The Strongest Knight

The Strongest Knight
Ch. 66 - Terlihat Kacau


__ADS_3

Meski sudah bertambah kuat, nyatanya apa yang dimiliki oleh para kesatria suci belum cukup bahkan hanya untuk mengimbangi kekuatan seorang iblis yang bergelar 6 dosa besar.


Bisa dilihat dari pertarungan yang saat ini tengah berlangsung, sejak awal para kesatria suci hanya di permainkan oleh Rever.


Rever yang mulai serius dan mengeluarkan semua kemampuan miliknya bahkan bisa menumbangkan kelima kesatria suci tersebut dengan mudah. Itulah Rever, semakin ia marah maka semakin kuat dirinya. Tak heran Ia dikatakan sebagai iblis terkuat dari 6 dosa besar yang lainnya.


"Ada permintaan terakhir!" Rever tersenyum menatap Arthur yang sebentar lagi kehabisan nafas akibat di cekik lehernya.


Sementara para kesatria suci yang lain masih tersungkur di tanah dengan luka dari sambaran petir hitam yang sangat dahsyat.


"Ak-ak ahk."


Pandangan Arthur mulia pudar, namun ia masih berusaha untuk melepas genggaman Rever dari lehernya meski ia tidak lagi punya tenaga yang cukup untuk itu.


Di tengah kesengsaraan, dari arah depan Pege yang tadi terlempar akibat serangan Rever kembali mendekat dengan tubuh yang penuh luka, bahkan wajahnya penuh darah hingga tak dapat lagi di kenali.


Zirah yang ia kenakan juga sudah terlepas, dengan sekuat tenaga ia ayunkan pedang besarnya ke arah Rever.


"Pe-Pege!" Sahut Arthur melihatnya.


"Aku mengakui mu kesatria kegelapan.." Ucap Rever datar.


Setelah mengucapkan pengakuan itu, ia kembali mengangkat tangannya ke langit dan petir hitam kembali menyambar dari langit ke arah Pege. Meski tidak sebesar tadi tapi serangan itu sudah cukup untuk membuat Pege terjatuh ke tanah hingga tak sadarkan diri.


Dari tubuh Pege keluar asap bekas sambaran petir dan sebagian tubuhnya menghitam, mata putihnya terlihat sebagai tanda ia sudah tidak sadarkan diri tapi entah bagaimana ia masih bernafas.


"Kur-kurang ajar..." Smits mencoba bangkit dengan kaki yang gemetar.


Kondisinya sama seperti rekan-rekannya yang lain, zirah baja yang ia kenakan sudah hancur dan sekujur tubuhnya penuh dengan luka.


Kondisi Arthur bahkan lebih parah, ia sudah sekarat bahkan kedua tangannya yang tadi berusaha untuk melepaskan cekikan Rever sudah tidak lagi bisa di gerakkan. Perlahan-lahan mata Arthur mulai menutup dan nafasnya semakin lama semakin hilang.


"Serangan suci!!! Tongkat angin, pemusnah iblis level satu... Fons gladium spiritus."


Angin cepat yang memotong apa saja di jangkauannya menerjang dari belakang dan melukai punggung Rever hingga ia menjatuhkan Arthur yang hampir saja mati akibat kehabisan nafas, bahkan di lehernya terlihat jelas tanda berwarna merah menandakan bahwa Rever benar-benar mencekik Arthur sangat kuat.


Mungkin jika kesatria biasa, cekikan itu sudah cukup untuk meremukkan lehernya. Beruntung bagi Arthur karena dengan imperium miliknya ia bisa bertahan hingga salah satu rekannya datang menolong.


Rever berbalik dari arah serangan itu datang. Meski tidak terlalu berdampak tapi serangan kuat itu sudah cukup membuat beberapa luka gores di punggungnya hingga mengeluarkan darah.


"Ti-tidak mungkin!" Gumam Ivy.


Serangan kuat itu adalah serangan yang di lancarkan oleh Ivy kesatria suci bergelar Ventum dengan imperium angin miliknya. Itu adalah serangan terkuat miliknya saat ini dan nyatanya serangan itu hanya memberikan sedikit luka pada Rever.


"Ohh.. Aku melupakan kalian." Kata Rever melihat 2 orang wanita di depannya.


