The Strongest Knight

The Strongest Knight
Ch. 26 - Terdesak


__ADS_3

Peperangan hampir sampai pada puncaknya, serangan kejutan yang dilakukan oleh klan iblis benar-benar membuat para kesatria kewalahan. Sementara itu, para penduduk perlahan mulai berkurang, usaha mereka untuk mengungsi melalui rute pelarian hampir berhasil.


Sementara itu perang masih berlanjut di wilayah timur benteng ampt, kali ini Sebastian Austin bersama para kesatrianya berhasil di desak oleh pasukan iblis yang menyerang. Gerbang Bahkan berhasil di bobol oleh pasukan iblis tersebut, meski pasukan kesatria berhasil menumbangkan 3 iblis Tiropus, tapi 2 lainnya masih cukup untuk membuat mereka kehabisan imperium.


Mengalahkan 3 saja untuk pasukan yang jumlahnya kurang seperti saat ini sudah merupakan sebuah keajaiban. Apa lagi mereka harus mengalahkan 2 lainnya. Bahkan kesatria sekelas Sebastian Austin juga terlihat kewalahan.


Melirik ke wilayah barat, pasukan yang dipimpin oleh Pistris sudah di ambang batas. Bahkan para monster dan iblis berhasil masuk ke bagian tengah benteng. Beruntung para penduduk saat ini berada di wilayah utara, mencoba untuk mengungsi.


Sementara di gerbang utama, wilayah selatan. Pasukan porak poranda. Mereka terpaksa mundur dari gerbang depan dan saat ini tengah di kejar oleh para monster dan iblis.


Formasi dan mental para kesatria hancur lebur saat Astharot muncul memegang kepala Igor.


"Kita harus keluar dari sini." Benak Lusio, salah satu kesatria Norway yang kabur menuju wilayah utara gerbang sambil menggendong Ilume.


"Igor.. Lutor.." Ilume mengigau di pundak Lusio.


*Beberapa saat yang lalu., di gerbang Timur.


Pasukan iblis baru muncul dan menyerang gerbang utama. "YAaaaaaaaarrgggg.." Lutor dengan kondisi kritis karena racun di tubuhnya mengerahkan seluruh tenaganya untuk membantai pasukan iblis dan monster yang menyerang.


Tubuhnya penuh luka tusuk dan serangan.. Darah mengucur dimana-mana, tapi Lutor masih sanggup untuk bertarung.


Tak lama ia tumbang sambil bertahan dengan pedangnya lalu muntah darah. Para monster mengambil kesempatan dan menyerang Lutor.


"Magicae creatione : radix longitudinem." Ilume mengeluarkan semua tenaganya dalam satu serangan.


Akar raksasa muncul dari dalam tanah dan menghempaskan semua monster dan iblis yang mencoba menyerang Lutor.


"Lutor.." Ilume mendekat ke arah Lutor yang masih muntah darah.


Lutor menatap Ilume, dia melihat Ilume meneteskan air mata lebih banyak dari pada sebelumnya.


Di saat itu, Astharot muncul di atas langit. "Menyerahlah makhluk sampahh." Ucapnya.


Lutor dan kesatria yang lain melihat ke atas dan melihat Astharot yang terluka dan kehilangan tangan kanannya. Tapi yang membuat mereka terkejut adalah, Astharot memegang kepala Igor tanpa tubuh di tangan kirinya.


Lutor yang pandangannya sudah menghitam tiba-tiba pupil matanya melebar, ototnya menguat dan menguap karena panas. Emosi dan kesadarannya kembali setelah melihat Igor.. Sahabatnya terbunuh.


Sementara Ilume menganga sambil menutup mulutnya, ia tak percaya dengan apa yang dilihatnya. "Igor.."


Ingatannya kembali ke masa kecil.. Dimana mereka bertiga bertemu di gereja sebagai anak dari korban perang melawan klan iblis.


Mereka bertiga adalah sahabat sejak kecil.. Iya, mereka bertiga telah berjanji berjuang bersama hingga nafas terakhir.


"IGOORRRR...." Ilume teriak mengeluarkan air mata.


"Lusiooo.." Lutor berteriak.

__ADS_1


Seorang kesatria yang berada di sekitar kejadian itu berbalik melihat Lutor. Ia melihat tatapan Lutor, ia seolah tau maksud dari tatapan itu.


"Ferit igne inferni.." Ucap Lutor melompat menggunakan sisa kekuatan hidupnya yang terakhir.


Ilume juga ingin menyerang tapi Lusio datang menghadang dan membuat Ilume pingsan.


"Semua pasukan.. Ini perintah terakhir dari tuan Lutor. Nona Ilume harus hidup." Teriak Lutor dengan sekuat tenaga.


Para kesatria Norway yang mendengar hal itu mengatur formasi dan menghadang monster yang ingin menyerang meski kekuatan mereka sudah tidak memungkinkan. Ini seperti perintah bunuh diri..


Sementara itu Lusio.. Meninggalkan gerbang utama menuju wilayah utara untuk mengamankan keselamatan Ilume sesuai dengan perintah Lutor.


