
Meja dan kursi terlihat berantakan, pun pecahan botol minuman memenuhilantai bar. Sepertinya perkelahian telah selesai, hanya ada satu orang yang berdiri di dalam bar yang sudah berantakan akibat perkelahian yang terjadi dan orang yang berdiri penuh luka itu adalah Woli.
Sepertinya semua orang yang ada di dalam bar ini bukanlah tandingan Woli, ia berhasil menumbangkan semua orang yang menyerangnya di dalam bar meski luka yang ia terima juga tidak ringan tapi bagi Woli, itu bukan masalah sama sekali. Apa pun akan ia lakukan untuk menyelamatkan temannya, bagi Woli Irish adalah orang pertama yang menjadi temannya sejak ia tidak lagi menjadi budak. Kebersamaan mereka kurang lebih 3 bulan sudah cukup menjadi alasan bagi Woli untuk bergerak menyelamatkan Irish apapun resikonya.
Woli.. Ia berdiri sempoyongan penuh luka, taring serigala nampak dari mulutnya. Ia mengeram dan mengamuk layaknya hewan buas, jika dilihat sosoknya kali ini lebih seperti monster yang haus darah dengan tatapan penuh amarah.
Keberingasannya terlihat dari luka cakar dan luka gigit yang di derita oleh semua orang yang ada di dalam bar hingga tidak ada lagi yang mampu untuk berdiri.
Woli mengenduskan hidungnya, dengan penciumannya yang sangat tajam ia bisa mengetahui jika masih ada orang yang sadar di bar ini, ia bahkan mengetahui jika orang itu sedang bersembunyi di belakang meja bartender.
Woli melangkah menuju meja itu, ia menggebrak meja. "Keluar!!!" Ucapnya.
"Ahh.. Iya. Iya.. Aku keluar.. Maaf, maafkan aku!" Orang itu adalah bartender di bar ini. Ia bersembunyi karena ia tak tahu bagaimana caranya bertarung. Bahkan saat ini ia terlihat sangat ketakutan begitu melihat mata Woli yang menatap dirinya, tatapan hewan buas yang setiap untuk mengoyak kapan saja.
Woli yang terlihat lelah, mulia mengatur nafas. "Huhhhhh.. Kau, dimana mereka membawa gadis kelinci yang mereka culik? Cepat katakan jika kau tidak ingin terluka." Woli yang hampir kehilangan kesadaran memegang meja untuk mempertahankan keseimbangannya.
"Ampun.. Ampun.. Iya, aku akan katakan apa yang ku tahu.."
"Sebaiknya kau bergegas sebelum aku.."
"Iya.. Ampun." Bartender itu menjaga jarak sambil mengangkat tangan tanda ia menyerah dan tak ingin melawan. "Aku sempat mendengarkan cerita jika mereka baru saja mendapatkan uang dari hasil lelang budak di pusat kota.. Se-sepertinya gadis kelinci yang kau cari ada di tempat pelelangan itu." Bartender melanjutkan.
Woli yang mengetahui hal itu, ia langsung berbalik tanpa mengatakan apapun pada bartender. Ia keluar dari bar dan seketika menjadi pusat perhatian oleh orang-orang yang melihat ia keluar dari bar dengan keadaan penuh luka dan darah memenuhi tubuhnya.
Ia terkatung-katung berjalan menuju pusat kota Lister, tempat pelelangan budak. "Irish.. Tunggu aku." Gumamnya memaksakan diri bergerak di saat tubuhnya tak lagi bisa menahan rasa sakit yang ia derita.
Sementara itu.. Tempat tujuan Woli, gedung pelelangan budak di pusat kota Lister saat ini telah menjadi pusat kegaduhan.
Para tamu yang menanti budak untuk dipamerkan terkejut dan berhamburan keluar gedung karena keributan dan pertarungan yang terjadi. Sumber dari keributan itu adalah seorang budak yang berhasil melepaskan diri dari penjara dan mengalahkan semua penjaga serta menghajar semua panitia yang mengatur acara pelelangan budak.
