linda mengucapkan mantra. Seketika di depan kastil muncul cahaya menyerupai gerbang.
Sementara itu.. Bunyi gesekan senjata antara kesatria masih berbunyi. Perang belum berakhir.. Sekitar 600 meter dari depan kastil tempat Linda membuka portal, Balphegor yang mencoba menyerang Linda terus di tahan oleh 5 orang yang saat ini memiliki kekuatan di atas prajurit dan kesatria yang lain.
"Minggir kalian serangga pengganggu.." Balphegor menyerang lagi.
Tapi kombinasi mereka berlima mampu untuk menahan serangan yang dilayangkan oleh Balphegor.
"Kalian sungguh membuang waktuku." Katanya dengan amarah.
Di depan kastil.
Rombongan penduduk yang berjumlah sekitar 200 orang satu persatu mulai masuk ke dalam portal yang menghubungkan dermaga di bawah tebing.
"Tch.. Hanya segini." Linda mengumpat atas lemahnya kemampuan diri sendiri karena dia hanya mampu membuat portal kecil yang hanya bisa dilalui satu persatu secara bergantian.
__ADS_1
Para penduduk berdesak-desakan.. Saling dorong karena panik dan mau menjadi orang pertama yang memasuki portal.
Di sisi lain.. Jual beli serangan antara Balphegor dan 5 orang tersebut berlangsung epic. Meski terlihat para kesatria sangat kewalahan, setidaknya mereka mampu menahan gempuran serangan Balphegor.
Tiba-tiba.. Balphegor dengan kekuatan penuh mengeluarkan sihir apinya..
"Bagaimana sekarang." Kata Igwan.
"Tuan Pistris.." Moro melihat ke arah Pistris.
"Mustahil.. Dengan kekuatanku sekarang, aku tak bisa menahan serangan itu." Kata Ain dengan dirinya sendiri.
"Sialan.. Mau bagaimana lagi." Kata Sebastian menguatkan pegangan tangan pada senjatanya.
"Moro.. Moro.. Mau apa kau?" Pistris melihat gestur aneh dari Moro.
"Tuan.. Aku senang berada di pasukan anda.. Suatu kehormatan bisa melayani anda." Kata Moro sambil tersenyum.
"Oi.. Apa maksudmu.."
"Maaf tuan, tapi jika tidak seperti ini.. Para penduduk tidak akan selamat." Benak Moro dalam hati.
"Vetus inspiratione.." Kata Balphegor sambil melayangkan serangan api.
Dengan imperium air.. Moro melompat ke arah serangan api tersebut. "Aaaaaaaaahhhhhh."
"MOROOOO.." Pistris dengan mata kepalanya sendiri melihat Moro lenyap terbakar api.
Ain mengalihkan pandangannya.. Itu adalah pemandangan yang sangat mengerikan untuknya.
"Moro." Kata Igwan melihat pengorbanan Moro.
Sementara itu, di depan kastil..
"Sial.. Aku ingin membantu tapi.." Kata Linda yang berkonsentrasi dengan portal miliknya.
Perlahan penduduk mulai berkurang seiring dengan terbukanya portal tersebut.
Di tempat lain..
Di lepas laut beberapa km dari dermaga, terlihat perahu-perahu para pengungsi..
Ada banyak perahu.. Dan.. Para pengungsi yang berada atas perahu tersebut terlihat..
Pingsan tak sadarkan diri..
Para kesatria atlantian yang berenang mendorong perahu.. Mereka semua.. Mati.
Sementara di dermaga.. Penduduk yang memasuki portal di sambut oleh..
.
.
.
.
.
Iblis..
__ADS_1
-Bersambung-