
"Hahahahaha...."
Tak jauh, suara tawa itu diiringi oleh tepuk tangan beberapa orang yang menyaksikan dari cermin sihir, menyaksikan bagaimana cahaya yang terpancar dari seorang wanita muda berhasil memusnahkan pasukan iblis dengan mudah.
"Tidak diragukan lagi.. Sihir ini memang luar biasa. Hahahaha." Wanita dengan jubah mewah itu tertawa atas pencapaian yang selama ini dia torehkan. Wanita itu adalah kanselir sihir, untuk kesekian kalinya ia berhasil melindungi kota Lockdown dari ancaman klan iblis.
Bersamaan dengan redupnya cahaya yang membentang sebagaimana tiang pencakar langit itu, lingkaran sihir yang mengelilingi wanita muda yang terikat pada tiang kayu ikut menghilang.
Hanya saja, wanita muda itu sekarang sudah berubah menjadi debu alias telah musnah akibat kehilangan jiwa saat energi kehidupannya dipaksa keluar dan memunculkan cahaya suci yang menyilaukan mata. Cahaya yang muncul tadi merupakan perwujudan dari imperium yang memberikan kehidupan pada manusia, karena imperium itu telah terkuras habis maka wanita muda itupun mati dengan cara yang tidak wajar.
"Huh... Sayang sekali, menghabiskan sihir sebesar ini akan mengurangi sumber energi pelindung kota." Gumam kanselir sihir yang mendekati debu mayat dari wanita muda tersebut, wanita itu telah menjadi tumbal untuk mengaktifkan sihir yang telah memusnahkan pasukan iblis.
"Gayuss.. Persiapkan subjek berikutnya. Bawa subjek masuk ke dalam kota Lockdown segera." Ucap Kanselir sihir berbalik melihat salah satu dewan konsulat sihir yang berdiri menunduk padanya.
Saat yang bersamaan, di luar kota Lockdown.
Mereka semua heran akan munculnya cahaya terang yang menyinari langit kota Lockdown. Mereka para penduduk luar yang berhasil hidup dan bertahan dari serbuan kota pasukan iblis tersenyum, berlutut dan berdoa mengagung-agungkan kanselir sihir.
Hanya beberapa saat setelah kejadian, ketika suara pertempuran berhenti menjadi sunyi, suara suka cita dan sorak sorai para kesatria sihir yang memuji kanselir sihir terdengar menggema. Tentu saja suara itu membuat para penduduk luar kota ikut memuji dan memuja kanselir sihir, mereka merasa senang akan pertolongan yang mereka dapatkan. Walaupun kesenangan mereka disertai dengan derai air mata yang masih mengucur.
Mereka tak kuasa menahan tangis, mereka telah kehilangan keluarga dan teman-teman mereka. Mereka melihat momen menyeramkan saat orang yang mereka kenal dikoyak dan dilahap oleh monster dan iblis.
Mereka berduka dan bersuka cita..
Mereka senang dan bersedih..
Mereka mengucap syukur kepada pelindung lembah, mereka memuji kanselir sihir.
Di tempat lain, wilayah gerbang selatan kota Lockdown. Wilayah yang paling terdampak akibat pertarungan sengit yang terjadi. Di tempat itu, beberapa orang terlihat berdiri, sedang yang lainnya terlihat kusut penuh luka.
"Cahaya apa itu tadi?" Ivy memandang langit, ia masih penasaran dengan cahaya terang yang muncul dan menghilang beberapa saat yang lalu.
"Aku benar-benar tidak mengerti.. Kemana semua klan Iblis yang memenuhi langit. Dan.. Dan apa ini, kenapa hujan ini baunya sangat amis.. Uaeekkkk." Oceh Rebecca begitu mencium bau tak sedap dari hujan darah para iblis dan monster yang mati seketika.
"Ini bukan hujan.. Aku jelas melihat pemandangan mengerikan itu. Cahaya itu benar-benar meledakkan semua monster dan iblis." Kata Gildarts dengan yakinnya.
