
Eros Lopnika memutuskan untuk mengikuti jejak kesatria dan prajurit untuk mengejar buronan yang selama ini meresahkan masyarakat kota Lister. Buronan itu sering membuat kerusuhan dan mencuri di pusat kota, hingga Eros dan pasukannya harus datang langsung ke kota ini untuk menangkapnya.
Eros menyusul mereka karena ia merasa sudah lama waktu berlalu tapi prajurit dan kesatria yang mengejar buronan Itu belum kembali. Langit juga sudah mulai gelap, saat ini senja telah terlihat dan matahari sebentar lagi akan terbenam.
Eros sedikit resah karena kesatria yang ia perintahkan untuk mengejar manusia serigala belum juga kembali, saat dia menemukan mereka semua, ia malah terkejut setelah mendapatkan jawaban dari keresahannya saat dia melihat semua kesatria dan prajurit tersungkur. Ada yang masih belum sadarkan diri ada pula yang terbaring kesakitan.
"A-apa yang terjadi dengan kalian!?" Ia terkejut melihat pemandangan di depannya.
"Tu-tuan, tuan Eros.." Victor bangkit dari tempat ia duduk bersandar sambil merenung, pun dengan kesatria lain yang masih kesakitan akibat serangan Richard dan Woli.
Seketika semua kesatria dan prajurit yang bisa berdiri kini berada di depan Eros meletakkan tangan kanannya di dada mereka sebagai tanda penghormatan pada kesatria besar Eros, salah satu tangan kanan kesatria agung kerajaan Inggram.
"Dimana? Dimana buronan itu?" Eros mengeram, ia terlihat kesal karena bawahannya yang tidak becus.
"Tuanku.. Kami berhasil menangkapnya..."
"Omong kosong.. Mana!?? Mana dia jika kalian berhasil menangkapnya!!" Eros membentak Victor. Ekspresi marah Eros membuat para bawahannya menunduk dan tak berani melihat matanya.
"Maafkan kami tuan, tapi saat kami berhasil menangkap buronan itu.. Tiba-tiba saja orang asing datang dan menyelamatkan buronan itu." Kata Victor yang sedang menunduk.
"Lalu.. Kemana mereka, kalian melepaskan mereka begitu saja?" Eros membentak.
"Maafkan kami tuan." Victor tertunduk menyesal.
"Siapa? Siapa yang menyelamatkan buronan itu?" Eros berbalik, saking emosinya urat terlihat jelas di leher hingga wajahnya.
"A-aku tidak tahu tuan tapi orang itu memiliki mata yang aneh, bola matanya berwarna merah darah dan dia mengatakan kalau namanya adalah Red." Tegas Victor yang memegang wajahnya. Victor masih merasakan sakit di hidungnya akibat dari pukulan keras Richard.
"Mata merah! Red!? Siapa orang itu.. Sekuat apa dia sampai bisa menumbangkan kalian semua!?"
"Di-dia bisa menangkis serangan kuat ku hanya dengan menggunakan tangannya!" Eros berbalik lagi ke arah Victor, ia menatap mata Victor. "Apa dia iblis?" Tanyanya.
"Bukan tuan.. Dia terlihat seperti manusia tapi dia memiliki aura yang aneh.." Victor menduga-duga, ia terlihat tidak yakin.
"Red.. Mata merah.. Siapa orang itu? Red eye?" Eros mulai berpikir tentang sosok yang mengalahkan bawahannya dengan mudah. "Kemana dia pergi?" Tanya Eros kepada Victor.
"Dia ke arah kota tuan.." Mendengarkan hal itu, Eros langsung berbalik dan berjalan dengan cepat ke arah kota. "Rawat yang terluka!" Ucapnya saat berbalik.
Sementara itu.. Di bawah langit senja yang sama, distrik nol kota Lister, di satu tempat yang berada di bawah pohon.
"Kakak ku.. Selamatkan dia kak Woli!" Anak kecil ras ras shed yang memiliki gen kelinci itu memeluk sambil meminta pertolongan Woli.
Anak kecil itu bernama Belle, ia adalah adik dari Irish yang di culik oleh pemburu budak. Irish adalah kakak kandung dari Belle, mereka berdua hanya tinggal bersama karena orang tua mereka telah mati saat distrik nol diserang oleh gerombolan monster 1 tahun yang lalu.
Sejak saat itu mereka hanya hidup berdua saja, untuk menghidupi adiknya Irish bekerja sebagai pelayan bar di distrik 2 kota Lister. 3 bulan yang lalu saat Woli datang ke kota ini, ia tak sengaja melihat Irish berada dalam situasi bahaya. Saat itu Irish yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya dan berniat pulang terhenti di tengah jalan oleh beberapa pria berbadan besar di sebuah lorong, Irish lewat ke lorong itu untuk pulang kembali ke distrik nol.
Irish terdesak dan ia diserang jika saja Woli tidak datang mungkin Irish akan menjadi korban pemerkosaan. Singkat cerita, sejak saat itu Irish yang merasa berterima kasih mengundang Woli datang ke gubuk mereka. Akhirnya mereka berteman dan sampai saat ini menjadi akrab satu sama lain.
