
Wilayah utara kota Lockdown, distrik pendidikan sihir. Wilayah khusus yang cukup luas mencakup gedung sekolah sihir Hogward dan segala fasilitasnya. Sekolah sihir terbesar yang ada di dunia, tempat para penyihir hebat menimba ilmu yang merupakan tempat terciptanya peradaban sihir pada awal berdirinya kota Lockdown sebelum menjadi kota yang besar seperti sekarang.
Kota Lockdown terbagi dalam beberapa wilayah dan salah satunya adalah wilayah utara kota Lockdown yang biasa disebut juga dengan wilayah pendidikan sihir. Wilayah ini adalah wilayah khusus yang telah ditetapkan oleh otoritas kota sebagai wilayah sekolah, pengembangan ilmu sihir, penciptaan item-item sihir dan segala hal yang berhubungan dengan hal tersebut. Sebuah wilayah yang dihuni oleh ribuan bahkan puluhan ribu penyihir yang ingin menimba ilmu di kota Lockdown berada dan belajar di wilayah utara atau distrik pendidikan ini.
Pada distrik pendidikan sihir, berdiri sebuah gedung tua yang cukup elegan dengan arsitektur bangunan eropa. Bangunan yang besar itu memiliki sebuah pondasi kuat dari batuan tua yang memiliki aliran sihir sehingga jika malam hari datang maka batuan itu akan menyala pada kegelapan. Hal yang membuat bangunan tua itu tampak indah jika dilihat pada malam hari, tidak sampai disitu. Bangunan tua yang merupakan gedung utama sekolah sihir Hogward ini juga memiliki berbagai macam fasilitas lengkap.
Mulai dari fasilitas pengembangan item sihir, fasilitas penelitian mantra sihir, fasilitas magister dan masih banyak lagi. Gedung tua ini adalah gedung terbesar dan tertinggi yang ada di wilayah utara kota.
Di samping kirinya terdapat danau besar dengan kedalamannya hampir 500 meter dan di sebelah kanan terdapat halaman depan yang luas dengan berbagai fasilitas menunjang lainnya seperti taman dan lapangan latihan sihir.
Tak jauh dari gedung utama yang merupakan gedung sekolah, terdapat pula asmara penyihir. Tempat tinggal bagi para penyihir dari luar kota yang menimba ilmu ke kota Lockdown menetap sampai mereka dinyatakan lulus pada semua kelas yang telah mereka ikuti.
Semua penyihir bisa menimba ilmu di sekolah ini, tidak ada batasan umur dan semua kelas terbuka tanpa harus melihat angkatan ataupun tahun masuk. Seperti sistem perkuliahan di dunia nyata, hanya saja untuk bisa lulus para penyihir yang menempuh pendidikan sihir harus melewati ujian akhir yang sangat sulit. Tak jarang dari ratusan yang ikut ujian akhir hanya puluhan yang bisa lulus dan menyandang gelar anggota Konsulat sihir, sebuah gelar yang disegani dan juga sebagai pengakuan jika mereka yang memegang gelar tersebut adalah penyihir hebat.
Untuk menciptakan dan membentuk penyihir hebat, tentu saja sekolah sihir Hogward mempekerjakan pengajar dari kalangan penyihir yang lebih hebat lagi dari mereka yang telah lulus pada tahapan sebelumnya. Jika lulusan sekolah sihir mendapatkan gelar anggota konsulat sihir, maka para pengajar di sekolah ini bergelar dewan konsulat. Sebuah gelar yang lebih tinggi dari pada sekedar anggota konsulat.
Sederhananya, dalam dunia manusia. Anggota konsulat sihir bisa dikatakan sebagai sarjana dan dewan konsulat merupakan pasca sarjana (S2).
Untuk menjadi pengajar, para penyihir yang telah bergelar anggota konsulat sihir mengikuti ujian lanjutan, ujian yang berlangsung selama 1 bulan full itu tak jarang diikuti oleh puluhan orang setiap tahunnya, dari puluhan orang hanya 3 hingga 5 orang yang dinyatakan lulus dan berhak menyandang gelar dewan konsulat.
