The Strongest Knight

The Strongest Knight
Ch. 126 - Sebuah Penghargaan


__ADS_3

Beberapa hari telah berlalu sejak insiden yang terjadi di kota Lister, kini kota itu sedang memulihkan diri di bawah kepemimpinan Inggrid selaku bangsawan sah dari keluarga Snifooler.


Distrik nol yang telah menjadi target kejahatan menjadi perhatian lebih, apa lagi komando kota Lister telah diambil alih oleh Victor, bawahan dari Eros Lopnika. Victor telah naik kelas setelah sebelumnya hanya menjadi kesatria biasa, atas kewenangan Eros sebagai kesatria besar tangan kanan Kesatria agung. Victor Lindlof kini menjadi kesatria besar dan memimpin pasukan kesatria yang ada di kota Lister dengan tugas membawa keamanan kepada semua rakyat kota Lister tanpa terkecuali.


Sedang prajurit dan kesatria yang sebelumnya telah mendapatkan ganjaran atas kelalaian mereka. Semua dari mereka telah dikirim ke wilayah yang sedang berperang menghadapi invasi klan iblis, mereka ditempatkan di garis depan untuk kembali meningkatkan semangat dan jiwa kesatria setelah sebelumnya terlibat dalam kasus dan skandal korupsi dengan pedagang budak.


Kane Lancester juga tak luput dari perhatian, gelarnya sebagai kesatria besar tangan kanan kesatria agung telah di cabut, kini ia hanyalah kesatria besar biasa yang mendapatkan tugas untuk memimpin para kesatria lain di medan perang, ia di hukum karena telah memukul bangsawan hingga pingsan. Dengan hukuman itu, bisa dibilang Kane masih beruntung karena ia tidak mendapatkan hukuman mati, sebab Sir Jean selaku kesatria agung memohon keringanan hukuman untuknya di depan para otoritas kerajaan.


Bagaimanapun, Kane adalah kesatria kuat yang tidak boleh disia-siakan kemampuannya. Oleh karena itu, ia kemudian dikirim ke satu wilayah untuk berperang dan ditugaskan untuk berperang sampai ia mati atau sampai wilayah kerajaan Inggram terbebas dari serangan klan iblis. Kini, hidupnya didedikasikan untuk berperang dan berperang melawan klan Iblis.


Setelah kejadian itu, rumor pun merebak hingga rakyat kota Lister sampai keluar kota tahu jika selama ini kota Lister ada dalam bayang-bayang iblis. Perlahan tapi pasti informasi itu juga merebak hingga ke seluruh penjuru kerajaan Inggram.


Bukan hanya informasi itu tapi juga informasi tentang keberhasilan para kesatria, yang berhasil membongkar kebusukan iblis dan membuat kota Lister kembali stabil. Seperti yang terjadi saat ini... Di alun-alun kota Lister yang penuh dengan masyarakat dari berbagai kalangan.


Terlihat ramai karena saat ini, di alun-alun kota terdapat panggung yang dibuat khusus untuk acara upacara pemberian penghargaan atas pahlawan yang menyelamatkan kota Lister dari bayang-bayang iblis. Acara ini dilangsungkan atas dasar perintah dar otoritas kerajaan sebagai ucapan terima kasih kepada seluruh kesatria yang terlibat.


Selain Inggrid yang duduk di kursi mewah yang ada di panggung yang tertata di alun-alun kota, salah satu orang penting kerajaan sebagai wakil juga terlihat duduk di sampingnya. Orang itu memakai pakaian mewah yang terbuat dari sutra, dia adalah menteri kerajaan Inggram. Dan yang tak kalah penting.. Saat seorang pria berziarah maju ke depan, suara langkah kaki pria itu disertai dengan sorak sorai dan tepuk tangan masyarakat banyak yang melihat dari bawah.


Pria itu adalah kesatria agung, Sir Jean Stephenson yang kemudian memberikan pidato untuk membakar semangat mereka yang melihat, pidato tentang perjuangan dan kehebatan kesatria terkhusus kesatria yang telah mengusir iblis yang selama ini bersembunyi dibalik layar kota Lister.


Suara gaduh, semangat serta sorak terdengar..


Di tengah rombongan masyarakat banyak, seorang anak terlihat resah. "Aahhh.. Kak Irish, aku tak bisa melihat." Belle, tubuhnya yang kecil membuat dia tak bisa melihat ke atas panggung karena berada di tengah-tengah kerumunan massa.


"Aku gendong yah!" Ucap Irish yang mengangkat tubuh mungil Belle hingga ia bisa melihat panggung dengan jelas. Ia tersenyum karena ia bisa melihat para kesatria berbaris rapi di panggung, salah satu yang ia lihat adalah Eros Lopnika dengan zirah lengkap, terlihat gagah dan berani.


