
Kane cukup heran melihat Bangunan kastil yang bolong bekas hantaman yang mengarah pada taman depan kastil tersebut. Yang membuatnya tambah terkejut kala menemukan Igena tersungkur dengan luka yang cukup parah di halaman taman depan kastil, ia melihat Igena menghantam tanah hingga berlubang tapi ajaibnya Igena tidak mati padahal mengingat usia dan tubuh renta Igena seharusnya ia mati akibat hantaman itu.
Kane merasa ada sesuatu ganjal. "Bagaimana mungkin manusia tua seperti Igena masih hidup dengan luka yang ia terima? Dan siapa yang melakukan itu padanya?" Benaknya bergejolak.
Di saat ia mendekat dan ingin mengajukan pertanyaan serius, saat itulah tanpa sadar ia menghirup serbuk transparan yang melayang di udara. Itu adalah serbuk dari sihir manipulasi yang dikeluarkan oleh Ignea alias Luca Crollo tepat sebelum Kane mendekat.
Sihir udara yang akan aktif jika dihirup, sihir itu akan masuk melalui pernapasan dan menyerang saraf di otak sehingga yang terkena sihir akan mudah dimanipulasi pikirannya.
Tanpa Kane dan seluruh prajurit serta kesatria yang berada di sekitar tempat itu sadari. Mereka semua telah menghirup serbuk sihir itu, efeknya Kane dan para kesatria tidak lagi merasa heran dan ganja atas apa yang telah terjadi.
Terutama Kane, kecurigaannya tentang Igena hilang. Ia mendekat dan menolong Igena yang terluka tanpa ada rasa penasaran dan tanpa mengajukan pertanyaan tentang kejadian yang menimpanya. "Hei.. Tuan Igena kau tidak papa?" Kane mengulurkan tangan untuk membantu Igena bangkit.
"Huh.. Uh." Nafas yang berat dari Igena terdengar jelas, ia kesakitan. Apa yang ia rasakan dan ekspresikan sekarang bukan karena ia sedang berpura-pura tapi luka yang ia derita akibat satu kali pukulan dari Richard benar-benar hampir membunuhnya.
"Magister.. Cepat obati luka tuan Igena." Kane berteriak pada pasukan yang ikut dengannya.
Dari arah rombongan, satu orang mendekat dengan peralatan yang ia keluarkan dari tas sihirnya. Magister adalah sebutan bagi penyihir yang ahli dalam sihir penyembuhan, bisa di bilang mereka yang bergelar Magister adalah dokter di dalam dunia ini.
"Tuan.. Tuan Kane, Nyonya Inggrid dalam bahaya. Di dalam sana ada iblis, iblis yang sangat kuat." Dengan wajah yang di buat-buat Igena alias Luca Crollo mengatakan jika yang menyerang dirinya adalah iblis, ia bermaksud untuk memfitnah Richard dan Kane tanpa bertanya dan memastikan terlebih dahulu langsung percaya, itu karena efek dari sihir manipulasi yang di keluarkan oleh Luca Crollo.
Apapun yang diinginkan dan dikatakan oleh Luca Crollo maka Kane dan prajurit yang terkenal sihirnya akan langsung percaya dan bertindak sesuai dengan kehendaknya.
Sementara itu..
Di dalam ruang penyiksaan..
Woli yang terluka parah di pegang oleh Beberapa prajurit. Sedangkan Irish hanya bisa pasrah dan menerima kenyataan jika dirinya saat ini sudah benar-benar menjadi budak untuk selamanya. Ia hanya bisa pasrah dengan keadaannya saat ini apa lagi jika melihat keadaan Woli yang telah babak belur.
Irish kembali menjadi objek penyiksaan Grobogan, bahkan saat semua prajurit dan Eros belum meninggalkan ruangan ini. Entah karena nafsu yang sudah meluap atau memang ia sengaja mempertontonkan penyiksaan yang terjadi pada Woli yang telah lemas tak berdaya.
Woli menatap semua yang terjadi, ia marah bahkan sangat marah tapi tubuhnya sudah mencapai batas dan ia hanya bisa melihat tanpa melakukan apa-apa.
