
''Kamu sudah makan siang?''tanya Alex.
Dan Gladissa hanya mengangguk sebagai jawaban.
''Kamu kenapa hem?kok diam aja?''tanya Alex,karna sejak tadi ia melihat Gladissa hanya menunduk,bahkan pandangannya tertuju pada sembarang arah.
''Kak, selamat ya karna sebentar lagi kak Alex akan menjadi seorang ayah.''ucap Gladissa,akhirnya kata-kata itu meluncur juga dari bibirnya,kata-kata yang sejak tadi selalu ia tahan.
Alex tidak menjawab,namum ia hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Gladissa.
''Bagai mana hubunganmu dengan Desta?''tanya Alex sambil menyeruput Es teh miliknya.
''Ya gitu lah kak,''ucap Gladissa,entah kenapa rasanya ia begitu malas untuk membahas masalah pribadinya dengan Desta didepan Alex.
Alex menaikan sebelah alisnya saat mendengar ucapan Gladis seperti mengambang.
DITEMPAT LAIN..
Saat ini Misya sedang berada disebuah supermarket,untuk belanja bulanan pribadinya,namun langkahnya terhenti saat ia melihat Brayen bersama dengan seorang wanita cantik yang berada tak jauh darinya,saat ini terlihat mereka sedang memilih-milih sayuran dan juga daging.
Misya masih memperhatikan interaksi keduanya yang sepertinya sangat dekat,tanpa sadar Misya menggenggam erat troli yang ada didepannya.
''Dasar laki-laki buaya,bilangnya cinta,tapi ini apa?''
Gerutu Misya dalam hati saat melihat kedekatan keduanya,bahkan Misya melihat mereka sesekali tertawa bersama,entah apa yang mereka bicarakan hingga membuat mereka sampai tersenyum seperti itu.
Misya yang melihat terus menggerutu dalam hati, Misya yang terlihat bette, langsung menyudahi belanjaannya, meskipun sebenarnya masih ada barang yang ingin dia beli,namun suasana hatinya sedang tidak enak,dan akhirnya ia memutuskan untuk segera pulang.
Brayen yang saat itu tengah membantu sepupunya berbelanja,tak sengaja melihat Misya sedang mengantri didepan kasir.Seketika senyum pemuda itu mengembang.
''Ren,aku kesana dulu ya sebentar? kamu lanjutin aja,nanti aku balik lagi.''ucap Brayen pada wanita yang bernama Reni.
Setelah melihat anggukan dari Reni, Brayen pun segera melangkahkan kakinya menuju meja kasir,yang dimana saat ini terlihat Misya sedang berdiri disana.
''Haii,''sapa Brayen tepat dibelakang Misya yang saat ini sedang mengantri dibagian belakang.
Misya menatap malas pada lelaki yang saat ini ada disampingnya.
__ADS_1
''Kamu ngapain?''tanya Brayen basa-basi.
''Yang kamu lihat aku ngapain emangnya? udah deh gk usah ganggu aku,mending kamu urusin aja cewe kamu itu!" ucap Misya ketus.
Brayen mengerutkan dahi kala mendengar ucapan Misya.
''Cewe? cewe yang mana yang dimaksud oleh Misya?''
Batin Brayen,namun sedetik kemudian Brayen mengembangkan senyumnya kala menyadari sesuatu.
''Kamu kenapa marah gk jelas sama aku sih?''tanya Brayen.
''Siapa juga yang marah sama kamu,aku cuma bilang sebaiknya kamu kembali,temani pacar kamu sana! dasar playboy, jelas-jelas kesini sama cewe masih aja deketin cewe lain." gerutu Misya,yang masih terdengar oleh Brayen.
''Kamu cemburu?''tanya Brayen santai.
Namun kata-kata Brayen berhasil membuat Misya kembali menatap kearah pria itu.
''Aku? cemburu?''tanya Misya sambil menunjuk dirinya sendiri.
''Dalam mimpi!" sambung Misya lagi.
''Siapa wanita tadi Bray?pacar kamu?''tanya Reni.
''Bukan pacar,tapi calon istri.''jawab Brayen santai,,sambik tersenyum penuh arti.