Seleksinya sangat ketat karena ketika penyihir telah menjadi dewan konsulat, itu sama saja dengan menjadi bagian dari otoritas kota sehingga ujian yang ditempuh dibuat sangat sulit dan langsung dipantau oleh kanselir sihir, pemimpin tertinggi kota Lockdown.
Hal itu membuat para pengajar di sekolah sihir Hogward merupakan penyihir level atas yang memiliki berbagai kelebihan dan bakat. Tidak hanya bakat dalam memanipulasi sihir tapi juga berbakat dalam hal lain, misalnya berbakat dalam menciptakan item-item sihir. Salah satu penyihir yang memiliki bakat tersebut adalah Aliyah Justifina, penyihir cantik yang memiliki tubuh molek bak model dengan pakaian seksi yang berasal dari kerajaan Nusantara.
Aliyah Justifina, sudah beberapa tahun ini menetap di kota Lockdown sebagai pengajar, ia meninggalkan kerajaan Nusantara karena merasa jika bakatnya dalam melakukan penelitian dan menciptakan item sihir lebih terasah di kota ini dari pada di kerajaan Nusantara.
Sebelum meninggalkan kerajaan, sebagai penyihir berbakat. Aliyah tentu saja mendapatkan larangan dari otoritas kerajaan tapi ia tetap pada pendiriannya untuk mengejar mimpi dan ambisinya. Fasilitas yang sangat lengkap menjadi dorongan utama bagi Aliyah untuk meninggalkan kerajaan Nusantara menuju kota Lockdown, sebagai alumni dari sekolah Hogward. Aliyah dengan mudah dipersilahkan mengikuti ujian untuk meningkatkan gelarnya menjadi dewan konsulat, hingga akhirnya ia berhasil dan menjadi pengajar tetap serta menjadi salah satu penyihir yang bertugas dalam mengembangkan dan menciptakan item-item sihir sebagaimana yang ia inginkan.
Selain karena fasilitas, hal yang membuat Aliyah membulatkan tekad meninggalkan kerajaan Nusantara dan menetap di kota Lockdown adalah budaya dan kultur kerajaan yang tidak cocok dengan kepribadian Aliyah.
Kerajaan Nusantara sangat memegang budaya sopan santun dan adat istiadat setempat. Hal itu membuat Aliyah tidak bisa mengekspresikan dirinya dalam memenuhi hasrat dalam mengenakan pakaian apapun yang ia inginkan. Aliyah, dengan tubuh seksinya sangat suka mengenakan pakaian terbuka bahkan dalam beberapa kesempatan ia lebih suka mengenakan bra dari pada baju, di tambah dengan ukuran payudara yang cukup besar membuat penampilannya sangat menarik perhatian, khususnya di kalangan para pria.
Dan karena gaya berpakaiannya itu, ia sering mendapatkan teguran dari otoritas kerajaan Nusantara karena dinilai tidak senonoh dan melenceng dari norma adat yang berlaku, bahkan beberapa kali ia mendapatkan hukuman walaupun Aliyah sendiri telah banyak menorehkan prestasi selama menjadi salah satu penyihir kerajaan.
Karena 2 hal itu, ia memutuskan pergi meninggalkan kerajaan Nusantara karena di kota ini Aliyah bisa mengekspresikan gaya berpakaiannya tanpa ada intimidasi dan larangan. Ia bebas, bahkan ketika masuk mengajar dalam kelas sihir. Aliyah lebih senang mengenakan bra lengkap dengan celana panjang ketat hitam dan mantel kulit berwarna hitam.
Seperti itulah Aliyah, meski telah berusia 40 tahun lebih. Dengan sihir, ia bisa mempertahankan kecantikan wajahnya, bahkan sampai saat ini wajahnya masih terlihat seperti usia 20 tahunan, kulitnya masih kencang dan mulus serta tubuhnya langsing tanpa lemak. Sebuah tubuh ideal yang sangat diinginkan oleh para wanita seusianya. Dengan wajah dan tubuh ideal seperti itu, Aliyah menjadi wanita yang tak jarang membuat para pria dari kalangan pelajar hingga pengajar memandang dengan penuh nafsu padanya.
