
Richard menutup mata kala ia secara tiba-tiba telah berada di atas bukit setelah sebelumnya masih berada di kastil Ifrit. Ia menutup mata karena cahaya matahari yang membuat penglihatannya terganggu saking terangnya, selama setahun terperangkap dan bertahan hidup dalam labirin baru kali ini Richard kembali merasakan sensasi melihat cahaya matahari yang menyilaukan.
Ia menutup mata sambil menahan cahaya matahari dengan kedua tangannya, perlahan ia membuka mata dan mencoba membiasakan diri lagi dengan cahaya matahari yang sangat terang.
Memang tidak mudah apa lagi bola matanya sudah menjadi sangat peka sampai-sampai dia bisa melihat pada situasi yang sangat gelap sekalipun. Ciri yang paling terlihat dari bola matanya adalah perubahan warna yang terjadi dari bola mata hitam ke bola mata merah.
Ia masih di atas bukit, masih mencoba membuat penglihatannya terbiasa dengan cahaya matahari. Ia mengucek-ucek matanya lalu berbalik ke belakang dan melihat ke sebuah gua besar yang di jaga oleh beberapa prajurit kerajaan Inggram, meski sudah satu tahun berlalu tapi Richard masih bisa mengenali seragam para prajurit kerajaan. "Sepertinya.. Aku telah kembali ke daratan!" Ucapnya menyipitkan mata.
Richard yakin mengatakan hal itu karena gua yang ia lihat saat ini adalah pintu masuk menuju labirin, tempat dimana ia terjebak dan membuat dirinya bertahan hidup melawan semua monster yang ia temukan.
"Baiklah.. Sekarang kemana aku harus pergi!" Ia bergumam dengan dirinya sendiri, sambil mengenakan tudung dari jubah hitamnya untuk melindungi diri dari cahaya matahari. Ia juga mengenakan penutup wajah agar tidak ada siapapun yang mengenali dirinya. Saat ini ia terlihat seperti seorang assassin, dengan pakaian yang ia kenakan.
Sebuah jubah hitam.. Pemberian dari Ifrit.
Tempat tujuannya sudah jelas, yaitu daratan Gres tapi ia tak tahu ke arah mana ia harus pergi. Setahun berada di dalam labirin membuat ia tak mengetahui apa pun tentang situasi yang terjadi saat ini termasuk mengetahui arah atau letak dari Gres. Buku yang ia baca juga tidak menjelaskan secara rinci dimana daratan Gres berada atau lebih tepatnya dimana keberadaan gunung olimpik, gunung tinggi yang menjulang hingga langit tempat tinggal para dewa.
Richard mencoba melihat sekeliling, kali ini penglihatannya sudah mulai membaik walaupun masih ada titik-titik cahaya yang mengganggu tapi keseluruhan ia sudah bisa melihat.
Dari arah barat gerbang pintu masuk labirin yang ada di gua, ia melihat sebuah kota. Jaraknya lumayan jauh tapi ia bisa menempuh perjalanan kaki ke kota itu dan sampai sebelum matahari tenggelam. Richard bisa melihat kota itu karena saat ini ia berdiri di atas bukit yang lumayan tinggi, ia juga bisa melihat deretan pohon yang mengelilingi bukit.
Sesaat kemudian, ia memutuskan untuk pergi ke kota yang ia lihat untuk mencari informasi tentang arah atau mencari peta daratan Neverland agar ia bisa menemukan letak daratan Gres dan pergi ke tempat itu.
Richard berjalan turun dari bukit, ia memegang lengan kirinya. Lengan kiri yang pernah menjadi santapan seekor monster cyclops, kini lengan itu telah tumbuh kembali bersama dengan kekuatan yang ia terima dari Ifrit.
Sementara itu, di kota tempat tujuan Richard. Kota Lister, lebih tepatnya di alun-alun kota.
"Aahhh.. Membosankan sekali wanita itu, dia bahkan tidak memberitahuku siapa namanya." Gumam Woli.
Woli berjalan santai di tengah alun-alun kota, ia sudah berada di kota Lister selama 3 bulan setelah sebelumnya berkelana dari kota ke kota dan desa ke desa yang ada di wilayah Inggram. Ia melakukan hal yang sama seperti apa yang Oana lakukan, mencari informasi keberadaan Richard.
Walaupun informasi yang ia dapatkan hanya informasi buruk tapi ia tak mempercayai hal itu. Rasa kagum yang tertanam sejak ia di tolong setahun yang lalu membuat Woli yakin jika Richard tidak akan melakukan hal seperti itu. Ia percaya.. Pertemuan singkat itu membuat ia mempercayai Richard bahkan setelah satu tahun berlalu.
