Usaha Pelarian Seorang Istri

Usaha Pelarian Seorang Istri
Nanti, Menikahlah Denganku!


__ADS_3

"S-silakan lanjutkan, berjuanglah!" Keyran kalang kabut dan bergegas keluar dari kamar mandi, dia langsung menutup pintu itu rapat-rapat.


"Astaga, aku pikir dia pingsan, tapi ternyata ... ternyata cuma ... aahhh lupakan! Lupakan!"


Keyran kembali mondar-mandir, dia mengatur napasnya dan berusaha keras untuk melupakan hal yang barusan dia lihat.


Tenang, tenang ... paling nanti aku cuma tambah dibenci. Tapi kan tadinya niatku baik, aku cuma ingin memastikan dia baik-baik saja atau tidak. Tapi kenyataannya justru lain, ternyata dia lama sekali tak bersuara karena buang air, padahal aku kira dia pingsan.


"Oke, untuk mencegah perang dunia, sebaiknya ke depannya jangan pernah bahas hal ini! Anggap saja yang tadi itu aku tidak pernah melihatnya! Sekarang rileks, lalu kembali bekerja."


Keyran akhirnya memutuskan untuk kembali melanjutkan pekerjaannya. Sedangkan Nisa, dia masih tetap di posisi yang sama. Dia sangat malu sampai wajahnya semerah tomat dan ingin menangis, namun tidak bisa karena air matanya tidak keluar.


"Hiks ... gini amat punya suami." ucap Nisa dengan nada pasrah.


Padahal tadi itu sudah hampir di ujung, tapi Keyran tiba-tiba masuk, jadinya gagal keluar. Bahkan dia masih bisa menyemangatiku untuk berjuang, tapi sebenarnya ini lebih sulit dari yang dia kira. Ini pasti pengaruh dari obat-obatan, makanya aku jadi sembelit.


Tapi tetap saja ini salahnya Keyran! Dia kalau mau masuk selalu saja tiba-tiba dan tanpa mengetuk atau bertanya terlebih dulu. Terus dia masuk itu karena mau apa? Bukannya tadi dia sudah lihat kalau aku masuk ke kamar mandi?


"Mau nabung dipersusah, ternyata kamar mandi rumah sakit jauh lebih horor dibanding kamar mandi sekolah. Pokoknya rahasia ini harus disimpan sampai mati, ini benar-benar memalukan kalau sampai orang lain tahu."


Nisa memutuskan untuk tidak lagi melanjutkan kegiatannya. Dia merapikan pakaiannya lalu berjalan pelan keluar dari kamar mandi. Selepas dari menutup pintu, dia menatap Keyran dengan tatapan penuh kebencian. Namun Keyran yang menyadari hal itu hanya diam, dia bersikap seolah-olah tidak pernah ada hal memalukan yang terjadi.


"Ukh ..." Nisa mengepalkan tangannya sekuat mungkin, bibirnya juga bergetar menahan kata-kata kotor yang sangat ingin dia lontarkan.


Kok dia biasa saja? Minta maaf kek atau kasih penjelasan gitu! Jangan-jangan dia malah menganggap yang tadi itu sebagai sebuah pemandangan. Aaarghhh gila! Ingin memaki tapi tidak berani.


Nisa menahan semua amarahnya, dia lalu berjalan pelan menuju ke arah ranjang. Dia berbaring lalu menyelimuti tubuhnya, dan sekali lagi dia menatap ke arah Keyran. Namun Keyran masih saja diam, Nisa mendengus kesal dan akhirnya berbalik membelakangi Keyran.


***


Keesokan paginya, mungkin Nisa sudah tidak lagi terus berpura-pura tidur saat hanya ada Keyran, namun di antara mereka masih belum ada komunikasi.


Saat ini Nisa sedang sarapan makanan yang tadinya diantar oleh Ricky secara pribadi. Dia menyantap makanan itu sambil menonton TV. Sedangkan Keyran, lagi-lagi dia bersikap acuh sambil membaca berkas yang berhubungan dengan pekerjaannya dari kejauhan.