"Kau.. Kurang ajar, apa mau mu? Kau akan menjadi buronan kerajaan karena melakukan hal ini?" Seorang penjaga mundur perlahan, di depannya tawanan budak yang telah mengacaukan acara pelelangan berjalan mendekat.
"Huh.. Tadi aku sudah bertanya baik-baik padamu.. Aku sedang mencari gadis kelinci? Apa kau tahu!" Kata budak pengacau itu.
"Aku sudah bilang.. Aku tidak tahu. Tolong.. Tolong ampuni aku."
"Ayolah kawan.. Aku hanya ingin mengetahui tentang gadis kelinci." Kata pengacau itu.
Di saat ia berada di depan penjaga budak, dari arah belakang seseorang menyerang dengan serangan jarak jauh. Tentu dengan mudah pengacau itu menahan hanya dengan menggunakan tangan kosong saja.
"Kau!! Siapa kau?" Teriak kesatria besar Smule yang datang setelah mengetahui kegaduhan dari arah panggung utama pelelangan budak.
Bersama dengan Smule, terlihat juga Cebong yang sangat syok kala melihat acara pelelangan yang ia kelola berantakan dan para budak yang belum laku terjual malah kabur. "Apa-apaan ini!? Dasar tidak berguna!!" Cebong murka.
Ia bahkan tak bisa menyembunyikan kemarahannya, apa lagi yang mengacaukan pelelangan budak ini hanya satu orang saja. "Berani sekali kau mengacau orang asing? Apa kau tidak mengenalku.." Smule membusungkan dada, ia mengeluarkan aura untuk mengintimidasi. Smule ingin menyombongkan dirinya dengan gelar kesatria besar yang ia pegang.
"Maaf saja tapi.. Aku tidak mengenalmu." pengacau itu terlihat santai, itu tentu saja karena pengacau itu sendiri adalah Richard yang masuk ke dalam gedung pelelangan untuk mencari gadis kelinci.
Aura kuat Smule yang merupakan kesatria besar tidak ada apa-apanya di hadapan Richard. Bagi Richard, aura yang ia rasakan saat ini hanya aura kecil yang tidak terlalu mengancam.
*Beberapa saat yang lalu.
Richard tidak melupakan tujuannya untuk mencari informasi tentang daratan Gres tanah para dewa. Ia bahkan sudah bertanya pada banyak orang tapi tak ada yang sudi berbicara pada Richard karena penampilannya yang seperti seorang pembunuh. Orang-orang yang melihatnya menghindar duluan sebelum Richard mendekat dan bertanya, Richard sendiri selama satu tahun berada di dalam labirin kehilangan kemampuannya untuk bersosialisasi karena ia melewati labirin seorang diri.
Pencarian informasinya berlanjut hingga ke pusat kota dan tak sengaja menemukan gedung pelelangan budak. Awalnya ia acuh karena bukan itu tujuannya tapi perhatiannya teralihkan kala ia melihat sebuah kandang jeruji besi di atas kereta kuda tanpa atap yang terparkir di depan gedung pelelangan budak, di dalam jeruji besi itu terlihat seorang gadis yang memiliki telinga panjang ke atas sedang menangis di pojokan kandang jeruji besi.
Richard tidak peduli, ia hanya peduli dengan apa yang menjadi tujuannya saat ini lalu tak berapa lama.. "Huh.. Tch merepotkan saja." Gumamnya.
Setelah mengatakan itu Richard malah kembali ke depan gedung pelelangan tapi kereta dan jeruji besi yang berbentuk kubus itu sudah tidak terlihat lagi. "Ini akan tambah merepotkan!" Gumamnya sekali lagi.
Ia kemudian berasumsi jika gadis kelinci itu sudah dimasukkan ke dalam gedung pelelangan. Meski berat hati tapi akhirnya ia memutuskan untuk masuk ke dalam gedung, tidak sebagai tamu tapi sebagai budak.