Seperti itulah yang terjadi sesaat sebelumnya..


1 Jam sebelum matahari terbit..


Wilayah utara.. Di bawah tebing, sebuah dermaga kecil dengan beberapa perahu yang sudah penuh dan sesak oleh orang-orang yang panik.


Seorang Ibu menangis karena tidak bisa menemukan anaknya di tengah kepanikan di dermaga itu. Tapi tiba-tiba di depannya muncul seseorang wanita dengan jubah hitam.


Wanita itu menggendong seorang anak. "Adik kecil, apakah dia Mamamu?"


Anak kecil itu tiba-tiba mengacungkan kedua tangannya kepada wanita itu seolah minta untuk di gendong sambil berteriak. "Mama."


Wanita itu menangis dan mendekat, memeluk anaknya dan berterima kasih kepada wanita berjubah yang telah menolong anaknya. Wanita itu tersenyum.. Lalu tiba-tiba menghilang tepat di depannya.


"Tuan Salosa, anda harus segera pergi. Selebihnya aku yang akan mengurus." Moro menghadap kepada Sasola.


"Tidak, sampai penduduk benar-benar masuk ke dalam."


"Tuan tolonglah.. Anda adalah satu-satunya bangsawan yang masih hidup di pulau Irian. Jika anda gugur, maka aku... Lebih baik mati dari pada harus bertemu dengan baginda raja dan mengatakan bahwa kami kesatria kerajaan Nusantara tidak berhasil menyelamatkan satupun bangsawan dari pulau Irian." Tegas Moro menunduk.


Salosa menelan ludah, ia masih berat untuk meninggal pulau saat ini.


"Tuan.. Saya mohon, anak dan istri anda menunggu." Sekali lagi Moro menunduk


"Ba-baiklah."


Lalu..


Gebrakkk.. Suara bangunan runtuh di depan kastil menarik perhatian mereka berdua dan penduduk yang masih belum masuk ke dalam kastil.


"Apa itu!?" Moro mengeluarkan pedangnya.


Sementara itu dari arah berlawanan.. Para monster dan iblis telah sampai tepat ke depan kastil.


Penduduk yang melihat hal itu malah tambah panik dan semakin berdesak-desakan.

__ADS_1


Moro melihat bangunan runtuh tersebut, ternyata itu adalah Pistris.


"SEMUANYAAAA.. FORMASI." Teriak Moro kepada para kesatria yang menjaga para penduduk.


Pistris bangkit dari reruntuhan bangunan tersebut. "Sial, ternyata mereka bisa menerobos sampai ke sini." Ucapnya mencoba bangkit.


Ternyata pasukan yang tersisa dari gerbang barat berhasil di desak oleh pasukan iblis sampai ke depan kastil.


"Tuan Pistris.. Anda tidak apa-apa?" Salosa berteriak ke arah Pistris.


"Hah!? Tuan Salosa, kenapa anda masih di sini?" Pistris cukup terkejut melihat Salosa belum meninggalkan pulau ini.


Sementara itu kesatria dari pasukan Pistris masih mencoba menahan gempuran dari pasukan iblis.


"Kau terlihat berantakan ya.. Igwan." Moro berteriak kepada salah satu kesatria yang sedang berduel dengan iblis.


"Berisik." Umpatnya.


Pistris bangkit dan kembali mengambil perannya.


"Moro.. Perintahkan pasukanmu untuk tetap berada dalam formasi ini dan.. Kau." Pistris menunjuk salah satu prajurit.


"Seret orang tua ini masuk ke dalam kastil dan segera bawa dia ke bawah tebing." Kata Pistris menunjuk Salosa.


"Siap tuan ."


"BAIKLAH.. KALIAN SEMUA, BERTAHAN SETIDAKNYA SAMPAI SEMUA PENDUDUK MASUK KEDALAM KASTIL." Pistris berteriak dengan keras.


Di tengah kegaduhan itu..


Di atas langit,..


"Igne irae."


Pistris melihat ke atas langit.. Dia terkejut, bola api raksasa tiba-tiba menerjang. Semakin dekat.. Hingga akhirnya cahaya bola api itu menerangi malam di sekitar kastil.


Semua penduduk yang masih panik melihat ke atas dan.. Semua berteriak. Sesaat kemudian.. Hantaman keras meledakkan kastil dan membunuh orang-orang yang masih belum masuk ke dalam jalan bawah tanah.


Kastil tersebut hancur lebur mengubur orang-orang dan menutup satu-satunya akses jalan menuju dermaga di bawah tebing.


"Bohong.. Ini bohongkan!" Salosa yang belum sempat masuk terlempar akibat ledakan dan tak percaya dengan apa yang ia lihat.


Semua melihatnya dengan mata kepala masing-masing, sekarang mereka terjebak dan tak bisa kemana-mana.


Suara histeris dan tangis akibat kehilangan keluarga mulai terdengar. Penduduk yang berjumlah sekitar 200 orang kini tak bisa meninggalkan pulau.


-Bersambung-

__ADS_1


__ADS_2