Namun tak lama kemudian tiba-tiba ada seseorang yang membuka pintu. Orang itu adalah Valen, dia datang dengan membawa sebuah tas berwarna hitam.


"Permisi ..." ucapnya yang setelah masuk dan langsung ke arah Nisa. "Ternyata Nyonya sudah bangun toh, bagaimana keadaan Nyonya?"


"Biasa saja," jawab Nisa yang kemudian mengacuhkannya lalu kembali menatap layar TV.


"Ehmm ..." Valen tersenyum canggung, kemudian diam-diam melirik ke arah Keyran.


Cih, ternyata belum berbaikan juga. Jika seperti ini terus, aku juga yang terkena dampaknya.


"Nyonya, ini saya taruh dimana?" tanya Valen sambil menenteng lebih tinggi tas hitam yang dia bawa.


"Memangnya itu apa? Kenapa tanya padaku?" tanya Nisa tanpa menoleh.


"Ini laptop milik Nyonya."


"Hah?!" seketika Nisa menoleh, memperhatikan tas itu baik-baik. "Itu sungguhan laptopku?"


"Iya. Tuan yang memintaku untuk mengambilnya, dia bilang kalau semalam Nyonya mengigau menginginkan laptop."


"M-mengigau?!" Nisa ternganga dan kemudian melirik ke arah Keyran yang sedari tadi bersikap tidak peduli.


Ini gila! Masa aku benar-benar mengigau begitu? Kalau benar ... maka dia lagi-lagi melihat hal memalukan tentangku.


"Ini ditaruh dimana?!" bentak Valen yang mulai habis kesabarannya.


"E-eh, taruh di meja sana!" jawab Nisa sambil menunjuk dengan sendoknya.


Wah ... ini pertama kalinya Valen membentakku, sepertinya dia sangat lelah. Iya juga, belakangan ini Keyran terus di rumah sakit, jadi pekerjaan kantornya dialihkan ke Valen. Semoga saja dia jangan sampai kena tipes lagi.


Valen pun langsung bergegas pergi setelah meletakkan tas berisi laptop milik Nisa. Tak berselang lama kemudian tiba-tiba Keyran menaruh berkas yang tengah dia baca, dia lalu beranjak dari sofa dan bergegas keluar.


Namun siapa sangka saat Keyran baru saja keluar, dia berpapasan dengan seseorang yang tak asing baginya. Orang itu tidak lain adalah Jonathan, dan Jonathan tampak membawa sebuah bungkusan berukuran sedang yang berisi buah stroberi.


Sontak saja Keyran langsung menghadang Jonathan, tatapan matanya sinis dan dia sangat tidak suka dengan kehadirannya. "Mau apa kemari? Mau mengganggu istriku?"


"Dengar ya, sebaiknya jangan menghalangiku, Nisa sudah menungguku." jawab Jonathan dengan tatapan mata yang tak kalah sinis.


"Menunggumu? Memangnya kau siapa? Apa sampai sekarang kau masih belum sadar tempat?"


"Cih, tempat yang pantas untuk aku tempati atau tidak itu bukan kau yang mengaturnya. Dan sekedar informasi untukmu, aku diminta datang setiap hari untuk menemaninya, dan kami telah membuat janji itu kemarin."


"Apa?! Jadi kemarin kau sudah datang kemari!"


"Tentu saja, tapi melihatmu yang terkejut ini ... sepertinya Nisa tidak memberitahumu. Kalau begitu biarkan aku lewat!" Jonathan berusaha melewati Keyran, namun Keyran lagi-lagi menghadangnya.


"Tidak bisa, yang ingin kau jenguk adalah istriku, dan aku sebagai suaminya punya hak penuh untuk melarangmu! Aku sudah berkali-kali memperingatkanmu agar jangan melewati batas, tapi kau malah masih berani datang menemuinya. Asal kau tahu, sebelumnya aku sudah sangat membencimu, tapi sekarang kebencianku bertambah karena kau terang-terangan ingin merebut istriku. Jadi berbaliklah dan pulang sana! Kau tidak diterima di sini!"