Entah apa yang ada di pikiran Richard, meski acuh dan tidak berekspresi sama sekali tapi jauh di dalam lubuk hatinya ada rasa empati dan ingin menolong saat melihat Belle yang menangis meminta pertolongannya. Pun ketika ia tahu bagaimana Woli membelanya habis-habisan di saat semua orang menganggap bahwa dirinya adalah kesatria mesum yang lemah, tanpa sadar ia merasa cukup senang karena ternyata masih ada yang percaya padanya. Bisa di bilang Richard bersikap cuek padahal ia merasa punya tanggung jawab, dua hanya tidak bisa mengakuinya saja.
__ADS_1
Singkat cerita, Richard yang tidak ingin mencari masalah malah berpura-pura menjadi budak dan ingin di jual dalam pelelangan. Ia melakukan hal itu karena dengan berpura-pura seperti itu maka ia bisa masuk ke penjara budak untuk mencari gadis kelinci lalu membawa gadis kelinci itu kabur dengan menghancurkan penjara.
Nyatanya tidak sesederhana itu karena saat ia bertanya pada tahanan budak lain tentang gadis kelinci, tidak ada satupun tahanan budak yang mengetahuinya bahkan para penjaga budak sekalipun tidak ada yang mengetahui tentang gadis kelinci yang di maksudkan oleh Richard.
Richard yang muak dengan omong kosong para penjaga langsung memutuskan rantai budak yang mengekang tangan, kaki dan lehernya. Padahal rantai budak itu di lengkapi dengan sihir belenggu yang akan aktif jika para budak memaksa untuk melepaskan rantai itu maka rantai itu akan meledak dan membunuh para budak.
Tapi cara seperti itu tidak berlaku untuk Richard, ia bisa dengan mudah melepaskan diri dan membobol penjara budak untuk keluar dan mencari gadis kelinci yang sesaat yang lali ia lihat berada di depan gedung pelelangan.
Para penjaga yang melihat Richard kabur terkejut, mereka menyerang tapi Richard lagi-lagi bisa membuat para penjaga tersungkur hanya dengan satu pukulan, ia terus bertanya ke penjaga lain sebelum Richard memukul mereka semua sampai pingsan tapi tak ada yang tahu tentang gadis kelinci. Richard sempat geram karena ia mengira jika para penjaga membohonginya tapi setelah menanyai semua penjaga, jawaban yang ia dapatkan sama saja.
Richard akhirnya memutuskan naik ke atas panggung pelelangan budak, sontak saja para tamu terkejut dengan orang asing yang mereka lihat. Para penjaga yang berada di sekitar panggung langsung menuju ke arah Richard untuk menangkapnya tapi.. Ya, semuanya terasa mudah bagi Richard. Untuk saat ini tidak ada satupun yang bisa memojokkan Richard dengan kekuatan yang ia dapatkan dari pengalaman bertarung dengan monster dan pemberian kekuatan oleh Ifrit.
Prajurit yang menjadi pengawal acara lelang juga menyerang dan meminta bantuan pada penjaga yang ada di belakang panggung. Tentu tidak ada yang merespon karena Richard telah melumpuhkan semua penjaga yang ada di belakang panggung dan penjara, bahkan semua budak telah berlarian meninggalkan gedung pelelangan begitu Richard menjebol penjara dan membuat pingsan semua penjaga budak.
Richard yang berada di atas panggung dan dilihat oleh semua tamu mulai berteriak. "Permisi semua... Maaf mengganggu acara kalian tapi.. Apakah ada yang melihat gadis kelinci di sini?!?"
"Diam kau pengacau.. Pergi dari sini!" Seseorang melempar sampah ke arah Richard.
Richard melihat arah lemparan itu, ia melihat pria berkumis tipis mengenakan pakaian bangsawan. Richard tahu jika orang yang melemparnya itu hanya orang biasa yang tidak punya kemampuan apa-apa dan oleh karena itu ia memutuskan untuk tidak melukai bangsawan yang melemparnya.