Woli datang ke kota ini untuk mencari informasi tentang Richard, awalnya ia tak ingin menetap lama tapi ia melihat situasi dan kondisi yang sangat mengenaskan di distrik nol. Kemiskinan dan kelaparan meraja lela hingga akhirnya Woli memutuskan untuk mencuri makanan dan emas di pusat kota lalu memberikan dan membagikan hasil curiannya itu pada masyarakat distrik nol.
__ADS_1
Tidak sampai disitu, yang membuat Woli bertahan di distrik nol selama 3 bulan ini adalah maraknya kejahatan penculikan anak dan wanita yang terjadi di di distrik nol ini. Tidak adanya prajurit dan kesatria yang berpatroli membuat tingkat kejahatan meningkat pesat dan tidak terkendali.
Yang paling marak adalah penculikan yang dilakukan oleh pemburu budak. Pemburu budak adalah orang yang melakukan kejahatan dengan menangkap manusia, shed atau makhluk ras apapun yang merdeka untuk di jual ke tempat pelelangan budak. Mereka yang menjadi korban penculikan secara otomatis akan menjadi budak seumur hidup apa lagi setelah di beli oleh para bangsawan atau pedagang kaya raya.
Bisnis pemburu budak tentu sangat menjanjikan, itulah mengapa pemburu budak sering kali melakukan pergerakan secara terorganisir dan menjadi salah satu organisasi yang bekerja di balik layar kerajaan-kerajaan yang ada di daratan Neverland. Itu adalah sistem di dunia bawah, sistem busuk yang masih eksis sampai sekarang meski daratan tengah terancam invasi klan iblis.
Woli yang pernah menjadi korban perdagangan budak merasa perlu bertindak begitu dia mengetahui hal itu. Ia tahu betul rasanya menjadi budak sejak masih kecil karena itu Woli memutuskan untuk tinggal di distrik nol dan menggunakan kemampuan bertarungnya untuk menggagalkan penculikan pemburu budak.
Semenjak Woli tinggal di distrik ini, bukan hanya angka penculikan yang berkurang tapi juga angka kejahatan yang lain dan untuk membantu mereka yang kelaparan, Woli melakukan pencurian di pusat kota lalu membagikan hasil curian itu. Rutinitas yang Woli lakukan semenjak ia menetap di distrik nol kota Lister.
Suara tangis Belle semakin keras, di pipi sebelah kirinya terlihat luka lebam. Kemungkinan besar itu adalah luka yang ia dapatkan dari perlawanan yang ia berikan pada penculik.
"Siapa? Siapa yang melakukannya Belle? Apa kau mengenal orang yang menculik Irish?" Woli terlihat sangat khawatir, pasalnya Irish sangat dekat dengannya. Irish seumuran dengan Woli dan tinggi mereka juga hampir sama.
"Aku tidak tahu.. Topeng.. Mereka pakai topeng." Belle terisak.
"Topeng.. Seperti apa topeng yang mereka pakai?" Woli memegang kedua pundak Belle yang masih terus menangisi kakaknya. "Aku tidak tahu." Ucap Belle.
"Belle dengar.. Tenanglah! Tenang.. Coba ingat baik-baik, apa ada sesuatu yang kau ingat secara spesifik tentang penculik itu?" Woli mencoba mengulik informasi tentang penculik.
Richard yang berdiri di belakang mereka tidak sengaja mendengar tentang masalah yang menimpa, tapi Richard tidak peduli. Dia mengambil kesempatan ini untuk pergi meninggalkan Woli yang tengah disibukkan oleh Belle.
Belle yang sudah tenang lalu mengingat sesuatu, ia mengingat sebuah tanda di topeng penculik yang menyerang mereka. Tanda yang berbentuk setengah lingkaran berwarna hijau, di tengah setengah lingkaran itu terdapat titik kecil berwarna hitam. Belle mengatakan tentang tanda itu pada Woli. "Baiklah.. Aku akan pergi menyelamatkan kakakmu. Kau tunggulah di gubuk, aku pasti akan menyelamatkan Irish." Setelah mengatakan itu Woli bergegas pergi, ia pergi meski luka yang dideritanya belum pulih. Woli berlari menjauh tanpa peduli lagi dengan Richard, saat ini dia hanya ingin menyelamatkan Irish.
"Kakak.. Kakak yang berjubah hitam!" Belle berteriak pada Richard yang berjalan menjauh.
"Maaf anak kecil tapi aku tidak punya waktu untuk itu!" Richard mengangkat tangan dan melambai pada anak kecil itu sebagai isyarat untuk menjauh.
Tiba-tiba... Richard menghindar dengan menggerakkan kepalanya ke arah kiri. Ia menghindari batu yang di lempar oleh Belle padanya. "Kakak jahat.. Teman macam apa kakak ini! Apakah kakak akan membiarkan Woli terluka atau terbunuh." Belle kembali terisak.
