
Di tengah laut, wilayah kerajaan Skandia. Beberapa kapal terlihat mengelilingi sebuah perahu kecil dengan dua orang yang berada di dalamnya dengan keadaan tak sadarkan diri.
Pada kapal yang berukuran besar itu, terlihat para prajurit dan kesatria dengan persenjataan lengkap berdiri melirik perahu asing yang baru saja masuk ke wilayah kerajaan mereka. Salah satu yang menarik perhatian adalah seorang pria dengan rambut cepak dengan zirah lengkap berdiri sambil memberikan perintah.
Orang itu adalah pemimpin armada laut kerjaan Skandia, sekaligus putra kedua raja kerajaan Skandia yang bernama Bordex Erling.
"Pangeran Erling.." Seorang kesatria menghadap padanya sambil berlutut. "Apa yang harus kita lakukan pada dua orang itu?" Lanjut kesatria yang berlutut tersebut.
"Pakaian mereka asing.. Sepertinya mereka berdua tidak berasal dari wilayah ini." Erling melihat ke bawah, ke arah perahu kecil yang di tumpangi oleh Ihsan dan Gayatri.
Lalu, selang tak berapa lama..
Ihsan membuka mata, ia menyipitkan mata karena cahaya yang mengenai matanya sesaat setelah membuka mata, cukup menyilaukan tentunya. Setelah menyesuaikan matanya dengannya cahaya matahari pagi, ia terkejut karena dikeliling oleh kapal besar yang penuh dengan prajurit dan kesatria bersenjatakan lengkap. "Di-dimana?" Ucapnya yang menoleh ke kanan dan ke kiri.
Ihsan yang bingung melirik Gayatri yang masih terbaring tak sadarkan diri dengan pakaian yang basah di depannya. "Eh.. Tuan putri.." Ihsan jongkok dan mencoba memeriksa keadaan Gayatri.
Sementara itu, dari arah kapal besar yang ada di tengah-tengah kapal lain. Erling berteriak kala melihat Ihsan bergerak. "Siapa kalian? Kenapa kalian bisa sampai ke wilayah ini.. Kami adalah armada laut kerajaan Skandia, atas nama raja.. Perkenalkan diri kalian!" Teriaknya dengan lantang.
Ihsan yang masih berusaha membangunkan Gayatri terkejut, pasalnya mereka telah berhasil keluar dari wilayah kerajaan Nusantara. Sontak ia mengangkat tangan, tanda menyerah dan tak ingin melawan. Lalu berteriak membalas ucapan Erling padanya. "Kami berasal dari kerajaan Nusantara.. Kami ingin bertemu dengan raja Skandia." Ucapnya.
Beberapa prajurit dan kesatria terkejut, sedangkan beberapa tidak percaya dan menganggap jika mereka berdua bisa saja adalah penyusup dari klan Iblis.
"Pangeran.. Mereka berdua mencurigakan. Sebaiknya kita tangkap saja mereka." Ucap salah satu kesatria yang ada di kapal yang lain.
"Tunggu.. Saya mohon dengarkan dulu. Saya adalah Ihsan Wijaya anak dar Rein Wijaya dan perempuan yang tidak sadarkan diri ini adalah putri raja.. Gayatri Ingalaga." Tegas Ihsan yang masih mengangkat tangan.
Erling mengerutkan dahi, pasalnya ia pernah bertempat dengan Gayatri kala masih berusia 7 tahun. Pertemuan itu terjadi saat agenda diplomasi antara kerajaan-kerajaan pendiri aliansi beberapa tahun yang lalu. "Gayatri? Apa yang terjadi dengan kalian?" Tanya Erling dengan lantang.
"Tuan.. Ini darurat. Kerajaan Nusantara telah jatuh di tangan klan Iblis." Tegas Ihsan.