"Ckck ..." Jonathan tersenyum sinis. "Yang tidak menerima keberadaanku hanya kau, bukan Nisa. Dan aku di sini hanya untuknya. Aku akui, aku memang ingin merebut Nisa darimu, tapi yang jauh lebih penting dari itu aku ingin dia tersenyum bahagia. Aku tidak ingin Nisa kecewa sama seperti kau yang mengecewakannya."


"..." Keyran membisu, kata-kata yang Jonathan lontarkan terdengar menusuk baginya. Namun dia masih diam di tempat, dia masih tidak rela membiarkan Jonathan lewat. "Kotak apa yang kau bawa?" tanyanya dengan sorot mata yang dingin.


"Stroberi kualitas premium, kesukaan Nisa. Jangan-jangan ... sebagai suaminya kau bahkan tidak tahu apa saja yang dia sukai?"


Lagi-lagi Keyran membisu, Jonathan yang menyadari hal itu semakin bertambah tersenyum sinis. Dia lalu melewati Keyran, namun sebelumnya dia bahkan menepuk pundak Keyran dan memasang senyum meremehkan.


"Lain kali lebih perhatikan istrimu, pahami dia dulu seluruhnya dengan benar, baru setelah itu kau bisa dengan berani mengaku mencintainya. Menikah itu bukan sebab dijodohkan, tapi untuk jadi teman hidup. Dan sepertinya kau sama sekali tidak cocok jadi temannya Nisa." Jonathan menyingkirkan tangannya dari pundak Keyran lalu segera masuk ke dalam.


Keyran yang masih berdiam diri mulai merasa geram. Beberapa saat kemudian dia menghela napas, lalu berbalik berjalan ke arah yang berlawanan dengan yang sebelumnya ingin dia tuju. Bahkan selama berjalan dia juga terus menggerutu.


"Dasar ... ternyata ada motif perselingkuhan yang baru. Sekarang saatnya panggil si dokter gadungan, biarkan dia ikut bergabung dan secara tidak langsung dia juga akan mengganggu si tukang perebut istri orang itu! Lebih baik mengadu domba mereka untuk menghemat tenagaku sendiri, nanti aku hanya tinggal mengawasi saja."


Di sisi lain, di dalam ruang rawat. Kedatangan Jonathan mendapat sambutan hangat dari Nisa, bahkan Nisa juga memasang senyuman tanpa beban ketika hanya jika ada Jonathan bersamanya. Dia merasa bisa melepas segala keluhannya, dan Jonathan pun mendengarkan dan menanggapi dengan baik, bahkan dia sama sekali tidak pernah memojokkan Nisa.


Nisa merasa sangat nyaman ketika menyantap sarapan yang disertai dengan gurauan. Bahkan tanpa terasa dia yang biasanya tak pernah makan sampai habis, tapi kali ini dia menghabiskan makanannya.

__ADS_1


KLAAK ...


Pintu terbuka, yang membuka pintu kali ini adalah Ricky yang tampak tergesa-gesa dan diikuti oleh Keyran di belakangnya. Ricky sendiri juga merasa kesal saat tahu bahwa Jonathan lagi-lagi menjenguk Nisa. Sedangkan Keyran, dia bersikap acuh dan kemudian kembali duduk di sofa dekat jendela.


Ricky berjalan mendekat ke arah Nisa, dia merubah ekspresinya saat mengetahui Nisa baik-baik saja, namun dia tetap sinis kepada Jonathan.


"Tadi dia bilang kamu butuh aku, sebenarnya ada apa?" tanya Ricky pada Nisa.


"Haaa?" Nisa kebingungan, dia lalu melirik ke arah Keyran yang sedang tampak mengacuhkannya.


Apa-apaan? Kenapa tumben sekali panggil Ricky? Tapi ... sebenarnya aku juga ingin menanyakan sesuatu sih.