2 orang wanita itu adalah Ivy dan Diana yang datang tepat waktu hingga nyawa Arthur terselamatkan setidaknya untuk saat ini. Sementara Rebecca yang tadi mereka tolong tengah pingsan dan tak sadarkan diri bersama dengan Leo di tempat lain.


"Aku lupa kalau jumlah kalian ada 10.. Ah, tidak... 9 tepatnya." Ucap Rever tersenyum mengintimidasi.


Melihat hal itu tentu saja Ivy dan Diana bimbang, pasalnya mereka berdua tidak lebih baik dari kesatria suci yang lain. Apa lagi Diana, sampai hari ini Diana hanya fokus meningkatkan skill untuk menggunakan sihir penyembuhan yang tidak digunakan untuk bertarung.


"Tapi tenang saja, kalian semua akan menyusul kematian salah satu kesatria suci... Hm.. Kalau tidak salah kesatria itu bergelar ignis.. Hahaha. Sayang sekali rasanya, padahal sebelumnya ignis telah membantu kami memenangkan perang besar." Rever melanjutkan perkataannya.


"Arrhhhkkkkkk.." Smits berlari mendekati Rever dengan tangan kosong.


Rever menoleh ke arah Smits. "Mati!!" Ucapnya


Beruntung, serangan itu tidak mengenai Smits karena Ivy bereaksi lebih cepat untuk menyelamatkan Smits dari serangan Rever.


Rever menoleh ke atas, ia melihat Ivy yang melayang bersama dengan Smits yang terangkat karena angin mengelilingi dirinya. Ini adalah salah satu keahlian Ivy sebagai kesatria suci yang berimperium angin.


"Ivy." Smits melihat wajah serius dari Ivy.


"Bagaimana ini! Kami tidak punya kesempatan untuk menang." Gumam Diana tampak gelisah dengan keadaan.


"Sudah cukup.. Aku tidak punya waktu untuk meladeni kalian semua." Setelah mengatakan itu Rever tiba-tiba menghilang dan seketika berada di depan Diana.


Diana terkejut memandang wajah Rever, belum sempat ia berkedip pukulan keras mengarah ke wajahnya hingga membuat Diana terlempar ke samping kiri dan membentur pohon besar hingga ia mengeluarkan darah.


"Diana!!" Ivy berteriak sesaat melihat hal itu terjadi dari atas.


Rever kembali menghilang, kali ini ia seketika berada di belakang Ivy.


"Ivy Awas!!" Smits mengingatkan tapi sayang Ivy sudah menerima tendangan keras tepat di punggung hingga membuat ia terjatuh ke bawah menghantam tanah dengan keras.

__ADS_1


Satu serangan saja sudah membuat Diana dan Ivy terluka parah. Sebagai wanita mereka berdua memiliki ketahanan tubuh yang kurang di bandingkan para lelaki. Apa lagi Rever menyerang dengan kegenap kekuatan miliknya.


"Breng.." Belum sempat menyelesaikan umpatnya, Smits juga terkena tendangan di perut hingga membuat ia memuntahkan banyak darah, lalu terjatuh ke bawah.


"Ch.." Rever menatap para kesatria suci dengan tatapan rendah.


Diana pingsan hanya dengan satu serangan, tapi Ivy berhasil bangkit dengan sisa tenaga yang ia miliki.


"Richard." Gumamnya.


Entah kenapa di saat-saat genting seperti ini ia teringat sosok Richard. Ia kembali mengingat ketika ia masih berlatih bersama Richard di kerajaan Inggram.


Kala itu, Richard yang di anggap sebagai kesatria suci terlemah tetap berusaha dan terus bangkit meski ia gagal mengeluarkan sihir atau ia tetap bangkit meski ia jatuh dan kalah terus menerus melawan kesatria biasa saat latih tanding.


Ivy mengingatnya.. Sosok yang pantang menyerah meski jatuh berkali-kali dan dibully setiap saat. Dengan senyum khasnya, kala itu Richard yang terus-terusan kalah bangkit lagi dan berkata.. "Sekali lagi! Aku belum kalah."


Ya.. Kata itu terngiang di kepala Ivy saat ini dan menjadi sumber semangat untuknya bangkit.