"Apa?" Erling tentu terkejut, pun dengan para prajurit dan kesatria. Mereka dikejutkan dengan berita kekalahan kerajaan Nusantara, kerajaan kuat yang memegang hampir seluruh wilayah daratan Neverland di bagian timur.
Sementara itu, berada pada dimensi lain. Darksideland... Istana klan iblis.
Ruangan tahta istana, tidak ada apapun di dalam istana ini. Hanya ada cahaya api yang menyala sebagai penerang dari gelapnya keadaan istana, pun diluar istana. Suara petir bergemuruh, angin badai yang cukup bising dan sesekali gempa terjadi. Begitulah situasi saat ini, situasi yang terjadi di hampir seluruh Darksideland.
Di ruang tahta itu, berlutut seorang iblis yang tengah terluka parah akibat pertarungannya dengan pria tak dikenal. Rever sang dosa kemarahan, ia terlihat berlutut sambil menahan sakit lengan kirinya yang telah putus dibakar oleh pria bermata merah.
Dan di depannya.. Berdiri di samping kursi tahta yang terbuat dari tumpukan tulang raja terdahulu. Iblis itu menatap rendah Rever, jika dibandingkan dengannya.. Iblis sekelas Rever tidak ada apa-apannya. "Ada apa denganmu?" Tanya iblis itu.
"Tuanku.. Maaf telah lalai, aku terlalu meremehkan musuhku hingga aku pantas mendapatkan luka separah ini." Jelas Rever masih menunduk.
"Bodoh.. Apa yang sebenarnya kau lakukan?"
"Aku datang karena Luca.. Bawahanku meminta pertolongan tuan, bagaimanapun kemampuannya sangat berguna untuk klan Iblis." Jelas Rever sekali lagi.
Iblis itu murka, ia menggerakkan tangan.. Seketika Rever bergerak langsung menuju iblis yang ada di depannya. Rever seperti terhisap oleh sesuatu dan saat ini lehernya tengah dicekik oleh iblis yang murka itu atas tindakan gegabahnya . "Tch.. Kau melakukan ini hanya untuk bawahan mu yang tidak berguna itu.
"lihatlah luka yang kau derita.. Aku belum pernah melihat salah satu Iblis terkuat sepertimu bisa mengalami hal ini, Raja iblis bahkan tidak memerintahkan mu untuk bergerak..." Lanjut iblis yang mencekiknya itu.
"Ta-tapi tuan, Luca telah melakukan tugasnya dengan biak. Jika saja pria bermata merah itu tidak datang mungkin saat portal kembali bisa di buka dengan lebar.. Kita dapat dengan mudah mengirim Tuan Behemoth ke wilayah itu." Rever membela diri, ia merasa jika bawahannya telah melakukan hal yang benar.
"Tch... Mau bagaimana lagi, kita akan merebut paksa wilayah kerajaan Inggram jika saatnya sudah tiba. Wilayah itu adalah titik terbaik di bagian barat Neverland untuk memunculkan Behemoth." Iblis itu melempar Rever ke depan.
"Si-siap tuan, tapi ada orang yang harus kita waspadai. Orang itulah yang membuatku terluka seperti ini." Rever kembali berlutut setelah ia dihempaskan.
"Siapa orang itu?"
"Aku juga tidak tahu tuan.. Orang itu bahkan lebih berbahaya dari kesatria suci. Namanya adalah Red." Tegas Rever dengan penuh dendam.
"Red?.. Aku belum pernah mendengar nama itu.. Sudahlah.. Sekuat apapun orang itu, aku yakin.. Saat kau melawannya lagi tentu saja kau masih bisa menang? Iya kan.. Rever???" Iblis itu menekan suaranya saat ia menyebut nama Rever.
"Iya... tuan tentu saja.. Aku masih bisa menang." Ucap Rever dengan penuh percaya diri, matanya berurat tanda jika ia sangat dendam pada pria bermata merah itu.
"Baiklah.. Kalau begitu kembalilah ke Neverland dan tunggu perintah selanjutnya!"
