
Richard duduk di bawah pohon tak jauh dari tenda-tenda darurat yang telah berdiri. Kini, wilayah tandus yang ada di depannya telah penuh oleh kerumunan dan bangunan baru. Bangunan sederhana sebagai tempat berlindung bagi mereka para korban penyerangan klan iblis.
Mereka semua terlihat lelah dan lega, apa lagi setelah bantuan datang. Para penyihir dan kesatria sihir dikerahkan ke segala penjuru wilayah lembah, mulai dari sebelah barat, utara, timur dan selatan kota Lockdown. Semua pencari suaka yang tak bisa masuk ke kota mendapatkan bantuan. Bantuan berupa makanan dan perawatan bagi mereka yang terluka.
Bantuan moral dan semangat juga mereka dapatkan, lewat beberapa kata, sajak dan motivasi dari kesatria sihir yang berbicara lantang atas nama kanselir sihir.
Dari situ, para penduduk pencari suaka itu kembali merasa tenang. Apa lagi setelah bantuan dari kota Lockdown banyak berdatangan. Hal yang mereka dapatkan itu membuat mereka semakin memuja dan memuji kanselir sihir sebagai pelindung mereka. Meski beberapa saat sebelumnya mereka diabaikan dan dibiarkan terbantai.
Tak butuh waktu lama untuk memulihkan keadaan dan kekacauan di berbagai wilayah semi permanen di sekitar kota Lockdown. Sumber daya yang dimiliki oleh kota Lockdown sangat cukup untuk melakukan itu semua.
Meski begitu, tetap saja sebagian orang masih berduka. Masih ada pula yang merasa trauma atas kejadian malam tadi. Banyaknya darah dan kematian menjadi halangan bagi mereka untuk melupakan apa yang terjadi, kehilangan orang terkasih masih sangat berat bagi sebagian mereka. Hingga tak sedikit diantara mereka masih merasa murung, masih mengeluh-eluhkan tentang kebajikan kanselir sihir.
Ada yang bilang, jika benar kanselir sihir ingin melindungi mereka. Kenapa tidak mengirimkan pasukan bantuan untuk membantu evakuasi selama penyerangan terjadi? Ada pula yang berpendapat jika kanselir sihir tidak menolong mereka karena fokus mempertahankan kota Lockdown, sehingga perlu waktu untuk melakukan itu. Ya.. Apapun itu, berbagai opini merebak diantar pencari suaka seperti mereka. Mereka yang tak punya tempat di dalam kota kubah, kota Lockdown.
Richard yang sedari tadi memandangi dari bawah pohon masih memikirkan tentang hal yang menganggu pikirannya. Ia memandang lurus tapi seolah tak melihat apa yang terjadi di depannya. Pikirannya melayang, pikirannya penuh dengan pertanyaan. Untuk apa dia ada di dunia ini?
Sementara itu, dari arah kerumunan orang di depannya. Seorang kakek Dwarf yang terluka sedang mendapatkan pengobatan dari penyihir kota Lockdown. Kakek Dwarf duduk sambil dibalut perban putih pada lengan dan kakinya yang mengalami luka tusuk dan luka gores dari hasil perlawanannya terhadap iblis dan monster yang menyerang malam tadi.
"Kakek Dwarf.. Kau hebat sekali ya? Sepertinya kau adalah pejuang?" Penyihir yang membalut lukanya mencoba memulai pembicaraan.
"Ah.. Ini bukan apa-apa nona. Aku pernah mengalami hal yang lebih buruk dari ini. Khekhe." Ucapnya santai.
"Wahh hebat.."
"Aku cukup beruntung, sepertinya ajal ku memang belum datang untuk saat ini." Kakek Dwarf memandang langit.
Penyihir itu menggerakkan alis, ia terlihat penasaran.
"Kau tahu.. Malam tadi aku merasakan aura mengerikan. Aura sebesar itu pasti dimiliki oleh iblis level atas." Kata kakek Dwarf degan serius. "Yaa, aku bahkan kami semua bisa saja mati seketika. Mati hanya dalam satu serangan." Sambungnya.
Penyihir itu tersenyum. "Tapi kau masih hidup bukan?" Ucapnya.
"Ya.. Aku masih hidup, aku hidup karena anak muda bermata merah itu datang."
Penyihir itu menyimak perkataan kakek Dwarf sambil memberikan sihir penyembuhan pada luka yang telah ia balut.
"Pria itu menghalau serangan kuat.. Bahkan di saat terakhir. Saat semua hancur.. Pria itu, dia masih berdiri." Tegasnya.
"Wahh pria yang kuat." Kata penyihir itu. "Aku akan senang jika bisa bertemu pria kuat seperti itu." Sambungnya.