Irish sendiri hanya bisa pasrah, ia tidak lagi melawan dan berteriak seperti sebelumnya, ia bahkan sama sekali tidak di ikat seperti sesaat yang lalu. Hanya ada belenggu budak pada lehernya, tidak ada lagi rantai yang mengikat tangan dan kakinya.
"Ohh.. Kelinciku.. Senyum mu.. Senyum mu indah sekali!! Aku suka.. Hahahaha." Grobogan melanjutkan lagi aksinya, ia kembali mencabut sisa kuku yang masih ada di jari jemari Irish.
Saat di cabut dengan keras, darah mengalir dan rasa sakit terasa, Tapi Anehnya Irish tidak merintih melainkan tersenyum ia sampai menggigit bibirnya sendiri sampai berdatangan agar ia tidak berteriak dan terus tersenyum meski air matanya mengalir deras.
Entah mengapa Irish tidak menangis meski jari jemarinya kembali berdarah, ia terus tersenyum.. Tersenyum menyembunyikan luka demi satu alasan yang dikatakan oleh Eros padanya.
*Sesaat yang lalu.
"Kau Irish bukan?" Eros tiba-tiba menunduk dan berbisik pada Irish.
" Aku mengenal adikmu Belle!" Saat mendengar hal itu, sontak saja ia terkejut dan menatap Eros penuh makna. Eros melanjutkan dengan membisikkan sesuatu pada Irish yang membuat Irish akhirnya menyerah dan pasrah dengan keadaan. Bisikan itulah yang membuat ia terus tersenyum meski dalam keadaan disiksa terus menerus dan bisikan itu pilu yang membuat Irish menerima jika sekarang dia adalah budak.
*Saat ini.
"Tuan Grobogan, kami akan keluar membawa buronan ini dan memenjarakannya, Saya harap anda bisa bersenang-senang dengan budak anda.." Eros mengatakan sesuatu yang membuat ia geram karena ia tahu jika hanya dengan cara inilah dia bisa menepati janjinya pada Belle.
Bahkan Eros meyakinkan Irish, ia berbisik pada Irish agar Irish menjadi budak yang patuh pada Grobogan dan melayani apapun yang diinginkan Grobogan untuk saat ini. "Adikmu ada padaku.. Aku berjanji untuk membawamu padanya tapi aku harus minta maaf karena kau harus mengalami hao mengerikan ini terlebih dahulu. Untuk sekarang tetaplah tersenyum dan jangan menampakkan kesakitan di depan tuan Grobogan, jika kau berhasil maka kau bisa bebas dan bertemu lagi dengan adikmu.. Aku berjanji padamu tidak akan melukai adikmu jika kau menerima keadaanmu saat ini.. Tetaplah tersenyum di hadapan tuan Grobogan, lakukan itu demi adikmu.. Kalian pasti akan bertemu lagi. "
Perkataan yang di bisikkan oleh Eros adalah sebuah saran dan ketetapan yang harus diterima oleh Irish jika ia ingin bebas dan bertemu dengan adiknya lagi. Bagi Eros sendiri ia harus mengatakan hal mengerikan itu pada Irish karena Grobogan telah mengatakan janjinya pada Eros sesaat yang lalu. Jika saja Irish masih bisa bertahan dan tetap tersenyum setelah fetish dari Grobogan tersalurkan maka ia dengan senang hati akan melepaskan Irish.
Itu menjadi motivasi Irish tentunya, hingga saat ini.. Saat dimana ia mengalami penyiksaan dan melayani nafsu psikopat dengan tetap tersenyum.
"Iyaaa.. Pastikan manusia serigala itu mendapatkan ganjarannya. Cepat keluar kalian semua, aku masih ingin bermain-main dengan peliharaan baruku." Ujar Grobogan penuh nafsu.
Eros membalikkan badan, ia menetapkan hatinya jika pengorbanan dan penyiksaan yang harus dilalui oleh Irish adalah cara satu-satunya agar ia bisa menepati janjinya pada Belle.
Sementara Woli dengan tatapan sayu setengah sadar membuka mata dan melihat Irish tersenyum, murka... Ia murka akan hal yang terjadi tapi kembali lagi, tubuhnya tidak bisa ia gerakkan.
