Usaha Pelarian Seorang Istri

Usaha Pelarian Seorang Istri
Teman Lama


__ADS_3

KELUARGA KARTAWIJAYA GELAR KONFERENSI PERS MENANGGAPI ISU PERSELINGKUHAN 》》》


Hal tersebut seolah-olah menjadi headline dari berita yang sedang heboh baru-baru ini. Demi mempertahankan citra baik keluarga di mata publik, Keyran akhirnya menyetujui ayahnya untuk menggelar konferensi pers.


Konferensi pers tersebut digelar setelah 2 hari dari waktu kunjungan Tuan Muchtar saat meminta maaf kepada Nisa. Tokoh yang muncul dalam konferensi pers kali ini hanya 3 orang, Tuan Muchtar sendiri beserta Keyran dan Nisa.


Pembicara utama dalam konferensi pers kali ini adalah Tuan Muchtar sendiri. Dia meminta maaf kepada publik atas masalah internal keluarganya yang sempat membuat publik heboh. Dia juga menjelaskan bahwa masalah ini akan dianggap selesai, dan tak akan melibatkan lebih banyak pihak lagi.


Karena ketidakhadiran Daniel dalam konferensi pers, ada beberapa wartawan yang menanyakan alasan mengapa Daniel tidak bisa hadir. Tuan Muchtar juga menjawabnya dengan tegas agar tidak menimbulkan gosip lain serta berita miring.


Konferensi pers tersebut berjalan cukup lancar, sampai akhir Nisa bersikap acuh tak acuh terhadap setiap pertanyaan yang diajukan oleh wartawan terhadapnya. Dia tahu bahwa kali ini dia cukup diam dan hanya menampilkan wajahnya. Ditambah dia juga menunjukkan kemesraan dengan Keyran di depan publik, agar publik semakin percaya dan beropini bahwa isu perselingkuhan itu tidak pernah benar.


Namun, pendapat setiap orang tidak bisa dikendalikan. Memang sekarang nama Nisa sudah bersih, tetapi orang-orang justru berbalik menghujat dan mengecam Natasha. Mengingat bahwa Natasha sempat menyulut api kebohongan di tengah publik, sekarang orang-orang yang merasa telah ditipu berbalik menyerangnya hingga Natasha sampai menghapus akun media sosialnya.


Kini nama Nisa telah kembali bersih, dia pun juga bisa lebih tenang menampakkan wajahnya di tempat umum. Tak terlepas dari bantuan Keyran, dia akhirnya bisa dengan percaya diri kembali masuk kuliah untuk menyelesaikan studinya yang sebentar lagi usai.


Hari-hari selanjutnya adalah hari-hari bahagia Keyran dan Nisa yang serasa tak pernah usai. Mereka berdua kembali melakukan rutinitas seperti biasa, namun sekarang mereka melakukannya dengan penuh cinta. Mengingat betapa susahnya mereka saat berpisah, sekarang mereka sadar bagaimana menghargai waktu saat bersama.


Tanpa terasa 3 minggu telah berlalu, saat-saat yang selalu diimpikan oleh Nisa akhirnya tiba, yaitu acara wisuda. Universitas Grand SC kali ini sangat ramai dikunjungi orang yang ikut meramaikan acara wisuda. Dan tentu saja di acara wisudanya yang berharga ini, Nisa mengajak Keyran untuk mendampinginya.


Begitu acara selesai, Nisa langsung berlari ke arah suaminya sambil menggenggam sertifikat di tangannya. "Darling ...!!" teriaknya dengan senyuman lebar.


"Haha ... pelan-pelan, kau bisa terjatuh." Keyran membenarkan topi wisuda Nisa yang sedikit miring, lalu dia menyodorkan sebuah buket bunga yang sebelumnya dia sembunyikan di belakang. "Ini untukmu."


"Romantis sekali ..." Nisa tersenyum semringah menerima buket bunga itu, setelahnya dia juga memeluk erat tubuh suaminya.


"Terima kasih, Key. Berkat bantuanmu aku bisa lulus tahun ini, jika bukan karenamu mungkin aku sudah di drop out dari kampus. Aku janji setelah ini akan lebih mengutamakan tugasku sebagai istrimu."


"Ya, akan kupegang kata-katamu."


"Oh iya, mari berfoto!" ajak Nisa penuh antusias.


"Sekarang? Tidak menunggu kedatangan orang tuamu dulu?"