Woli menetap lama di kota ini karena ia tahu jika kota ini adalah kota terdekat dari labirin tempat dimana Richard dinyatakan mati oleh kerajaan Inggram. Selama 3 bulan ia bersabar menunggu jika sewaktu-waktu orang yang ia kagum itu muncul, maka pasti Richard akan muncul di kota ini. Entah dari mana keyakinan itu berasal tapi sekali lagi para manusia serigala tidak pernah salah jika mereka mengikuti instingnya.
Selain itu, di kota ini Woli menjadi seorang pencuri dan buronan prajurit kerajaan. Ia mencuri untuk membagikan hasil curiannya kepada budak-budak yang tak diberi makan oleh tuan mereka. Sebagai mantan budak, ia jelas merasakan apa yang para budak rasakan. Itulah mengapa Woli nekat menjadi pencuri makanan karena jika hanya mengandalkan hasil dari bekerja sampingan maka ia tak bisa memenuhi kebutuhan budak-budak atau para orang miskin yang tinggal di kota ini.
Selama satu tahun, Woli yang masih anak-anak berkembang menjadi remaja yan tangguh. Ia telah banyak bertarung dengan orang jahat, perampok dan para prajurit bahkan kesatria. Ia juga punya potensi dalam dirinya, apa lagi Woli bisa menggeluarkan aura besar yang hampir setingkat dengan level para kesatria besar.
Itulah mengapa sampai hari ini Woli masih berkeliaran di kota dan belum berhasil di tangkap oleh para prajurit. Bukan hanya mencuri yang menjadi kesalahannya, tapi sebulan yang lalu ia pernah membebaskan semua budak dari pasar budak yang terdapat pada distrik 2 kota Lister.
Yang mana hal itu adalah kesalahan berat karena pada dasarnya pasar budak yang terdapat di kota ini mendapatkan pengakuan dari kerajaan alias legal. Bahkan sanksi hukuman dari kejahatan Woli adalah hukuman mati karena ia telah merusak bisnis salah satu bangsawan kerajaan Inggram.
Meski sering terpojok oleh prajurit bahkan sampai kesatria, tapi Woli dengan kelincahan dan pergerakan yang cepat selalu bisa kabur sampai hari ini. Hal itu membuat Woli jemawa dan percaya diri, itulah mengapa ia berani terang-terangsang berkeliaran di pusat kota.
Dengan status sebagai buronan kerajaan, ia masih bisa menikmati waktu berjalan santai di tengah alun-alun kota karena ia menggunakan penutup kepala agar wajahnya tak dikenali oleh orang lain. Woli berjalan sangat santai, seolah tak ada beban padahal ia adalah buronan yang paling dicari seluruh kota. Ia berjalan memasukkan kedua tangannya ke saku celana panjang yang ia kenakan saat ini. Pikirnya masih melayang tentang seorang wanita yang baru saja ia temui, wanita cantik yang ingin mencari Richard sama seperti dirinya.
Di keramaian orang ia berjalan sambil melihat toko-toko yang ada di pinggir jalan. Kini niatnya untuk mencuri kembali lagi, terlebih ia tak melihat satupun penjaga atau prajurit patroli saat ini. "Kesempatan emas." Benaknya.
Woli berhenti berjalan, ia melirik toko buah yang ada di sebelah kirinya. Ia memperhatikan kondisi sekitar sekali lagi, tak lama.. "Hei kau!!" Seseorang menepuk pundaknya.
Woli tidak mengangkat wajahnya, ia mengetahui jika orang yang memegang pundaknya saat ini adalah seorang kesatria. "Kau.. Coba buka tudung mu!" Kesatria itu mengangkat tangannya untuk membuka tudung jubah yang Woli kenakan. Belum sampai tangannya menyentuh tudung yang dikenakan Woli, dengan kelincahan dan refleks cepatnya Woli menggerakkan pundaknya kebelakang dan berputar mengarahkan tendangan keras ke wajah kesatria itu.
"Hem.. Maaf saja tapi aku tidak akan lengah!" Kesatria itu ternyata bisa menahan tendangan Woli hanya dengan satu tangan saja.
"Huh!!" Woli yang terkejut mundur, ia salto beberapa kali ke arah belakang.
Sontak aksinya itu membuat orang-orang sekitar berbalik melihat mereka berdua.
"Tangkap buronan itu!!" Teriak kesatria yang berhasil menangkis tendangan miliknya.