Irish tersenyum, ia tersenyum tapi matanya mengisyaratkan jika saat ini dia merasa sangat kesakitan. Apa lagi semua kuku yang ada di jari tangannya sudah berhasil di cabut oleh Grobogan yang kini menjilati jari jemari Irish yang berdarah.
Eros menjauh, ia sudah berada di depan pintu masuk kamar pribadi Grobogan bersama para prajurit kastil yang memegang Woli.
Woli dengan tatapan lirih tak bisa melakukan apa-apa kala ia semakin menjauh dari Irish. "Irish.." Gumamnya sekali lagi. "Tu-tuan Richard." Ucapnya tiba-tiba, ia mengharapkan sesuatu yang mungkin tidak akan terwujud
Woli saat ini berharap jika Richard datang menolongnya, sebuah harapan yang tidak mungkin mengingat sore tadi Richard bersikap acuh bahkan tidak mengakui keberadaan Woli sebagai budak yang pernah dimerdekakan olehnya
Seusai mencabut semua kuku tangan, sekarang Grobogan kembali mengincar kuku yang lain. Apa lagi jika bukan kuku kaki, dengan senyum canggung yang dipaksakan dari wajahnya, Irish mempersilahkan. Saat ini Irish akan melakukan apapun agar bisa bertemu dengan adiknya seperti yang di janjikan oleh Eros. "Unch Unch.. Kelinciku.. Kau manis sekali.." Grobogan menyasar pergelangan kaki Irish yang terbaring di lantai, ia yang tak sanggup melihat menutup mata sambil tersenyum.
Dari arah pintu masuk, saat Eros dan prajurit lain ingin keluar dari ruangan. Mereka merasakan jika ada sesuatu yang bergerak cepat dari depan dan menghantam mereka semua hingga terlempar dan kembali masuk ke dalam kamar pribadi Grobogan.
"Tch.. Siapa kau?" Eros berhasil menangkis serangan tiba-tiba itu, sementara prajurit yang bersamanya tersungkur dan mencoba bangkit kembali.
__ADS_1
Sementara itu dari arah tembok runtuh, ruang rahasia. "Hei.. siapa lagi itu?" Grobogan terkejut dengan suara hantaman berbalik dan melihat ke arah Eros dan prajuritnya.
Yang menyerang mereka adalah Richard, ia berdiri melihat sekeliling dan sedikit terkejut kala melihat Woli dengan keadaan yang mengenaskan.
Prajurit yang telah bangkit langsung bangkit untuk mengepung Richard. Bahkan beberapa prajurit langsung berlari ke arah Grobogan untuk melindungi Grobogan dari pria berjubah yang terlihat santai menatap mereka semua dengan mata merah menyala.
"Tu... Tuan Richard." Woli langsung mengenali orang itu, tidak dari wajah tapi dari bau tubuhnya. Woli sontak tersenyum karena apa yang ia harapkan kembali terwujud. Ia bergumam dalam hati karena tahu jika Richard tidak ingin identitasnya terbongkar.
"Siapa kau?" Eros mendekat, ia memegang pedangnya dan memasang kuda-kuda untuk menyerang.
Saat melihat Eros, Richard merasa terintimidasi tapi bukan karena kekuatan dari Eros melainkan karena kenangan masa lalu yang cukup buruk antara dirinya dengan kesatria besar yang saat ini bertanya padanya. Richard mengingat jelas siapa Eros Lopnika, kesatria besar yang menjadi mentornya saat pertama kali ia datang ke dani ini, sekaligus orang yang membuat reputasinya menjadi buruk di hadapan rekan-rekannya karena perkataan-perkataan yang memojokkan Eros tenang kesatria Ignis.
Eros melihat Woli yang tersenyum, ia langsung menyimpulkan sesuatu. "Oh.. Aku mengenal mu." perkataan Eros sedikit membuat Richard khawatir.
"Kau adalah si mata merah yang menyelamatkan manusia serigala ini dari pasukan ku sore tadi." Jelas Eros.