"Humph, mereka masih di perjalanan. Ayo kita berfoto dulu, hanya kita berdua! Foto sebagai pasangan!"


"Baiklah," jawab Keyran dengan senyuman.


"Kalau begitu tunggu sebentar, aku akan mengambil tasku dulu, aku menaruh kamera di sana!"


Nisa bergegas menuju ke tempat duduknya yang semula untuk mengambil tas. Karena tempat itu adalah tempat bagi para mahasiswa lain duduk, tak heran jika Nisa berpapasan dengan teman satu jurusan yang lain. Tetapi, kali ini dia berpapasan dengan orang yang tidak asing, yaitu Risma dan Jenny.


"Ada apa?" tanya Nisa dengan ekspresi datar kepada kedua orang itu.


"Eumm ... kami mau minta maaf," ucap Jenny dengan wajah tertunduk.


"Harusnya saat itu kami sebagai teman membelamu, bukan malah lari seperti pengecut. Kita berdua sadar kalau sudah berbuat salah, jadi t-tolong maafkan kami ..." Isma menimpali.


"Aku sudah memaafkan kalian," ucap Nisa yang seketika membuat kedua orang itu mendongak, menatapnya dengan sorot mata berharap.


"Sungguh? Jadi kita bisa berteman lagi?"


"Aku memang memaafkan kalian, tapi untuk berteman dengan kalian lagi kurasa tidak bisa. Permisi." Tanpa basa-basi lagi Nisa membawa tasnya dan berjalan melewati kedua orang itu.


Sejak kecil ayah selalu mengajariku hal yang berbeda. Jika orang tua lain mengajarkan anaknya agar tidak pilih-pilih dalam berteman, tapi aku diajarkan untuk memilih teman mana yang cocok denganku.


Kejadian itu telah membuktikan jika kalian cocok denganku, lagi pula kalian mau berteman denganku karena mau memanfaatkanku. Hari ini kalian lulus kuliah, setelah ini kalian baru akan mengerti bagaimana kejamnya dunia ini. Jangan harap bisa berteman karena mau memanfaatkan koneksiku.


Padahal saat kalian susah, aku selalu berusaha membantu kalian karena menganggap bahwa kalian adalah temanku. Tapi giliran saat aku susah kalian pergi, lalu saat butuh aku kalian kembali. Teman macam apa itu?


Nisa terus berjalan menjauh tanpa menengok ke belakang, meninggalkan dua orang itu yang bisa disebut sebagai mantan teman. Jenny dan Risma hanya saling menatap dengan ekspresi murung, mereka berdua telah salah beranggapan jika Nisa masih mau berteman dengan mereka. Saat melihat punggung Nisa yang semakin menjauh, mereka berdua akhirnya sadar jika level mereka dengan Nisa jauh berbeda.


Nisa kembali menghampiri Keyran yang masih berada di tempat yang sama. Dia memegang sebuah kamera sambil berkata, "Kamera sudah siap, mari berfoto!"


"Hmm ... kau sedikit lebih lama dari dugaanku."


"Ah, soal itu tadi aku sempat berbincang dengan orang satu jurusan. Tapi lupakan, ayo cepat berfoto selagi riasanku masih bagus!"


"Baik-baik ... tapi sekarang siapa yang akan memotret kita? Apa kau bisa meminta tolong temanmu?"


Nisa terdiam, untuk sejenak dia berpikir bahwa tak ada satu orang teman pun yang bisa dia mintai tolong. Kemudian dia menengok ke kiri kanan, melihat apakah ada setidaknya satu orang saja yang dia kenali.


Begitu Nisa melihat seseorang yang tidak asing tiba-tiba lewat di depannya, dia langsung berteriak, "Hei petugas babi! M-maksudku Terry!"


Terry yang kebetulan lewat langsung menengok ke arah Nisa, dia lalu mendekat dan ekspresinya terlihat malas. "Ada urusan apa memanggilku?"


"Hehe ... Aku mau minta bantuan, tolong ambilkan gambarku dan suamiku!" pinta Nisa dengan senyum canggung.


Terry melirik sekilas ke arah Keyran, lalu tiba-tiba meraih kamera yang ada di tangan Nisa. "Baiklah, tapi lakukan dengan cepat!"


"Terima kasih!" Nisa tersenyum semringah dan langsung berpose mesra dengan Keyran. Pakaian toga, topi wisuda serta buket bunga juga menjadi pemanis di foto itu.