Nisa lalu kembali menoleh ke arah Ricky. "Ehmm ... bukan masalah serius kok, aku cuma ingin tahu apakah aku sudah boleh keluar jalan-jalan?"


"Soal itu boleh-boleh saja, tapi pergerakanmu masih harus dibatasi. Ngomong-ngomong ... apa kamu ingin jalan-jalan ke taman?"


"Iya! Berada di dalam ruangan terus sangat membosankan, jadi ... tadi itu Joe yang memberi saran untukku jalan-jalan." ucap Nisa dengan senyum semringah.


"Benar, aku yang menyarankan. Dan nantinya aku juga yang akan menemani Nisa." ucap Jonathan penuh percaya diri.


"Ohh ... begitu, nanti aku sebagai dokter juga akan ikut untuk mengawasi. Aku tidak bisa sepenuhnya percaya pada orang luar sepertimu." Ricky lalu tiba-tiba memasang senyum kepada Nisa. "Sebentar ya, aku akan suruh perawat ambil kursi roda untukmu."


Ricky keluar untuk meminta salah satu perawat mengambilkan kursi roda, dan setelahnya dia pun kembali masuk. Dia berjalan mendekat ke arah Nisa lagi, dan setelah memperhatikan sekeliling dia lagi-lagi tersenyum.


"Tumben makananmu habis, jika terus seperti ini maka bagus untukmu. Untuk selanjutnya terus seperti ini, oke?"


"Oke, akan aku usahakan." jawab Nisa dengan ekspresi sedikit murung.


Yang aku lakukan hanya makan, tidur dan istirahat, jika seperti ini terus maka aku bisa gendut.


"Tenang saja, selama ada aku maka Nisa akan makan dengan benar. Terlebih lagi aku juga akan datang setiap hari." ucap Jonathan penuh kebanggaan.


"Terserah!"


Aku benci orang ini! Dia pikir asal ada dia maka Nisa akan baik-baik saja. Dan ternyata alasan sebenarnya aku dipanggil gara-gara ini toh. Hehehe, lihat saja nanti, akan kubuat kalian berdua terbakar api cemburu.


Tak lama kemudian datanglah seorang perawat wanita yang membawa kursi roda. Sebelum dia pergi, dia juga mengambil nampan makanan kosong milik Nisa. Tapi siapa sangka perawat itu diam-diam menaruh kebencian kepada Nisa.


Sial, betapa irinya aku! Bisa-bisanya dikelilingi oleh pria-pria tampan, pertama CEO idaman, lalu pria modis yang entah siapa, terlebih lagi dokter cintaku juga menaruh perhatian khusus untuknya. Sedangkan aku, aku ini bagaikan seekor amoeba yang terombang-ambing di lautan. Awas saja, untuk seterusnya porsi makananmu akan kubuat lebih banyak, agar kau jadi gendut!


Begitu perawat itu pergi, Nisa lalu berusaha untuk turun dan berpindah ke kursi roda. Namun Ricky tanpa peringatan apa pun langsung menggendong Nisa begitu saja, lalu dengan penuh kelembutan menurunkannya ke kursi roda.


Saking kagetnya Nisa tak berkata apa-apa. Sedangkan Keyran dan Jonathan, mereka berdua benar-benar terbakar api cemburu serta merasa kecolongan. Namun kecemburuan Keyran bisa dia sembunyikan, dia mengepalkan tangannya sekuat mungkin dan terus menatap keluar jendela. Sementara Jonathan, dia tidak mau kecolongan lagi dan langsung mendekati Nisa.


Jonathan mendesak Ricky, lalu dengan cekatan memegangi pegangan pada kursi roda. "Biar aku saja, dokter menepilah!" pintanya dengan nada memaksa.


"Tidak bisa!" Ricky mendesak Jonathan balik dan memegangi pegangan yang satunya. "Pasti ini pertama kali bagimu menyentuh kursi roda, aku enggan mengambil risiko jika nanti Nisa bisa terjatuh. Sebaiknya biarkan aku yang profesional ini yang menangani. Orang awam minggir saja!"