"Ah. Hei, Pege. Kau baik-baik saja?" Tanya Ivy begitu melihat Pege tersungkur karena tak kuat menahan beban dan luka yang ia terima dari pertarungan malam ini."
Gildarts kembali menopang Pege yang jalan sempoyongan, sedangkan Ivy terlihat mengusap luka memar Pege dengan air sihir yang ia dapatkan dari kota Lockdown.
Mereka berempat perlahan mendekati Smits yang berdiri tak jauh dari arah Richard. Sementara Richard yang belum sadar akan situasi masih memandang langit, ia bertanya dalam benaknya. "Cahaya itu? Cahaya itu merenggut nyawa seseorang!?" Ucapnya lirih.
"Hei kau!?" Smits menyapa Richard, tapi Richard tak mendengar. Richard sibuk dengan hal yang baru saja terjadi. "Aku sangat yakin.. Dari cahaya itu aku mendengar seseorang sedang meminta tolong. Siapa orang itu?" Benak Richard masih menerka.
Meningkatnya sensitivitas dan rasa peka dalam merasakan sesuatu membuat Richard bisa memahami hal yang tidak bisa dipahami oleh orang biasa. Pengalaman dan ketajaman insting yang ia tempa saat masih berada di dalam labirin membuat ia dapat merasakan hal janggal dari fenomena yang terjadi disekitarnya.
"Hei kau.. Hei!? Kau baik-baik saja?" Smits kembali menyapa, kali ini dengan suara yang cukup keras.
Mendengar hal itu Richard langsung menengok ke arah Smits yang memegang tombak di tangan kirinya.
"Ya kau.. Apa kau baik-baik saja. Kau terlihat sangat kacau!?" Tanya Smits yang mendekati Richard.
Richard terdiam, ia terkejut melihat Smits mendekatinya. Ia mengenal Smits, salah satu kesatria suci. Mantan rekannya, bagi Richard mereka para pahlawan suci bukan lagi rekan atau teman seperjuangannya. Bagi Richard, hubungan mereka sudah putus saat para pahlawan suci meninggalkan dirinya di dalam labirin gelap yang penuh dengan monster.
"Kesatria suci!?" Gumamnya dengan suara pelan, ia terlihat menghindari kontak mata dengan Smits.
Dari arah yang sama, Richard mendengar suara teriakan. "Smitss.. Kau tidak papa kan?"
"Hei Smits.. Gila, kau sudah tidak waras ya. Menyerang Rever sendirian. Dasar kau.!?" Teriak Rebecca yang berlari pelan ke arahnya.
Sekali lagi, suara itu terngiang di telinga Richard. "Smits.. Kau tidak papa?"
Suara tidak asing itu perlahan semakin dekat, semakin dekat dan semakin dekat hingga Richard menunduk karena tidak ingin melihat wajah dari sumber suara tidak asing itu.
"Aku baik-baik saka Ivy." Balas Smits dengan wajah malasnya. "Oh iya, Ivy.. Sepertinya orang itu butuh bantuan. Dia terlihat kacau, lihat saja tubuhnya." Smits menunjuk ke arah Richard yang menunduk ke bawah.
Ivy melirik Richard, dia mendekat perlahan. "Hei, kau tidak papa? Aku, maaf.. kenalkan aku Ivy." Ucapnya menunduk untuk melihat wajah Richard.
Sementara Pege yang melihat Richard berdengung dalam hati. "Orang ini? Siapa dia, bagaimana bisa dia memiliki kekuatan sebesar itu?"
Ivy yang berjalan perlahan masih menunduk dan mengarahkan tangannya ke depan. "Hei, maaf.. Jangan takut. Aku bukan musuh, aku akan mengobati lukamu!"
Richard diam, ia tak merespon sama sekali. Bukan karena gugup, bukan karena malu atau tak ingin dikenali. Ia hanya tak ingin kontak dengan orang-orang yang pernah mengabaikan dirinya.
