The Strongest Knight

The Strongest Knight
Ch. 134 - Malam Yang Kacau


__ADS_3

Malam yang sunyi seketika berubah menjadi riuh..


Gema lonceng peringatan terdengar di seluruh lembah tempat dimana kota Lockdown berada, tapi yang terancam bukan penduduk kota Lockdown melainkan mereka yang membangun pemukiman semi permanen di sekitar kota.


Suara lonceng itu sudah cukup membuat panik mereka-mereka yang kekeh tinggal si sekitaran kota Lockdown meski tak berhasil masuk ke dalam kota untuk berlindung. Apa lagi serangan pertama yang meledak di atas langit membuat mereka semua tak bisa menahan rasa takut untuk tetap diam dan tinggal ditempat yang sebenar lagi akan menjadi medan perang.


Alhasil suara histeris dari para penduduk pemukiman semakin menjadi-jadi terlebih saat mereka melongo tak bisa bicara melihat rombongan pasukan iblis memenuhi langit dan menutup cahaya bulan. Langit yang tadinya cukup terang dengan cahaya bulan, kini menjadi gelap tertutupi oleh kepakan sayap para iblis yang memenuhi langit.


"Ap.. Apa- apaan itu?" sahut seorang penduduk dengan cucuran keringat memenuhi wajahnya.


"Kanselir.. Tolong kami!" Sambung seorang wanita sambil memegang erat kedua tangannya di depan dada seakan berdoa.


Suara lonceng semakin bising tapi kesatria sihir yang dipuja dan dipuji sebagai penyelamat mereka tidak juga muncul.


Para penjaga tembok besar yang mengelilingi kota Lockdown bukan tidak beraksi, mereka hanya tercengang dengan serangan dadakan pada malam hari seperti saat ini. Apa lagi serangan kali ini terjadi bukan hanya pada satu sisi tembok kota Lockdown, melainkan serangan terjadi di setiap sisi kota yang membuat para kesatria sihir lebih berfokus menghalau serangan iblis yang menyerang langsung tembok raksasa ketimbang menolong para penduduk yang berada diluar kota.


Seperti rumor yang beredar, pertahanan kota Lockdown sangat kuat dan tidak pernah ditembus sebelumnya. Itu benar, setidaknya benteng pertahanan kota dan kubahnya tidak akan tertembus oleh serangan dari luar walaupun serangan skala besar seperti malam ini.


Hal itu membuat para penduduk kota yang ada di dalam kubah tidak merasa risau bahkan tidak merasakan serangan yang terjadi saat ini, suasana damai dan tenang menyelimuti kota. Membuat siap saja yang berada di dalam wilayah kota Lockdown bisa tidur dengan nyenyak tanpa memikirkan apapun, atau khawatir dengan serangan apapun.


Hal yang seperti itu tidak terjadi diluar kota.


Malam ini menjadi mimpi buruk bagi mereka yang tinggal di luar kota..


Suara gemuruh memenuhi langit, para iblis dan monster menyerang dari arah langit dan hutan-hutan. Ledakan dari bola-bola api dan serangan sihir memenuhi langit dan menghancurkan apa saja yang dihantamnya.


Orang-orang bagai semut jika dilihat dari langit, mereka semua berlari kesana dan kesini seperti orang bingung yang tak tahu harus berbuat apa. Mereka hanya bisa berteriak dan meminta tolong, berdoa dan mengagung-agungkan nama kanselir sihir.


Sementara situasi semakin genting..


Di pemukiman semi permanen yang ada di bagian timur kota Lockdown, seorang kesatria suci dengan tubuh kekarnya bertarung melawan pasukan iblis dan monster yang mendekat.


Kesatria sihir itu mengayun-ayunkan pedang besarnya dengan hanya menggunakan satu tangan saja. Seakan pedang itu cukup ringan untuk dimainkan seperti itu. Dengan satu tebasan kuat, beberapa monster dan iblis bersayap terbelah menjadi dua.