Aliyah yang membenci tatapan nafsu itu sangat sering menghancurkan masa depan para pria yang menatap dirinya seperti itu, di depannya langsung. Aliyah.. Ia mendapatkan julukan penghancur masa depan pria, karena jika ada pria yang menatap ke arah dirinya dengan tatapan nafsu atau menatap payudaranya yang besar itu maka ia tak segan akan menendang pria tersebut tepat di sela-sela selangkangannya.
Hal itu membuat Aliyah menjadi sosok yang menakutkan bagi para pria hidung belang yang berani menatapnya.
Seperti itulah Aliyah yang saat ini sedang berada di tempat tinggalnya, masih di lingkungan distrik pendidikan sihir. Sebuah rumah berukuran sedang yang ada di tengah-tengah pemukiman distrik pendidikan sihir.
Meski matahari telah berada di atas, tapi Ia masih tertidur pulas tanpa mengenakan busana. Ia lelah setelah semalaman begadang mengerjakan penelitian tentang item sihir dengan beberapa rekannya. Ia masih tertidur pulas, tanpa tahu jika saat ini ada kelas yang harus dia ajar sebagai pengajar.
Sepertinya Aliyah tertidur sangatlah nyenyak hingga bunyi jam alarm yang ada di atas meja kamar tidurnya tidak mampu membuat ia terbangun. Alarm itu terus berdering, tapi Aliyah tidak membuka mata. Ia tertidur dan tenggelam dalam mimpi buruk yang sering muncul belakangan ini. Sebuah mimpi yang membuat ia mengingat kembali masa lalunya saat berada di kerajaan Nusantara.
Mimpi buruk itu membuat ia menjerit di tengah kegelapan, mimpi itu membuat ia melihat kembali kematian teman-temannya. Yang paling menganggu dari mimpi itu adalah saat Aliyah melihat kematian teman dekat yang seharusnya masih hidup saat ini, Aliyah melihat keempat teman dekatnya itu mati satu persatu, keempat temannya yang mati dalam mimpi buruknya itu adalah Siska Pradita, Suhtomo Rider, Raka Tingkir dan yang terakhir kesatria agung kerajaan Nusantara Rein Wijaya.
Benar juga, Aliyah adalah salah satu dari 5 orang generasi emas kerajaan Nusantara yang masih hidup sampai saat ini. Aliyah adalah bagian dari generasi emas sama seperti Raka Tingkir yang meninggal saat mencoba melindungi keluarga raja dari serangan Lucifer, bagian dari Rein, Siska dan Tomo yang kabarnya tak lagi terdengar saat melawan raja iblis di pulau cebes.
Sampai hari ini, Aliyah tidak mengetahui hal buruk itu. Ia tidak tahu sama sekali tentang keadaan kerajaan Nusantara, ia bahkan tak tahu jika mimpi yang beberapa hari ini telah dialaminya adalah tanda jika keempat temannya telah gugur dalam peperangan mempertahankan kerajaan. Ia tak sadar dan tak tahu, jika mimpi yang datang itu adalah nyata.
Aliyah.. Kehidupannya masih berjalan normal sampai hari ini, ia benar-benar tak tahu keadaan kerajaan Nusantara dan keadaan keempat teman dekatnya itu.
Sementara Aliyah tenggelam dalam mimpi buruk di siang bolong, penyihir lain yang masih lalu lalang mencari informasi keberadaan sekolah sihir terlihat melayang perlahan menuju ke arah utara kota. Ia telah mendapatkan informasi tentang keberadaan sekolah Hogward di wilayah utara kota atau di distrik pendidikan sihir.
__ADS_1
Adalah Oana yang sudah berada di kota ini sejak 2 hari yang lalu. Ia masih belum menemukan Aliyah, sosok penyihir yang mungkin akan menjadi kunci baginya dalam melakukan pencarian. Mencari kesatria Ignis yang tanpa sepengetahuannya juga sedang mengarah ke kota Lockdown.