"Orang awam katamu?! Hei, ini hal yang sederhana, aku bisa melakukannya! Sama sekali tidak butuh tenaga profesional sepertimu!"


"Cukup!!" teriak Nisa yang seketika turun dari kursi roda. "Kalian lihat? Aku sudah bisa jalan, kakiku baik-baik saja. Lebih baik aku berjalan ke taman tanpa kursi roda!"


"..." Nisa membisu, sejenak dia melirik ke arah Keyran. Dia melihat Keyran yang acuh, seakan-akan sama sekali tidak peduli kepadanya. "Humph! Iya ... aku duduk!" Nisa akhirnya terpaksa duduk lagi.


"Nah, kalau jadi penurut kan lebih baik." Ricky lalu menatap Jonathan. "Aku saja, jangan berdebat lagi!"


"Pokoknya tetap tidak bisa, aku mau ..."


"Joe! Biar Ricky saja, kamu tolong bawakan stroberi pemberianmu tadi, aku ingin memakannya di taman."


"Huft ... oke, jika itu permintaanmu."


Mereka bertiga pun akhirnya pergi, meninggalkan Keyran seorang diri di ruang rawat. Bahkan setelah ditinggal dia masih saja diam dan hanya memandangi keluar jendela. Namun sesuatu yang mengejutkan tiba-tiba terjadi.


Keyran melihat ada seorang anak kecil yang melambai-lambaikan tangan kepadanya, dan anak kecil itu tidak lain adalah Yuna. Yuna memberi isyarat agar Keyran segera turun untuk menemuinya.


Keyran tersenyum dan mengangguk, dia bergegas pergi untuk menemui Yuna di taman. Baginya, Yuna merupakan penyelamat hari-harinya yang buruk, hari-hari yang bagaikan perebutan kasih sayang seorang kaisar dalam kehidupan harem istana.


***


Di taman tidak begitu terdapat banyak orang, mungkin disebabkan karena masih pagi. Nisa yang sampai di taman terlebih dahulu kembali menengahi Ricky dan Jonathan. Mereka bertiga duduk di bangku, Ricky di samping kanan, Jonathan di samping kiri, sedangkan Nisa berada di tengah sambil memangku kotak berisikan stroberi.


Niat awal ingin menjernihkan pikiran serta rileks, namun yang dia dapatkan adalah lagi-lagi tekanan. Nisa hanya berpura-pura merasa senang sambil terus memakan buah stroberi.


Dan tanpa disangka-sangka ada seorang anak kecil mendekat ke arahnya, anak kecil itu tidak lain adalah Yuna. Tampilan Yuna kini sedikit berubah, rambutnya telah dipotong sebahu sekaligus juga berponi. Yuna datang dengan bola tenis kesayangannya, dia berjalan mendekat dan terlihat sangat malu-malu.


Nisa, Ricky, dan Jonathan merasa bingung karena ada anak kecil yang mendekat tanpa alasan yang jelas. Lalu mendadak Nisa berinisiatif berkata, "Mau stroberi?"


"Iya ..." Yuna mengangguk pelan dan wajahnya memerah.


"Beli sendiri dong!"


"Haaa?" Yuna ternganga karena kecewa.


"Hahaha, jangan sedih, kakak cuma bercanda. Ini ... silakan ambil," ucap Nisa dengan senyuman sambil menyodorkan kotak itu.


Ternyata anak ini mau minta stroberi toh. Kasihan juga kalau aku menolaknya.


"Terima kasih, kak ..." Yuna kembali tersenyum, dan tangannya segera meraih buah stroberi itu. Namun tiba-tiba saja tangannya malah ditahan oleh Jonathan. Bahkan Jonathan juga menatapnya dengan tatapan mengintimidasi.


"Hei, bocah! Stroberi ini bukan untukmu, hanya Nisa yang boleh memakannya! Jadi singkirkan tanganmu!" (pengetahuan tentang anak kecil nol!)