Setelah Terry mengambil beberapa foto, dia lalu mengembalikan kamera kepada Nisa dan bertanya apakah sudah puas atau belum dengan foto tersebut. Nisa menjawab sudah puas dan sekali lagi berterima kasih kepada Terry.


Namun, di sisi lain Keyran merasa heran dengan keakraban kedua orang itu. "Kalian berdua berteman? Bukankah sebelumnya kalian tidak pernah akur?"


Nisa dan Terry terdiam, mereka saling menatap dan setelahnya malah tertawa cekikikan bersama. "Astaga, ternyata ada yang beranggapan kalau kita berteman."

__ADS_1


"Entahlah, sepertinya mata suamiku melihatnya begitu."


"Hei, aku bertanya kenapa kalian bisa akur. Sebenarnya apa yang sudah aku lewatkan?" tanya Keyran sambil menatap sebal.


"Bukan hal yang penting, hanya saja ... Terry adalah orang pertama yang percaya dan membelaku ketika aku dijebak saat itu. Karena itu aku berpikir sebenarnya Terry ini tidak terlalu menyebalkan juga."


"Oh iya, ngomong-ngomong ... apa kau jadi melanjutkan studi ke luar negeri?" tanya Nisa.


"Tentu saja jadi, aku juga penasaran dengan suasana baru yang akan aku dapat. Tapi apa kau sendiri sungguh berencana membuka toko roti?" tanya Terry pada Nisa.


"Aku masih merencanakannya, dan jujur saja aku sangat ingin merealisasikan rencana itu. Agak lucu sebenarnya, memang yang aku inginkan sedikit menyimpang dari jurusan yang aku ambil." Nisa terkekeh.


"Haha, dasar kau ini ... Tapi meskipun begitu aku harap kita sama-sama sukses nantinya. Dan mungkin saja aku juga akan sedikit merindukanmu ..."


"Hei! Jaga ucapanmu!" Keyran langsung menarik tubuh Nisa dan merangkulnya dengan erat. Dia juga melotot kepada Terry seolah-olah sebagai peringatan. "Siapa yang mau kau rindukan, hah?!"


"Anda salah paham. Bukan rindu semacam itu yang aku maksud, tapi-"


"Tapi apa?! Jangan coba-coba mengelak!" potong Keyran.


"Sudahlah Key ... dengarkan dulu dia bicara sampai tuntas." Nisa tersenyum canggung kepada Terry, dia mengisyaratkan agar memaklumi penyakit cemburu tidak jelas Keyran yang sedang kumat.


Terry mengerti lalu menghela napas. "Maksudku begini, sedikit merindukan karena istri Anda ini tukang pembuat masalah. Dan sayalah yang selalu memergoki dan mencatat setiap pelanggaran yang dia lakukan."


"Siapa yang kau maksud tukang pembuat masalah? Aku cuma melakukan pelanggaran agar komisi kedisiplinan tidak kekurangan tugas! Setidaknya kau punya kerjaan selain jadi babu kampus!" sahut Nisa.


"Kau bangga dengan semua itu?" tanya Terry terheran-heran.


"Tentu saja bangga, kau sekarang lihat sendiri, kan? Aku bisa lulus dengan pelanggaran sebanyak itu! Hehe, artinya sampai akhir yang menang adalah aku!"


"Cih, semua itu juga berkat suamimu!"


Nisa meringis dan mendongak, lalu dengan percaya dirinya memeluk Keyran. "Suamiku sayang ... terima kasih~"


"Dasar gila," gumam Terry yang matanya terasa perih melihat kemesraan di depannya. "Sudahlah, aku pergi! Jangan minta tolong padaku lagi kalau masih mau berfoto!"


Terry bergegas menjauh meninggalkan pasangan itu. Tetapi di satu sisi Keyran hanya diam melamun, seolah-olah sedang memikirkan sesuatu. Menyadari hal itu Nisa langsung melepaskan pelukannya dan berkata, "Apa kau masih merasa jika aku punya sesuatu dengannya?"


"A-ah, tidak!" bantah Keyran yang sadar dari lamunannya.


"Terus apa?"


"Aku hanya tidak habis pikir, aku tak pernah mengira jika dia, orang yang tak pernah akur denganmu justru sangat mengenalmu. Aku masih kaget saat kau bilang jika dialah orang pertama yang percaya dan membelamu, kukira itu orang lain ..." jawab Keyran sambil memegang tengkuknya.


"Orang lain, memangnya kau mengira siapa?" tanya Nisa penasaran.