Berkat kegigihannya mencari informasi keberadaan sekolah Hogward, ia akhirnya berhasil mendapatkan informasi dan segera menuju distrik pendidikan. Hanya satu harapannya, ia ingin segera bertemu dengan Aliyah dan menyelesaikan apa yang ingin dia selesaikan setelah itu keluar dari kota Lockdown.
Kota sihir Lockdown adalah kota yang indah dan penuh dengan keajaiban sihir, gedung tinggi dan berbagai teknologi sihir terlihat sangat maju di tempat ini tapi meski begitu Oana tetap harus segera keluar dari kota karena ia telah berjanji kepada Parthe bahwa ia tidak akan pernah pergi dan masuk ke kota Lockdown.
Tapi tidak ada cara lain lagi untuk menemukan kesatria Ignis selain bertemu dengan Aliyah yang tinggal dan menetap di kota Lockdown. Olehnya itu Oana mengingkari janjinya untuk janji lain yang telah dia ucapkan kepada Parthe, yaitu bertemu dengan ignis dan memberikan segel khusus untuk meningkatkan kekuatan kesatria Ignis.
Mata Oana tak bisa berbohong, ia sangat senang dan takjub bisa masuk ke dalam kota Lockdown tapi karena janjinya pada Parthe membuat ia tak bisa berlama-lama berada di kota ini, sehingga ia harus menemukan Aliyah dengan cepat lalu meninggalkan kota ini setelah meminta bantuan pada Aliyah untuk menemukan Ignis melalui bola kristal sihirnya.
Oana sempat bertanya pada Parthe atas larangannya yang melarang Oana masuk ke dalam kota Lockdown. Entah mengapa Parthe bungkam, padahal Parthe sendiri adalah pemegang gelar dewan konsulat kota Lockdown. Oana yang menghormati Parthe akhirnya berjanji tanpa tahu alasan pasti mengapa Parthe sangat melarang Oana untuk datang bahkan untuk menempuh pendidikan di sekolah sihir Hogward.
Sambil melayang perlahan, Oana melihat ke sebuah gapura raksasa yang menandakan jika saat ini dia telah berada di kawasan distrik pendidikan sihir. Bahkan dari kejauhan sebuah gedung tua yang amat besar terlihat jelas, Oana langsung menyimpulkan jika gedung itu adalah gedung sekolah sihir dan langsung menuju ke tempat itu.
Di tengah keramaian penyihir yang melayang, dari arah belakang terlihat seorang penyihir lain yang mengikuti Oana sambil menyembunyikan wajahnya. Penyihir itu berbisik, ia seperti menghubungi orang lain menggunakan sihir teleportasi suara, layaknya handphone di dunia nyata. Lingkaran sihir kecil yang tercipta pada lengan penyihir yang menggunakan tudung itu membuat ia dapat berkomunikasi jarak jauh dengan orang lain.
"Tidak salah lagi Tuan, wanita itu adalah anak kecil yang pernah dibawa kabur oleh Parthe!" Bisik penyihir bertudung yang mengikuti Oana diam-diam kepada lawan bicaranya menggunakan sihir teleportasi suara.
"Ikuti kemanapun dia pergi. Aku akan melaporkan hal ini pada Tuan Haverd." Balas lawan bicaranya.
Penyihir bertudung itupun kembali mengikuti Oana dari belakang secara perlahan. Ia telah mengikuti Oana, sejak Oana masuk melewati gerbang kota Lockdown.
Lalu, di bagian timur kota Lockdown yang merupakan satu-satunya gerbang masuk ke dalam kota. Kesatria suci yang telah mengikuti pemeriksaan ketat penjaga gerbang kota Lockdown telah dipersilahkan masuk ke dalam kota bersama dengan beberapa prajurit dan juga Gerald Grifindor, konsulat sihir kota Lockdown yang mengawal mereka menuju ke arah barat kota, distrik politik dan kebijakan kota sekaligus tempat tinggal kanselir sihir.
