
Sedangkan diruangan Bisma,terlihat Alex masih menyandarkan tubuhnya dibalik pintu ruangan tersebut,hingga membuat Bisma merasa kebingungan.
''Eh bro, loe ngapain diem disitu?''tanya Bisma sambil melangkahkan kakinya mendekati calon adik iparnya tersebut.
''Tidak apa-apa,oya bagai mana tentang masalah kemarin?''tanya Alex,yang kembali membahas masalah kerjaan.
Skip
Tak terasa jam sudah menunjukan pukul tujuh malam,saat ini Gladis sudah bersiap dan ingin meminta ijin pada Alex sebelum Desta datang menjemputnya.
Tok! tok! tok!
''Masuk!'' terdengar jawaban dari dalam.
Gladissa pun memutar knop pintu ruangan tersebut.Dengan langkah pelan Gladis masuk dan melangkahkan kakinya mendekati meja Alex.
Gladissa memperhatikan Alex yang saat ini masih terlihat sibuk dengan pekerjaannya.
''Eemm, kak, aku ingin meminta ijin untuk pergi keluar sebentar bersama kak Desta.''ucap Gladissa hati-hati.
''Pergilah.''jawab Alex tanpa melihat kearah Gladis.
''Hah,tumben sekali kak Alex memberiku ijin begitu saja,biasanya dia selalu melarangku jika pergi dengan kak Desta.
Batin Gladissa yang masih berdiri di tempat.
''Kenapa tidak keluar?bukankah kamu mau pergi bersama kekasihmu?!" ucap Alex sambil menekankan kata kekasih.
Entah kenapa kata kekasih yang Alex sebutkan membuat hati Gladissa nyeri saat mendengarnya,seperti ada makna yang sangat menyakitkan didalamnya.
''Kalau gitu aku permisi dulu kak.''ucap Gladis sambil melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Alex.
Setelah Gladis keluar,Alex menyenderkan tubuhnya disandaran kursi,sambil memijit pelan pelipisnya yang terasa pusing,,rasanya berat jika harus berpura tak perduli pada orang yang dicintai.
Setelah melihat Gladissa bersama Desta kemarin Alex memang sudah memutuskan untuk mencoba memberi Gladissa kebebasan dalam arti bahwa Alex tidak akan ikut campur lagi urusan Gladissa.
Alex sadar,bahwa karna dirinya Gladis sudah banyak menderita, dan Alex juga merasa, kalau selama ini Gladissa selalu hidup dalam keterpurukan,,maka itu Alex tak mau lagi egois ia akan berusaha belajar mengikhlaskan Gladis, jika memang bersama Desta dirinya bisa hidup bahagia maka Alex akan berusaha ikhlas.
***
__ADS_1
Sedangkan sepanjang peejalanan menuju bioskop,Gladis terus memikirkan sikap Alex yang tak seperti biasanya.
''Kamu kenapa Dis?kok sejak tadi diam saja? apa ada masalah?''tanya Desta beruntun.
''Gk ada kok kak,hanya kangen ibu saja.''bohong Gladis.
Sebenarnya Gladissa juga tidak berbohong karna memang sejujurnya ia memang rindu pada ibunya.
''Yasudah,kalau gitu bagai mana kalau minggu besok kita pulang kerumahmu,maksud ku, kamu bilang kan rindu pada ibumu jadi minggu depan aku akan mengajakmu untuk pulang kerumah orang tuamu untuk mengunjunginya,bagai mana?apa kamu mau?''tanya Desta memastikan.
''Liat nanti ya kak,jika di ijinin baru kita pulang.''ucap Gladissa.
''Kok kalau di ijinin, nanti biar aku aja yang bilang sama Alex agar kamu bisa di ijinin sama dia,lagi pula ku rasa dia tidak akan keberatan tentang ini.''ucap Desta yakin.
Gladissa tidak lagi menjawab,ia hanya tersenyum menanggapi ucapan Desta.
Tak terasa kini mereka sudah sampai di tempat tujuan,setelah memarkirkan mobil miliknya Desta dan Gladis langsung menuju gedung yang menjulang tersebut.
***
Ditempat lain,Saat ini Misya sedang bersiap untuk pergi ketempat di mana ia akan bertemu dengan Brayen.