"Hmph, menyebalkan ...."


"Bos!" teriak seseorang dari kejauhan.


Nisa seketika menoleh ke sumber suara, dia terkejut saat melihat beberapa rekannya datang. Ivan terlihat melambaikan tangannya, lalu di sampingnya ada Marcell dan Damar. Ketiga pria itu berada di dekat pohon yang rindang dan duduk di kursi taman.


Nisa langsung menenteng tasnya dan mengajak Keyran untuk menghampiri mereka. Begitu ikut duduk di sana, Nisa langsung berkata, "Kenapa tidak bilang dulu kalau mau kemari?"


"Kalau bilang dulu namanya bukan kejutan," jawab Ivan.


"Lagi pula kami hanya datang bertiga, tidak jadi masalah karena tidak menimbulkan kehebohan," sahut Damar.


"Selamat atas kelulusanmu," ucap Marcell dengan senyuman.


Sejenak Nisa tertegun, dia sudah lupa kapan terakhir kali melihat Marcell tersenyum. Kemudian dia juga ikut tersenyum dengan tulus. "Terima kasih, aku senang kalian datang kemari."


"Oh iya, Key ... kau sudah mengenal mereka semua, kan?" tanya Nisa.


"Ya, aku sudah kenal mereka."


"Haha ... kalau sudah kenal ayo sini duduk, cobalah akrab dengan mereka!" Nisa lalu menarik tangan Keyran dan memaksanya untuk duduk di sebelahnya dan bertatap muka dengan ketiga pria itu.


"Ayo ucapkan halo atau apa pun terserah pada mereka!" bisik Nisa penuh paksaan.


"Halo," ucap Keyran singkat. Namun tak ada satu pun dari ketiga pria itu yang menjawab sapaan Keyran.


"Coba tanyakan bagaimana kabar mereka!" bisik Nisa lagi.


"Apa kabar?" tanya Keyran dengan ekspresi datar.


"Sedang diare," jawab Marcell.


"Maag," ucap Damar.


"Sembelit," ucap Ivan.


"Ternyata kalian kompak keracunan."


"K-kalian ini ..." Nisa ternganga.


Astaga, percakapan kaku macam apa ini? Aku merasa seperti seorang ibu yang mengajari anak TK cara berkenalan. Sialnya lagi ini termasuk percakapan tidak normal. Pokoknya aku harus mencairkan suasana!

__ADS_1


"Ehem! Aku hargai kedatangan kalian bertiga kemari. Kalian harusnya tahu jika ini kelulusanku, jadi ... kalian bawa hadiah apa untukku?"


"Benar juga, kami lupa bilang. Rencananya kami akan mengadakan pesta sebagai hadiah kelulusanmu, Marcell juga punya wine langka yang dia dapat dari pelelangan. Nanti malam datanglah ke club!" ucap Damar antusias.


"Wine ...! Baiklah kalau begitu, nanti malam aku akan datang!"


"Tidak boleh!" sahut Keyran yang seketika mendapat tatapan tajam dari ketiga pria itu.


"Kenapa tidak boleh? Itu kan pesta untukku, masa aku tidak boleh datang?" tanya Nisa dengan ekspresi cemberut.


"Kalau kau mau pesta maka akan aku buatkan, kalau kau mau wine juga akan aku izinkan ambil salah satu dari koleksiku. Pokoknya kau tidak boleh pergi ke pesta malam ini!" ucap Keyran penuh penekanan.


"Itu berbeda ... aku mau pesta yang ada teman-temanku, bukan teman-teman bisnismu. Pesta harusnya membuatku senang, bukan malah membuatku tertekan."


"Pokoknya tidak! Awas saja jika kau berencana kabur malam ini!"


"Hei, apa hak mu melarang Nisa berpesta?" tanya Marcell dengan nada ketus.


"Aku suaminya! Aku punya hak penuh atas dirinya!"


"Lantas? Apa seorang suami punya hak untuk merampas kebebasan istrinya?" tanya Ivan.


"Aku bukannya merampas, tapi membatasi! Aku tahu mana yang baik dan buruk untuknya, dan aku cuma ingin melindunginya!"


"Melindungi katamu? Berkacalah dulu, kemampuanmu tidak ada apa-apanya dibanding kami dalam melindungi seseorang!" ucap Damar sinis.