"Joe! Jangan kasar pada anak kecil, memangnya apa salahnya meminta stroberi? Toh dia paling cuma minta sedikit." (lemah terhadap anak kecil)


"Ckck ... dasar pelit!" (mirip anak kecil)


"Tapi Nisa, buah itu aku berikan hanya untukmu. Khusus hanya untukmu! Siapa pun selain kamu tidak boleh memakannya!" Jonathan bersikeras dan masih menatap Yuna dengan tatapan tidak suka.


"Kamu sendiri yang bilang kalau ini sudah diberikan padaku. Jadi aku berikan lagi ke siapa pun itu urusanku, lagi pula dia cuma anak kecil. Joe ... aku mohon jangan marah karena hal sepele."

__ADS_1


"Ck, terserah kamu saja."


"Nah, adik kecil ... jangan takut, ayo ambil!" ucap Nisa sambil tersenyum.


Yuna masih diam, dia terus menatap Jonathan tanpa berkedip.


"Hei, kenapa menatapku seperti itu?! Ayo cepat ambil, Nisa sudah menawarkannya padamu! Bocah aneh!"


"Joe! Jangan membentaknya! Kasihan dia!"


"Heheh, kasihan ... dibentak Nisa." ejek Ricky.


"Huft ..." Nisa mengatur napasnya lalu kembali tersenyum kepada Yuna. "Ayo ambil, anggap saja hanya ada kakak di sini. Jangan hiraukan kedua orang aneh di samping kakak!"


Yuna menatap Nisa dengan tatapannya yang polos, tangannya maju untuk meraih, namun bukan stroberi yang dia ambil, melainkan tangannya Nisa yang diraih. "Kakak ini ... istrinya Om Key, ya?"


"Kok tahu?!" Nisa terkejut, Ricky dan Jonathan juga sama tapi mereka berdua memilih diam.


"Karena cincin yang dipakai kakak modelnya sama seperti cincinnya Om Key. Tapi ... kenapa kakak pakainya di jari tengah?"


"Oh itu! Karena kehidupan pernikahan kakak patut diacungi jari tengah!"


"Pffttt ..." Ricky dan Jonathan sama-sama menahan tawa. Sedangkan Yuna, dia diam karena tidak mengerti apa artinya itu.


"Ngomong-ngomong ... namamu siapa? Nama kakak sendiri adalah Nisa."


Ternyata anak ini toh yang dimaksud Keyran mirip denganku.


"Yuna, namaku Yuna! Kak Nisa sakit apa? Kenapa harus ditemani pak dokter?" tanya Yuna sambil melirik ke arah Ricky.


"Ehmm ... sakit kakak bukan penyakit parah, tapi dokter ini memang selalu mengawasi kakak. Nama dokter ini adalah Ricky, ayo kenalan sama dia!"


"Salam kenal dokter Ricky, namaku Yuna. Mulai sekarang kita berteman baik ya!" ucap Yuna dengan senyuman.


"Iya, salam kenal juga Yuna ..." ucap Ricky sambil tersenyum.


"Kak Nisa, Kak Nisa! Lalu om yang satu ini siapa?" tanya Yuna dengan antusias sampai dia menunjuk pada Jonathan.


"Turunkan jarimu! Dan jangan panggil aku om! Lebih baik kau tidak mengenalku!" bentak Jonathan.


"Yuna ... jangan dimasukkan ke hati ya? Biar kakak saja yang kenalkan, nama om ini adalah Jonathan." ucap Nisa sambil melirik ke arah Jonathan dengan tatapan tidak suka.


"Oh, tidak apa-apa kok, Yuna paham. Salam kenal Om Nathan ..."


"Aku bilang jangan panggil aku om! Apalagi ditambah Nathan, orang lain jangan terlalu sok akrab denganku!"


"Y-Yuna, jangan hiraukan dia!"


Joe memang brengsek! Bisa-bisanya dia bersikap begitu pada anak kecil semanis Yuna.


"Iya ... Yuna mengerti."


"Ehmm ... ngomong-ngomong Yuna sakit apa?"