"Tuanku.. Bagaimana dengan para kesatria suci? Aku dengar mereka semakin berkembang dan banyak mengalahkan pasukan kita?"
"Bodoh.. Biarkan saja, mereka sama sekali bukan ancaman. Kita akan membunuh mereka jika saatnya tiba.. Jika mereka telah mencapai puncak tertinggi kekuatannya pun, mereka masih bukan ancaman di mataku dan dimata Raja iblis. Mereka hanya badut bodoh yang dimanfaatkan oleh aliansi kerajaan, mereka semua.. Akan mati pada waktunya." Iblis itu tersenyum dengan aura hitam yang lebih pekat dari iblis manapun yang pernah muncul di dunia ini.
Di tempat lain..
Masih dengan suasana pagi yang damai dengan kicauan burung hutan yang terdengar hingga kastil tua.. Ketenangan pagi buyar kala Rebecca berteriak kencang melihat seorang wanita yang tidur di atas pelukan Smits...
"Aaaahahahahaharrgggggg... SMITS, KAU!" Suara teriakan yang sangat lantang itu sontak membuat para kesatria suci yang lain terbangun.
Smits membuka mata. "Hadeuh.. Berisik woi." Ucapnya kala melihat Rebecca dengan wajah aneh sambil menunjuk ke arahnya. Smits yang tidak sadar lalu melompat, ia juga terkejut karena wanita yang ia tolong semalam tiba-tiba berada dalam pelukannya walaupun dia dan wanita itu masih dalam memakai pakaian.
Kehebohan pun terjadi.. Pagi yang damai berubah menjadi pagi yang gaduh.
Beberapa saat kemudian.. Di ruang makan kastil, mereka semua duduk dengan wajah tegang, sedangkan wanita yang berpakaian lusuh itu masih memeluk erat lengan Smits di sampingnya.
__ADS_1
"Oi nona tolong lepaskan.. Aku tidak mau ini jadi salah paham." Kata Smits menatap wanita itu, tapi wanita itu tidak peduli. Wanita itu terus memeluk Smits dengan erat.
"Ehem.. Jadi apa maksudnya ini Smits?" Rebecca dengan tatapan kejinya meminta klarifikasi, sementara Ivy tertawa canggung di sampingnya.
"Eeh.. Hehe.." Gildarts tersenyum, karena ia sudah tahu cerita tentang wanita itu dari Smits malam sebelumnya.
"Paman tolong bantu aku jelaskan pada mereka.." Smits gugup, ia meminta bantuan pada Gildarts tapi Gildarts hanya tersenyum tanpa kata.
Pege, dari jauh hanya melihat sambil duduk diam untuk melanjutkan meditasi paginya.
Smits tak tahu harus memulai dari mana, terlebih wanita yang ia tolong itu terus memeluk lengannya dengan erat. Lalu ditengah keheningan.. Gerald yang sejak tadi diam berdiri dan berlutut di hadapan mereka.
Sontak mereka semua terkejut.
"Sungguh beruntung aku bisa bertemu para kesatria suci.. Kenalkan aku adalah Gerald Grifindor, anggota konsulat sihir dari kota sihir Lockdown." Ucapnya sambil berlutut, penuh dengan formalitas.
"Huh.. Ganteng juga pria ini." Rebecca malah tersipu.
Gildarts yang melihat tampang pria itu langsung membusungkan dada, ia tak terima saat Rebecca mengangumi tampang penyihir tersebut.
"Wanita itu." Gerald menunjuk ke arah wanita yang memeluk lengan Smits. "Dia adalah tahanan yang kabur dari kota Lockdown, namanya adalah Anne Diggory, penyihir dari keluarga Diggory yang merupakan salah satu keluarga penyihir pendiri kota Lockdown." Sambung Gerald, ia lalu menceritakan kepada mereka kronologis yang terjadi malam sebelumnya, dimana Smits tiba-tiba datang menyelamatkan Anne dari kejaran Gerald yang ingin menangkapnya.