Seketika dari arah belakang, rombongan prajurit dan beberapa kesatria berlari ke arah Woli. "Waduh.. Gawat!! Terlalu banyak.." Ucapnya melompat melewati beberapa orang, ia berlari dengan menggunakan 2 kaki dan 2 tangannya. Persis seperti serigala yang serang berlari menggunakan 4 kakinya.
"Kejar dia!! Jangan sampai buronan itu lolos. Dia sudah banyak meresahkan warga kota." Ucap kesatria itu.
Beberapa kesatria dan prajurit pun mengejar Woli. Dari arah kesatria yang memberi perintah itu berdiri, seseorang datang menghampirinya. "Dimana bocah serigala itu?" Ucapnya.
"Ah tuan.. Maaf, para prajurit dan beberapa kesatria sedang mengejarnya." Balasnya.
"Victor.. Sebaiknya kau ikut mengejar bocah itu." Kesatria yang mengenakan zirah tersebut memandang Woli yang telah jauh di depan.
"Bocah itu memiliki aura aneh, aku tidak yakin prajurit dan kesatria yang mengejar mereka akan mampu menangkap bocah itu." Tegasnya.
"Baiklah kalau begitu tuan, saya akan menyusul mereka." Kesatria yang bernama Victor itu terlihat patuh kepada kesatria yang ada di sampingnya.
"Satu lagi!! Jika memang diperlukan, kau bunuh saja dia.." Tegas kesatria yang memiliki gelar di atas Victor itu.
"Siap tuan Eros.." Tegas kesatria Victor, lalu ia pun berlalu mengejar Woli yang sudah jauh di depan.
Ternyata kesatria yang memberi perintah dan langsung turun tangan untuk menangkap Woli adalah Eros Lopnika, kesatria besar kerajaan Inggram yang juga menjadi salah satu tangan kanan kesatria agung kerajaan Inggram.
__ADS_1
Eros Lopnika mendapatkan perintah khusus, untuk memimpin penangkapan buronan yang sudah 3 bulan ini tidak berhasil di tangkap oleh kesatria yang ada di kota ini. Woli di rasa sudah sangat meresahkan, apa lagi setelah insiden yang ia buat di tempat pelelangan budak.
Sementara itu,
Daratan Gres, dalam benteng tua kosong..
"Baiklah semuanya, makanan sudah siap!!" Gildarts berteriak dari ruang tengah kastil, tempat dimana Gildarts meletakkan makanan di sebuah meja yang ada di ruangan itu.
Suara teriakan Gildarts yang sangat kencang membuat kesatria suci yang lain mendengarnya dan hal itu sekaligus menjadi alarm bagi mereka berkumpul setelah membantai seluruh monster dan iblis yang terdapat dalam benteng tua ini.
"Huh.. Akhirnya!!" Smits berdiri dari tumpukan mayat iblis yang ia duduki.
"Ivy... Vyyy.." Smits membangun Ivy yang tertidur tak jauh dari tempatnya.
Lalu di dalam benteng..
"Oi.. Pege, saatnya makan siang. Aku sudah lapar!!" Rebecca meneriaki Pege yang tengah bermeditasi.
Pege tidak merespon, Rebecca yang kesal lalu meninggalkan Pege. "Hemmm kenapa orang pendiam itu tidak ikut bersama Arthur saja jika dia hanya ingin berbicara dengan Arthur." Gumamnya.
Merekapun berkumpul di ruang tengah benteng.
"Hadeuh.. Akhirnya bisa makan."
"Dimana Rebecca?" Gildarts bertanya pada Ivy karena saat ini mereka hanya bertiga.
Ivy belum menjawab pertanyaan itu, lalu. "Yey Yeyyy makan.. Makan.. Makan!!!" Rebecca mendekat dengan senyum lebar.
"Ohh Rebecca.. Kau cantik sekali jika sedang tersenyum seperti itu." Kata Gildarts melihat Rebecca mendekat.
"Yang benar saja Paman... Kau terlalu tua untuk Rebecca, hadeuh..."
"Ah, Smits.. Aku sudah bilang jangan salah paham.. Rebecca ini hanya mengingatkan aku dengan adikku saja." Gildarts membela dirinya sendiri.
"Hehehhe.." Ivy tertawa ringan.
Mereka berempat lalu bersantap siang meskipun sebenarnya hari sudah menjelang sore. Mereka bersantap sambil mendengarkan ocehan Rebecca tentang Pege.
"Kenapa Arthur tidak membawa Pege saja!"
"Kenapa pria poni itu tidak mau berbicara denganku, cih membuat aku jengkel saja.."
"Ne.. Ne.. Kalian tahu, aku selalu mengajak dia berbicara tapi dia selalu saja diam... Ahhhrr."