Kakek Dwarf mengangkat lengannya, ia menunjuk ke arah depan. Penyihir yang melihat gerakan kakek Dwarf mengarahkan pandangannya. Dari arah pandangannya, seorang pria yang berada tepat dibawah pohon terlihat olehnya.
"Itu dia.. Pria bernama Red." Ucap Kakek Dwarf.
"Hoo.. Red!?" Ucap penyihir tersebut. "Sepertinya aku mengenalnya." Sambung penyihir itu dalam hati.
Di lain tempat, tepatnya Berada di dalam kota Lockdown, pada balai kediaman kanselir sihir. Para kesatria suci terlihat berkumpul, mereka semua menghadap kepada kanselir sihir untuk menyelesaikan masalah utama mereka di tempat ini.
Cukup lama mereka menunggu kanselir sihir, hingga akhirnya kanselir sihir muncul dari arah pintu sebelah kanan yang dibuka oleh penjaga kediaman kanselir sihir. "Wah wah.. Kalian sudah berkumpul. Maafkan aku, aku sedikit sibuk hari ini." Ujarnya begitu melihat para kesatria suci di depannya.
"Tidak papa.. Kami bisa memakluminya. Apa lagi setelah melihat kekacauan yang terjadi malam ini di luar kota." Balas Gildarts.
"Seperti rumornya.. Kota ini memang punya pertahanan yang hebat." Sambung Smits terlihat sinis. "Tapi sayang.. Kota ini tidak bisa melindungi penduduk yang ada di luar kota." Ucapnya sekali lagi.
Kanselir sihir tersenyum lalu berkata. "Jangan salah paham.. Penduduk kota ini hanya mereka yang berada di dalam kota, penduduk kota ini hanya mereka yang terpilih sebagai penyihir. Mereka yang berada di luar bukan penduduk kota ini." Tegas Kanselir sihir tersenyum ringan menatap wajah sinis Smits.
"Eh, Kenapa seperti itu?" Ivy meminta penjelasan, moralnya yg cukup tinggi membuat dia sedikit emosional dengan apa yang dilihatnya semalam.
"Ahhh.. Tenanglah Nona Ivy." Ucap Gerald yang ikut dalam pertemuan hari ini.
"Sepertinya kau cukup tenang ya, melihat ribuan nyawa atau mungkin ratusan ribu mati dalam semalam di luar kota." Satir Smits pada Gerald.
Berbincang yang terjadi menjadi cukup tegang mengingat topik yang mereka ucapkan berbeda dengan topik yang seharusnya mereka selesaikan hari ini. Bagaimanapun, para kesatria suci masih tidak bisa menerima kebijakan Kanselir sihir yang membiarkan pembantaian terjadi begitu saja di luar kota tanpa ada perlawanan sekalipun.
Ketegangan sempat hening kala Kanselir sihir dan juga Gerald tak dapat berkata apa-apa atas desakan dan tuduhan yang diberikan kepada mereka atas banyaknya orang yang tidak bersalah mati sia-sia tadi malam.
Mendengar ocehan tidak berguna itu, Kanselir sihir menarik nafas panjang. "Huuuuuuhhhhh.. Kalian tidak mengerti anak muda!" Ucapnya
"Kalian tidak tahu apa yang terjadi pada kami di masa lalu. " Sambungnya sambil berdiri dari kursinya. Kanselir sihir berjalan menjauh ke arah jendela, ia mengintip keluar dan dalam sekejap mengingat kejadian masa lalu. Kejadian yang membuat negeri tertutup ini berdiri.
__ADS_1
" Jauh sebelum peperangan dengan klan iblis terjadi. " Ucap Kanselir, lalu melanjutkan ceritanya.
Saat itu..
Para penyihir hidup dalam damai, tanpa tekanan dan tanpa adanya perselisihan. Para penyihir kala itu dianggap sebagai makhluk yang diberkati oleh dewa dan dewi.
Para penyihir dianggap sebagai bentuk dari evolusi yang dapat memudahkan segala aktivitas kehidupan di dunia ini. Kemampuan untuk memanipulasi imperium membuat para penyihir menjadi guru dan orang yang sangat dihormati.
Para penyihir membantu kehidupan dengan sihir-sihir sederhana, membantu memudahkan semua pekerjaan bahkan sampai membantu dalam pengobatan.
Penyakit langka yang mematikan, bisa teratasi dengan sihir. Bencana alam, wabah, keburukan-keburukan dunia bisa di atasi dengan sihir. Hal itu membuat para penyihir mempunyai kedudukan yang sangat tinggi diantar makhluk hidup lain di dunia ini.
Tapi karena semua itu..
Para penguasa melihat penyihir dari sisi yang berbeda. Hal itu bermula kala seorang penyihir berhasil menguasai sihir untuk menyerang dan bertarung.