"Ck, pokoknya malam ini Nisa tidak boleh keluar rumah! Aku sudah berulang kali dibodohi dan ditipu olehnya, aku tidak bisa membiarkan dia menipuku lagi!"


Nisa lalu memalingkan pandangan matanya. "Haha soal itu ... kau tinggal ikut saja denganku, masalah beres!"


"Beres apanya!? Pokoknya tidak bisa! Aku tidak mau terseret ke pesta pergaulan bebas macam kalian!"


"Sembarangan! Kau belum tahu saja jika pesta kami ini perkumpulan orang-orang elite dan berkelas!" bantah Ivan.


"Mulut orang rendahan tidak bisa dipercaya!" Keyran bersikeras.


"Sialan kau, dasar suami brengsek!"


"Kau bajing*n! Penghasut istri orang!"


"Bangs*t!"


Mereka pun mulai berdebat panas dan saling mengatai satu sama lain. Bersamaan dengan itu tiba-tiba angin bertiup lebih kencang hingga membuat topi wisuda yang dipakai oleh Nisa terbang. Tak ada satu pun dari keempat pria itu yang menyadari karena sibuk berdebat.


Nisa pun meninggalkan bangku dan pergi ke arah mana topinya terbang. Tak jauh dari sana dia mencari di antara semak-semak dan tak kunjung menemukannya.


"Ck, ini hari yang membahagiakan atau apa? Kenapa aku mendapat masalah seperti ini?" gerutunya sambil terus mencari.


"Mencari ini?"


Nisa langsung menengok ke arah orang yang suaranya terdengar akrab di telinganya. "Ricky?!"


Ricky pun mendekat ke arah Nisa, bahkan dia juga memasangkan topi tersebut di kepala Nisa. "Nah, jangan sampai terbang lagi."


"..." Nisa melongo, dia masih sulit mempercayai dengan siapa yang ia temui saat ini.


"Hei, apa kau tak mau mengucapkan apa pun padaku?"


"E-eh, terima kasih Ricky! M-maksudku terima kasih Profesor Ricky ..."


Aku bingung harus bagaimana berhadapan dengannya, aku baru ingat kalau saat ini dia juga menjabat sebagai guru besar.


"Haha, santai saja. Tak perlu bicara formal denganku. Anggap saja kau sedang bicara dengan ... dengan teman."


"Teman lama?"


"I-iya, teman lama! Aku juga ingin mengucapkan selamat atas kelulusanmu, kau sudah melewati perjalanan panjang hingga sampai ke tahap ini." Ricky mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Nisa.


Awalnya Nisa ragu, tetapi dia akhirnya berjabat tangan dengan Ricky meskipun sedikit canggung. "Terima kasih ...."


Nisa lalu melirik ke samping, dia baru sadar jika keempat pria yang dia tinggalkan saat ini sedang melotot kepadanya. Terutama suaminya, tatapan matanya seolah-olah sudah siap menembakkan sinar laser kapan saja.


Seketika Nisa menarik tangannya kembali. "Anu ... aku permisi, suamiku menungguku!" Tanpa basa-basi lagi dia segera pergi meninggalkan Ricky seorang diri.


Di satu sisi Ricky masih berdiam diri, menatap telapak tangannya yang kemudian mengepal erat. Dia tak lagi menatap punggung ataupun bayangan Nisa, tetapi justru tersenyum tipis memandangi tangannya.


"Nisa ..." gumamnya.


Kau sudah mendapatkan teman yang tepat, mempunyai rekan yang setia, juga memiliki pasangan yang benar-benar mencintaimu. Sekarang kau sudah benar-benar bahagia, bukan?


Aku merasa lebih tenang sekarang, ketika kau pergi berlalu hatiku tak sesakit dulu. Mungkin karena aku tahu jika kau sudah menemukan kebahagiaanmu. Aku hanya berharap yang terbaik untukmu, melihatmu dari jauh tidak apa-apa bagiku.


Setidaknya ... hubungan kita kini tidak terlalu buruk. Masih bisa bertemu dan bicara denganmu. Semua ini memang sudah sepantasnya, aku pun juga pantas kau sebut sebagai teman lama.


"Profesor! Giliran Anda naik ke podium!" teriak salah seorang panitia yang berlari ke arah Ricky.


"Baik, maaf membuat menunggu," ucap Ricky dengan nada ramah.

__ADS_1


Sampai jumpa, Nisa. Aku harap suatu saat nanti aku juga akan sebahagia dirimu. Selamat tinggal, cintaku ...


__ADS_2