"Huh.." Richard menghela nafas karena ia merasa lega. Richard lega karena Eros tidak mengenalinya sebagai kesatria suci yang pernah diremehkan olehnya.
"Red? Huh.. Kau pikir kali ini kau bisa menyelamatkan manusia serigala ini lagi? Tidak akan aku biarkan." Eros menghunuskan pedang ke arah Richard, ia benar-benar tidak mengenali Richard sebagai kesatria suci yang pernah ia remehkan dan anggap sebagai pengkhianat.
"Sialan... Lagi-lagi ada pengganggu. Cepat singkirkan orang itu. Aku masih belum puas bermain-main dengan peliharaan ku." Grobogan membentak prajuritnya kala ia melihat Richard.
Sementara Grobogan terus mengoceh, Richard melihat ke bawahnya dan Ia menatap gadis kelinci dengan luka lebam di wajah dan darah di jari jemarinya. Gadis kelinci itu terlihat mundur sambil merangkak karena takut dan trauma luar biasa akibat dari siksaan yang ia terima sejak tadi.
Richard menoleh ke arah lain, ia melihat jeruji besi yang didalamnya terdapat gadis shed lain yang terluka sambil di digantung dengan kedua tangan yang terikat ke atas atap jeruji besi tersebut.
Apa yang dilihat oleh Richard saat ini adalah sebuah ironi dari bentuk penindasan yang diakui oleh tirani kerajaan. Hal yang sangat membuat Richard muak sekaligus bergerak dengan cepat.
"Kita lihat, bisa apa kau red eye!" Eros melangkah dengan cepat sambil menyerang Richard dengan pedangnya, tapi Richard menghilang dari hadapannya sebelum ia menyerang.
Richard melangkah lebih cepat sebelum Eros dan sasaran Richard adalah... Manusia hina yang ada di ruangan lain, bersembunyi di punggung prajurit."AHHAAAHH.. BUNUH DIA!" Grobogan yang menjadi sasaran Richard memerintahkan prajurit yang melindungi untuk menyerang bersamaan tapi ketiga prajurit itu terpental ke samping tak sadarkan diri.
"Hah.. Ihhh.. Ero...." Belum selesai ia memanggil lengkap nama Eros, Sebuah pukulan keras mengarah tepat ke perut gumpalnya. "Orang seperti dirimu lah... Yang paling membuat aku muak...." Richard berteriak sambil memukul, seketika api menyala dari pukulannya. Bak roket yang membuat Grobogan dengan badan besarnya terlempar menghantam tembok hingga rubuh ke belakang.
Setidaknya ada 5 tembok yang bolong dan rubuh, sementara itu Grobogan terlempar keluar kastil menuju halaman bagian samping kanan dari kastil. Sama persis dengan apa yang terjadi saat Luca Crollo di hantam oleh Richard sesaat yang lalu.
Melihat hal itu Woli tersenyum, sedangkan Eros berteriak sambil mendekati Richard dengan aura besar yang ia keluarkan. "Kurang ajar kau... Red eye." Pedang yang ia ayunkan menyasar leher Richard.
Slasssss.. "Huh!"
"Yaaaaa.." Eros mundur, ia lanjut menyerang dengan serangan yang bertubi-tubi. Ia merasa terintimidasi tapi tak tahu apa maksud perkataan dari Richard karena ia tak mengenalnya.
Setiap serangan itu berhasil di tangkis, mereka berdua sangat cepat. Gerakan pedang yang di lakukan oleh Eros Lopnika bisa di prediksi dengan mudah oleh Richard sehingga ia bisa menangkis semua tebasan pedang yang diarahkan padanya.
Para prajurit panik dan tak tahu harus berbuat apa, mereka hanya bisa melongo bahkan mereka tidak ingat lagi jika tuan mereka Grobogan terlempar jauh ke luar gedung akibat pukulan Richard.
Pertarungan yang terjadi di ruang yang tidak terlalu luas itu membuat segala sesuatu yang ada di ruangan menjadi berantakan bahkan jeruji besi terpotong karena tebasan Eros.
Sementara mereka berdua bertarung, di tempat lain, taman depan kastil keluarga Snifooler..