Gerald kembali menjelaskan pada mereka jika keluarga Diggory adalah keluarga yang terkena kutukan sihir iblis, kutukan yang membuat keluarga Diggory dapat berubah layaknya iblis dengan kekuatan penghancur yang dapat memusnahkan sebuah kota hanya dalam sehari. Kutukan itu didapatkan oleh keluarga Diggory saat perang mempertahankan kota Lockdown dar serbuan klan Iblis puluhan tahun yang lalu, perang yang berujung kekalahan itu membuat semua keluarga Diggory menerima kutukan iblis.. Sejak saat itu mereka yang merupakan keturunan keluarga Diggory diisolasi dan dikurung oleh otoritas petinggi kata Lockdown agar tidak menjadi ancaman di dunia luar.
"Itulah mengapa aku diperintahkan untuk menangkap Anne Diggory.." Jelas Gerald menatap Smits yang masih ragu dengan penjelasan Gerald.
"Begitu rupanya.. Hmmm.." Smits berpikir panjang, ia melirik Anne yang terus memeluknya. Tiba-tiba...
Plakkkk..
"Smits.. Kau telah jatuh ke dalam sihir cinta yah.. Iya kan? Cepat lepaskan perempuan berbahaya itu." Rebecca mengetok kepala Smits dengan kepalan tangannya.
"Oi.. Aku lebih tua darimu.. Sialan." Smits berteriak, mereka akhirnya cekcok dan kekonyolan pun terjadi sampai akhirnya Ivy melerai mereka. "Hehe.. Sudah, sudah..." Ucap Ivy.
Beberapa saat setelah situasi ketegangan dan kekonyolan itu berakhir. Smits menatap tajam ke arah Gerald.. "Oh iya, aku ingat semalam kau bisa mengendalikan monster? Apakah itu sihir? Atau.."
"Ya.. Itu sihir tuan. Bagaimanapun, sebagai kota sihir dan tempat berkembangnya pengetahuan sihir. Kota Lockdown menyimpan berbagai macam senjata dan item sihir kuat, salah satunya adalah item yang dapat mengendalikan monster." Jelas Gerald.
"Oh.. Hm, sepertinya kau tidak berbohong."
"Ya sudah kalau begitu, cepat serahkan wanita itu Smits.. Hemm." Rebecca membuang muka, ia masih kesal.
Anne tidak merespon, ia ketakutan dan memilih untuk menyembunyikan wajah lebih dalam lagi ke punggung Smits. "Oi nona.. Tolong jangan lakukan ini padaku.. Hadehh." Smits mengerutu, ia merasa tidak nyaman tapi di sisi lain dia juga merasa jika Anne adalah orang baik.
"Tuan tolonglah.. Percaya padaku, keluarga Diggory benar-benar berbahaya. Aku sudah melihat beberapa keluarga Diggory yang kutukan sihir iblisnya aktif secara tiba tiba.. Itu, itu benar-benar menghancurkan hampir seluruh kota Lockdown." Gerald menunduk mengingat kembali momen dimana kota Lockdown berantakan karena amukan sihir kutukan iblis.
"Aku tidak tahu tapi.. Aku merasa jika Anne tidak begitu berbahaya." Ivy berkata seperti itu setelah mencoba untuk berkomunikasi dengan Anne walaupun ucapan dan tindakannya tidak terbalas sebab Anne terlihat malu dan takut.
"Nah.. Kan, aku merasakan hal yang sama dengan apa yang dirasakan oleh Ivy." Tegas Smits.
"Hei hei.. Ivy.. Eerrrggg kau mulai ikut-ikutan hah. Lihatlah, kasihan pria tampan ini, dia hanya menjalankan tugasnya.. Paman... Cepat katakanlah sesuatu." Kata Rebecca dengan jengkelnya.
