
*Lanjutan flashback
Butuh waktu satu hari satu malam bagi Richard untuk kembali dari desa yang terletak cukup jauh ke pusat Ibu kota kerajaan. Richard terlihat terburu-buru, dia berlari sekuat tenaga menuju istana.
Sampai didalam istana, dia mulai mencari teman-temannya yang lain tapi dia tidak menemukan mereka. Di tengah koridor kerajaan, prajurit yang sedang berjaga mengatakan kepada Richard bahwa para kesatria suci telah berangkat menuju labirin.
Richard bergegas ke ruangannya, dia mulai mengenakan armor miliknya dan mengambil senjata suci miliknya yaitu Knife, sebuah pisau dengan segel Ignis yang merupakan gelar miliknya sebagai kesatria suci. Tapi.. Setelah dia merenung, akhirnya dia menyimpan kembali Pisau itu dan hanya membawa pisau biasa yang akan dia gunakan untuk latihan di dalam labirin.
Setelah bersiap, Richard langsung keluar dari istana dan bergegas menyusul kesatria suci yang lain. Dia berlari di tengah kerumunan orang yang menatap dirinya seperti sampah. Armor dan wajahnya sudah sangat dikenal oleh masyarakat di Ibu kota kerajaan sebagai kesatria mesum yang merusak nama besar kesatria suci.
Dia berlari di tengah cacian dan makian orang-orang yang melihatnya. Dia meneguhkan hatinya, yang terpenting sekarang adalah mengalahkan klan Iblis dan membebaskan orang-orang dunia ini dari kesengsaraan.
Dia akhirnya keluar dari Ibu kota kerajaan, di sebuah jembatan dengan sungai kecil dibawahnya. Ternyata salah satu kesatria suci yaitu Smits terlihat sedang berbaring menatap langit cerah sambil menggigit ilalang.
Richard yang melihat Smits dengan canggung mencoba menyapa. "Smits.. Apa yang kau lakukan disini?"
"Oh, kau sudah datang rupanya." Smits terbangun dan melihat Richard.
"Jangan-jangan kau sengaja menungguku disini."
"Tidak.. Aku hanya sedang istirahat, mereka semua berjalan sangat cepat. Aku jadi lelah." Kata Smits memalingkan pandangan.
Meski tak mau mengakuinya, tapi Richard tahu betul bahwa Smits menunggu kedatangannya ditempat ini. Akhirnya mereka berdua melanjutkan perjalanan untuk menyusul teman-teman mereka yang lain.
Di perjalanan karena penasaran Richard kembali menyinggung tengang hal yang tadi. "Aku tidak tahu apakah kau mempercayaiku atau tidak, tapi.. Terima kasih sudah menungguku di tempat yang tadi."
"Ah.. Aku tidak terlalu tertarik membahas masalahmu. Entah itu benar atau tidak, aku tidak peduli. Yang aku tahu adalah.. Kau adalah bagian dari kesatria suci, tanpa adanya dirimu mungkin dimasa depan aku akan mengalami kesulitan. Aku hanya ingin cepat-cepat meninggalkan dunia ini dan kembali ke dunia tempat asalku."
__ADS_1
"Tapi...tetap saja.. Terima kasih karena sudah menunggu kedatanganku." Ucap Richard meninggikan suaranya. Dia terlihat emosional atas hal kecil yang dilakukan Smits untuknya.
"Jadi.. Apa yang membuatmu kembali ke tempat ini?" tanya Smits berbalik melihat Richard di sampingnya.
Richard merenung sejenak atas pertanyaan yang dilontarkan oleh Smits. Dia lalu mengingat anak kecil dari ras Shed yang dia temui kemarin.
"Aku sempat menyerah.. Iya.. Sakit rasanya berada di tengah orang yang tidak mempercayaiku. Tapi.. Kemarin aku bertemu dengan seorang anak kecil, Dia masih sangat kecil, mungkin umurnya sekitar 5 tahun.. Dia adalah budak.
Mendengar hal itu perhatian Smits langsung teralihkan dan dengan seksama memperhatikan perkataan Richard.
"Anak kecil itu menjadi budak karena hidup sebatangkara. Anak kecil itu kehilangan orang tuanya akibat desa tempatnya tinggal diserang oleh klan Iblis.. Dia adalah satu-satunya anak yang selamat dari desa itu."
Pandangan Smits terlihat tajam, sepertinya dia mulai marah mendengar hal itu.
"Di tengah keputusasaan.. Anak kecil itu bertemu orang lain yang kemudian merawat dirinya tapi.. Orang itu malah menjualnya ke pasar budak." jelas Richard.
"Aku mengerti." Ucap Smits.
"Menarik.. Tapi sebelum itu kau harus menjadi kuat." kata Smits.
"Aku tahu itu.. Mulai dari sekarang.. Mohon bantuannya." tegas Richard sambil meninggikan suaranya untuk menegaskan keseriusan hatinya.
Melihat Richard, Smits hanya tersenyum dan juga merasa semangat yang diucapkan oleh Richard menyentuh hatinya.
Tak ingin tertinggal jauh, mereka berdua menggunakan sihir untuk meningkatkan kecepatan lari mereka hingga disebuah hutan. Akhirnya mereka bertemu dengan rombongan kesatria yang menuju labirin.
Mereka berduapun bergabung dalam rombongan tersebut dan berkumpul kembali sebagai 10 kesatria suci.
__ADS_1
Meski sangat canggung tapi Richard memberanikan diri. "Maafkan aku.. Aku terlambat. Aku banyak merepotkan kalian." ucapnya sambil berteriak.
"Oi.. Brisik." umat Rinto.
"Richard.." kaya Ivy terlihat menyesal.
"kau masih punya nyali juga yah!" kata Leo ketus terhadap Richard.
"Tentu saja.. Aku juga bagian dari kesatria suci." sekali lagi Richard berteriak menegaskan siapa dirinya.
Arthur tersenyum ringan mendengar semangat Richard.
"Arthur.." ucap Richard lirih.
"Kau sendiri sudah bilang bukan, bahwa kau adalah kesatria suci.. Aku tidak bisa menghalangi tekadmu itu. Biar Tuhan yang menghakimi dosamu, untuk sekarang kau adalah bagian dari kami.."
Mendengar hal itu Richard tersenyum dan terharu. Semangatnya kembali bangkit sebagai kesatria suci.
" Baiklah semuanya.. Karena sudah lengkap. Ayo kita berangkat." Arthur mengambil kembali perannya sebagai pemimpin dan menyulut semangat rekan-rekannya.
Akhirnya mereka semua kembali melanjutkan perjalanan menuju labirin untuk misi latihan mereka.
"he'.. Maaf saja, sampah tetaplah sampah. Sepertinya hari ini adalah hari terakhir aku melihatmu." Benak Rinto sambil melihat ke arah Richard.
-Bersambung-
--------------------------------------------
__ADS_1
Visual look seragam/zirah para kesatria biasa kerajaan Inggram.