"Aku belum kalah!!" Kata Ivy memantapkan tekadnya.


Tapi ia tidak sadar jika.. Tekad saja tidak cukup untuk melawan iblis sekelas Rever. Lagi, dengan cepat Rever berada di depan Ivy dan ia memegang leher Ivy persis seperti apa yang ia lakukan terhadap Arthur.


Dengan cepat Ivy kehabisan nafas, ia menggeliat sambil mencoba memukul wajah Rever dengan sekuat tenaga tapi sayang.. Tenaganya tidak berdampak apa-apa. Sampai akhirnya..


Sebuah pukulan cepat tepat mengarah ke wajah Rever hingga membuat ia terlempar jauh kebelakang bahkan sampai menumbangkan beberapa pohon yang berada di tempat itu.


Seketika Ivy berada di pelukan seorang pria yang mengenakan zirah warna putih sambil tersenyum kepadanya.


"Istirahatlah.. Kau sudah melakukan yang terbaik." Ucapnya pada Ivy.


Ivy yang terlihat sesak mencoba menghirup kembali udara sambil minat sesosok pria yang menolong dirinya dari cengkraman Rever. Jika sedetik saja terlambat, mungkin Ivy sudah mati di buatnya.


Smits yang melihat hal itu melongo tak dapat berkata apa-apa. Ia melihat bagaimana pria itu memukul dengan cepat penuh tenaga hingga membuat Rever terlempar jauh kebelakang.


Pria itu meletakkan Ivy ke tanah dan berdiri, dari arah Rever yang tadi terlempar jauh. Dengan cepat Rever kembali dan mengarahkan pukulan keras penuh dengan imperium miliknya ke arah pria itu dan bangggg..


Ledakan imperium tidak terhindarkan..


Dengan kekuatan besar pria itu mampu menangkis pukulan Rever, maka jadilah pertarungan luar biasa yang mengakibatkan ledakan imperium ke segala arah hingga membuat Smits tak bisa berkata apa-apa karena besarnya kekuatan mereka berdua.


"Hhhuahahahaha... Sudah lama kita tidak bertemu." Kata Rever sedikit menjauh setelah terkena pukulan.


"Ya.. Apa kabar?" Balas Pria itu terlihat santai.


"Ch.. Kau terlihat sudah tua."


"Iya tapi masih cukup hebat untuk meladeni mu." Balasnya.


"Jadi bagaimana dengan luka di tangan kananmu itu?" Pria itu melanjutkan.


"Ch.."


Rever tampak kesal sambil memegang bekas luka yang ada di tangan kanannya.


"Bagaimana kau bisa sampai ke tempat ini?"


"Hm.. Aku merasakan ada aura aneh, jadi aku memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar.." Kata pria itu sambil menoleh ke bawah melihat para kesatria suci yang tampak kacau.


Sedang di bawah, Smits yang masih sadar berusaha membangunkan kesatria suci yang lain.


"Kau benar-benar membuat mereka semua babak belur. Tapi maaf saja, belum waktunya mereka mati." Pria itu mengeluarkan pedang miliknya.


Bersamaan dengan dikeluarkannya pedang yang ada di sarung pedang sebelah kanan pinggangnya, aura cukup besar memancar dengan cepat dan membuat tekanan udara di sekitar terasa berat.


"Maaf saja.. Urusanku di sini sudah selesai. Lagi pula belum saatnya kita kembali bertarung." Rever mengendorkan aura miliknya.


"Ayolah.. Aku sudah lama tidak bertarung dengan serius." Pria itu mengintimidasi.


"Ch.."


Tak lama portal terbuka tepat di belakang Rever, ia pun masuk ke dalam portal dan menghilang sambil menatap tajam penuh dendam ke arah pria itu.


Pertarungan dengan para kesatria suci sudah menguras imperium milik Rever, itu sebabnya ia tidak ingin meladeni pria itu. Lagi pula tujuan awal Rever datang ke tempat ini hanya ingin melihat sejauh mana perkembangan para kesatria suci. Apakah perkembangan itu akan mengancam pasukan klan iblis atau tidak.


Karena jawaban sudah Rever dapatkan maka sudah seharusnya ia pergi.