Richard hanya menakuti bangsawan dan orang-orang yang saat ini meneriaki dirinya dari bawah panggung untuk turun. Richard mengangkat tangan ke atas dan mengeluarkan api tapi apesnya, api yang di keluarkan Richard malah menghancurkan dan membakar atap gedung. Hal itulah yang membuat para tamu berhamburan ke luar gedung pelelangan dan sekaligus membuat Smule dan Cebong mendengar ledakan cukup besar di ruangan mereka.
*Saat ini.
"Kalian berdua.. Apakah kalian tahu dimana gadis kelinci?" Richard bertanya dengan santai, meski saat ini Smule tengah serius mengeluarkan aura untuk mengintimidasi, tapi di mata Richard saat ini Samuel tak ubahnya seperti orang bodoh yang bertindak sok jago.
"Tch.. Sombong sekali kau orang asing!" Smule nampak kesal karena ia melihat Richard tidak terganggu sama sekali dengan auranya dan gelagatnya
"Gadis kelinci?" Cebong mengerutkan dahi. Ia melanjutkan. "Ada apa kau mencari gadis kelinci? Hah? Jika kau ingin mencari gadis kelinci maka jangan cari disini bodoh!! Carilah di tempat prostitusi.. Kau akan menemukan banyak gadis kelinci di sana." Cebong juga mulai gentar melihat gestur santai Richard yang telah mengalahkan semu anak buahnya.
Richard yang berbalik ke arah Smule dan Cebong lengah, ia lupa jika di belakangnya masih ada penjaga yang belum ia lumpuhkan. Penjaga itu melihat kesempatan dan menyerang Richard dari belakang.. Punchhh...
Penjaga itu pingsan karena Richard mengetahui arah serangan yang akan datang, inderanya sudah berkembang bersama dengan pertarungan hidup dan mati yang ia jalani saat masih terjebak dalam labirin. Serangan pengecut seperti itu tidak akan mungkin bisa melukainya saat ini.
"Hei.. Kesatria Besar Smule.. Apa yang kau lakukan, jangan mundur.. Hadapi dia." Kata Cebong yang melihat Smule mundur perlahan.
"Eh.. H-hei.. Hei berhenti, jangan mendekat. Aku adalah kesatria besar.. Menyerahlah..!" Smule kembali menggertak dengan ocehannya, tapi Richard tidak peduli. Ia masih berjalan mendekat ke arah mereka berdua kali ini dengan langkah yang serius, setiap ia melangkah maka pancaran dari aura menakutkan keluar darinya.
"Hei.. Hei... AKU BILANG BERHENTI BRENGSEK!" Smule mulai mengeluarkan keringat, ia yang sejak tadi ingin mengintimidasi malah terintimidasi duluan.
"Berhenti!! Aku bilang berhenti sialan.."
"Kau akan dihukum jika memukulku, berhenti!"
"Berhenti!!"
Semakin dekat, Smule malah semakin khawatir. "Berhenti, tolonglah berhenti!" Smpe gemetar.
"Tuan Smule... Apa yang kau lakukan? Lawan dia." Cebong mendorong Smule ke depan.
"Sialan.. Jangan dorong aku ke depan.. Aku bisa mati!" Ucapnya spontan.
Cebong terkejut kala mendengar Smule mengatakan hal itu, apa lagi wajahnya kini dipenuhi banyak keriput akibat rasa takut. Bola matanya membesar, ia tampak mengerikan dengan derai keringat yang membasahi seluruh wajahnya.
"Tu.. Tuan Smule, apa kau ketakutan dengan orang itu!?" Tanya Cebong yang melihat ekspresi mengerikan Smule.
"Sialan.. Siapa yang takut.." Smule kembali berbalik melihat Richard.
Wajar saja jika Smule bereaksi seperti itu karena saat ini Richard dengan tatapan mata merah darahnya tengah mengintimidasi Smule dengan aura kelam yang telah tumbuh sejak Richard terjebak di dalam labirin yang penuh dengan monster.
"Sialan.. Dasar monster... Arrgggg!" Smule berlari mengarahkan pedangnya pada Richard, ia berlari dengan penuh keputusan.