Wanita paruh baya keluar dari kastil, ia berlari menuju rombongan prajurit dan kesatria. "Hei..hei kalian semua.." Teriaknya
"Itu... Itu dia iblis!" Igena alias Luca Crollo menunjuk Inggrid yang berlari ke arah mereka.
Kane dan kesatria beserta prajurit lain berbalik. Tanpa pikir panjang mereka semua langsung memasang kuda-kuda untuk menyerang Inggrid karena di penglihatan mereka saat ini, yang mereka lihat bukan lah Inggrid melainkan Iblis merah berekor panjang.
"Kane.. Kau Kane Lancester bukan?" Inggrid berteriak begitu melihat Kane.
"Jadi itu iblis yang menyerang mu tuan Igena?" Tanya Kane.
"Iya itu dia.." Igena merespon. "Mati kau Inggrid.. Khikhikhi.." Ucap Igena dalam hatinya.
Tanpa pikir panjang Kane berlari menuju Inggrid, ia mengeluarkan pedang dan bersiap untuk memenggal kepala Inggrid. Inggrid yang terkejut tak tahu harus berbuat apa, ia mengarahkan kedua tangannya ke depan. "Kane.. Tunggu, apa yang kau lakukan." Ucapnya panik.
Sesaat kemudian... Duarrrr.
Terdengar suara hantaman keras, itu adalah suara dari Grobogan yang terpental dan menghantam beberapa tembok kastil setelah ia menerima pukulan dari Richard. Kane yang terganggu oleh suara itu menghentikan langkahnya, pun dengan prajurit lain yang ada di sekitar. Perhatian mereka tertuju pada suara keras dari arah samping kanan gedung kastil.
Sedangkan, di dalam ruangan sebelumnya.. Pertarungan sengit masih berlangsung. Eros terus menyerang dan Richard hanya bertahan, bahkan Richard sama sekali tidak terdesak justru yang terdesak adalah Eros padahal ia yang sedari tadi menyerang.
Eros mundur... Ia tunduk dan menghunuskan pedang sekali lagi. "Acri lumine." Tebasan itu menghancurkan seluruh atap tapi Richard berhasil lolos dari tebasan cahaya itu.
"Hei.. Kau hampir saja membunuh mereka semua." Kata Richard yang berdiri di depan Eros saat ini.
Eros tersadar, ia terkejut kala melihat kondisi ruangan yang porak poranda. Ternyata serangan demi serangan yang ia keluarkan untuk melukai Richard hampir saja membuat beberapa prajurit, para budak shed yang ada di dalam penjara dan juga Irish terluka.
__ADS_1
Sedangkan Richard, selain menangkis serangan Eros agar tidak mengenainya, ternyata Richard juga menangkis serangan salah sasaran yang mengarah kepada para budak dan prajurit.
"Tch..!" Eros terlihat kesal. Sesaat kemudian Eros menenangkan dirinya. "Baiklah kalau begitu, kita lanjutkan saja di luar!" Ucapnya.
Richard tidak menggubrisnya, Richard malah berjalan ke arah Irish yang bersembunyi di pojok ruangan. "Hei.. Gara-gara kau, aku jadi terlibat banyak masalah hanya dalam waktu 1 hari." Gumamnya.
Irish ketakutan, ia menunduk kala Richard telah berada tepat di depannya. Saat Richard menunduk dan mengarahkan kedua tangannya pada Irish, Irish berteriak ketakutan." Tidak.. Jangan, jangan lukai aku." Saking takutnya ia memegang dan menyembunyikan kepalanya dengan kedua tangan.
"Hei, apa yang kau lakukan bodoh!! Benda itu bisa meledak." Eros ikut bereaksi kala melihat Richard memegang belenggu budak di leher Irish.
"Ehh.." Irish baru sadar jika Richard tidak sedang ingin melukainya, saat ini Richard jongkok di hadapan Irish dengan maksud untuk melepaskan belenggu budak yang melekat di lehernya.
"Hei.. Hentikan!" Eros tahu jika belenggu budak memiliki sihir khusus yang akan meledak jika belenggu itu di utak atik oleh siapapun. Satu-satunya yang bisa membuka belenggu itu adalah tuan dari budak atau untuk kasus Irish saat ini, yang bisa membuka belenggu tersebut tanpa meledak adalah Grobogan.