__ADS_1


"Huh!!" Pria itu menghela nafas panjang karena merasa lega ia tak harus bertarung dengan Rever saat ini. Meski kuat tapi ia tidak meremehkan Rever bahkan ia berpikir akan kalah jika saat ini mereka bertarung. Bagaimanapun iblis yang bergelar 6 dosa besar tidak bisa diremehkan begitu saja.


"Gildarts.. Rinto.." Smits menggerakkan tubuh mereka berdua.


Di tempat lain, Ivy yang juga masih tersadar mendekati Diana yang pingsan di dekat batang pohon yang sudah tumbang.


Setelah Rever pergi, pria itu turun dari atas langit secara perlahan mendekat ke arah para kesatria suci. Pria itu melihat Smits dan menghampirinya.


"Bagaimana keadaanmu?"


"Eee.. Seperti yang kau lihat. Di hajar habis-habisan." Smits kesal dengan dirinya sendiri karena tidak bisa berbuat banyak melawan Rever.


"Itu bisa dimaklumi, iblis yang kalian lawan bukan lah iblis biasa. Apa lagi kekuatan kalian belum di bangkitkan." Pria itu berkata sambil mengangkat Arthur ke tempat yang lebih baik.


Sementara itu..


Di lautan luas wilayah kerajaan Nusantara.


Terlihat rombongan armada kapal yang berlayar menuju pulau cebes berjumlah 100.000 pasukan di pimpin langsung oleh Rein Wijaya.


Pasukan besar yang siap menghadapi gempuran klan Iblis yang dipimpin oleh Lucifer sang dosa kesombongan singgah di sebuah pulau untuk mengisi keperluan mereka yang sudah menipis, lalu setelah itu kembali melanjutkan perjalanan ke pulau cebes.


Di dek kapal, terlihat para awak kapal dan prajurit sedang mengangkut naik kebutuhan yang baru saja mereka beli di pelabuhan pulau itu.


Di pinggiran bibir pelabuhan, Rein berjalan dengan seorang kesatria. Mereka berdua terlibat pembicaran serius tentang strategi dan informasi yang mereka dapatkan dari pelabuhan kota kander.


Yang mana hingga sampai saat ini, pasukan iblis yang berada 1 km dari bibir pelabuhan belum melakukan penyerangan sama sekali ke arah pelabuhan.


Hal itu membuat Rein bingung sekaligus membuat mereka punya peluang untuk mempertahankan pulau cebes. Karena jika pasukan iblis belum menyerang juga hingga pasukan yang dipimpin oleh Rein tiba maka mereka bisa memenangkan perang dan mempertahankan pulau cebes atau bahkan merebut kembali pulau Irian di tangan para iblis.


Bagaimanapun pasukan yang berjumlah 100.000 adalah pasukan yang sangat besar. Hampir semua kesatria terbaik dari kerajaan Nusantara berangkat bersama dengan Rein.


Meski awalnya khawatir dengan pertahanan ibu kota kerajaan tapi Rein cukup lega mendapatkan kabar jika pasukan bantuan dari konferensi meja bundar akan segera datang membantu pertahanan ibu kota.


"Tuan Rein.. Maaf sebelumnya tapi rumor tentang anda sudah tersebar lama di kalangan kesatria muda." Kata kesatria yang berada di samping Rein.


"Hm, tentangku?"


"Ya tentu saja, bukankah anda berhasil memukul mundur pasukan iblis yang dipimpin oleh salah satu iblis bergelar 6 dosa besar 5 tahun yang lalu."


"Ahh.. Itu."


"Bahkan rumornya, anda hampir saja membunuh iblis itu?"


"Ya.. Saat itu kami melawan Rever sang dosa kemarahan." Tegas Rein.


"Pasukan kami berhasil memojokkan pasukan iblis kala itu. Aku dan tuan Snijder hampir saja membunuhnya tapi dia berhasil kabur." Lanjut Rein.


"Tuan Snijder? Oh.. Kesatria agung kerajaan Celestial."


"Iya benar.. Dia adalah kesatria terkuat yang pernah aku kenal. Jika bukan kerena dia mungkin aku akan kalah melawan Rever dalam pertarungan satu lawan satu." Ucap Rein tersenyum.


'


'


'


'


'


'


'


'


'


'


'


'

__ADS_1


-Bersambung-


__ADS_2