"Hmm.. Sebaiknya aku permisi dulu, aku akan menyiapkan sarapan.. Hehe." Gildarts mengacuhkan Rebecca, ia kabur dengan dalih membuat sarapan.
"Sialan kau paman... Eerrgggg." Rebecca semakin jengkel karena tidak ada yang mengikuti pendapatnya. Ia melihat Pege, tapi sayangnya begitu Pege melihat jika Rebecca ingin mengatakan sesuatu, Pege memalingkan wajah sambil menutup mata karena tak ingin ikut campur. "Rrgggggg.." Rebecca geram, ia ngambek layaknya remaja yang sedang puber.
"Tch.. Sial, apa yang harus aku lakukan sekarang. Aku tidak mungkin melawan mereka." Gumam Gerald dalam hati.
"Hadeuh.. Merepotkan saja." Gumam Smits, lalu ia melanjutkan. "Bagaimana jika.. Kami ikut mengantar Anne kembali ke kota Lockdown!?"
"Huh!" Sontak saja Gerald terkejut, pun dengan para kesatria suci yang lain.
"Oioi.. Smits, kita tidak punya waktu.. Kita harus melanjutkan perjalanan." Kata Rebecca.
"Perjalanan kemana Rebecca..? Bukankah kita sedang berpetualang untuk menjadi lebih kuat. Akan sangat menarik jika kita menemukan hal yang luar biasa saat perjalanan menuju kota Lockdown.." Smits tersenyum.
Sedangkan Gerald tertegun. "Ta-tapi taun.. Kota Lockdown adalah kota penyihir dan yang bisa masuk ke dalam kota itu hanyalah seorang penyihir saja." Ucapnya.
"Tenang saja, kami adalah kesatria suci.. Kami juga bisa mengeluarkan sihir." Ivy yang sepertinya sepakat dengan ide Smits terlihat bersemangat.
"Eee... Hehe." Gerald tersendak, ia tak bisa berkata apa-apa.
"Bagaimana Gerald.. Apakah ada masalah dengan itu? Lagi pula jika memang Anne adalah orang yang berbahaya seperti yang kau katakan maka seharusnya memang tidak ada masalah bukan?.. Sekalian saja, aku ingin bertemu dengan otoritas kota Lockdown dan bertanya langsung tentang cerita yang telah kau katakan pada kami tentang keluarga Diggory." Tegas Smits.
Gerald diam, ia hanya tersenyum canggung sambil menyembunyikan sesuatu.
"Bukankah itu bagus.. Kau bisa dikawal oleh para kesatria suci.. Huahahahaha." Rebecca malah tertawa, ia yang tadi tidaklah setuju malah ikutan mendukung rencana ini. "Hehe.. Aku bisa lebih lama menatap wajah tampan Gerald.. Uhhh." Benak Rebecca.
"Ahhh." Gerald gundah, ia melihat Anne yang memeluk erat lengan Smits. "Wanita ******." Hatinya bergejolak.
"Bagaimana.. Dan jika saja Anne sampai mengamuk ditengah jalan maka aku sendiri yang akan membunuhnya.." Tegas Smits sekali lagi.
__ADS_1
Merasa terdesak dengan tawaran itu, Gerald tersenyum. "Baiklah... Itu, itu tawaran yang bagus." Ucapnya tidak yakin.
"Baiklah semuanya... Sudah diputuskan, tujuan kita selanjutnya adalah kota Lockdown." Tegas Smits kepada rekan-rekannya.
Waktu pun berlalu, pagi yang cerah menjadi siang yang terik khususnya di wilayah barat daratan Neverland. Masih di kota Lister kerajaan Inggram, lebih tepatnya pada distrik nol.. Gubuk kecil milik Irish dan Belle dimana sejak subuh hari Richard beristirahat.