"Dasar..." Gumam Richard yang melihat Smule yang berlari dengan wajah mengerikan ke arahnya. Sebelum Smule mengayunkan pedang, Richard terlebih dahulu memegang wajah Smule dengan telapak tangan kanannya dan... Duarrr
__ADS_1
Kepala dari Smule melubangi lantai setelah Richard memegang kepala Smule dengan telapak tangan yang menempel di wajah Smule, lalu membanting Smule hanya dengan tangan kanannya ke lantai hingga membuat lantai berlubang dan mengalami keretakan serius. Smule pingsan seketika... "Apanya yang kesatria besar!! Tch.." Richard bangkit setelah membanting Smule, kali ini ia menatap Cebong.
"Hah.. Hah.. A-ampun.. Ampun." Cebong yang tidak bisa bertarung kini berlutut sambil memohon ampun pada Richard.
"Baiklah Tuan... Jika aku lihat dari caramu berpakaian, sepertinya kau adalah pedagang budak?"
"I-iya.. Anda benar.." Smule masih berlutut menunduk, ia gemetar ketakutan apa lagi setelah melihat Richard membanting Smule dengan mudah.
"Hm.. Aku tidak akan memukulmu, tapi kau harus berjanji 2 hal padaku!" Tegas Richard.
"A.. Apa itu tuan?"
"Pertama... Berhenti melakukan penjualan budak dan bebaskan semua budak yang kau miliki!"
"Ta-tapi tuan.. Aku..
"Aku tidak sedang berdiskusi.. Ini adalah perintah jika kau masih ingin selamat." Tegas Richard dengan tatapan mengancam.
"SIAP tuan..." Cebong menunduk dan tak sanggup menatap Richard.
"Lalu yang kedua.. Beritahu padaku dimana keberadaan gadis kelinci?"
"Ga-gadis kelinci itu telah di bawa oleh Tuan Grobogan bangsawan sekaligus penguasa kota ini." Jelas Cebong.
Alasan mengapa Richard tidak menemukan gadis kelinci yang ia cari karena sebenarnya gadis kelinci itu bukan budak yang akan di pamerkan dalam pelelangan kali ini, melainkan pesanan langsung dari Grobogan bangsawan sekaligus penguasa kota ini. Bisa di bilang, penculikan terjadi karena yang meminta seorang budak kelinci adalah Grobogan sendiri.
"Huh.. Bangsawan!" Richard menghela nafas, ia sungguh tidak ingin berurusan dengan bangsawan apa lagi bangsawan bernama Grobogan itu adalah penguasa kota Lister yang artinya memiliki hubungan dekat dengan keluarga kerajaan Inggram. "Aku jadi heran, kenapa bangsawan selalu bertingkah bodoh!"
Sementara itu..
Di simpang jalan antara pusat kota dan Distrik pertama kota Lister, jalan yang cukup sepi dan minim pencahayaan. Rombongan kereta terlihat beriringan, kereta yang ada di depan adalah kereta mewah, kereta yang ada di tengah adalah kereta biasa yang membawa beberapa prajurit lalu.. Kereta yang paling belakang adalah kereta yang tadi dilihat oleh Richard, kereta yang memiliki kurungan jeruji besi yang di dalam kurungan itu seorang gadis bertelinga kelinci tengah duduk menangisi nasibnya.
Kereta itu melalui sebuah jalan yang penuhi dengan pepohonan di samping kiri dan kanannya, tujuan rombongan kereta itu adalah kastil penguasa kota Lister yang terdapat di distrik pertama.
Woli yang sedang menuju pusat kota juga melewati jalan yang sama, ia berlari dengan kecepatan yang ia bisa meski tubuhnya penuh luka. Pada satu momen, ia berpapasan dengan rombongan kereta dan saat ia menoleh pada kereta terakhir, ia mencium bau Irish dan sekilas melihat Irish sedang duduk menangis di dalam jeruji besi.
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
__ADS_1
-Bersambung-