Melihat hal itu, para penguasa secara cepat bertindak. Mereka melihat jika para penyihir adalah ancaman besar bagi kekuasaan mereka jika tidak segera diatasi atau di kontrol keberadaannya. Akhirnya, para penguasa mengambil suatu keputusan yang membuat para penyihir terkekang dan dapat dikuasai.
Sihir hangat yang sangat bisa membantu kualitas hidup pun berubah menjadi sihir mematikan. Sihir yang di ciptakan untuk saling bertarung dan berperang. Para penyihir yang awalnya berenovasi untuk menciptakan sihir untuk membantu kehidupan malah berubah menjadi enovasi penciptaan sihir yang mementingkan kekuatan, kehancuran dan kematian.
"Tunggu sebentar.." Di tengah penjelasan itu, Rebecca melayangkan pertanyaan sederhana pada Kanselir sihir. "Bukankan para penyihir punya pilihan untuk tidak melakukan itu?" Tanyanya.
"Ya.. Kau benar Nona."
"Ada 2 pilihan untuk penyihir kala itu! Pertama melakukan apapun yang diminta oleh penguasa atau pilihan kedua, pembantaian keluarga."
"Pada dasarnya, bakat sihir akan muncul di usia remaja. Bahkan dalam sebuah keluarga besar, hanya ada satu anak yang mungkin memiliki bakat sebagai penyihir. Artinya, keluarga yang lain masihlah orang biasa. Sangat memungkinkan untuk dibunuh dan dibantai oleh para prajurit yang tunduk pada kekuasaan sebuah negara. "Tegas Kanselir sihir.
Saat itu tidak ada tempat bagi penyihir untuk bebas dan memilih. Jika ingin hidup maka pilihannya hanya satu, hidup sebagai budak perang untuk memuaskan para penguasa.
Kemampuan dan keahlian sihir di eksploitasi oleh penguasa membuat para penyihir tidak berdaya.
"Tentu karena hal itu, muncullah gerakan anti penindasan untuk membebaskan hak-hak penyihir di atas segala penindasan." Kanselir berjalan mendekati para kesatria sihir. "Kota ini adalah simbol kebebasan para penyihir." Ucapnya.
"Para pendahulu kami berjuang membuat tempat dimana para penyihir dapat menentukan pilihan mereka dapat hidup damai tanpa gangguan penguasa rakus diluar sana. Itulah sebabnya kota ini dijuluki kota para penyihir, dimana yang bisa memasuki kota ini hanyalah seorang penyihir. " Sambungnya.
"Tapi sepertinya aku tidak melihat hal itu sekarang? Aku melihat begitu banyak penyihir di kerajaan Inggram dan kerajaan Celestial. Dan mereka terlihat hidup dengan pilihan mereka sendiri!?" Smits memotong pembicaraan.
"Dan aturan para pendahulu kami, tidak akan kami langgar.. Tidak akan pernah ada nope yang masuk ke dalam kota suci para penyihir ini." Ucapan lantang itu seakan menjadi tanda jika kota ini tidak akan pernah menerima mereka yang bukan penyihir.
"Nope?" Tanya Rebecca memiringkan kepala.
"Nope adalah sebutan untuk mereka yang tidak dapat menggunakan sihir." Jelas Gerald.
"Wah.. Rasisnya." Sambung Rebecca yang mengerutkan dahi.
"Kau tidak tahu hal kejam apa yang telah dialami oleh leluhur kami dan bagaimana leluhur kami berjuang untuk membuat para penyihir bisa bebas seperti sekarang. Jadi sebaiknya kau diam nona!" Tegas Kanselir sihir, geram.
"Ups.. Maaf." Rebecca tertunduk menyesal.
"Aku.. Maaf tapi aku masih belum mengerti? Apakah alasan masa lalu itu masih relevan dijadikan alasan kuat untuk tidak melakukan apa-apa, maksudku melakukan pembiaran terhadap pembantaian yang terjadi?" Ivy, ia terlihat masih emosional.
"Itu bukan alasan Nona muda. Itulah kenyataannya.."
"Baiklah.. Cukup Ivy!" Smits memotong perbincangan emosional tersebut.
"Terima kasih atas penjelasannya... Dan sekarang aku rasa kita harus kembali ke topik yang seharusnya.
"Sebelum pembicaraan ini semakin jauh, aku hanya ingin mengatakan. Bagaimana dengan Anne?" Smits membungkuk sambil mengepal kedua tangannya, perlahan ia menatap Kanselir sihir dengan wajah penasarannya.