Sedangkan Reni mendengus tidak percaya,pasalnya Reni tau kalau kaka sepupunya ini adalah seorang playboy,jadi omongan yang diucapkan oleh Brayen tadi tidak ditanggapi serius oleh Reni.
''Sudah belanjanya kan?sini biar aku yang bayar.''ucap Brayen sambil mengambil alih troli yang ada dihadapan Reni.
Sepanjang perjalanan,Misya terus ngedumel.
''Cemburu dia bilang? mana mungkin aku cemburu sama dia,''monolog Misya yang masih tidak terima dengan ucapan Brayen.
''Tapi kenapa aku tidak suka ya melihat dia bersama wanita itu,apa ia aku cemburu? gumamnya lagi sambil terus berpikir.
Misya menggeleng-gelengkan kepalanya,untuk menghilangkan pikiran yang tidak masuk akal itu.
__ADS_1
''Mana mungkin aku menyukai laki'laki itu,,aku hanya mencintai suamiku mas Kiano, ia hanya mas Kia.''gumam Misya menyakinkan dirinya sendiri.
Skip
***
Saat ini Alex baru keluar dari kamar mandi,dahinya berkerut saat samar-samar telinganya mendengar gumaman dari mulut Misya, ia menatap jam dinding dikamarnya yang masih menunjukan pukul empat pagi,,karna penasaran Alex mendekati tempat tidur yang saat itu ada Misya yang masih tertidur disana.
Mata Alex melebar sempurnya saat mendengar Misya menyebut nama Brayen dalam tidurnya. Dan Alex pun semangkin menajamkan pendengarannya.
''Brayen ku mohon jangan ambil anakku,meskipun kau adalah ayahnya aku tidak akan pernah menyerahkan anakku ini pada mu.''gumam Misya dalam mimpinya.
Walaupun pelan,dan tidak begitu jelas,namun Alex bisa mendengar semuanya.
Alex mengepalkan tangannya,rahangnya mengeras menahan amarah.Dengan tergesa Alex langsung menyambar jaket yang tergantung didinding kamar,kemudian keluar dari sana meninggalkan Misya yang masih bergelut dengan mimpinya.
Alex memilih menaiki motor Sport miliknya yang memang jarang ia gunakan, ia terus melajukan kecepatan laju motornya,tak perduli dengan rasa dingin yang menembus hingga ketulang.
Tak terasa motor yang ia kendarai telah sampai ditempat tujuan,yaitu sebuah apartemen milik seseorang.Setelah memarkirkan motornya Alex langsung menuju lantai atas.
Ting..
Suara pintu lift terbuka, setelah keluar dari sana Alex langsung menuju kamar apartemen tersebut.
Kini Alex sudah berada didepan pintu apartemen yang ia maksud,tanpa menunggu lama, Alex langsung membunyikan bel yang terletak disamping pintu tersebut.
Tak lama terdengan suara orang membukakan pintu dari dalam, di sambut dengan gerutuan orang tersebut.
Alex yang melihat pintu terbuka langsung mendorong orang tersebut masuk kedalam sekaligus melayangkan pukulan diwajahnya,hingga membuat orang itu jatuh tersungkur dilantai.
''Alex, ucap orang tersebut yang tak lain adalah Brayen.
Brayen yang baru terlelap satu jam yang lalu karna baru pulang dari clubnya,merasa terganggu akibat suara bel yang terus-menerus di tekan oleh orang yang saat itu berada diluar,akhirnya dengan terpaksa ia beranjak dari kasur miliknya untuk melihat siapa yang datang pagi-pagi sekali keapartemen miliknya.
Dengan sedikit menggerutu Brayen melangkah menuju pintu apartemennya.Baru setengah ia membukakan pintu, tubuh Brayen langsung kembali didorong orang yang ada didepannya,dan langsung memukul wajahnya hingga meninggalkan setitik noda merah disudut bibirnya.
Setelah memukul Brayen,Alex melangkahkan kakinya menuju sofa dan duduk disana.Sedangkan Brayen yang saat ini masih terduduk dilantai ,meringis menahan perih di wajahnya akibat ulah Alex.
__ADS_1
''Ada apa Lex?kenapa kau memukul wajahku?''ucap Brayen yang terlihat kesal,seketika rasa kantunya hilang karna tonjokan yang diberikan oleh Alex.
NEXT