"Stop!" Richard mengangkat kedua tangannya ke depan, ke arah Ivy yang berhenti melangkah begitu mendengar ucapannya. Ivy mengerutkan dahi, ia mengamati Richard dari atas sampai bawah.
__ADS_1
"Hei.. Maaf, aku tidak ingin melukaimu. Aku dan teman-teman ku hanya ingin membantu!"
"Tidak! Aku tidak papa." Suara serak sengau terdengar dari bibir Richard.
"Ka-kau terlihat kacau, mungkin kami bisa memban..."
"Tidak! Tidak usah nona. Aku baik-baik saja. Kau tidak perlu mendekat lebih dari ini.." Tegasnya, masih dalam keadaan menundukkan wajah lalu tak lama ia berbalik tanpa melihat wajah Ivy.
"Rich.." Ivy tertegun, ia mengenali suara yang baru saja ia dengar. "Richard!" Ucapnya melangkah.
Terdengar dari arah lain, suara teriakan lantang. "Reeedddd.. Tuan Reeddddd!" Seorang pria bertelinga serigala muncul, ia berlari menggunakan tangan dan kaki layaknya hewan berkaki empat.
Richard berbalik, ia melihat Woli mendekat. "Manusia serigala.. !" Gumamnya dalam hati.
"Huh.. Red!?" Kata Ivy dengan mata yang berbinar menaruh harap atas apa yang ia pikirkan saat ini.
"Tuan Redddd.., syukurlah aku menemukan mu!" Ucap Woli yang mendekat ke arahnya.
Ivy melangkah mundur, ia merasa gusar kala mengetahui nama dari pria yang ada di depannya saat ini. Sementara itu, Gildarts yang memandang langit melirik ke arah Smits.
"Sihir yang baru saja kita lihat.. Benar-benar sihir luar biasa.."
"Yaa.. Sialan, hanya dalam satu serangan." Gumam Smits.
"Aku jadi penasaran, bagaimana mereka membuat sihir seperti ini. Apa benar, ini adalah kekuatan dari Kanselir sihir!?" Gildarts merasa risau atas apa yang baru saja dia lihat.
"Itu bukan urusan kita paman.. Apa pun itu, aku harap bukan sesuatu yang buruk." Ucap Smits yang bersikap cuek.
Lalu dari arah depan mereka. "Hei, Ivy.. Kau kenapa?" Rebecca melihat Ivy mematung sambil memandangi lelaki yang ada di depannya.
Richard, saat ini dia berbicara dengan Woli yang baru saja menemukannya setelah sebelumnya terpisah dari kerumunan orang banyak sehari sebelumnya. Mereka berdua terpisah sejak pertama datang ke lembah ini, tentu saja Richard tidak peduli dengan hal itu, apa lagi setelah Richard mengetahui jika Woli berbohong padanya.
Selama terpisah, Woli terus mencari keberadaan Richard. Agak sulit bagi Woli menemukannya, apa lagi di tengah kerumunan orang dan permukiman semi permanen yang cukup padat. Woli agak sulit mengenali bau tubuh Richard karena Richard sendiri sengaja menghilangkan hawa keberadaannya, agar ia bisa menghindari Woli. Setelah mengetahui kebohongan Woli, Richard tidak punya alasan lagi untuk tetap melanjutkan perjalanan bersama dengannya.
Saat penyerangan terjadi sebelumnya, Woli ikut membantu para penduduk dan bertarung dengan monster yang menyerang pemukiman semi permanen di sekitar kota Lockdown. Ia sadar akan ledakan imperium besar yang tiba-tiba muncul saat kekacauan terjadi dan langsung mengenali imperium besar itu datang dari Richard yang sedang bertarung. Begitulah dia bisa menemukan Richard saat ini, sedangkan Richard yang ingin menghindar dari para kesatria suci memanfaatkan momen pertemuannya dengan Woli untuk segera pergi dari tempat ini.