Seperti yang telah dikatakan oleh Smits, ia ingin bertemu dengan kanselir sihir dan meminta penjelasan langsung terkait wanita yang saat ini masih saja memeluk lengannya. Wanita yang bernama Anne Diggory itu, saat masuk ke dalam kota ia tampak semakin ketakutan. Rasa takut yang berlebihan itu membuatku Smits semakin penasaran dengan Anne.
Pada saat mereka masuk melewati gerbang, para prajurit sihir ingin memasangkan Anne borgol sihir sebagai antisipasi jika saja Anne mengamuk dan menghancurkan kota tapi Smits menghentikan hal itu dan memberikan jaminan kepada Gerald dan prajurit sihir. Jika seandainya Anne lepas kendali seperti yang mereka katakan maka Smits tidak segan-segan akan membunuh Anne secara langsung. Dengan perkataan jelas dan tatapan tajam itu, membuat Gerald menyetujui permintaan Smits dan membiarkan Anne tetap memeluk Smits tanpa membelenggunya.
Mereka semua berjalan menggunakan tudung, menutupi identitas asli mereka sebagai kesatria suci. Berjalan di tengah kota sihir yang penuh dengan keajaiban. Kendaraan melayang, barang melayang, gedung yang berbeda dengan gedung pada kota-kota lain yang telah mereka lihat serta suasana kota membuat para kesatria suci takjub.
"Wah.. Uwahhhhh, lihat, lihat itu.. Orang-orang terbang semua." Rebecca tak henti-hentinya takjub, ia memperlihatkan ekspresi seorang remaja yang baru saja melihat hal luar biasa.
"Hehe.. Indahnya.." Ucap Ivy
Smits melihat sekeliling, dengan wajah datar ia terus memperhatikan sekitar. Sementara Gildarts yang ada dibelakangnya sangat takjub dengan apa yang dia lihat.
"Baiklah.. Sebentar lagi kita akan terbang, perjalanan akan lebih mudah jika ditempuh melalui jalur udara." Ucap Gerald yang berhenti tiba-tiba di depan mereka.
Di depan mereka, seorang prajurit sihir menggelar sebuah karpet. Gerald dengan percaya diri mempersilahkan mereka naik ke atas karpet tersebut. Setelah para kesatria suci naik ke atas, tak lama karpet itu melayang. Rebecca hampir saja tersandung karena kehilangan keseimbangan, beruntung Gildarts langsung memegangnya sehingga tidak terjatuh.
"Aahh.." Anne menjerit, ia tetap bersembunyi dibalik bahu Smits saat karpet itu mulai melayang.
"Cih.. Smits, kau pasti menyukainya kan? Hah.. Ayo mengaku?" Rebecca yang sewot langsung mengatai Smits.
"Hadehhh.. Diamlah, aku akan jatuh jika banyak bergerak." Balasnya datar.
Rebecca terdiam kala karpet yang mereka naiki itu semakin tinggi dan semakin tinggi hingga karpet itu bergerak melayang. "Wahh.. Hebat, seperti di dunia dongeng saja.. Wihhh." Rebecca kegirangan melihat ia bisa melayang dengan karpet.
"Hahaha.. Lihatlah.. Hebat bukan Nona Rebecca." Gerald kembali menyombongkan dirinya. "Dengan begini, kita akan lebih mudah sampai di tempat tinggal kanselir." Lanjutnya.
Mereka pun melayang bersamaan dengan para penyihir yang lain, melewati berbagai pemukiman dan berbagai pemandangan kota yang tampak lebih indah jika dilihat dari atas langit.
Di lain tempat, tak jauh dari kota Lockdown. Dalam hutan dimana Richard dan Woli sedang berjalan dengan santai sambil memperhatikan sekelilingnya. Richard tiba-tiba mengatakan. "Manusia serigala.. Apa kau benar-benar tahu jalan ke daratan Gres? Aku jadi tidak yakin denganmu." Sebuah pertanyaan yang membuat Woli diam sesaat.