"Aku kesal aku kesal sama Pege!!"
"Wahh.. Paman makan ini enak sekali."
Ivy hanya tersenyum mendengar semua keluhan demi keluhan yang dikeluarkan oleh Rebecca. Sementara Smits menyumbat telinganya agar suara cempreng Rebecca tidak terdengar olehnya. Gildarts tersipu malu saat Rebecca memuji makanannya, ia bahkan terlihat aneh dengan senyum di wajah sangarnya.
"Ah... Rebecca, sebaiknya kau pelan-pelan saja dan jangan lupa sisakan sebagian untuk Pege. Hehe" Kali ini Ivy tersenyum canggung.
"Tidak.. Huh!! Dia sendiri yang salah karena dia selalu mau makan sendiri." Rebecca membuang mukanya, ia masih mengoceh dan kesal karena selama perjalanan ia berusaha mengakrabkan diri dengan Pege tapi Pege tidak pernah merespon dirinya sama sekali.
Kembali ke wilayah kerajaan Inggram, masih di kota Lister. Kali ini berada di pinggir kota, sebab Woli yang masih di kejar terpojok hingga ke daerah kumuh kota.
"Sial.. Mereka masih mengejar ku!" Woli menengok ke belakang sambil berlari, kali ini dia sudah berlari dengan kedua kakinya dan tidak lagi menggunakan kedua tangannya sama seperti di awal ia berlari layaknya hewan berkaki 4.
"Wah gawat!" Woli melompat karena ia melihat salah satu kesatria menyerang menggunakan serangan jarak jauh.
Bangggg... Serangan itu meruntuhkan sebuah gubuk tua. Beruntung gubuk itu tidak di huni oleh siapa-siapa.
Para penduduk daerah kumuh hanya bisa bengong dan merasa tertekan dan sedikit takut akibat kejar-kejaran yang terjadi.
Woli terus berlari tapi kali ini dia tidak bisa lepas dari para kesatria yang mengejarnya. Ia terus berlari hingga masuk ke dalam hutan, ia sengaja masuk ke dalam hutan dan meninggalkan daerah kumuh karena ia tak mau jika para kesatria terus menyerang dan melukai para penduduk kumuh.
Lama kelamaan terus berlari, ia terdesak dan mulai kelelahan. Lalu ia terkejut karena ia melihat seorang kesatria yang melayang di atasnya. Kesatria itu ternyata bisa menggunakan imperium angin dan menyerang Woli dari atas.. Boommmm..
Ledakan serangan itu membuat tanah terhempas dan Woli terlempar karena efek serangan itu. Ia menabrak pohon dan terdesak. Sesaat setelah ia sadar, dirinya telah terkepung oleh 15 orang prajurit dan 5 orang kesatria
"Cuh.." Woli meludahkan darah, ia terluka akibat serangan yang menghempaskan dirinya.
"Kau sudah tidak bisa kemana-mana lagi manusia serigala!" Kata salah seorang kesatria.
Woli bangkit, ia menguatkan ototnya dan memanjangkan kukunya sebagai senjata untuk mencakar dan melukai musuhnya. Woli menatap mereka semua, ia telah dikelilingi oleh prajurit dan kesatria dari arah depan, belakang, samping kiri dan kanan.
"Serang!!!" Cukup satu perintah, para prajurit langsung menyerang Woli, salah satu melempar tombak ke arah Woli.
Woli menunduk, ia membungkuk dan melompat cepat ke arah salah satu prajurit dan mencakar wajah prajurit tersebut hingga penuh dengan darah. Ia kembali melompat ke arah prajurit lain, lompat terus menerus dari satu prajurit ke prajurit lain tapi saat ingin melompat untuk kelima kalinya ia diserang dengan serangan jarak jauh, ia menghindar di udara. Serangan jarak jauh itu mengenai prajurit lain yang ada di belakang Woli.
__ADS_1
Setelah menghindar Woli kembali menyerang prajurit, kali ini dia menggunakan taringnya yang tajam dengan menggigit kaki prajurit hingga tak bisa bergerak. Selama ini Woli belum pernah membunuh siapapun, ia hanya melukai lawannya agar lawannya menyerah. Itu adalah prinsipnya, ia tak ingin dilihat sebagai monster pembunuh oleh siapapun.
Woli juga memunculkan aura besar yang membuat para kesatria memberi perintah agar prajurit mundur. Kali ini kelima kesatria itu yang akan menghadapi Woli yang nafasnya sudah berat karena bertarung dengan para prajurit.