''Kamu mau kemana sayang?''tanya Rina yang melihat Misya menuruni anak tangga.
''Mau keacara ulang tahun teman mah,kebetulan acaranya diadakan di cafe mah.''ucap Misya berbohong,tidak mungkin kan ia bilang akan menemui temannya di sebuah club,bisa-bisa Rina heboh lagi.
''Kamu sendirian? memangnya Kia gk ikut?''tanya Rina lagi.
''Gk mah, mas Kia gk ikut, yasudah mah aku pergi dulu.''pamit Misya yang diangguki Rina.
***
Kini Misya sudah sampai di club yang dimana ia telah membuat janji dengan Brayen.
Misya melangkahkan kakinya menuju pantry lalu ia duduk disalah satu kursi yang ada disana.
Karna masih jam delapan malam,jadi pengunjung club tersebut belum terlalu ramai
Misya mengedarkan pandangannya keseluruh tempat,namun ia belum melihat tanda-tanda kedatangan Brayen.
__ADS_1
''Kemana dia?''gumam Misya,sambil mencari-cari sosok yang dimaksud.
Sambil menunggu kedatangan Brayen,Misya memesan satu gelas minuman yang mengandun alkohol dengan jenis kadar yang rendah.
''Maaf lama.''ucap suara seseorang yang kini sudah duduk disamping Misya.
Namun Misya sama sekali tak menanggapi ucapan tersebut kerna masih asik meneguk minumannya.
''Lain kali kalau tidak bisa menepati janji lebih baik tidak usah berjanji.''ucap Misya ketus.
''Iya baiklah,lain kali aku tidak akan seperti ini.''ucap Brayen.
''Sekarang cepat katakan apa mau kamu sebenar?! karna saya tidak punya banyak waktu!''
ucap Misya.
''Tidak ada sih,aku hanya ingin ngobrol saja denganmu dan ingin lebih dekat lagi denganmu, bolehkan?''tanya Brayen.
''Dengar! saya tidak punya waktu untuk ngobrol denganmu,dan saya juga tidak ingin dekat dengan orang sepertimu,jadi kalau tidak ada yang ingin kamu bicarakan sebaiknya saya pergi.''ucap Misya yang kini sudah berdiri dari duduknya.
''Aku tau pernikahan ini bukan dilandasi kaena cinta.''ucap Brayen,yang seketika membuat Misya menatap kearahnya.
''Apa maksud anda?''tanya Misya sinis.
''Seperti yang kamu dengar.Dan,, oya,sebaiknya kamu jangan terlalu berharap dengan cintanya Alex,karna sampai kapanpun dia tidak akan pernah mencintaimu.''tambah Brayen.
''Hei tuan,siapa kau?berani sekali bicara seperti itu? kalau kau tidak tau apa-apa jangan pernah bicara sembarangan!!'' ucap Misya dengan emosi menggebu-gebu.
''Apaan sih ni orang,sok tau banget! lama-lama bisa darah tinggi gue kalau ngeladeni nih bule jawa.''gumam Misya.
Merasa tidak ada gunanya bicara dengan Brayen, Misya memutuskan pergi dari sana,namun baru satu langkah, ia pergi Brayen kembali bersuara,dan kali ini ucapan Brayen membuat Misya menggeram.
''Apa kamu bilang barusan? kamu jangn coba-coba fitnah mama saya ya! semua ini tidak ada hubungannya dengan nya,dengar! saya bisa tuntut kamu dengan pencemaran nama baik.''tambahnya lagi.
''Lakukanlah,karna saya tidak takut! yang jika nanti terbukti kalau ibumu dalang dari kecelakaan yang menyebabkan Gladis masuk rumah sakit, saya pastikan ibumu juga akan mendekam dipenjara.'' ucap Brayen serius.
Misya tak lagi menjawab ucapan Brayen namun dia langsung meninggalkan tempat tersebut lalu berniat menemui ibunya untuk menanyakan hal tersebut.
Jujur saja ia merasa penasaran dengan apa yang dikatakan Brayen padanya, apa benar ibunya tega mencelakai Gladissa demi dirinya.
__ADS_1
NEXT