Pege, saat menghentikan serangan pertama yang mengarah ke pemukiman itu. Ia tak berhenti melawan para monster dan pasukan iblis yang terus berdatangan. Ia bertarung dengan serius tanpa mengucapkan sepatah kata, ia bertarung karena ia menyukai hal itu.


Sementara Pege larut dalam pertarungan, tak jauh dari tempat itu Richard dan Nora berlari. Nora yang panik terus berlari mencari keberadaan Ibu dan kakaknya, ia mengarah ke arah tenda tempat dimana Kakak dan Ibunya berada setelah serangan pertama yang berhasil ditebas oleh Pege dengan mudah. Tapi sayang kakak dan Ibunya tidak berada di tenda itu, apa lagi tenda itu sudah hancur terlalap api.


Nora sempat histeris, namun Richard yang bersama dengannya berhasil menenangkan Nora setelah memperhatikan jika tidak ada mayat di dalam tenda tersebut. Artinya kedua orang yang di cari oleh Nora kemungkinan masih bisa hidup.


Namun mencari seseorang di situasi pelik dan ramai di tengah kekacauan seperti sekarang sangat sulit, orang-orang saling dorong dengan panik. Mereka semua tak tenang karena jika tidak segera menjauh maka nyawa taruhannya.


Nora terus berteriak memanggil Ibu dan kakaknya, suaranya yang halus tak cukup keras untuk di dengar apa lagi ditengah kebisingan para penduduk yang sedang panik seperti saat ini.


Sementara Richard yang berjalan perlahan di belakang Nora juga sedang mencari seseorang, ia mencari kakek Dwarf yang telah berbaik hati memberinya makan dan minum di siang dan malam ini. Bagi Richard, ia harus membayar kebaikan yang telah diberikan oleh kakek itu.


Dan untuk membayar kebaikan kakek Dwarf itu, Richard setidaknya ingin memastikan jika kakek itu tidak mati malam ini dan akan menyelamatkan kakek itu dari tempat berbahaya ini.


"Toloongg..."


"Aaaaarrgg..."


"Tidak anak ku.. Anak ku..!!"


Suara teriakan terdengar dimana-mana.. Sungguh malam yang kacau.


Sementara itu..


Di atas salah satu tembok raksasa, dimana para kesatria sihir berkumpul menyatukan barisan guna mempertahankan kota Lockdown.


Mereka semua menyerang para iblis yang terbang sambil menangkis semua serangan yang datang menerjang tembok raksasa pelindung kota. Meski tembok itu tetap kokoh karena dialiri oleh kekuatan sihir yang sangat besar tapi tetap saja, mereka semua harus bertahan dan menyerang balik semua serangan yang ada.


Para kesatria sihir terlihat gagah sambil menyerang balik musuh yang menyerang mereka. Berlindung di balik sebuah kubah sihir sambil menyerang dengan meriam raksasa adalah hal terbaik yang bisa mereka semua lakukan.


Kali ini tidak ada kesatria sihir yang keluar dari kubah pelindung, mereka hanya bertahan di dalam kubah. Mereka bertahan dan menyerang tanpa takut terluka atau kehilangan nyawa.


Itu adalah prinsip dasar pertahanan dari kota Lockdown yang dikenal sebagai kota yang memiliki pertahanan terkuat.


"Apanya yang terkuat.. Kita harus keluar dari sini!" Seorang wanita elf bersikeras di dalam salah satu kubah yang ada di wilayah timur kota Lockdown.

__ADS_1


"Neyah.. Ini perintah, ini adalah prosedur pertahanan." Kata Nerwen, seorang pria elf yang memegang erat tangan Neyah yang cukup kesal.


Nerwen dan Neyah, mereka berdua adalah kesatria sihir ras elf yang sempat terlibat suatu insiden dengan Richard tadi siang di dalam hutan.