"Wahhh.. Keren!" Ucap Belle tersenyum melihat kesatria yang telah menepati janjinya itu.


Lalu dari arah panggung terdengar suara lantang. "Lihatlah... Mereka semua adalah kesatria kerajaan Inggram, dengan gagah menyelamatkan Nyonya Inggrid dari jeratan iblis. Menghancurkan bisnis legal Pemburu budak.. Lihatlah.. Kesatria Inggram.. Mereka adalah pahlawan kota Lister." Ucap Sir Jean dengan lantang.


Sontak saja, kerumunan massa yang mendengar hal itu kembali dibuat semangat dan bersorak memuji kehebatan para kesatria Inggram yang berdiri gagah di atas panggung. Mereka semua tepuk tangan, bersamaan dengan hal itu menteri kerajaan mendekat dan kesatria agung bergeser di sampingnya.


"Para penduduk kota Lister sekalian.. Sebagai perwakilan raja Charles, aku.. Disini akan memberikan penghargaan kerajaan kepada mereka semua." Menteri kerajaan menunjuk ke arah para kesatria. Ia melanjutkan. "Mereka berhak atas prestasi ini.. Mereka semua adalah masa depan kerajaan Inggram.. Hidup kerajaan Inggram.. Hidup para kesatria Inggram." Teriaknya.


Para massa yang berada di bawah panggung mengangkat tangan bersamaan lalu mengulangi ucapan menteri. "Hidup kerajaan Inggram.. Hidup para kesatria Inggram." Semangat kembali terbakar karena teriakan kompak itu.


"Atas nama raja Charles.. Eros Lopnika, kesatria besar tangan kanan kesatria agung dan Para kesatria bawahannya.. Berkat keberanian dan dedikasinya menyematkan keluarga Snifooler.. Bertarung satu lawan satu dengan iblis kuat Rever Block.. Maka dengan ini sang raja menghadiahkan mu sebuah gelar pahlawan, hadiah emas dan tanah.. Bla bla bla..."


Di atas panggung, Eros yang berdiri bersama para bawahannya tertunduk. Ia tak berani mengangkat wajah karena malu dengan dirinya sendiri.. "Cih, apanya yang pahlawan!" Umpatnya berbisik sambil mendengarkan berbagai jadian yang ia dapatkan.


Ia sangat sadar jika apa yang dikatakan oleh menteri kerajaan di depan semua orang adalah kebohongan. Bisa dibilang, Eros mendapatkan hadiah dan penghargaan bukan karena prestasinya. Ia ingat betul jika bukan karena pria bermata merah.. Mungkin bayang-bayang iblis tidak akan pernah terungkap.


Ya, Eros Lopnika mendapatkan penghargaan atas prestasi Richard.


"Mari berikan tepuk tangan untuk pahlawan kota Lister.. Eros Lopnika." Ucap Menteri kerajaan dengan lantang.


Bersamaan dengan itu, Eros sebagai perwakilan para kesatria bawahannya melangkah dan mendekat lalu berlutut dihadapan menteri kerajaan. Ia berlutut sambil mengangkat kedua tangannya untuk menerima titah raja sebagai bukit hadiah yang telah disebutkan oleh menteri kerajaan sebelumnya.


Eros berlutut, memegang titah raja tersebut sambil menunduk dan berdecit kesal. Ia membenci dirinya karena tak bisa menolak untuk tampil dan menerima penghargaan dan semua pujian dari sesuatu yang tidak dia lakukan sama-sama sekali. Eros membenci dirinya, ia mendapatkan ha yang tidak pantas untuknya.


Eros tak bisa menolak karena Ia langsung di tunjuk sebagai pahlawan kota oleh otoritas kerajaan sebagai propaganda kekuatan kerajaan Inggram kepada rakyat. Tujuannya cuma satu, agar rakyat tahu jika kekuatan para kesatria Inggram sangat kuat sehingga mereka semua tidak bimbang dan ragu atas apa yangj telah terjadi sebelumnya.


Sebuah rencana sempurna dari otoritas kerajaan Inggram yang menjadikan Eros sebagai pahlawan.. Rencana yang meredam keraguan rakyat dan membuat kerajaan lain takjub dengan kekuatan kesatria kerajaan Inggram.


Setelah pemberian penghargaan itu diberikan, seketika massa bergema meneriakkan satu nama.


"Eros... Eros.. Eros!"

__ADS_1


"Pahlawan... Tuan Eros."


"Hidup tuan Eros!"