"Anemia aplastik, tapi Yuna yakin bisa sembuh kok!" ucap Yuna dengan senyuman.


Sontak saja mereka terdiam, mereka bertiga mengerti bahwa penyakit Yuna adalah penyakit serius. Jonathan masih saja berekspresi datar, lalu Ricky cukup terkejut karena memang paham betul, sedangkan Nisa juga ikut-ikutan terkejut meskipun sebenarnya dia tidak paham.


Nisa memasang senyum canggung, kemudian dia bergeser sedikit lebih dekat pada Ricky untuk membisikkan sesuatu. "Anemia aplastik itu penyakit apa?"


"Itu ... tergolong penyakit serius yang jarang terjadi. Penyebabnya adalah kegagalan sumsum tulang untuk menghasilkan sel darah. Dan Yuna masih anak-anak, mungkin faktornya adalah keturunan yang terjadi karena cacat gen." bisik Ricky pada Nisa.


"Apa masih ada peluang untuk sembuh?"


"Ada, bisa dengan terapi penekanan sistem kekebalan atau transplantasi sumsum tulang."


"Oh, syukurlah." Nisa tersenyum lega, dia lalu mengusap kepala Yuna. Bahkan setelah itu dia juga menyuapi Yuna memakan stroberi. "Semangat Yuna!"


"Iya!"


"..."


Rasanya sedikit aneh, aku yang selalu ingin cepat mati tapi malah menyemangati orang lain untuk tetap hidup. Mungkin ini karena dia masih kecil, jika saja dia bukan anak kecil mungkin aku tidak akan peduli dia hidup atau mati.


Yuna yang masih disuapi oleh Nisa tiba-tiba berhenti. Dia menoleh ke arah lain lalu melambaikan tangannya sambil berteriak, "Om Key! Di sini!!"


Sontak saja mereka bertiga menoleh ke arah Yuna melambai. Dan Keyran yang masih berada di kejauhan mulai canggung. Menyadari hal itu tanpa pikir panjang Yuna berlari ke arah Keyran, dia menggandeng tangan Keyran lalu mengajaknya untuk mendekat.


Keyran hanya bisa pasrah karena tidak ingin Yuna kecewa. Dia menurut untuk mendekat, namun dia duduk di bangku lain yang berjarak 2 meter dari bangku tempat Nisa, Ricky, dan Jonathan duduk. Bahkan begitu duduk, Keyran menahan Yuna untuk tetap bersamanya dan tidak memperbolehkannya mendekat lagi pada ketiga orang itu.


"Yuna, dengarkan Om Key! Jangan dekat-dekat dengan mereka!" pinta Keyran dengan nada memaksa.


"Kenapa? Mereka baik kok, Yuna juga dikasih stroberi. Lagi pula bukannya Kak Nisa adalah istrinya om?"


"Iya, tapi sebaiknya jangan dekat-dekat dengan mereka. Mereka itu perkumpulan orang sesat!"


"Kau yang sesat! Bisa-bisanya mencuci otak anak kecil!" bantah Ricky karena tidak terima.


"Diam kau! Aku tahu mana yang baik atau tidak bagi Yuna!"


"Cih, memangnya kau siapa? Orang tua Yuna juga bukan. Punya hak apa kau mengaturnya?!"


"Cukup! Jangan bertengkar karena Yuna. Kalau Om Key khawatir pada Yuna, Yuna bisa buktikan kalau mereka orang-orang baik!"


Yuna berlari meninggalkan Keyran dan menghampiri ketiga orang itu. Dan yang dia pilih untuk didekati di antara ketiga orang itu adalah Jonathan.


"Om Nathan!" panggil Yuna penuh antusias.


Jonathan membisu, dia sangat enggan menjawab sapaan dari malaikat kecil seperti Yuna.

__ADS_1


"Om Nathan! Kalau Yuna sudah besar nanti, menikahlah denganku! Ini maharnya!" ucap Yuna sambil menyodorkan bola tenis kesayangannya.


__ADS_2