Dan jika belenggu itu terus di utak-atik oleh orang yang bukan tuan dari budak maka sihir belenggu itu akan aktif dan meledakkan leher hingga kepala budak tersebut.
"Eh.. Ja-jangan" Irish kembali ketakutan kala merasakan jika sihir belenggu itu aktif dan sebentar lagi akan meledak.
"Tenang saja, percayalah padaku." Richard yang memegang belenggu budak itu terlihat berhati-hati, ia sendiri tak tahu bagaimana membuka belenggu budak yang memiliki sihir tersebut. Apa lagi saat di pelelangan budak, kala ia membuka belenggu budak di lehernya karena ceroboh belenggu itu meledak. Untung saja Richard telah berkembang menjadi sangat kuat hingga ledakan itu tidak melukainya sama sekali. Kali ini kasusnya berbeda, Irish tidak memiliki kekuatan seperti Richard. Salah perhitungan sedikit saja maka kepalanya akan meledak.
"Bodoh.." Eros bergerak, ia menghampiri Richard dengan maksud untuk menyerang dan menghentikan Richard sebelum belenggu di leher Irish meledak, jika Irish mati maka ia tak bisa menepati janjinya.
Sesaat sebelum ia mendekat, Richard membuang sesuatu ke arah Eros dan... Duaarrrrr.
Benda itu meledak membuat Eros terpental ke belakang meski tidak mengalami luka serius. Sesaat setelah ia tersadar dan bangkit, Eros sudah kehilangan jejak dari Richard dan Irish.
"Tu-tuan.. Manusia serigala itu menghilang!" Para prajurit yang kebingungan kembali heran setelah Woli yang sejak tadi tersungkur berada di belakang mereka juga ikut menghilang.
"Sialan.. Orang itu!" Umpat Eros.
Ternyata Richard mampu melepas belenggu sihir dengan cepat, ia melempar belenggu sihir itu sebelum meledak ke arah Eros dan bergerak menggendong Irish serta Woli keluar dari ruangan. Lagi-lagi Richard melakukan hal yang sama sekali di luar dugaannya.
Saat ini Richard telah berada di luar dan berhasil kabur dari ruangan. Ia menggendong Woli dengan tangan kanan dan Irish dengan tangan kiri. Mereka bertiga saat ini tengah berada di atas kastil keluarga Snifooler.
"Teri-ma kasih." Irish masih belum percaya jika dirinya berhasil selamat dari ledakan.
"Nanti saja, gara-gara kau... Aku jadi terlibat dengan kekacauan ini. Huh.." Richard mengeluh walaupun sebenarnya dia tidak terluka sama sekali. "Hampir saja." Gumamnya dalam hati.
"Ma-maafkan aku tuan." Irish canggung karena ucapan Richard.
Richard melihat ke bawah, ia melihat halaman depan. "Sepertinya iblis itu belum mati." Gumamnya kala melihat Igena tengah mendapatkan perawatan dari seorang penyihir.
Tak jauh dari tempat itu Richard juga melihat seorang kesatria yang melayangkan pedangnya pada Inggrid, wanita tua yang tadi ia selamatkan. "Ada apa dengan kesatria itu, kenapa dia malah menghunuskan pedangnya ke wanita tua itu bukan ke arah iblis yang ada di belakangnya." Gumamnya sekali lagi.
Di saat bersamaan suara gaduh terdengar kembali, kali ini Eros dengan sengaja menghantam atap agar ia bisa melompat ke atas atap karena Eros mampu merasakan keberadaan Woli dan Irish.
Richard melompat mundur saat Eros kembali menyerangnya dengan pedang. Suara gaduh dari atas atap kembali menarik perhatian Kane, Igena dan prajurit lain. Mereka menoleh ke atas dan melihat Eros yang menyerang Richard terus menerus sementara Richard menghindar sambil menggendong 2 orang ras shed.
"Orang itu!!!" Igena seketika merinding kala melihat Richard sekali lagi.
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
-Bersambung-
__ADS_1