Kembali ke luar kota, dimana sang kesatria Ignis duduk merenungi perannya di dunia ini. Di atas tangkai pohon ia duduk memejamkan mata, sembari bersandar di pada batangnya. Teriknya cahaya matahari tak membuat ia kepanasan karena hembusan angin yang dihasilkan oleh goyangan duan-daun pohon sudah cukup membuatnya nyaman dari gangguan terik panas matahari.
Dari bawah pohon seorang wanita mendekat. Sesaat kemudian wanita itu di kejutkan oleh teriakan seorang lelaki lain. "Hei, siapa kau?" Ucapnya
"Hm, Manusia serigala. Hehe." Kata Wanita itu tersenyum.
"Wanita Elf? Kau yang menyerang kami waktu itu bukan."
"Eh heheh.. Bukan aku yang menyerang tapi kakak ku. Maafkan aku!" Wanita Elf itu merasa tidak enak atas apa yang dikatakan oleh Woli yang sedari tadi berada di bawah pohon.
__ADS_1
Richard mendengar kegaduhan itu, ia membuka mata dan melihat Neyah.
"Hai... Tuan Red. Kita bertemu lagi." Sapanya.
"Richard tidak menggubris, ia terdiam dan kembali memejamkan mata."
"Maafkan aku mengganggu waktu kalian, tapi aku hanya ingin menyapa dan berterima kasih padamu."
"Aku mendengarnya dari Kakek Dwarf yang aku temui, dia bilang Tuan Red telah menolong mereka semua. Itu sangat hebat.." Ucapnya kegirangan.
"Heh! Tentu saja, Tuanku adalah pria yang akan mengalah raja Iblis." Ucapan Spontan itu sinyal membuat semua orang yang mendengarnya berbalik ke arah Richard.
"Tch.. Manusia serigala itu membuatku terlihat bodoh." Ucapnya kesal.
"Wahh.. Hebat. Aku menantikannya tuan Red." Neyah tersenyum, ia lalu berbalik dan kembali ke kerumunan orang untuk melakukan hal yang seharusnya ia lakukan.
"Baiklah, sudah cukup omong kosong mu manusia serigala." Richard turun dari atas pohon. "Aku akan melakukan perjalanan ke daratan Gres." Sambungnya.
Woli mengekor di belakangnya, tiga langkah mereka jalan. Richard menghentikan Woli. "Ets.. Kita harus berpisah. Ingat, kau telah membohongiku."
"Eh, tapi.. Tuan."
"Cukup.. Kita berpisah. Jika tidak punya tujuan, pulanglah ke Kerajaan Inggram." Tegas Richard.
Di tengah perpisahan sepihak itu, wanita lain kembali mendekat. Sambil berlari ringan, wanita itu memanggil nama Richard. "Tuan Red.. Tuan Red..."
"Nora.."
Begitu tiba, Nora yang mencoba mengatur nafas mulai berbicara. "Untunglah aku bisa menemukan mu."
"Ada apa?"
Nora memegang tangan Richard. "Malam ini kau harus ikut makan bersama kami semua."
"Huh!?"
"Malam ini kita akan berpesta."
"Pesta? Di tengah kekacauan yang baru saja terjadi?" Pertanyaan bodoh itu membuat Nora kembali lesu.
"Tuan Red bodoh.. Membuat seorang wanita yang bersemangat menjadi lesu seperti itu."
"Ah.. Ma.. Maaf, aku tidak bermaksud."
"Sudahlah.. Aku tahu ini bukan saat yang tepat tapi seperti yang telah kau katakan sebelumnya padamu Tuan Red. Aku telah terpilih untuk memasuki kota Lockdown, tadi pagi aku bertemu dengan kesatria sihir dan salah satu dewan konsulat. Katanya besok secara resmi aku akan memasuki kota Lockdown sebagai penduduk luar yang terpilih.. Dan malam ini para kesatria sihir menyiapkan makanan untuk membuatkan aku pesta perpisahan bersama dengan para penduduk yang lain."
"Wahh.. Makan.. Asyikk." Woli terlihat bersemangat.
Richard yang melihat genggaman tangan Nora tak bida menolak, apa lagi saat dia tahu jika malam sebelumnya dia tidak menolong kakaknya dari kematian.
"Baiklah."
Sementara itu, di tengah-tengah tenda pemukiman semi permanen. Di sebuah tenda mewah.
"Master Cliverd.. Aku masih tidak mengerti kenapa kita harus menggelar pesta perpisahan untuk para nope itu." Nerwen bertanya serius kepada salah satu dewan konsulat yang merupakan pemimpin operasi pemulihan pemukiman penduduk nope luar kota Lockdown.
"Nerwen.. Jika kau ingin membuat salah seorang dari mereka menderita maka buatlah yang lain bersenang-senang. Huahahahahaha..."
-
-
-
-
-
-
__ADS_1
-Bersambung-