Tubuhnya sudah pulih, meski masih merasa nyeri tapi Richard telah memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Ia akan meninggal kota Lister, berjalan tanpa arah untuk mencari daratan Gres.
Sebelum ia melanjutkan perjalanan, terlebih dahulu Irish menyiapkan santap siang untuknya. Meski menolak tapi perutnya yang berbunyi mengatakan jika saat ini Richard benar-benar membutuhkan nutrisi dari makanan, oleh karena itu.. Mereka berempat makan siang bersama layaknya sebuah keluarga.
Belle tersenyum sambil melihat Richard. "Paman.. Hehe, terima kasih!" Ucap Belle dengan polosnya kepada Richard.
Irish mengusap kepala Belle. "Makan yang banyak." Ucapnya.
"Tuanku.." Di saat mereka menikmati makan siang, Woli tiba-tiba saja berdiri. "Aku telah mencari mu selama ini, tolong.. Kemanapun kau pergi, izinkan aku ikut!" Ucapnya tegas.
Richard tak bergeming.
"Tuan tolonglah.. Bawa aku kemanapun kau pergi!?"
"Huh..." Richard menghela nafas, sementara Irish dan Belle hanya menyimak. "Pertama, aku bukan tuan mu.. Kedua jangan panggil aku dengan nama Richard di depan siapapun.. Dan terakhir, aku..." tiba-tiba saja ingatan Richard tentang rekan-rekannya kembali, pengkhianatan dan dicampakkan begitu saja. Bahkan ingatan dirinya di dunianya yang dulu, ia selalu sendiri tak ada yang menemani. Benar.. Selama ini Richard kesepian dengan hidupnya.
"Tidak.. Aku lebih baik sendiri. Aku sudah terbiasa sendiri.." Ucap Richard pada Woli setelah pikiran masa lalunya melintas.
"Tuan... Tolonglah. Aku mengagumi kebaikanmu.. Bagiku kau adalah kesatria yan sesungguhnya." Woli bersikeras.
"Tuan.. Seharusnya aku tidak ikut campur, tapi selama ini Woli melewati banyak hal hanya untuk mencari keberadaan mu. Di saat namamu menjadi bahan olok-olokan.. Woli selalu membela dan rela terluka demi nama baikmu karena dia percaya, jika insting manusia serigala tidak pernah salah." Entah mengapa Irish yang melihat kesungguhan Woli ikut membujuk Richard.
"Irish.." Ucap Woli terharu.
"Paman.. Tolong jangan benci Woli." Belle juga ikut memohon untuk Woli.
"Belle!"
"Aahhh.. Sudahlah, lagi pula perjalanan yang aku tempuh akan sangat berbahaya, aku pun tidak yakin berjalan ke arah mana." Richard masih menolak permintaan tulus mereka bertiga.
"Tidak.. Berbahaya atau bahkan sampai mengancam nyawa.. Aku rela ikut bersama denganmu! Tolonglah.."
"Huh.. Lagi pula aku akan pergi ke tempat yang belum tentu ada.. Jadi sebaiknya kau tidak usah ikut.." Richard masih menolak.
"Ah.. Apakah tuan Woli akan ke Darksideland?" Woli bertanya hal yang membuat Richard tersedak.
"Bodoh... Tidak mungkin, aku akan mencari gunung olimpik yang letaknya konon berada di bagian daratan Gres." Tegas Richard sambil menyantap sepotong roti gandum.
"Ah.. Iya, aku tahu letaknya.. Aku tahu. Izinkan aku mengantarkan mu tuan." Woli tersenyum meyakinkan Richard.
"Benarkah?"
"Tentu saja.., hehe.."
"Huh.. Tidak ada pilihan lain, baiklah. Berkemaslah setelah makan, kita akan berangkat jika matahari sudah melewati titik tertingginya di langit (tengah hari)." Ucap Richard menatap Woli yang langsung bersemangat setelah mendengar perkataan Richard.
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
-Bersambung-
__ADS_1