Neyah geram karena kali ini perintah yang diberikan petinggi sihir kepadanya sebagai kesatria sihir adalah bertahan dalam kubah dan tidak menyerang keluar. Ia geram karena baru kali ini dirinya sebagai kesatria sihir tidak bisa melindungi orang-orang yang kerap kali memuji dirinya setelah berhasil mengalahkan pasukan iblis. Orang-orang itu adalah mereka yang saat ini berlarian tanpa arah, berharap mendapatkan perlindungan dari dirinya yang merupakan kesatria sihir.


"Jangan halangi aku Nerwen.. Ini adalah tugas kita sebagai kesatria sihir!" Ucap Neyah dengan tegas kepada kakaknya itu.


"Tugas apa? Hah?? Hei, tugas kita adalah mematuhi perintah kanselir sihir. Ingat itu.." Nerwen menunjuk Neyah yang masih tampak kesal.


Sementara mereka berdebat.. Kekacauan semakin besar. Suara gemuruh dan ledakan sihir terdengar, kerusakan tampak parah. Pasukan iblis telah mengepung seluruh wilayah kota dari langit hingga darat.


"Tidak.. Tidak seperti ini, kita harus melindungi mereka." Neyah menunjuk ke arah bawah, yang ia maksudkan adalah penduduk pemukiman semi permanen yang kocar kacir menghindari kematian.


Di tengah perdebatan kedua kakak dan adik itu, terlihat pula para kesatria sihir yang sibuk berjalan dan berlarian mempertahankan kubah sihir. Mereka semau bergerak, hanya Neyah dan Nerwen yang berdebat.


Neyah yang geram dan ingin keluar dari kubah untuk melindungi penduduk luar dan Nerwen yang kekeh menahan Neyah agar tidak melakukan hal nekat.


"Tenanglah.. Neyah!" Seorang pria paruh baya dengan bahu yang bidang mendekat.


Neyah dan Nerwen langsung menunduk dan hormat kala melihat pria paruh baya itu.


"Tuan Maximof.." Ucap Neyah menunduk dan berlutut.


"Katakan padaku Neyah.. Apa yang ingin kau lakukan?" Tanya Pria bernama Maximof itu.


"Tuan.. Sebagai kesatria sihir aku ingin melindungi mereka yang ada diluar kota. Aku.."


Maximof yang congkak memotong perkataan Neyah. "Kau begitu naif Neyah..." Tegasnya.


"Lihat.. Lihatlah rekan-rekanmu." Ucap Maximof yang mencoba membuka mata Neyah.


"Apa kau berfikir kami semua yang ada di sini tidak mencoba melindungi kota.. Apa kau berfikir dengan adanya kubah dan benteng besar ini sudah cukup untuk mempertahankan kota Lockdown.. Tidak, itu tidak cukup Neyah."


"Lihat lah di atas langit.. Apa kau bisa melihat langit malam berbintang dan terangnya bulan." Lanjut Maximof yang menunjuk langit.


Kubah sihir yang transparan membuat mereka semua dapat melihat langit diatasnya. Kubah yang melindungi kota Lockdown sama seperti lapisan ozon yang melindungi bumi, bentuknya tebal tapi transparan.


"Lihat.. Lihatlah mereka semua telah memenuhi langit, mereka telah memenuhi daratan bahkan rekan-rekan kita yang berada di benteng bawah juga sedang berjuang menyerang balik pasukan yang jumlahnya ratusan ribu ini." Ucap Maximof.


Neyah tak bisa berkata apa-apa, emosinya mereda ketika tahu jika keluar dari tempat ini pun ia tetap tak bisa berbuat apa-apa. Yang ada, dia hanya akan mati konyol diserang oleh iblis terbang yang mengelilingi seluruh kubah dari langit.