Semua sanjungan itu tertuju pada seorang Eros Lopnika. Sanjungan yang ia nilai sebagai penghinaan atas sesuatu yang bukan menjadi haknya.


Inggrid yang duduk, diam tanpa kata tak berekspresi apapun karena ia tahu jika orang yang melakukan itu semua adalah orang asing bernama Red. Ia tak bisa berbuat banyak karena penerimaan penghargaan ini adalah keinginan otoritas kerajaan Inggram, meski dia adalah salah satu bangsawan utama tapi tetap saja otoritas tertinggi masih dipegang oleh raja yang duduk di istana kerajaan Inggram.


Di kerumunan massa, Irish hanya bisa tersenyum kecut. Ia paham jika hal ini tidak bisa dihindari tapi dalam hatinya ada rasa kecewa karena orang yang menolongnya, orang yang benar-benar menolongnya adalah Richard dan semua orang.. Semua masyarakat kota Lister tidak tahu akan hal itu.


Lalu.. Berada cukup jauh dari kota Lister, di samping sungai aliran dangkal, terlihat seonggok kayu bakar yang baru saja dikumpulkan oleh Woli. Sedangkan di dalam aliran sungai itu.. Terlihat pria yang tidak mengenakan pakaian apapun sedang berkonsentrasi.


Pria itu adalah pahlawan yang telah membebaskan kota Lister dari bayang-bayang iblis dan pahlawan yang berhasil melukai iblis kuat Rever, pria itu adalah pahlawan sesungguhnya.. Pria itu adalah Richard dan dialah yang seharusnya berdiri di hadapan para masyarakat kota Lister hari ini.


Richard sedang berusaha untuk menangkap ikan sebagai sarapan mereka pagi ini sambil berendam di sungai untuk membersihkan diri alias mandi. Itulah mengapa saat ini dia tak mengenakan pakaian apa-apa, selain itu dia juga melatih ketelitian dan kecepatannya dalam memprediksi gerakan lincah ikan yang ingin dia tangkap.


"Tuan Richard.. Kayu keringnya sudah siap." Kata Woli yang menyusun tumpukan kayu kering yang dia kumpulkan.


"Ha.. Aku akan segera selesai." Balasnya sambil memegang dua ikan besar di tangannya.


Richard melangkah, ia naik ke atas batu mengambil pakaiannya lalu mengenakan pakaian itu. Setelan pakaian dan jubah hitam dengan serat kuat yang tak mudah sobek bahkan setelah bertarung habis-habisan dengan Rever beberapa hari yang lalu, pakaian pemberian Ifrit kala ia meninggalkan labirin.


Setelah selesai dengan itu, ia mendekati Woli. Dengan jentik jarinya, sebuah api kecil tercipta lalu membakar tumpukan kayu kering itu.


"Bocah serigala.. Aku mau bertanya satu hal?"


"Iya.. Tuan Richard!" Woli tersenyum, pasalnya setelah berhari-hari jalan bersama dengan Richard. Baru kali ini Richard bertanya padanya akan satu hal.


"Jadi berapa lama lagi kita akan sampai di daratan Gres?" Tanya Richard sambil mencabik dan menarik keluar isi perut ikan yang baru saja ia tangkap.


"Ehh.. He. Hehe..." Woli tertawa canggung, ia mengira jika Richard akan bertanya hal-hal tentang dirinya. Selama beberapa hari ini, mereka berjalan tanpa berbicara apapun karena hal itu Woli sedikit mengharapkan pembicaraan santai dengan Richard tapi saat Woli ingin melakukan hal itu Richard selalu saja mengakhirinya tanpa mengatakan apa-apa.


"Oi.. Kau melamun?" Richard melihat Woli yang diam sesaat.


"Ah.. Haha. Maafkan aku tuan. Aku sedang memikirkan jarak yang akan kita tempuh. Mungkin beberapa minggu lagi.. Hehe." Ucap Woli tidak yakin.


"Huh.. Masih jauh rupanya." Setelah membersihkan isi perut ikan tersebut, Richard lalu meletakkan ikan itu untuk di bakar, di dekat api unggun yang telah mereka buat. "Jadi.. Bagaimana daratan Gres? Aku dengar daratan itu adalah daratan tanpa tanpa kekuasaan? Apakah ada banyak monster? Iblis kah? Atau bagaimana?" Richard kembali bertanya tentang tujuan mereka.


"Hm.. Hehe, yaa.. Banyak monster hehe.. Hehehe.." Woli tertawa, ia tidak tahu harus berkata apa.


"Kenapa sih? Kau selalu tertawa..?"


"Ah..hahahah. Tidak tuan, tidak papa." Woli kembali mengelak.