Kelima prajurit itu menyerang menggunakan pedang, tentu saja Woli terdesak tapi dengan kelincahan ia dapat menghindar dan menyerang balik. Tapi para kesatria itu bukan seperti kesatria yang biasa Woli hadapi. Mereka adalah kesatria yang tergabung dalam pasukan kesatria besar pimpinan Eros Lopnika sehingga wajar jika para kesatria itu bisa meladeni kecepatan dan kelincahan Woli.
Dari arah depan, salah satu kesatria menyerang. Ia mengayunkan pedang ke samping lalu Woli melompat dengan lincah tapi kesatria yang lain menyerang dari belakang hingga lengan Woli terluka. Woli melompat tinggi agar ia berhasil keluar dari kepungan para kesatria.
Saat ini di ia terpojok, di depannya kelima kesatria itu bersiap menyerang kembali. "Huh.. Wkwk.. Aku harus menggunakannya." Woli tersenyum lalu.. Aura besar itu muncul kembali dan saat ini aura itu dirasakan dengan jelas oleh mereka semua.
"Huh!! Dari mana aura ini?" Baru ia selesai mengatakan pertanyaan itu, Salah satu kesatria yang berada di dekatnya terlempar ke kebelakang.
Woli menyerang kesatria yang terlempar itu, kali ini kelincahan dan kecepatan bertambah. Tubuhnya bercahaya dipenuhi oleh listrik, ternyata tanpa sadar Woli menggunakan imperium kilat untuk menambah kecepatan dan kelincahannya.
Setelah membuat salah satu kesatria terlempar, ia kembali menyerang dengan cakarnya, meski ia di serang terlebih dahulu tapi ia berhasil menghindar menggunakan teknik akrobatik di atas udara dengan cepat lalu mencakar tubuh salah satu kesatria.
Kesatria itu tumbang penuh darah, sebab zirah baja yang dikenakan kesatria itu robek dengan mudah terkoyak dengan cakar panjang yang dialiri imperium kilat.
"Huh.. Monster!!!" Setelah mengatakan hal itu, salah satu kesatria terkejut karena Woli telah berada tepat didepan wajahnya, Woli kembali tersenyum lalu menyerang kesatria itu hingga pingsan.
Kini hanya tersisa 2 kesatria lagi, tapi kedua kesatria itu berhasil mengimbangi Woli dan pertarungan sengit terjadi. Pertarungan yang membuat mata para prajurit yang masih sadar terbelalak. Pertarungan dua lawan satu, dimana saling serang dan bertahan terjadi.
Lalu.. Dari arah pinggir kota. "Impetu ferri lumine." Sebuah serangan jarak jauh datang dengan cepat dan...
"Huh..!" Woli terkejut, ia tak berhasil menghindar.
"Tuan Victor.." Ucap salah satu prajurit yang melihat dari arah datangnya serangan.
Woli terlempar cukup jauh, ia terluka dan aura besarnya menghilang. Sepertinya Woli sudah mencapai batas dan saat ini dia telah tersungkur di atas tanah rerumputan.
Mereka semua mendekat dan kembali mengepung Woli yang sudah tidak berdaya. Hanya satu serangan tapi itu sudah cukup sebab Victor adalah kesatria terbaik dari pasukan kesatria besar yang dimiliki oleh Eros Lopnika.
Victor mendekat, ia melihat Woli yang terluka. Woli masih sadar dan mencoba untuk bangkit tapi ia tak bisa karena luka yang ia dapatkan dari serangan kuat Victor.
"Kau.. Kau cukup meresahkan sampai-sampai kami harus meninggalkan istana kerajaan hanya untuk menangkap mu!" Ucap Victor menatap dengan sinis.
Victor mendekat, ia jongkok di samping Woli lalu mencekik lehernya. Ia lun berdiri dan membuat kaki dari Woli tak menyentuh tanah, hal itu tentu membuat Woli meronta kesakitan.
"Kau bisa memilih.. Aku bunuh di tempat ini atau.. Aku tangkap dan pada akhirnya kau juga akan mendapatkan hukuman mati!!" Ucapnya masih mencekik Woli.
Sementara itu, Wajah Woli telah memerah dan tak lagi bisa berkata apa-apa.
"Ehh.. Permisi, maaf mengganggu kalian tapi bukankah tidak baik mengeroyok orang seperti itu?"
Para kesatria, prajurit, Victor dan Woli menengok ke arah kanan, tempat asal suara yang tiba-tiba saja bertanya pada mereka.
Dan orang yang bertanya itu adalah Richard.
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
-Bersambung-
_________________
Visual look Woli dalam cerita!!
__ADS_1
Art by Mazu_ff14 (Painterest)