Rombongan iblis terbang itu seperti serangga dengan mata besarnya, seperti lebah yang terbang di sekitar sarangnya. Mereka bergerombol menyerang dan terus menyerang meski satu persatu dari mereka mati kala terkena sihir, mati kala terkena meriam raksasa yang berada atas tembok raksasa. Mereka tetap menyerang, tidak ada ekspresi atau sepatah katapun. Para iblis itu menyerang seperti boneka yang dikendalikan oleh sesuatu.


"Kau harus paham dengan situasi.. Aku tahu yang kau rasakan Neyah. Tapi ingat, tugas kita bukan untuk melindungi mereka yang ada di bawah.. Tugas utama kita adalah melindungi kota Lockdown dan penduduk yang ada di dalam kota.."


"Ini adalah keputusan yang tepat.. Bagaimanapun tidak boleh ada satupun kesatria sihir yang mati sia-sia. Apa lagi karena mati karena melindungi nope seperti mereka yang ingin kau lindungi..


"Ingat.. Mereka para nope sedari awal tidak pantas berada di lembah ini. Mereka semua harus bersyukur karena kebaikan dari Kanselir sihir yang membiarkan mereka tinggal dan memberikan perlindungan.. Tapi, tidak untuk saat ini Neyah. Bagaimana pun keselamatan kota dan penduduk yang tinggal di dalamnya jauh lebih penting. Tegas Maximof yang merupakan kesatria sihir dengan pangkat yang lebih tinggi dari mereka berdua.


Neyah tak bisa mengelak, selain karena mata yang terbuka melihat kenyataan yang ada. Apa yang dikatakan oleh Maximof juga benar, bahwa mereka para kesatuan sihir tidak punya kewajiban untuk melindungi para nope.


Serangan yang datang kali ini adalah serangan kejutan dengan skala yang cukup besar. Tidak ada waktu untuk memikirkan para nope, yang ada hanya mengerahkan semua kekuatan dan sumber daya sihir untuk mengelak dan mempertahankan kota Lockdown dari para pasukan iblis.


Sementara situasi diluar kota menjadi sangat kacau.


Bertempat di dalam kota, situasi terlihat aman dan terkendali. Bahkan para penduduk kota Lockdown masih tertidur nyenyak dan bermimpi indah. Tidak ada yang merasakan apa yang terjadi diluar kota, mereka semua aman dan tentram.


Di salah satu tempat yang ada di dalam kota, sebuah cahaya bersinar cukup terang. Cahaya terang itu adalah sebuah lingkaran sihir dimana tepat ditengah-tengahnya terdapat seorang wanita muda yang merintih kesakitan tak berdaya.


Wanita muda itu terlihat kurus kerempeng dan hanya menggunakan beberapa helai kain sebagai pakaian. Rambutnya berantakan, cukup tipis hingga sapuan angin saja dapat membuat rambutnya rontok dan berguguran seperti bunga.


Wanita itu berteriak kesakitan dengan tatapan kosong, entah sudah berapa lama dia tergantung dalam tiang besi di tengah lingkaran sihir bercahaya itu.


Ada banyak penyihir bertudung mengelilingi tempat itu, dibelakang seorang pria tua bersama dengan wanita cantik berdiri menatap sebuah cermin sihir yang menampakkan berbagai serangan sihir dari segala penjuru.


Wanita itu adalah Kanselir sihir dan ajudannya, serta beberapa petinggi kota yang sedang mengawasi pertarungan yang ada di luar sana.


"Kanselir.. Ini adalah serangan besar, aku tidak yakin inti kekuatan dari kubah sihir bisa menahan semua serangan ini." Kata salah satu penyihir yang mulai panik menyaksikan kekacauan yang nampak di depannya.

__ADS_1


"Tenang saja.. Ini tidak ada apa-apanya. Percayalah, serangan yang jauh lebih buruk pernah menimpa kota ini." Ucap Kanselir sihir.


"Ta-tapi.."


"Kau diam saja anak muda.. Aku telah hidup cukup lama, bahkan sebelum rambutmu beruban." Kata Kanselir sihir dengan penuh keyakinan.