"Haahhhh... Ya sudah, setelah makan, kita akan melanjutkan perjalanan." Ucap Richard.


"Iya tuan.."


"Dan jangan panggil aku tuan, aku bukan tuanmu.. Panggil saja aku Red!" Tegasnya.


Woli kembali tersenyum, ia tak tahu harus berkata apa karena bingung jika Richard bertanya tentang Gres. Woli... Sebenarnya tidak tahu apa-apa tentang Gres dan tidak tahu arah menuju Gres. Dia hanya asal bicara saja agar Richard mau membawanya pergi bersama. Benar, Woli sedang berbohong.


Dan karena hal itu, selama beberapa hari ini mereka hanya berjalan tanpa arah dan tujuan. Semua itu karena besarnya kemauan Woli untuk bertualang bersama dengan Richard karena jika tidak berbohong seperti ini mungkin Richard tidak akan pernah mengizinkan Woli untuk ikut dengannya.


Woli tak tahu arah, sampai hari ini.. Dia hanya asal mengarahkan saja hingga tak sadar jika saat ini mereka lebih dekat ke arah kota Lockdown ketimbang daratan Gres.


Sementara itu, pada waktu yang sama.. Smits dan rombongannya terlihat melayang di langit menaiki sebuah monster terbang raksasa yang mirip dengan burung purba dengan moncong dan cakar yang sangat tajam. Burung itu adalah monster yang telah dikendalikan oleh Gerald dengan menggunakan item sihir.

__ADS_1


Perjalanan yang mereka tempuh sangat efisien dan tidak mengurangi tenaga, oleh karena itu mereka bisa menuju ke arah kota Lockdown dengan cepat dari pada berjalan kaki.


Jarak antara daratan Gres dengan kota Lockdown lumayan jauh dibanding jarak antara kota Lister dengan kota Lockdown. Tapi karena menempuh perjalanan dengan udara maka bisa dipastikan jika rombongan Smits akan tiba di kota Lockdown sebelum Richard dan Woli yang juga mengarah ke kota Lockdown walaupun mereka tidak sadar sama sekali.


Dengan sambaran angin, rambut mereka semua terlihat bergerak. Rebecca begitu menikmati sapuan angin yang menerjang mereka secara perlahan. "Ahhh.. Enaknya!" Kata Rebecca memejamkan mata. "Sekarang aku bisa merasakan bagaimana rasanya terbang di udara seperti Ivy.." Lanjut Rebecca.


"Hehe.. Enak bukan." Kata Ivy tersenyum karena Ivy yang memiliki imperium angin adalah satu-satunya orang yang bisa terbang diantara kesatria suci yang lain. Sehingga saat Rebecca tahu tasnya bisa terbang ia menjadi iri dengan Ivy.


Lalu... "Nona.. Sampai kapan kau mau seperti ini?" Smits memegang kepalanya, ia dibuat bingung dengan kelakuan Anne yang terus memeluk tangannya.


"Haleh.. Paling kau juga keenakan Smits! Dasar!?"


"Oi Rebecca.. Aku lebih tua darimu sialan. Panggil aku kakak.."


Rebecca lari, ia bersembunyi balik punggung Gildarts. "Uwekkkl!" Rebecca meledek Smits.


"Sialan.. Hadeuh."


"Tuan, harap hati-hati.. Wanita itu bisa saja sedang mempermainkan mu!" Gerald tiba-tiba mendekat, ia melihat Anne.


"Yaya.. Lagi pula, kau bilang sebentar lagi kita akan sampai."


"Ya.. Kita sebentar lagi akan sampai. Kalian akan lihat kota sihir Lockdown." Ucap Gerald tanpa ragu.


"Aku jadi penasaran, seperti apa sihir di kota itu.. Sampai-sampai bisa menciptakan item sihir pengendali monster seperti ini." Kata Smits dengan wajah malasnya.


"Ya.. Tuan Smits akan melihatnya sebentar lagi." Ucap Gerald tersenyum.


Kemudian... Di dalam kota yang penuh dengan bangunan mewah dan terlihat canggih itu. Seorang wanita berjalan mengenakan jubah setelah kemarin berhasil masuk dan melewati serangkaian pemeriksaan di pintu gerbang kota Lockdown.


Wanita itu punya satu tujuan di kota ini, wanita itu adalah Oana Lamiete.


"Baiklah.. Dimana akademi sihir!?" Ucapnya dengan diri sendiri ditengah keramaian orang sambil melihat bangunan-bangunan tinggi pencakar langit.


'


'


'


'


'


'


'


'


'


'


'


'

__ADS_1


'


-Bersambung-


__ADS_2