"Tuan reddd.. Aku merasakan auramu dan langsung menuju tempat ini.. Wahhh, lihatlah tempat ini, sangat kacau.." Woli yang antusias terus mengatakan hal yang membuat Richard semakin di lirik oleh para kesatria suci.
"Berisik sekali manusia serigala itu.." Ucap Rebecca yang memperhatikan mereka berdua dari belakangan.
Entah mengapa, Ivy merasa jika saat ini pria misterius itu adalah Richard. Intuisi yang tak sengaja itu, membuat ia risau dan sangat ingin mendekat.
Sementara itu, di dalam kubah. Ruang bawah tanah kediaman Kanselir sihir. Setelah sebelumnya berhasil membangkitkan sihir cahaya pemusnah iblis dengan mengorbankan nyawa seorang gadis muda, Kanselir sihir berjalan bersama dengan ajudan pribadinya.
"Sakromentus.. Bagaimana dengan wanita itu. Apakah belum ada cara untuk masuk ke dalam kesadarannya?" Tanya Kanselir sihir kepada ajudannya yang berjalan tepat dibelakangnya.
"Sampai saat ini, sepertinya kita belum bisa masuk ke dalam kesadarannya Nyonya muda." Balas Sakromentus.
"Hmm.. Wanita yang keras kepala."
"Keluarganya memang terkenal dengan sihir yang luar biasa. Jika kita tidak bisa menguasainya, mungkin kita bisa melakukan percobaan dengan adiknya."
Kanselir sihir berhenti melangkah, ia terkejut dan menoleh pada Sakromentus. "Apa maksudmu Sakromentus? Apa kau ingin menangkap penyihir yang kabur dari kota ini dan mengejarnya sampai ke kerajaan Celestial?" Tanya Kanselir.
"Tentu tidak Nyonya muda.. Aku mendapatkan kabar jika orang itu sudah berada di kota ini."
Mata Kanselir sihir melebar, ia tersenyum dan tertawa ringan. "Hahaha.. Benarkah? Itu kabar yang sangat bagus. Kalau begitu segera bawa orang itu padaku!!"
"Ya Nyonya.. Aku sudah mengutus orang untuk menjemputnya." Tegas Sakromentus.
Kembali ke tempat semula,
Wilayah selatan luar kota Lockdown, pemukiman semi permanen yang telah rata dengan tanah akibat dampak dari pertarungan dan serangan klan Iblis.
"Kau beruntung Pege.. Ivy merasakan aura milikmu dan karena hal itulah kami bisa berada di tempat ini sekarang. Aku jadi tercengang dengan apa yang terjadi di luar sini, sangat berbeda dengan aoa yang terjadi di dalam sana." Ucap Smits menatap tembok kota Lockdown.
"Sekarang aku bisa mengerti kenapa kota ini dijuluki sebagai kota dengan pertahanan terkuat. Aku benar-benar tidak merasakan pertempuran besar saat berada di dalam kota.. Luar biasa. Tak heran, begitu banyak orang yang berharap bisa masuk ke dalam kota ini." Sambung Gildarts yang terkesan dengan kekuatan pertahanan kota.
Beberapa saat yang lalu, saat pertarungan terjadi. Pege yang terdesak mengirimkan sinyal kepada rekan-rekannya. Beruntung sinyal berupa aura imperium itu berhasil di rasakan oleh Ivy sehingga mereka semua datang sebelum pertempuran berakhir untuk membantu Pege, meskipun akhirnya para iblis dan monster berhasil dimusnahkan dengan sihir luar biasa dari Kanselir sihir kota Lockdown.
Tak jauh di depan mereka, Ivy melangkah dan mendekat dengan perasaan risaunya. "Permisi.. Tu, tuan Red." Ucapnya.
"He! Siapa kau.." Balas Woli yang sejak tadi memuji Richard.
"Wuahhh.. Nona, kau cantik sekali.." Ucap Woli spontan.