"Lagi pula.. Kita telah menemukan pengganti inti sihir, setelah serangan ini berakhir. Segeralah jemput inti sihir kota yang baru.. Dan jangan biarkan dia mati." Ucap Kanselir sihir sambil tersenyum.


Kembali ke luar kota..


Tanah yang retak dan berlubang, pohon-pohon yang tumbang, bangunan terbakar dan mayat bergelimpangan. Tidak ada bantuan dari yang mereka harapkan, mereka yang masih hidup masih harus berjuang dari teror tengah malam yang datang menerkam.


Tidak ada perlawanan untuk mereka, mereka dibiarkan terbantai begitu saja..


Tidak ada yang menolong,


Suara tangis menggelegar, seorang anak kehilangan ibunya, seorang ibu yang meratapi kematian keluarganya, para lelaki perkasa yang berjuang mati sia-sia. Setidaknya itu yang terjadi sampai saat ini.


Masih ditempat yang sama, wilayah timur pemukiman semi permanen yang sudah tampak amburadul. Pertarungan terjadi, perlawanan dari mereka yang masih bisa melawan. Sekelompok pria tua dan muda yang memegang senjata terlihat berhadapan dengan para monster yang sedang mengamuk dan menerjang ke segala arah.


Yang memimpin mereka adalah seorang kakek ras Dwarf.


"Yyaaaarrrggg.." Kakek itu memegang kapak dengan lengan kekarnya. Ia melompat sambil memotong kepala monster yang menyerangnya.


Satu tebasan kuat membuat kepala monster itu langsung terlepas dari lehernya.


Itu terjadi sejak awal, sejak awal serangan rombongan pria itu telah melakukan perlawanan sambil berharap bantuan dari pasukan kesatria sihir yang tak kunjung datang.


"Mati kau, mati... Yaaa.." Seorang manusia dengan kemampuan pedang yang cukup hebat berhasil menumbangkan beberapa monster kecil.


Rombongan itu bentrok dengan pasukan monster, mereka semua berjuang dengan gagah dan sedikit berhasil menghambat serangan.


"Jangan remehkan aku.. Aku adalah mantan prajurit kerajaan Naugrim." Teriak kakek Dwarf itu dengan gagah berani.


Tapi sayang, ia sudah cukup tua untuk berada di tengah penyerbuan pasukan iblis. Para monster yang terus berdatangan tak dapat mereka halau, suara teriakan dan perjuangan mereka terasa sia-sia begitu pasukan baru datang dengan kekuatan jauh di atas mereka semua.


Suara pedang dan tebasan terdengar, diiringi teriakan dari potongan dan percikan darah dari tubuh mereka yang dicabik oleh monster-monster itu.


"Iroh... Awas..!!" Kakek Dwarf itu menyaksikan satu persatu rekannya terbunuh, ia berteriak ke salah satu pria yang terkena cakar hingga membuat pria itu terbelah menjadi 3 bagian.


"Irohhh... Kurang ajar kau monster." Kakek Dwarf dengan sisa-sisa kekuatannya berlari menggenggam kapak dengan kedua tangannya, ia berniat memenggal kepala monster yang telah membunuh Iroh dengan tragis seperti itu.


Begitu dia mengayunkan kapak, tiba-tiba saja monster itu mengelak dengan lincah dan menyerang balik.


Kakek Dwarf terdesak karena tak sanggup bereaksi, ia diam sambil menutup mata seakan pasrah dengan kematian yang sebentar lagi dia hadapi.


Dan..


Percikan darah memenuhi wajahnya..


"Jangan mati dulu Dwarf tua.. Aku masih belum membalas budi padamu." Ucap Richard yang datang menghalau monster tersebut.


Monster itu mati dengan api yang meledakkan kepalanya.


'


'


'


'


'


'


'


'

__ADS_1


-Bersambung-


__ADS_2