"Huh.." Richard berbalik. "Dengar yah! Aku bukan teman manusia serigala itu. Aku hanya orang asing yang tidak ingin terlibat dengan masalah kalian." Richard kembali menghindari lemparan batu dari Belle.
"Kakak jahat!! Tidak ingin menolongku.."
"Aku baru melihat orang yang ingin meminta tolong malah mengancam sepertimu." Gumam Richard.
"Kak Woli.. Kak Woli adalah orang yang baik, dia juga sangat menghargai temannya. Dia datang ke tempat ini untuk menemukan teman lamanya, dia adalah teman yang loyal. Seharusnya kakak bersyukur bisa mengenal Kak Woli.. Maka dari itu.. Tolonglah.. Tolonglah bantu kak Woli." Belle menangis berderai air mata memaksa Richard untuk Ikut membantu.
Richard hanya diam, ia memandang dengan datar. Lalu ia berbalik dan melanjutkan langkah kakinya, ia menuju pusat kota. "Dasar tidak berguna.. Jika saja teman baik kak Woli ada disini pasti dia akan menghajar kakak karena tidak menggunakan kekuatan kakak untuk menolong orang yang butuh pertolongan." Entah mengapa, Belle bisa merasakan aura besar yang dimiliki oleh Richard, itulah mengapa ia ngotot untuk meminta Richard untuk menolongnya.
"Jika saja.. Kesatria suci Ignis ada di tempat ini, pasti dia akan menghajar kakak sampai babak belur." Belle berteriak pada Richard tanpa ia tahu jika Richard adalah kesatria suci Ignis yang ia maksud.
Richard berhenti melangkah. "Hei anak kecil.. Memangnya kepada dengan kesatria Ignis?" Tanya Richard tiba-tiba.
Belle yang masih menangis sambil mengusap ingus di hidungnya lalu berkata. "kesatria Ignis adalah orang baik.. Dia pasti akan menolongku dan menolong temannya, kak Woli.. Kak Woli mengatakan padaku jika kesatria Ignis adalah orang yang membebaskan dia dari budak, dia ramah dan sangat lembut.. Bahkan meski banyak orang yang mengatakan jika kesatria Ignis adalah orang jahat yang mesum dan lemah, kak Woli masih membela kesatria Ignis karena menurutnya kesatria Ignis adalah kesatria terhebat yang pernah dia kenal.. Dia percaya itu. Kak Woli mempercayai temannya... " Sambil berderai air mata, Belle mengatakan banyak hal tentang kesatria Ignis yang ia dengar dari Woli.
Di setiap waktu dan setiap saat, Woli pasti menyebut tentang kesatria Ignis dan hal itu membuat Belle ikut kagum pada kesatria Ignis.
Hal yang dikatakan oleh Belle, secara tidak langsung membuat.. "Baiklah.. Saatnya pergi. Sampai jumpa lagi anak kecil." Richard kembali melambaikan tangan, kali ini dia benar-benar pergi menjauh dari Belle. Semua yang dikatakan oleh Belle tentang kesatria Ignis menurut Richard. "Anak itu terlalu mengada-ada.. Huh!" Gumam Richard yang tidak peduli sama sekali.
__ADS_1
"Dasar.. Dasar tidak berguna!!" Belle masih menangis, ia melihat punggung Richard menjauh dan menghilang dari pandangannya. "Dasar tidak berguna.. Kesatria Ignis. Dimana kau!? Tolonglah! Tolong kak Woli dan kakakku!" Belle mendekapkan kedua tangannya, ia seperti sedang berdoa.
Langit senja telah hilang di telan kegelapan, tanda jika matahari sudah terbenam seutuhnya. Suasana distrik nol saat ini menjadi sangat gelap karena distrik nol memang sangat minim pencahayaan. Berkat cahaya terang dari arah pusat kota dan berbagai distrik yang lain, distrik nol bisa sedikit terang karena pantulan cahaya dari distrik yang lain, tapi tetap saja hal itu cukup membuat penglihatan terganggu karena gelap.
Belle merenung, suara isak tangisnya masih terdengar. Saat ini dia sedang duduk sambil memeluk kedua kakinya dan meletakkan kepala di atas lutut yang ia tekuk. Perhatiannya teralihkan kala ia melihat sebuah cahaya terang, cahaya itu semakin dekat dan sekarang cahaya itu berada di depan Belle.
Belle melihat sebuah siluet dari cahaya itu, saat ia fokus ternyata siluet itu adalah orang yang mengenakan zirah baja dan yang bercahaya itu adalah pedangnya.
"Anak kecil.. Kenapa kau menangis saat petang seperti ini!?" Tanya pria berzirah itu.
"Kak-kakak ku di culik." Kata Belle.
Pria berzirah itu mendekat dan jongkok di depan Belle, ia mengusap air mata Belle dan tersenyum di depannya. "Mari kita selamatkan kakakmu dari penculik!" Tegas pria berzirah itu, ia lalu menggendong Belle dan pergi dari tempat itu.
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
-Bersambung-
_______________
Visual look Belle..
Art by unknown
__ADS_1