__ADS_1
"Maafkan aku.. Tuan manusia serigala. Tapi aku dengar kau memanggil tuan yang ada di depanmu itu dengan nama Red.. Apa benar itu namanya?" Tanya Ivy yang sedikit penasaran.
Dari arah belakang, Smits mencoba menegur. "Hei, Ivy.. Jika orang itu tidak ingin di tolong sebaiknya tidak usah memaksa." Ucapnya dengan suara keras.
Woli terdiam, ia melirik Richard yang juga diam tak bergerak. Lalu beberapa saat kemudian, Richard berbalik karena sejak tadi ia membelakangi Ivy dan para kesatria suci.
"Waaahh.. Lihat luka itu, mengerikan sekali." Kata Rebecca yang melihat bekas luka Richard dari leher dan bagian tubuh lainnya.
Bekas luka itu terlihat, apa lagi saat ini jubah yang ia kenakan terlihat robek pada beberapa bagian sehingga bekas luka yang ada di tubuhnya dapat dilihat oleh mereka.
"Yaa.. Namaku adalah Red." Tegas Richard menatap mata Ivy yang tertegun kala melihat wajah dan mata merah Richard.
"Hei, Ivy.. Kau kenapa?" Rebecca menepuk pundaknya. "Ah, ti, tidak papa.. Aku hanya berpikir kalau tuan Red terlihat seperti seseorang yang aku kenal." Ucapnya sambil tersenyum manis.
Senyum manis yang terpancar itu sekaligus menjadi jawaban dari rasa penasarannya. Kini ia tak lagi menganggap jika pria yang ada di depannya adalah Richard, meski sebelumnya ia sedikit yakin akan hal itu. Keyakinan buta itu sirna saat melihat tubuh kekar penuh penuh luka yang terlihat dari pria yang ada di depannya. Postur tubuh atletis seperti itu tidak mungkin adalah Richard, di tambah lagi mata merah yang ia tatap. Mata yang penuh dengan tekanan itu sangat berbeda dengan tatapan mata Richard yang Ivy kenal, tatapan lembut yang ramah dan menenangkan hati.
"Wahh. Lihat dirimu bung, kau sangat berantakan. Tapi ngomong-ngomong dari mana asal mu? Apakah aku mengenalmu?" Tanya Smits yang berjalan ke depan, seakan-akan mengintimidasi. "Hm, meski terlihat berbeda tapi kau tidak asing untuk ku!?" Tanya Smits memandangi wajah Richard.
Melihat tatapan dan intonasi ucapan yang cukup menantang dari Smits, Woli melangkah ke depan guna menghalau Smits mendekati Richard. "Hei.. BUNG. kami adalah pengelana yang tidak sengaja berada di tengah kekacauan ini." Sambil mengarahkan telunjuk pada muka Smits, Woli yg tingginya hanya sampai di dada Smits menggertak. "Tuan Red adalah pria hebat.. Dia adalah pria yang akan membebaskan dunia ini dari intimidasi klan Iblis dan para iblis lain yang kalian sebut bangsawan. Camkan itu.." Jelasnya.
"Hoohh.. Menarik." Balas Smits.
"Manusia serigala.. Diam. Aku tidak pernah mengatakan hal itu, lagi pula aku tidak punya niatan untuk membantu atau membebaskan apapun. Aku hanya ingin pergi dengan tenang, kembali ke kehidupanku yang normal." Tegas Richard di depan Woli dan para kesatria suci. "Lagi pula melawan klan Iblis adalah tugas kesatria suci." Lanjutnya dengan berpura-pura tak mengenali para kesatria suci.
"huuhhh, sangat di sayangkan. Kau adalah pria hebat, kau akan sangat membantu para kesatria suci untuk membebaskan negeri ini dari klan Iblis." Kata Gildarts yang mendekat.
Richard berbalik acuh. "Hal itu sama sekali bukan urusanku!" Ucapnya.
"Tuan Red!" Woli menunduk lesu kala mendengar hal itu.