"He.. He.. Hehehehe... Tenang saja tuan Richard, kita sudah berada pada jalur yang benar. Hehehe." Woli kembali mengingkari pertanyaan dengan mengatakan hal yang sama sekali tidak benar. Woli, ia benar-benar tidak tahu jalan menuju daratan Gres dan belum pernah pergi ke daratan itu sama sekali.
Di saat mereka berjalan, tiba-tiba saja Richard bergeming dan mencabut pisaunya. Ia mengetahui jika dari arah depan aura monster mendekat terasa, pun dengan Woli yang langsung mengeluarkan cakar tajamnya.
__ADS_1
Tak lama, gempa kecil dari hentakan kaki monster yang cukup besar terasa dan saat ini monster itu berlari ke arah mereka dengan ekspresi yang sangat mengerikan. "Bersiaplah manusia serigala.. Sepertinya kita kedatangan tamu." Ucap Richard.
"Hm.." Woli tersenyum.
Lama kelamaan, monster itu mendekat tapi ternyata monster itu telah penuh dengan berbagai luka di tubuhnya. Bahkan, dari raut wajahnya terlihat jelas jika monster itu tidak sedang marah tapi monster itu sedang ketakutan akan sesuatu hal.
"Ada yang aneh.. Monster itu!" Ucap Richard mengerutkan dahi.
Setelah mengatakan itu, tiba-tiba saja monster yang mendekati mereka langsung terjatuh ke arahku depan sesat sebelum melewati mereka berdua. Monster itu pingsan tapi tidak mati, tubuhnya naas dengan luka yang lumayan banyak.
Dari jauh, 2 penyihir mendekati monster dan secara tidak langsung juga mendekati Richard dan Woli.
"Tuan.. Lihat, mereka adalah elf." Kata Woli yang melihat kedua penyihir itu melayang turun ke arah mereka berdua.
Richard mengangkat wajahnya, ia menatap kedua penyihir itu yang merupakan ras elf. "Kakak sepertinya monster ini sudah tidak bisa bertahan lagi." Kata salah satu elf wanita kepada elf pria yang berada di sampingnya begitu mereka sampai di dekat monster yang telah tumbang itu.
"Maaf.. Siapa kalian berdua?" Richard yang penasaran dengan dua sosok yang dilihatnya melontarkan pertanyaan yang tidak digubris sama sekali oleh kedua penyihir ber ras elf itu.
"Huh.. Kita harus mencari monster yang lain kalau begini." Ucap elf pria kepada elf wanita.
"Hm, mau bagaimana lagi. Dari pada master Cliverd memarahi kita." Balas elf wanita yang berambut panjang dengan warna putih itu.
Richard geram dan jengkel karena keberadaannya tidak di gubris oleh kedua penyihir itu. "Oi oi kalian berdua, siapa kalian huhhh?"
"Sebaiknya kita pergi saja, lagi pula monster ini sudah tidak bisa lagi dijadikan kelinci percobaan." Ucap elf pria itu. Kedua penyihir elf itu tidak memperhatikan Richard sama sekali, mereka sibuk berbincang satu sama lain dan membahas tentang monster.
"Huhhhh..." Richard menghela nafas, lagi pula ia juga tak ingin terlibat dan memutuskan untuk menjauh. Tapi... Woli malah menjadi panas dan emosi saat kedua penyihir itu tidak menggubris Richard yang bertanya pada mereka. Woli marah dan melempar kedua penyihir itu dengan batu krikil yang ia pungut di depannya. "Dasar elf.. Kalian harus belajar sopan santun..." Ucap Woli sambil melempar krikil itu pada kedua penyihir elf yang ada di depan mereka.
Salah satu penyihir mengeluarkan sihir tameng dan langsung membalas serangan kecil Woli dengan serangan sihir kuat. Sontak benturan terjadi, sihir kuat itu dapat dengan mudah di tangkis oleh Richard yang melindungi Woli.
Kedua penyihir itu tercengang, mereka terkejut serangan sihir itu bisa di tangkis dengan sangat mudah bahkan hanya menggunakan tangan kosong saja.
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
__ADS_1
'
-Bersambung-