Ivy yang tak tahan dengan ucapan pesimis dari pria bernama Red di depannya merasa geram. "Kau tahu... Beberapa waktu lalu aku sempat mengira jika kau adalah pria yang aku kenal. Tapi melihat wajahmu dengan jelas dan apa yang kau katakan saat ini membuatku semakin yakin jika kau bukan pria yang aku kenal itu." Ungkapnya dengan nada kesal.
"Richard.. Nama pria itu adalah Richard. Kesatria hebat yang punya niat baik untuk membebaskan dunia ini dari keterpurukan. Mendengar mu mengatakan itu membuatku cukup kesal, tuan Red.. Asal kau tahu saja dibalik kekuatan besar, maka akan muncul tanggung jawab besar. Itu adalah ucapan Richard yang sampai saat ini memberikan aku motivasi untuk berjuang. Aku harap kau mengerti dengan tanggung ja..."
"Jangan buat aku tertawa nona.. Aku tidak punya tanggung jawab apapun dan pada siapapun. Lagi pula apa yang dikatakan oleh pria bernama Richard itu hanya omong kosong, he... Bodoh. Sungguh pria yang bodoh.." Kata Richard yang mengatai dirinya sendiri meski para kesatria suci tak sadar akan hal itu.
"Oioi.. Kau sudah keterlaluan bung. Kau telah menghina rekan kami." Ucap Smits yang menggenggam erat tombaknya.
"Tidak, itu bukan sesuatu yang bodoh.. Kau..." Belum selesai Ivy bersuara. "Cukup nona.. Aku tidak ingin berdebat. Silahkan lakukan apa yang kalian yakini tapi tolong jangan rubah keyakinan ku. Aku tetap tidak ingin terlibat dengan urusan kalian atau urusan menolong negeri ini." Ucapnya sambil berbalik, ia melangkah dan meninggalkan para kesatria suci dengan sikap acuhnya.
"Huahh.. Sombong sekali orang itu. Lihat saja nanti, jika ada apa-apa kami tidak akan menolong mu." Ucap Rebecca.
Woli yang mendengar percakapan singkat itu merasa canggung, karena ia baru merasakan jika Richard benar-benar berubah dan berbeda dari pertama kali mereka bertemu.
Woli juga cukup terkejut karena ia baru mengetahui jika para kesatria yang berbicara dengan Richard adalah para kesatria suci. Rekan Richard, tapi Woli tak bisa mengatakan apapun kepada para kesatria suci tentang Richard karena Richard sendiri ingin merahasiakan identitasnya kepada siapapun termasuk para kesatria suci. Itulah mengapa Woli memanggil Richard dengan sebutan Red di depan para kesatria suci meski awalnya Woli mengira jika para kesatria itu hanya kesatria biasa.
Richard menjauh dari para kesatria suci, diikuti Woli yang bimbang karena ucapan Richard kepada para kesatria suci. Sementara itu para kesatria suci memutuskan untuk kembali masuk ke dalam kost Lockdown, tentu saja kali ini bersama dengan Pege yang terluka cukup parah.
Di waktu yang sama,
Setelah sebelumnya berhasil mengaktifkan sihir cahaya kematian. Kanselir sihir dan ajudannya sampai pada satu ruangan yang terlihat di jaga khusus oleh beberapa kesatria sihir.
Saat tiba di depan pintu ruangan itu, beberapa kesatria sihir yang menjaga terlihat menunduk di hadapan Kanselir sihir. "Bagaimana? Apakah ada perkembangan dengan wanita itu?" Tanya Kanselir sihir pada salah satu kesatria sihir.
"Sama seperti sebelumnya Kanselir.. Wanita itu menyegel kesadarannya dengan sihir yang sangat kuat. Sampai saat ini, sihir itu belum bisa di tembus." Balas kesatria sihir itu.
"Tch.. Anne Drigory. Sialan.. Aku tak menyangka dia bisa menggunakan sihir sekuat ini untuk melindungi dirinya." Ujar Kanselir sihir.
'
'
'
'
'
'
'
'
-Bersambung-
__ADS_1